Nadhila Story

Nadhila Story
Tahlilan Ibu.



Hessel keluar dari kamar Nadhila, dengan sudah memakai pakaiannya, yang tadi Nadhila ambilkan dari bagasi mobilnya. Ia menghampiri Tio yang terduduk sendiri di ruang tamu.


Hessel mengernyitkan dahi, karena tidak menemukan istrinya duduk di sana, "Nadhila kemana?" tanya Hessel dalam hati.


Ia kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Tio. Sedangkan Tio menatap big Bosnya itu dengan penuh tanda tanya, karena melihat Hessel yang seakan santai berada di dalam rumah seorang gadis apalagi sekarang, gadis itu hanya tinggal sendiri.


"Sudah lama menunggu, Tio?" Hessel bersuara. Ia meraih map yang Tio taruh di meja.


"Baru saja. Pak" sahut Tio.


"Pak Hessel, apa tadi bapak ikut ke acara pemakaman Ibu Nadhila?"


Hessel mengangguk dengan matanya membaca isi dari map yang ia raih tadi.


"Saya sungguh tidak menyangka. Padahal semalam saya baru saja bertemu beliau," Tio meraih segelas teh yang tadi sempat Nadhila suguhkan.


Hessel kini menatap Tio, "Kamu semalam ke sini?" tanyanya.


Tio mengangguk, "Iya Pak. Saya baru saja melamar Nadhila, melalui ibunya," tutur Tio.


"Apa wasiat ibu, Nadhila menikah dengan Tio?" batin Hessel.


"Tapi Ibu menyerahkan keputusannya kepada Nadhila. Dan Nadhila meminta waktu, karena ingin beristikharah terlebih dahulu," lanjut Tio dengan jujur.


"Wah bagaimana ini, kasihan Tio," gumam Hessel di dalam hatinya.


Hessel merasa kasihan kepada Tio, karena Tio sudah sengaja datang melamar kepada ibu Nadhila, dan menunggu jawaban dari Nadhila. Namun, yang terjadi malah dirinya-lah yang menikahi Nadhila tanpa ia duga. Dengan dalih memenuhi wasiat ibu Nadhila, yang ingin melihat Nadhila menikah di depan jenazahnya.


Tentu Hessel mengambil kesempatan itu. Karena sejatinya memang dirinya sudah mencintai Nadhila. Sehingga tidak perlu bersusah payah berjuang untuk mendapatkan Nadhila. Hanya Hessel harus bersabar saja saat ini. Menunggu Nadhila benar-benar menerima dan mempunyai perasaan kepada dirinya.


"Pak, Saya tadi baru saja mendapat panggilan dari asisten Presedir PT Maha Karya. Beliau meminta besok mengadakan pertemuan di Gedung kita," ujar Tio.


"Tolong kamu urus saja, ya! sepertinya mulai besok Nadhila tidak bisa masuk kantor," tutur Hessel.


"Baik Pak. Kalau begitu saya undur pamit. Tolong sampaikan salam saya kepada Nadhila," Tio undur pamit dan berpesan kepada Hessel untuk menyampaikan salamnya kepada Nadhila.


"Ya," sahut Hessel dengan singkat dan datar.


Hessel melangkah mengantar Tio hingga teras rumah. Matanya melihat ke arah depan rumah, tepatnya sebrang rumah Nadhila. Nadhila sedang duduk berbincang dengan Bu Sari yang tadi memberitahukan wasiat sang ibu.


Setelah Tio melesat meninggalkan halaman rumah. Hessel menyebrang menghampiri Nadhila. Bu Sari langsung tersenyum saat melihat Hessel datang mendekat.


"Nak, mari duduk!" sapa Bu Sari. Hingga Nadhila menoleh mengikuti tatapan Bu Sari.


"Iya Bu," Hessel mendudukkan tubuhnya di samping Nadhila.


"Begini Nak, Dhila di sini sedang berbicara sama Ibu mengenai tahlilan Almarhumah. Apa kamu ada usul, gitu di mesjid atau di rumah saja?" tanya Bu Sari meminta pendapat Hessel.


Hessel yang kurang paham mengenai acara tersebut, terdiam terlebih dahulu. "Saya serahkan kepada Dhila saja bu. Tapi kalau boleh sih menurut saya, di Mesjid saja" tuturnya.


Nadhila menatap Hessel sekilas, "Ya saya juga setuju di Mesjid, bu."


Hessel lalu menatap banyak amplop putih di meja hadapan Nadhila. Ia penasaran amplop itu untuk apa, "Itu banyak amplop untuk apa ya, bu?" tanya Hessel.


"Oh ini. Buat acara tahlilan nanti. Setelah acaranya, lalu di bagikan. Ini Nadhila yang isi semua," jelas Bu Sari.


"Kenapa kamu tidak kasih tahu saya, Dhila?" Hessel bertanya kepada Nadhila. Hessel merasa kenapa Nadhila tidak melibatkan dirinya.


"Maaf Pak. Saya tidak mau merepotkan, bapak" ujar Nadhila. Membuat Hessel menghembuskan nafas kasar.


Bu Sari mengernyitkan dahi, "Dhila ... bagaimanapun dia sekarang suami kamu. Apapun kamu harus diskusikan. Dan terutama harus terbuka,"


"Benar itu kata Bu sari Dhil ... mau apapun itu saya sekarang suami kamu," lanjut oleh Hessel.


Nadhila menunduk, "Iya Pak," sahutnya.


"Ya sudah saya mau nambahin," kata Hessel seraya membuka dompet dari sakunya. Namun kemudian ia tersadar bahwa di dalam dompet sudah tidak ada uang cash. Karena sudah ia pakai buat mahar.


"Tidak usah. Buat acara besok saja. Kalau bapak mau menambahkan. Lagian atm di sini jauh," sahut Nadhila.


"Iya Nak. Atm di sini jauh harus ke dekat gedung kantor apa itu yang besar," timpal Bu Sari dengan lupa mengatakan nama gedung perusahaannya.


"Gedung tempat Nadhila bekerja itu, bu" sahut Nadhila.


Hessel pun hanya manggut-manggut.


***


Waktu magrib pun tiba, Hessel ikut shalat berjamaah di mesjid dengan warga lainnya. Nadhila pun begitu. Setelah shalat magrib selesai. Pak Kiyai Anwar menuntun jamaah untuk bertahlil. Memberikan doa untuk Almarhumah Ibu Nadhila.


Hingga satu jam lamanya acara tahlil tersebut selesai. Dan Nadhila dari ambang pintu di bantu Bu Sari membagikan amplop yang sudah di isi uang, kepada jamaah yang mulai satu persatu keluar dari Mesjid.


Kini tinggal Nadhila, Hessel, Bu Sari, dan Pak Kiyai Anwar. Ke empatnya berjalan dengan beriringan.


"Pak Kiyai, terima kasih banyak. Sudah bersedia membantu memimpin doa untuk ibu," ujar Nadhila berterima kasih.


Pak Kiyai Anwar mengulas senyum, "Itu sudah kewajiban Dhil ... jadi tidak perlu berterima kasih," ucapnya.


Hessel merasa ada ide untuk belajar kepada Pak Kiyai Anwar. Namun, Hessel berpikir lagi ia tentu malu untuk mengutarakannya. Tapi, demi ingin mencari tahu dan mendapat ilmu, Hessel akan menghilangkan rasa malunya.


"Pak Kiyai," sapa Hessel kini, setelah berperang dengan pikirannya.


Pak Kiyai Anwar menoleh, "Ada apa Nak?" jawabnya ramah.


Hessel melirik kepada Nadhila terlebih dahulu, "Em ... Pak. Boleh saya belajar bersama bapak?!" Hessel berucap dengan ragu-ragu. Takut di tertawakan oleh Pak Kiyai, Nadhila, dan Bu Sari.


"Belajar apa, Nak?" tanya Pak Kiyai dengan lembut.


"Tentang mengaji, shalat, dan ilmu pernikahan," tutur Hessel dengan tegas.


Nadhila yang mendengar penuturan Hessel hatinya merasa tersentuh. Karena, Hessel benar-benar ingin belajar tentang agama.


Sedangkan Bu Sari tersenyum bangga. Ia sudah paham. Dari kriteria Hessel yang sepertinya lama di Luar Negeri sehingga lupa dengan ajaran agamanya.


"Boleh Nak Hessel. Belajar itu tak harus lihat umur. Karena menuntut ilmu itu tidak ada batas usia. Mau dari kapan mulai belajarnya?" Pak Kiyai berhenti berjalan karena sudah sampai di depan pagar rumahnya.


"Secepatnya Pak. Kalau besok bagaimana?"


"Boleh Nak Hessel. Nak Hessel, datang saja ke Pondok Pesantren milik saya. Yang tadi di sebelah Mesjid," ujarnya.


"Baik Pak. Terima kasih sebelumnya,"


"Sama-sama. Apa mau singgah dulu Nak Hessel, Dhila, Bu Sari?" Pak Kiyai Anwar menawarkan.


"Tidak Pak. Kami pulang saja." Nadhila kini bersuara.


"Iya Pak saya juga," timpal Bu Sari.


"Ya sudah. Hati-hati ya," ucap Pak Kiyai Anwar seraya membuka pintu pagar.


"Iya Pak. Kalau begitu, kami permisi," ucap Hessel.


Nadhila tertegun dengan sikap Hessel yang begitu sopan kepada orang tua. Ternyata tidak harus di lihat dari kaya, atau miskinnya attitude itu. Memang terkadang ada yang kaya, tapi attitudenya miskin. Ada yang Miskin attitudenya kaya. Yang lebih parah lagi. Ada yang miskin, miskin pula attitudenya. Mending yang sudah kaya, attitudenya juga kaya, itu terlihat lebih baik.


"Dhila, kamu melamun?" Hessel menatap Nadhila yang terdiam.


"Eh i-iya maaf," Nadhila langsung sadar bahwa dirinya tengah melamun di perjalanan pulangnya.


***


Bersambung.