
Mami Delina kembali di buat kesal saat mengintip dari balik pintu kamar Hessel yang pintunya sedikit terbuka, ia melihat pemandangan yang sebenarnya sangat menyejukkan mata. Dimana Hessel dan Nadhila shalat isya berjamaah. Karena hati Delina yang sudah tertutup, ia malah lebih membenci Nadhila. Seakan pengaruh Nadhila adalah hal yang mengancam kebaikan putranya.
"Sialan ... gadis itu sudah jauh sekali mempengaruhi Hessel!" geram Delina. Ia lebih melanjutkan langkahnya ke arah kamarnya. Sebenarnya Delina tidak sengaja mengintip. Namun, rasa penasarannya setelah ia mengantar kepulangan Yasmin dan Rebecca. Delina penasaran sedang apa yang Hessel dan Nadhila lakukan. Dan kebetulan pintu kamar mereka sedikit terbuka.
"Aku hanya ingin Rebecca yang menjadi menantu, bukan gadis itu!" Delina kini sudah berada di dalam kamarnya. Delina berbicara sendiri dengan rasa kesal yang masih mendera karena sang putra kesayangannya lebih memilih gadis biasa saja.
"Sepertinya aku harus memberitahu Daddy. Kalau putra tunggalnya itu sudah menikah dengan gadis miskin!" lanjut Delina bermonolog. Berencana untuk mengabari suaminya.
Di dalam kamar Hessel...
Nadhila dan Hessel telah selesai shalat isya berjamaah. Nadhila senang sekaligus bangga kepada Hessel. Hessel benar-benar sudah bisa membaca dan melakukan shalat dengan gerakan yang benar dan bacaan yang tenang.
"Bagaimana, apa saya melakukan kesalahan saat shalat tadi?" tanya Hessel.
Nadhila menggeleng. "Mas sudah melakukan yang benar. Em ... Mas, setahu aku Mas belum ketemu sama ustadz Anwar, atau sama ustadz yang ada di sini? Mas, belajar sama siapa?" tanya Nadhila yang penasaran.
Hessel tersenyum, "Sama Tio," jawabnya singkat.
"Pak, Tio?" ulang Nadhila dan Hessel mengangguk.
Hessel berdiri dan kemudian duduk di tepian ranjang. "Sayangkan, kalau punya asisten serba tahu kalau gak di manfaatin?!" selorohnya.
Nadhila tersenyum, ia masih duduk di karpet permadani. "Tapi, bagus. Pak Tio menjadi punya pahala, begitu juga dengan Mas."
Nadhila jadi teringat saat masih bekerja di Kantor Hessel. Ia selalu kebetulan ketika pulang shalat dari Mushola selalu jalan bersama, dan berbincang bersama Tio.
Hessel menepuk sisi tempatnya agar Nadhila duduk di sampingnya. Namun, Nadhila menggeleng.
"Kenapa gak mau? ayo sini!" ucap Hessel dengan senyuman yang berbeda.
"Mas, mau apa nyuruh aku duduk di situ?" tanya Nadhila yang masih betah duduk berselonjor di atas karpet.
"Ngobrol" satu kata yang Hessel katakan.
"Dari sini juga bisa ngobrolnya," tolak Nadhila tetap.
"Gak bisa. Kalau dari sini kita bisa ngobrol dari hati ke hati," ungkap pria itu yang sudah tidak sabar menanti malam pertamanya yang sempat tertunda.
Nadhila menegang. Jujur Nadhila masih ketakutan. Bahkan kini keberadaannya seakan tidak bisa Nadhila katakan nyaman. Mengingat mertuanya yang terang-terangan tidak menyukai dirinya. Lalu apa iya Nadhila harus menyerahkan kehormatannya sekarang di saat kondisi yang masih menegang?.
Hessel melihat Nadhila terdiam dengan guratan kesedihan di wajahnya. Dan Hessel mengerti apa yang Nadhila rasakan saat ini. Hessel memilih mendekati Nadhila yang masih duduk di atas karpet permadani.
"Loh, Mas. Kok, sudah di sini lagi?" Nadhila di buat kaget saat Hessel sudah memeluknya dengan erat.
"Makanya, Jangan melamun!" dengan tangan Hessel mengusap-usap punggung Nadhila. "Saya mengerti, pasti kamu belum siap, kan?"
"Maaf, Mas" ucap Nadhila akhirnya.
"No, problem. Kita masih bisa melakukannya di lain waktu. Kita akan terus bersama-sama. Jadi, jangan takut!" Hessel sebenarnya menenangkan dirinya sendiri.
"Terima kasih, Mas" sahut Nadhila.
"Tidur, Yuk!" Hessel melerai pelukannya. Nadhila mengangguk. Dan berdiri lalu di susul oleh Hessel.
Keduanya kini tertidur di atas ranjang King size milik Hessel.
Esok Paginya...
Oma, Hessel, dan Nadhila sudah berada di ruang makan. Ketiganya di kejutkan oleh satu pelayan yang baru saja dari lantai atas.
"Oma, Tuan muda ...," pelayan itu dengan terengah-engah menghampiri meja makan.
"Ada apa, Sumi?" tanya Oma dengan raut wajah yang bingung.
"Nyonya, Oma ... Nyonya, pingsan" ucapnya dengan nafas yang memburu karena turun tergesa-gesa dari lantai atas.
Hessel tersentak. Dan langsung sigap berlari menaiki tangga. Di susul oleh Nadhila dan Oma. Oma yang sudah lansia. Ia sangat berhati-hati ketika menaiki anak tangga. Dan di perhatikan oleh Nadhila.
Nadhila akhirnya memapah Oma agar tidak terjadi sesuatu. Kemudian tiba di depan kamarnya Mami Delina. Nadhila bisa melihat jelas raut wajah Hessel yang begitu panik.
"Telepon Dokter Rendy!" titah Oma.
Hessel langsung merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya. Lalu dengan cepat memanggil Dokter keluarga tersebut. Setelah tersambung dan mengatakan bahwa Hessel membutuhkannya. Hessel dengan cepat menutup panggilannya. Dan beralih menatap Delina yang masih tak sadarkan diri.
"Ya, berangkatlah!"
Hessel lalu beralih menatap Nadhila. "Mau di sini? atau pulang saja?" tanya Hessel memastikan. Hessel tidak berharap bahwa Nadhila memilih tetap di sana. Karena Hessel tidak akan tenang meninggalkannya.
"Aku di sini saja, Mas. Kasihan Mami, dia belum sadar" ujar Nadhila.
Hessel bisa melihat kekhawatiran di wajah Nadhila. Tapi, Hessel tidak bisa melarang Nadhila.
"Ya sudah," Hessel mengecup kening Nadhila, lalu beralih menatap Oma. "Oma, Hessel titip Nadhila, ya"
Oma tersenyum, "Nadhila akan aman bersama Oma," ucap Oma menenangkan cucunya.
"Assalamualaikum" ucap Hessel memberikan salam.
"Wa'alaikum salam," jawab serempak Oma dan Nadhila.
Hessel pun pergi. Kini tinggal Oma, dan Nadhila yang menunggu seorang Dokter yang sudah Hessel telepon tadi.
Mami Delina membuka mata. Membuat Oma serta Nadhila merasa lega.
"Oma," Delina menegakkan dirinya dan bersandar pada sandaran ranjang.
"Mami minum dulu!" kata Nadhila seraya mendekat dan mengambil gelas yang sudah berisi air minum.
Delina menerimanya. Dan meneguknya hingga habis.
"Kamu kenapa bisa pingsan?" tanya Oma yang penasaran.
"Aku tadi merasa sangat pusing, Oma. Entah karena banyak pikiran," sahut Delina dengan menaruh gelas di atas nakas.
"Makanya, hal yang tidak perlu di pikirkan. Jangan kamu pikirkan!" tukas Oma memberikan saran.
"Mau, tidak kepikiran bagaimana Oma. Putra satu-satunya malah menikahi gadis yang tidak jelas asal-usulnya," jelas Delina dengan menatap sinis kepada Nadhila.
Oma menggeleng. Sudah ia duga kalau Delina bersikeras menentang pilihan Hessel yang menikahi Nadhila.
Sementara Nadhila hanya bisa menunduk. Hatinya sungguh tercubit. Hingga tak terasa ada genangan air di pelupuk matanya. Jika saja Nadhila berkedip pasti air itu akan tumpah.
"Selamat Pagi," ucap Seseorang yang baru saja di antar pelayan masuk ke dalam kamar Delina.
"Selamat Pagi, Dokter Rendy ... tolong periksa menantuku!" pinta Oma kepada Dokter Rendy yang usianya dua tahun lebih tua dari Hessel.
"Baik, Nyonya Margaret" sahut Dokter tampan itu.
"Kalau, begitu kami keluar terlebih dahulu" ucap Oma seraya menggandeng tangan Nadhila untuk keluar.
Dokter Rendy menatap kagum kepada gadis yang baru saja Oma gandeng. Kemudian ia beralih menatap Delina yang duduk bersandar di ranjang.
"Nyonya, apa yang anda keluhkan?" tanya Dokter Rendy itu dengan mulai mengeluarkan alat-alat medisnya.
Delina menggeleng, "Aku hanya ingin sebuah kerja sama," ucap Delina dengan serius.
"Kerja sama?" Dokter Rendy menatap tidak mengerti kepada Delina.
"Iya. Tolong buatkan diagnosa kalau aku sedang sakit berat!" pinta Delina dengan meminta langsung apa maksud kerja samanya.
Dokter Rendy menggeleng, "Tidak Nyonya. Kenapa Nyonya menginginkan itu?"
"Aku menginginkan putraku menuruti apa keinginan ku. Jika dengan ia tahu kalau aku sakit parah. Maka, tidak mungkin ia menolak permintaan ku?" Delina dengan berharap.
"Tapi, Nyonya jika saya melakukan itu. Maka saya sudah melanggar peraturan dan sumpah saya menjadi Dokter," Dokter Rendy menyampaikan alasan penolakannya.
"Tenang saja. Aku akan membayarmu dengan mahal. Dan ingat kalau kamu tidak menuruti permintaan ku. Maka jangan harap kau akan bekerja lagi sebagai Dokter," Delina menatap dengan penuh ancaman.
Dokter Rendy menghela nafas dengan berat. Terpaksa ia harus mengiyakan permintaan Delina. Orang yang berpengaruh terhadap keluarga Dokter Rendy. Dan jika ia tidak melakukan permintaan Delina. Maka reputasi dan profesinya sebagai Dokter akan terancam.
"Baiklah, Nyonya" kata Dokter Rendy akhirnya.
Delina tersenyum senang. Dan menyeringai membayangkan bagaimana rencananya akan berjalan dengan lancar.
Bersambung...