
Sudah dua hari berlalu sejak hari itu. Nadhila benar-benar terdiam di rumah. Hessel serius dengan ucapannya bahwa Nadhila harus diam di rumah. Tapi, Nadhila yang sudah terbiasa bekerja. Ia mencari kesibukan dengan meneruskan usaha jahitan sang ibu. Dan di tambah Nadhila menerima jasa ketring. Dan itu semua Nadhila lakukan di belakang Hessel.
Seperti sekarang. Nadhila sedang menjahit beberapa baju pelanggan. Ia melakukan dengan sepenuh hati.
"Akhirnya jadi juga," Nadhila dengan merenggangkan tangannya. Menatap hasil jahitannya. Yaitu baju couple gamis dan kemeja pria, dengan warna senada yang baru saja ia jahit.
Nadhila langsung memberikan pesan kepada nomor pelanggan yang sudah memberikan nomor ponselnya kepada Nadhila. Kemudian setelah itu Nadhila melenggang pergi ke arah dapur. Untuk membuat makan siang.
"Tadi, Mas Hessel katanya mau pulang saat makan siang," Nadhila bermonolog seraya mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam kulkas.
Nadhila berniat akan membuat ayam teriyaki, dengan sayur capcay. Hingga tidak berselang lama. Masakan Nadhila sudah terhidang.
"Aku tunggu Mas Hessel di teras rumah saja," gumam Nadhila. Ia seraya melangkah ke arah teras depan dan duduk di sana untuk menunggu Hessel yang akan pulang saat jam istirahat.
Dan tak lama. Orang yang di tunggu datang. Dengan memarkirkan mobil mewahnya, di halaman rumah Nadhila yang luas. Hessel keluar dari mobil dengan menyunggingkan senyuman yang membuat Nadhila terpana.
"Kamu sengaja menunggu?" tanya Hessel setelah berhadapan dengan Nadhila yang langsung menyalami tangannya.
Nadhila mengangguk dengan tersenyum.
"Benar-benar istriku," ujar Hessel. Membuat Nadhila menatap bingung.
"Maksudnya apa Mas?"
Hessel menggeleng dengan tersenyum, "Ayo, aku sudah lapar!" ajaknya seraya merangkul bahu Nadhila masuk kedalam rumah.
Hessel langsung terduduk di kursi meja makan. Dan menatap makanan yang sudah Nadhila persiapkan beberapa menit yang lalu.
Hessel tersenyum senang. Saat melihat Nadhila yang sedang melayaninya di meja makan.
Sebenarnya ia tidak pernah membayangkan akan menikah dengan waktu cepat. Tapi ia bersyukur bisa menikah dengan Nadhila wanita yang sederhana, dan benar-benar menjalankan perannya sebagai istri.
"Terima kasih sayang," ucap Hessel setelah menerima piring yang sudah di penuhi makanan oleh Nadhila.
Nadhila membeku saat mendengar Hessel memanggilnya 'sayang'. Ada aliran desiran hangat pada hatinya. Berubah senang dengan kata sayang yang Hessel berikan barusan.
"Sa-sama-sama," sahut Nadhila terbata.
Kini keduanya makan siang bersama. Dengan makan yang dalam keadaan sunyi, hanya terdengar suara sendok dan garfu yang bergesekan pada piring.
Hessel lebih dulu menghabiskan makanannya. Ia menatap Nadhila, kemudian merogoh dompet miliknya dan mengeluarkan sebuah black card lalu Hessel taruh di hadapan Nadhila.
Nadhila mengernyit heran menatap black card yang baru saja Hessel taruh di hadapannya. Nadhila beralih menatap Hessel seperti mempertanyakan.
"Itu untuk mu. Kode pin-nya tanggal, bulan, dan tahun pernikahan kita."
"Tidak perlu, Mas!" tolak Nadhila.
Hessel menggeleng, "Kamu harus terima. Kartu itu merupakan nafkah lahir dari saya!" tegas Hessel untuk Nadhila menerima kartu pemberian darinya.
Nadhila terdiam. Kemudian setelahnya ia mengangguk pelan.
"Dan nafkah batin-nya--" Hessel menatap Nadhila dengan tersenyum menggoda tanpa meneruskan ucapannya.
"Maaf Mas. Aku masih da-datang bulan," Nadhila yang tahu arahan pembicaraan Hessel, seperti yang sedang menagih janji kepadanya. Padahal Nadhila tidak menjanjikan sesuatu pada Hessel.
"Berapa lama lagi?" Hessel yang sudah tidak bisa menahan untuk menyentuh tubuh istrinya.
"Paling dua harian lagi," jawab Nadhila seraya menunduk malu.
"Saya mohon. Biasakanlah dengan kehadiran saya dalam hidupmu. Saya suamimu. Dan beberapa minggu lagi kita akan meresmikan pernikahan kita. Saya akan memberitahukan keluarga saya yang berada di Jerman," ucap Hessel dengan lembut dan bersungguh-sungguh.
"Iya Mas. Aku sudah menerima dirimu sebagai suamiku. Dan maafkan bila aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, Mas" ujar Nadhila dengan sendu.
Hessel menggeleng, tangannya yang satu terulur untuk menyentuh pipi Nadhila, memegangnya dengan perasaan penuh cinta.
"Kita baru menikah dua minggu lamanya. Dan kita masih belajar dalam membina rumah tangga. Saya dan kamu saling melengkapi satu sama lain. Saya akui. Saya sendiripun banyak kekurangannya sebagai menjadi pemimpin rumah tangga. Jadi, mari kita belajar sama-sama untuk melengkapi rumah tangga kita!" Hessel terlihat dewasa dengan kata-katanya sehingga Nadhila semakin mengagumi apa yang ada di diri Hessel.
Hessel perlahan berdiri. Dan menuntun Nadhila untuk berdiri juga. Hessel merengkuh tubuh Nadhila ke dalam pelukannya. Menghirup aroma rambut Nadhila yang wanginya sangat Hessel sukai. Hessel mencium puncak kepala Nadhila dengan sayang. Begitu dengan Nadhila yang menghirup tubuh Hessel yang wanginya sangat menenangkan.
Hessel melerai pelukannya, "Saya shalat dzuhur dulu, ya!" Lalu tangannya mengusap kepala Nadhila dengan lembut.
"Iya Mas" sahut Nadhila.
Hessel melenggang masuk ke dalam Mushola yang terdapat di dalam rumah Nadhila. Sementara Nadhila merapihkan bekas makan yang berada di meja makan. Lalu mencuci piringnya.
"Saya kembali ke kantor ya!" ucap Hessel membuat Nadhila yang sedang anteng mencuci piring terhenyak kaget.
"Eh, i-iya Mas" jawabnya denga terbata.
Hessel menautkan kedua alisnya, "Jangan melamun!"
Nadhila hanya tersenyum. Kemudian ia mencuci tangannya dengan bersih dan mengelap tangannya pada lap yang menggantung dekat washtafel. Nadhila meraih tangan Hessel dan mencium punggung tangan Hessel dengan takzim.
"Hati-hati ya, Mas" pesan Nadhila setelah mencium punggung tangan Hessel.
Hessel tersenyum, ia mendekatkan wajahnya. Dan menempelkan bibirnya pada bibir Nadhila. Nadhila melotot kaget. Tapi ia tidak menolaknya. Nadhila membiarkan Hessel melu*at bibir miliknya, dengan mencecap*nya begitu lembut. Membuat Nadhila terbuai. Rasa asing yang baru Nadhila rasakan. Membuat tubuhnya menginginkan hal-hal yang lebih.
Hessel melepaskan tautan bibirnya yang merasa tidak ada lagi pasokan oksigen pada dirinya dan juga Nadhila, "Saya pergi, ya!" ujar Hessel berpamitan.
Nadhila hanya mengangguk dengan wajah merona merah, merasakan panas yang berasal dari ciuman tadi yang ia lakukan dengan Hessel. Walau Nadhila tidak membalas setiap gerakan bibir yang Hessel berikan. Tapi Nadhila begitu menikmatinya.
Nadhila menatap kepergian suaminya di depan teras. Setelah tidak terlihat dari pandangan matanya. Nadhila kembali masuk dan langsung mengunci pintu rumahnya. Baru saja Nadhila akan menuju kamarnya. Nadhila di kejutkan dengan suara ketukan pada pintu rumahnya.
"Siapa ya?" tanya Nadhila pada diri sendiri seraya melangkah menuju pintu untuk membukanya.
Setelah pintu itu terbuka. Nadhila melotot kaget pada seseorang yang berdiri di depannya. Seorang wanita yang sedari tadi membuntuti Hessel. Hingga ia menemukan keberadaan rumah Nadhila yang sederhana.
"Hai," sapanya kepada Nadhila dengan menyunggingkan senyuman yang begitu menawan.
Nadhila hanya terdiam mematung menatap wanita yang merupakan mantan kekasih Hessel suaminya.
"Maaf ada perlu apa Nona kemari?" tanya Nadhila tanpa basa-basi.
Rebecca tersenyum menyeringai, "Apakah saya di bolehkan, untuk masuk?" tanya Rebecca dengan menatap Nadhila.
"Silahkan!" Nadhila membuka pintu lebar-lebar untuk Rebecca masuk melewati dirinya.
Rebecca dengan langkah yang anggun, tentunya karena dirinya seorang model papan atas. Langkahnya seolah di atas Catwalk. Rebecca duduk di sofa, dengan matanya sedang menjelajahi isi rumah.
Nadhila sudah duduk di hadapannya dengan menaruh minuman terlebih dahulu sebelumnya.
"Saya ingin berteman" Rebecca membuka percakapannya.
Bersambung...