Nadhila Story

Nadhila Story
Hessel Pura-Pura Sakit.



Esok harinya, seperti biasa Nadhila pagi-pagi sudah bersiap untuk pergi bekerja. Setelah menyelesaikan sarapannya. Nadhila berpamitan kepada Ibunya.


"Assalamualaikum," ucap salam dari Nadhila seraya mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim.


"Wa'alaikum salam, hati-hati ya, Nak" sahut Ibu memberikan pesan.


"Iya bu ...,"


Nadhila berangkat pagi ini tidak dengan motor matic kesayangannya. Karena hal kemarin, Hessel mendesak untuk mengajak ke rumahnya, Namun tiba-tiba Hessel sendiri yang memutuskan untuk tidak mengajaknya ketika di toko buku.


Nadhila yang berdiri di pinggir jalan masih mengingat kejadian kemarin. Ia masih merasa dongkol bahkan kesal. Angkutan umum belum ada yang lewat. Membuat kaki Nadhila pegal terus berdiri. Seketika ada sebuah mobil menghentikan laju mesinnya di depan Nadhila.


"Dhila, ayo kita berangkat bareng!" seru Ricky dari balik jendela mobil yang ia buka kacanya.


Nadhila ragu-ragu. Tapi ia pikir lebih baik ikut saja. Toh Ricky dan dirinya satu tujuan. Nadhila pun masuk ke dalam mobil Ricky, duduk di samping Ricky.


"Aku jadi merepotkan mu, Rick ...," ucap Nadhila merasa tidak enak.


Ricky tersenyum, "Tidak merasa Dhil ... oh ya kemana motor mu?" tanya Ricky dengan sekilas melirik Nadhila lalu kembali fokus pada setirnya.


"Di Parkiran Kantor," jawab Nadhila.


Ricky pun mengerti. Ia terus fokus pada kemudinya. Hingga tidak ada percakapan yang tercipta. Ricky sendiri bingung untuk berbincang, sedangkan Nadhila memilih menatap lurus ke arah depan.


Tidak berselang lama. Nadhila dan Ricky sampai di parkiran Kantor tempat keduanya bekerja. Kebetulan Tio pun baru sampai dan parkir di sebelahnya mobil Ricky. Tio yang masih di dalam mobilnya melotot melihat Nadhila yang keluar dari mobil Ricky. Membuat dada Tio serasa sesak. Ia merasakan tak rela jika gadis yang di cintainya bersama pria lain.


Kenapa Dhila bisa berangkat bareng sama Ricky? batin Tio. Akhirnya Tio pun keluar dari mobil. Dan melangkah menuju Loby.


Di Loby Tio berpapasan dengan Hessel yang baru saja beranjak dari parkiran khusus dirinya. Tio menyapa Big Boss nya itu.


"Selamat pagi Pak Hessel," sapa Tio dengan tersenyum.


"Pagi," sahut Hessel.


Wajahnya sangat berseri, apa Tio di terima lamaran-nya oleh Dhila? batin Hessel dengan memindai wajah Tio sekilas lalu melanjutkan langkahnya.


Hessel terhenti langkahnya saat melihat Nadhila berdiri bersama Ricky di depan lift khusus karyawan. Begitupun Tio yang sedari tadi berjalan di belakang Hessel. Mengikuti arah tatapan Hessel. Rasa sesak itu datang kembali.


Dan yang ternyata bukan Tio saja yang merasa sesak. Namun sang big boss pun merasakan yang sama.


Apa-apaan ini? kenapa Nadhila bersama pria itu? batin Hessel.


Tio langsung memencetkan tombol Lift. Walaupun dengan dadanya yang merasa sesak. Ia tetap harus profesional dalam bekerja. Dan Tio tidak mau sampai Hessel menyuruh karena Tio yang tidak konsen.


"Pak, lift-nya sudah buka!" seru Tio karena Hessel tidak belum juga masuk.


Hessel terperanjat, "Ah iya. Sorry," katanya lalu melenggang masuk dan di susul oleh Tio.


Lagi-lagi Hessel dan Tio bertemu kembali dengan Nadhila dan Ricky saat keluar dari Lift. Nadhila berjalan sejajar dengan Ricky di hadapan Hessel dan Tio. Tapi Nadhila tidak menyadarinya.


"Ya sudah aku ke ruangan ku, ya Dhil ...," ucap Ricky berpamitan saat di depan ruangan nya.


Nadhila hanya mengangguk dengan mengulas senyum tipis. Kemudian ia masuk ke dalam ruangan. Baru saja Nadhila mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya. Dua pria tampan masuk. Membuat Nadhila menoleh ke arah keduanya.


"Selamat pagi, Dhil ...," sapa Tio seramah mungkin walau hatinya sedang merasakan sesak.


"Pagi Pak Tio," Nadhila menyapa balik dengan tersenyum.


Tapi tidak dengan Hessel. Ia tidak menyapa Nadhila. Begitupun dengan Nadhila ia enggan untuk bertutur sapa dengan big bosnya itu.


"Selamat bekerja ya, semangat!" ucap Tio kini dengan senyuman mautnya.


Nadhila sejenak terpana atas senyuman Tio, tapi secepatnya tersadar ia langsung mengangguk menjawab ucapan Tio.


Tio mengambil beberapa Map dari meja Hessel terlebih dahulu, lalu melenggang pergi keluar.


Kini di ruangan itu tinggal Hessel dan Nadhila. Nadhila mulai menyalakan layar komputernya. Setelah itu melangkah mendekati meja Hessel.


"Maaf Pak Hessel pagi ini menginginkan sarapan apa?" tanya Nadhila. Ia walaupun kesal tetap tidak lupa dengan tugas hariannya.


Hessel menatap lekat wajah Nadhila. Kemudian beralih membuka jas mahalnya.


"Saya ingin sarapan bubur pagi ini," jawabnya datar.


"Bubur?" pekik Nadhila.


"Hmm," Hessel hanya berdehem.


"Apa bapak sakit?" tanya Nadhila memastikan.


"Hmm," gumaman lagi yang Hessel berikan. Ia berpura-pura sibuk pada berkas-berkas yang ia pegang.


Iya aku sakit karena cemburu. Ucap Hessel tentunya di dalam hati.


Nadhila setelah berucap panjang tanpa jeda. Ia langsung keluar dari ruangan dengan melangkah lebar menuju Pantry.


Sementara Hessel senyum-senyum. Karena Ia mendapatkan perhatian dari Nadhila. Bahkan ia bisa melihat kepanikan dari wajah Nadhila.


Huh apakah Saya harus sakit dulu, agar di perhatikan Nadhila? ujar Hessel di dalam hatinya dengan terus tersenyum sendiri.


Sekitar tiga puluh menit Nadhila kembali ke dalam ruangan. Ia membawa nampan dengan di atasnya semangkuk bubur, di tambah segelas air teh tawar hangat kesukaan Hessel.


Seketika Hessel berpura-pura berwajah lesu. Agar kembali dapat perhatian dari Nadhila.


"Pak, ini buburnya. Maaf lama, karena proses membuat bubur memakan waktu yang lama,"


Hessel hanya menatap bubur itu, tidak berniat untuk meraihnya.


"Saya sangat lesu sekali," ucapnya.


Nadhila menjadi khawatir, "Apa boleh saya menyuapi bapak?" tawar Nadhila memberanikan diri. Ia tidak mau sampai atasannya itu kenapa-napa.


What? manis sekali. Sorak Hessel di dalam hati. Lalu menganggukkan kepalanya memberikan jawaban boleh kepada Nadhila.


"Bapak, pindah duduknya di sofa saja,"


Lagi-lagi Hessel mengangguk. Ia ingin berperan menjadi orang lemah pagi ini di depan Nadhila.


Kini Hessel sudah duduk bersebelahan dengan Nadhila. Nadhila mulai menyendoki bubur untuk menyuapi Hessel.


"Bagaimana Pak, rasanya?" tanya Nadhila ia ingin memastikan rasa bubur buatannya setelah Hessel menerima suapan dari Nadhila.


Hessel mulai merasakan bubur di pengecap rasanya, "Enak," sahutnya.


Enak sekali. Apalagi di suapi sama kamu. Dan aku bisa leluasa menatap mu dari jarak dekat seperti ini. Hessel melanjutkan berbicara di dalam hatinya.


"Syukurlah. Tadi Saya membuatnya dengan tidak konsen, Pak" ujar Nadhila mengatakan hal kepanikannya tadi. Ia seraya menyuapi bubur itu ke mulut Hessel.


Hessel senang. Hessel riang. Ia tidak menyangka akan di suapi oleh Nadhila pagi ini. "Kamu mengkhawatirkan saya?"


Nadhila mengangguk, "Tentu Pak, saya tidak mau terjadi sesuatu pada Bapak," ucapnya.


"Kalau terjadi sesuatu pada saya bagaimana?" tanya Hessel ingin memastikan.


"Ya gak seru Pak. Nanti gak ada yang nyuruh-nyuruh saya. Gak ada yang membuat saya kesal," ujar Nadhila dengan apa adanya.


Seketika Hessel terkekeh. "Semenyebalkah itu, Saya di mata kamu?" ucapnya dengan masih terkekeh.


"Iya. Bapak itu menyebalkan," Nadhila tidak sadar ia kini bisa berbicara tanpa canggung di depan Hessel. Seperti sudah merasakan kenyamanan.


"Saya suka suruh-suruh kamu?"


"Iya" jawab Nadhila dengan menyendoki kembali bubur dan menyuapkannya ke mulut Hessel.


Hessel tersenyum, "Saya buat kamu kesal?,"


"Iya," Nadhila menjawab dengan acuh.


"Kamu cinta saya?"


"Iya" Nadhila melotot ketika engeh dengan pertanyaan Hessel. "Loh, kok pertanyaan bapak gitu?" lanjutnya.


Hessel tersenyum, "Terima kasih ya, kamu sudah cinta sama saya," ucapnya.


Nadhila menggelengkan kepala, "Bapak salah paham, saya hanya menjawab sesukanya," kata Nadhila ia tidak mau sampai Hessel menganggap dirinya kurang ajar karena telah mencintai bos-nya sendiri.


"Sudahlah. Beneran juga gak apa-apa Dhil ... saya malah senang," ujar Hessel santai. Kini tangannya memegang tangan Nadhila yang akan menyuapinya.


Nadhila melotot menatap tangannya yang di pegang Hessel. Namun, Nadhila tidak menepis atau menolak. Ia seperti membiarkan Hessel menyentuh tangannya. Tangan Hessel menuntun tangan Nadhila yang akan menyuapinya tadi ke mulutnya sendiri. Dengan santai Hessel mengambil sendok dan ia taruh ke atas mangkuk.


Dan kini tangan Nadhila kembali Hessel genggam. Lalu Hessel menempelkan tangan Nadhila itu di sebelah kiri dada bidangnya.


Nadhila melotot bukan main. Bahkan kini jantungnya berdetak lebih kencang. Sentuhan tangan Hessel kini berubah menjadi sebuah rasa yang tak bisa Nadhila artikan.


"Kamu bisa merasakan detak jantung saya, Nadhila ... berdetak lebih kencang bila berdekatan denganmu. Apa kamu merasakan yang sama?"


"Sa-saya--"


Ceklek ...


Seketika pintu ruangan itu di buka oleh seseorang. Ia menatap tajam pada Hessel dan Nadhila yang tangannya menempel di dada bidang Hessel. Membuat keduanya menatap ke arah pintu. Karena merasa terdengar suara pintu terbuka.


Bersambung...