
Nadhila dan Hessel sudah memasuki halaman rumah yang begitu luas. Dengan rasa gugup Nadhila mencengkram tas yang ia pegang. Dan semua itu dapat di ketahui oleh Hessel.
"Apa kamu gugup?" Hessel dengan perlahan mengusap kening Nadhila yang berkeringat.
Nadhila mengangguk.
"Coba genggam tangan saya! dan rasa gugup itu akan hilang dengan sendirinya," Hessel dengan menyerahkan telapak tangannya kehadapan Nadhila.
Seakan sihir apa yang Hessel ucapkan. Nadhila meraih tangan itu. Lalu ia genggam.
Hessel kemudian melangkah bersamaan dengan Nadhila yang berada di sampingnya. Mulai masuk setelah pelayan membukakan pintu utama.
"Oma," teriak Hessel dengan tidak sabar.
Oma menyembul dari arah ruang tengah. Ia menatap ke arah gadis yang berada di samping cucunya.
Dengan melangkah perlahan, lalu setelah mendekati pasangan yang baru saja datang. Ia tersenyum saat tahu bahwa yang menjadi istrinya Hessel adalah Nadhila yang waktu itu pernah Hessel ajak ke rumahnya.
"Benarkah, kalian sudah menikah?" Oma Hessel seperti ingin memastikan kembali. Ia sengaja bertanya kepada Nadhila.
Nadhila mengangguk dengan pelan. Membuat Oma menyentil dahi Hessel dengan tiba-tiba.
"Auw Oma sakit!" ringisnya.
"Itu hadiah untukmu, karena menikah diam-diam di belakang Oma," tukasnya.
Nadhila jadi tidak mengerti. Ia lebih memilih menunduk merasa tidak nyaman di sana. Nadhila memahami bahwa Oma Hessel seperti tidak menyetujui.
"Maaf Oma. Ini mendadak. Karena Hessel menikah saat Ibu Nadhila meninggal," ujar Hessel membuat Oma mengernyit tidak mengerti.
"Maksudnya?" Oma ingin meminta kejelasan.
Hessel melirik ke arah Nadhila yang terlihat menunduk. Setelah itu ia lebih memilih menjawab dengan sendiri, "Ibu Nadhila telah meninggal. Dan meninggalkan wasiat sebelum di makamkan mendiang meminta Nadhila menikah di hadapan jenazahnya, kepada tetangga Nadhila. Karena Nadhila masih bekerja di kantor."
Oma manggut- manggut paham.
"Jadi kalian menikah di hadapan jenazah?"
Hessel mengangguk. Kemudian berujar, "Ya. Namun, pernikahan kami masih secara siri."
"Cepat Resmikan!" suara tegas Oma membuat Nadhila menegakkan kepalanya.
"Oma merestui pernikahan kami?" tanya Hessel dengan mata berbinar.
"Iya. Oma sudah tertarik kepada Nadhila. Dan Oma setuju," tuturnya membuat Hessel dan Nadhila bernafas lega.
"Ah iya. Kebiasaan. Ayo kita duduk!" Oma saat menyadari sedari tadi berbicara dengan terus berdiri. "Ayo Dhila ... santai saja. Oma tidak menakutkan," ucap selanjutnya. Lalu merangkul bahu Nadhila dengan berjalan menuntun menuju sofa.
Nadhila kini tersenyum. Lalu melirik ke arah Hessel yang sedang menatapnya.
"Jadi kapan pernikahan kalian akan di resmikan?" Oma mulai bertanya.
"Nanti saja Oma, setelah seratus hari meninggalnya Ibu," bukan Hessel yang bersuara tapi Nadhila.
Oma mengangguk paham. "Oh, ya. Turut berduka ya, atas meninggalnya ibu kamu Dhila ... dan semoga amal ibadahnya di terima di sisi Tuhan," Oma memberikan ucap bela sungkawanya seraya mendoakan.
"Aamiin ....," suara serempak dari Hessel dan Nadhila.
Akhirnya mereka bertiga terus berbincang. Hingga makan malam tiba. Dan setelah makan selesai mereka kembali berbincang sampai Hessel lupa akan permintaan Rebecca yang meminta bertemu di sebuah Hotel.
Perbincangan tersebut yaitu mengenai tentang kebiasaan dan kesukaan Hessel. Menceritakan bagaimana Hessel dulu masih kecil hingga sekarang sudah dewasa.
"Kalian menginaplah di sini!" pinta Oma dengan wajah memelas.
Nadhila hanya terdiam. Ia tidak berani menjawab 'iya' atau menjawab 'tidak' untuk menolak.
"Baiklah Oma ...," sahut Hessel menyetujui permintaan Omanya.
****
Nadhila kini berada di sebuah kamar. Yang tentunya kamar itu adalah kamar Hessel.
"Mas," sapa Nadhila saat melihat Hessel keluar dari ruang ganti sudah memakai piyama tidurnya.
Nadhila sungguh canggung. Berada sekamar dengan Hessel. Dan membuat ia lebih canggung adalah saat mengingat benda yang tidak sempat ia bawa saat ini.
"Mas, aku lupa gak bawa baju ganti. Aku tidak tahu kalau pada akhirnya akan menginap," ujarnya.
Hessel kini memposisikan duduknya di sebelah Nadhila.
"Itu gampang. Ada kok, baju piyama punya Mami di kamarnya nanti saya pinjamkan," ucapnya.
"Ta-tapi aku sedang--" ah Nadhila sampai tidak melanjutkan ucapannya karena malu harus mengatakan nama benda yang ia butuhkan setiap sebulan sekali.
"Kamu sedang apa?" Hessel meminta Nadhila untuk melanjutkan ucapannya.
Nadhila seketika menunduk, lalu memejamkan matanya sebelum mulai bersuara kembali.
"Aku lagi datang bulan Mas. Tapi aku lupa tidak membawa pembalut," ucapnya lirih seperti suara bisikan.
Hessel tersenyum. Ia bisa mendengar ucapan lirih dari Nadhila.
"Iya nanti akan saya sekalian bawakan. Tunggu ya, di sini!" titahnya.
Nadhila mengangguk. Dan Hessel keluar dari kamarnya. Melangkah menuju kamar sang Mami yang sudah beberapa bulan ini tidak di tempati.
Tidak berselang lama Hessel masuk ke dalam kamar. Dan membawa baju ganti dan pembalut yang kini tengah Nadhila butuhkan.
"Maaf, piyama Mami pendek-pendek gak ada yang panjang," ucapnya saat melihat Nadhila menatap bingung pada piyama berbahan satin berwarna merah maroon. Hessel tahu karena Nadhila selalu memakai baju serba panjang.
"Iya gak apa-apa Mas," ucapnya. Lalu Nadhila masuk ke dalam kamar mandi.
Hingga hampir tiga puluh menit lamanya. Nadhila masih saja tidak keluar dari kamar mandi. Membuat Hessel seketika panik akan apa yang terjadi pada Nadhila di dalam kamar mandi.
"Dhila ... apa kamu baik-baik saja?" tanya Hessel seraya mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
"Aku baik-baik saja Mas. Hanya aku malu untuk keluar," ujarnya dari balik kamar mandi dan bisa terdengar oleh Hessel.
"Malu?" gumam Hessel dengan tidak mengerti.
"Apa yang membuat kamu malu?" tanyanya.
Hening.
"Nadhila, are you okey?" saat tidak ada sahutan dari Nadhila.
Nadhila membuka handle pintu dengan menyembulkan kepalanya saja.
"Hei ayo! kenapa di dalam kamar mandi terus? apa kamu mau tidur di sana?" kelakar Hessel dengan menyunggingkan senyuman di bibirnya.
"Mas aku malu,"
"Malu kenapa?" Hessel dengan mendorong pintu kamar mandi yang Nadhila tahan.
Lalu mata Hessel terkesiap saat menatap kaki jenjang Nadhila yang mulus. Lalu tangan Nadhila yang tak terbungkus sebatas lengan.
Memang Hessel sering melihat wanita yang berbaju bahan minim. Tetapi entah kenapa saat melihat Nadhila memakai piyama pendek seperti itu membuat gairahnya seakan terpancing. Mungkin karena Nadhila gadis yang di cintainya. Dan yang terutama Nadhila selalu memakai baju yang tertutup, sehingga baru saja menatap kakinya saja membuat mata Hessel berkabut gairah.
"Mas, jangan mendekat!" larang Nadhila saat melihat Hessel melangkah mendekatinya.
"Ayo kita tidur, ini sudah malam!" Hessel menarik tangan Nadhila agar keluar dari kamar mandi itu dengan gerakan lembut.
Sungguh Nadhila malu ia terus menunduk. Dan dengan cepat ia menarik selimut lalu ia lilitkan agar menutupi tubuhnya. Setidaknya jika sendirian ia tidak harus menahan malu seperti itu. Tapi ini lain. Ia memakai baju pendek di depan pria.
"Kamu gak usah malu! saya suamimu. Dan berhak melihat semua apa yang kamu sembunyikan!"selorohnya seraya mendekati Nadhila yang terbaring dengan lilitan selimut di tubuhnya.
"Ka-kamu mau apa Mas?" Nadhila cemas dengan rasa gugup. Bahkan detak jantungnya berdetak lebih kencang seakan mau copot dari tempatnya.
"Menurut kamu?" Hessel dengan menaik turunkan alisnya menggoda Nadhila yang terlihat ketakutan.
***
Bersambung...