Nadhila Story

Nadhila Story
Kedatangan Rebbeca.



"Assholaatukhoirumminannaum..."


Adzan Shubuh membangunkan Nadhila yang terlelap, ia mulai mengerjapkan matanya. Nadhila langsung beranjak bangun menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Nadhila melakukan aktivitas mandi nya terlebih dahulu, sebelum menunaikan kewajiban Shalat Shubuh nya.


Setelah selesai dengan Shalat nya, Nadhila lalu membereskan tempat tidur, dan menyapu ruang kamarnya. Kemudian di rasa sudah selesai Nadhila meraih Baju untuk di kenakan ke kantornya. Kini Nadhila memoles tipis make-up di wajah cantik nya, dengan di tambah Liptin bibir yang membuat bibirnya semakin menggoda bagi kaum pria yang menyukai Nadhila.


Di rasa sudah pas dengan penampilan nya, Nadhila pun keluar kamar beranjak menuju Meja makan untuk sarapan. Terlihat Ibu Nadhila sudah menghidangkan Nasi goreng dan Segelas Susu hangat untuk Putrinya sarapan.


"Ibu senang sekarang, lihat kamu berangkat kerja tidak harus ibu bangunkan dahulu." Ibu Nadhila senang akan perubahan putri nya.


"Iya Bu. Nadhila sekarang harus kerja sesuai tepat waktu. Ya walaupun pulang nya tidak selalu sesuai." Nadhila dengan memulai makan Nasi goreng yang Ibu Nadhila siapkan.


"Iya Nak... Kamu harus seperti itu."


Nadhila pun tersenyum dengan mengangguk.


"Oh iya bu. Bagaimana Dengan pekerjaan ibu, Banyak yang membuat baju kan?." Nadhila menanyakan perihal pekerjaan ibunya yang merupakan seorang penjahit pakaian.


"Lumayan Dhil. Kamu tidak usah merisaukan ibu." Peringat Ibu Nadhila.


Nadhila mulai meminum susu yang telah di sediakan Ibu nya.


"Tapi ibu jangan terlalu capek ya. Nadhila gak mau sampai ibu sakit, Nadhila bisa membiayai kebutuhan ibu koq, kalau ibu berhenti bekerja." Nadhila dengan memegang tangan sang ibu.


"Iya Cantik nya Ibu. Sudah sekarang mending kamu berangkat. Motor kamu masih di bengkel nak?."


"Iya Bu. Nadhila belum sempat membawa nya kembali. Paling nanti setelah pulang kerja Nadhila ambil sekalian bayar." Nadhila berdiri dan menyalami tangan ibu nya.


"Nadhila berangkat ya bu. Assalamu'alaikum.." Pamit Nadhila dengan mengucapkan salam.


"Hati-hati ya nak. Wa'alaikum salam..." Ibu Nadhila menjawab Salam Nadhila.


Nadhila berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkutan umum. Namun Ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Nadhila yang sedang berdiri. Orang dalam mobil tersebut pun turun menghampiri.


"Pak Tio..." Sapa Nadhila tidak percaya.


"Ayo kita berangkat bareng!." Ajak Tio.


"Tapi pak..."


"Kenapa Tapi?. Bukankah kita sekantor?." Tio tidak mau di tolak dengan cepat menyela ucapan Nadhila.


Nadhila pun akhirnya mengangguk. Tio pun dengan cepat membuka kan pintu depan agar Nadhila masuk. Nadhila pun menurut dengan masuk ke dalam pintu yang sudah di buka kan Tio.


Tio pun cepat masuk, dan duduk di balik kemudinya.


Nadhila menoleh ke kursi belakang yang nampak kosong. Tio pun mengerti dengan Nadhila yang menoleh ke arah kursi belakang.


"Pak Hessel, Tidak mau saya jemput. Karena Katanya Beliau mau membawa mobil sendiri." Tutur Tio.


Nadhila pun terdiam, ia hanya bisa memberikan senyum nya sebagai jawaban. Nadhila memilih melihat ke arah Luar, dengan mata nya menoleh ke arah Kaca jendela mobil. Tio yang merasa canggung dengan keheningan, mulai memutarkan Musik di audio mobil nya.


Lalu Tio melirik sebentar ke arah Nadhila, ia benar-benar Nervous berdekatan dengan wanita yang telah mencuri hatinya. Ia tidak bisa berbasa basi, sehingga sepanjang perjalanan hanya suara musik lah yang memenuhi mobil tersebut. Tio pun merutuki dirinya sendiri yang begitu kaku di hadapan Nadhila, padahal kesempatan seperti ini sungguh langka ia miliki.


Mobil Tio pun mulai memasuki Area gerbang Gedung perusahaan. Setelah tepat pada tempat parkiran Tio pun memarkirkan mobilnya, ia Langsung keluar, dengan membuka kan pintu untuk Nadhila keluar.


"Pak Tio. Padahal tak perlu seperti ini." Nadhila merasa tidak nyaman akan menjadi pusat perhatian orang lain yang sedang menatap ke arah Nadhila dan Tio.


Bahkan seseorang yang sangat berpengaruh di perusahaan itu pun, sedari tadi telah sampai kini memperhatikan ke arah Nadhila dan Tio.


"Tidak apa-apa Dhila. Saya senang koq melakukan nya." Ucap Tio dengan tersenyum.


Nadhila pun tidak bisa berkata apapun lagi. Tio mulai membalikkan tubuhnya untuk berjalan menaiki tangga. Namun Mata seseorang itu menatap Tio dengan tajam. Seperti menatap Sebuah mangsa. Tio pun dengan cepat menghampiri Orang tersebut dan langsung menyapa nya.


"Selamat Pagi Pak Hessel." Sapa Tio setelah sampai.


"Hemmm..." Hessel hanya menjawab dengan dingin.


Mata Hessel kini menatap ke arah Nadhila yang sedang berjalan mendekati ke arah nya.


Hessel pun dengan cepat bergegas menuju Lift sang Direktur khusus, dengan Tio berada di belakangnya. Hessel melihat Nadhila berdiri menunggu Pintu Lift lain, ia heran dengan Nadhila yang tidak mengikuti nya.


"Dhila..." Panggil Hessel.


Nadhila pun menoleh ke arah Hessel. Tio yang paham akan maksud Bos nya. Tio hanya memberikan isyarat tangan nya untuk menghampiri.


Nadhila pun berjalan mendekat dengan menunduk, sebenar nya Nadhila kesal melihat Wajah Hessel akan kejadian kemarin. Nadhila pun berdiri di disisi Tio.


Tio dengan cepat memencet tombol Lantai lima. Hessel pun masuk terlebih dahulu. Lalu di ikuti Tio dan Nadhila. Perasaan Hessel tiba-tiba menjadi emosi melihat Nadhila yang terus berdiri di sisi Tio, Hessel mau Nadhila berdiri di samping nya.


Ting...


Suara Lift terbuka, Hessel pun dengan cepat melangkah menuju ruangan nya. Lagi lagi Hessel emosi kala Tio mengajak mengobrol Nadhila di belakang nya. Terlihat dari balik kaca yang memenuhi ruangan tersebut, Hessel dengan melirikkan ekor matanya. Nadhila tersenyum kepada Tio, begitu pun Tio yang terus tersenyum.


"Jangan Lupa. Akan Tugas pertama yang harus kamu lakukan." Hessel mengingatkan Nadhila dengan terus melangkah lurus ke depan.


Nadhila pun dengan cepat menghampiri Hessel, dan mensejajarkan langkahnya.


"Iya Pak tentu saya ingat." Jawab Nadhila.


Hessel pun masuk ke dalam ruangan nya, begitu pun Nadhila yang memang seruangan.


Nadhila menaruh terlebih dahulu Tas nya, lalu ia melangkah ke luar. Hessel pun dengan cepat mengekori Nadhila dari belakang, Hessel benar-benar Lupa akan apa yang Nadhila lakukan. Hessel berprasangka Nadhila akan menemui Tio. Tapi Nadhila melangkah Ke arah Pantry. Hessel pun akhirnya mengingat akan Tugas pertama setiap Hari Nadhila.


Ada apa dengan diriku?.


Kenapa aku tak mau dia sampai menemui Tio.


Ayolah Hessel kamu tidak mungkin telah tertarik padanya. Dhila hanya Pacar pura-pura di depan Oma.


Hessel bergumam dengan berdiri mematung di tempatnya. Tak lama Nadhila keluar dari Pantry dengan Sebuah Nampan di tangan nya. Nadhila terkejut melihat Hessel Bosnya sedang berdiri dengan melamun.


"Pak Hessel. Sedang apa bapak di sini?." Tanya Nadhila.


Lamunan Hessel pun buyar, setelah mendengar Suara Nadhila.


Hessel pun bingung untuk menjawab apa kepada Nadhila, ia pun menggaruk tengkuk nya yang memang tidak gatal.


Nadhila pun melanjutkan langkahnya setelah tidak mendengar jawaban Bos Aneh nya itu.


Nadhila pun menaruh nampan tersebut di atas meja yang di kelilingi sofa.


"Silahkan Bapak Sarapan dahulu." Nadhila mempersilahkan Bos nya Sarapan.


Hessel pun menurut, ia langsung duduk di sofa tersebut. Nadhila pun beranjak kembali ke meja kerja nya. Hessel mulai menyuapkan Sarapan yang di bawa Nadhila dari Pantry, dengan ekor mata nya melihat-lihat ke arah meja kerja Nadhila. Nadhila begitu fokus dengan layar computer yang di depan nya.


Hessel pun selesai dengan sarapan nya. Ia berdiri dan melangkah menuju meja Nadhila, Hessel berdiri tepat di belakang kursi Nadhila duduki. Hessel ingin melihat apa yang membuat Nadhila begitu fokus. Hessel pun membaca satu persatu yang Nadhila ketik. Sampai Nadhila membalikkan badan nya Hessel tak menyadari nya. Hingga Nadhila menubruk dada Hessel. Sungguh Nadhila begitu kaget akan Hessel yang berada di belakang nya.


"Ya Tuhan Saya kaget. Kenapa Pak Hessel ada di belakang saya?." Tanya Nadhila yang merasa Heran Bos nya berdiri di belakang nya.


Namun Hessel bukan menjawab, Ia malah terus menatap lekat wajah Nadhila.


Hessel malah bergumam di dalam hati nya.


Nadhila yang merasa heran, ia pun melangkah menuju dispenser air. Nadhila mengisi botol air minum nya.


Hessel yang merasa Nadhila tidak ada di depan nya, kini sadar. Ia cepat-cepat duduk di Kursi nya dengan menggelengkan kepalanya.


Hessel ada apa dengan mu?.


*Batin Hessel.


Nadhila yang sudah mengisi Air minum nya, ia duduk kembali di meja kerja nya. Tiba-tiba terdengar Suara telpon Kantor. Nadhila pun mengangkatnya.


"Hallo..."


" ................"


"Sebentar, saya akan memberitahukan dahulu kepada beliau."


Nadhila menerima telpon dari Lantai dasar, yaitu dari Recepsionis nya, Mangatakan Ada seorang Wanita yang ingin bertemu dengan Hessel. Nadhila pun memberitahukan dahulu kepada Hessel, dengan tidak menutup telpon nya terlebih dahulu. Nadhila kini menghampiri meja Hessel.


"Maaf Pak. Saya menerima telpon dari Resepcionis, bahwa di lantai bawah Ada seorang wanita yang ingin menemui bapak." Ucap Nadhila menyampaikan.


"Seorang Wanita?." Tanya Hessel.


"Iya Pak. Apa bapak akan menerima tamu tersebut?." Nadhila meyakinkan Hessel untuk menemui tamu nya atau tidak.


Hessel terdiam dahulu mengingat-ingat jadwal bertemu klien nya.


"Ya Sudah Suruh saja menemui saya. Mungkin saja dia klien baru kita." Suruh Hessel.


"Baik,Pak." Nadhila pun kembali menuju meja kerja nya, dan mengatakan lewat telpon tadi yang masih tersambung bahwa Hessel menyuruh Tamu tersebut untuk menemui nya.


Setelah selesai dengan telpon tersebut, Nadhila kembali fokus kepada pekerjaan nya.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!." Perintah Hessel dengan Matanya fokus ke layar komputer.


Terlihat Gadis seksi dan cantik masuk ke dalam ruangan, ia tersenyum melihat Hessel. Dan langsung memeluk Hessel. Membuat Hessel kaget dan melotot akan orang yang kini memeluk nya.


Sehingga Nadhila yang melihat pun merasa canggung, Nadhila cepat menundukkan kembali pandangan nya menuju layar komputer nya.


"Rebbeca, kenapa kamu bisa ke sini?." Tanya Hessel yang masih tidak percaya akan kedatangan Rebbeca.


"Aku mencari keberadaan Gedung Kantor mu. Dan ternyata tidak lah sulit." Ucap Rebbeca yang masih bergelayut di tangan Hessel.


Hessel melirik ke arah meja kerja Nadhila. Dan bergumam di dalam hatinya.


Kenapa dia diam saja?


Tidak mungkin dia tidak melihatnya?.


Hei Hessel ada apa, kenapa kamu mengharapkan yang tidak-tidak.


Hessel masih dengan melirik ke arah meja Nadhila. Rebbeca yang heran Hessel melirik ke arah lain, Rebbeca pun ikut melirik apa yang Hessel lihat. Rebbeca membola Mata nya saat melihat ada seorang wanita duduk di meja kerja nya.


"Siapa dia?." Tanya Rebbeca kepada Hessel.


Hessel terdiam lebih dahulu, kini ia menyunggingkan senyum nya teringat akan hari kemarin ia meminta bantuan Nadhila.


Hessel dengan cepat melepaskan tangan Rebbeca, dan melangkah menuju Meja kerja Nadhila. Dan berdiri di sampingnya.


"Dia Sekretaris ku. Dan Juga Dia kekasih ku." Ucap Hessel.


Dan membuat Nadhila menatap Hessel dengan melotot. Hessel yang di tatap Nadhila malah mengerlingkan matanya, seperti memberi Kode. Nadhila pun paham atas kode tersebut, Nadhila Langsung memasangkan senyum manisnya kepada Rebbeca yang mendekati meja nya. Rebbeca seperti sedang menilai tampilan Nadhila.


"Cantik..." Ucap Rebbeca dan terdengar oleh Hessel begitu juga Nadhila.


"Apa karena wanita ini kamu meninggalkan aku?." Tanya Rebbeca.


"Bukan." Jawab Hessel.


"Lalu karena apa?." Tanya Rebbeca kembali.


"Aku sudah merasa tidak cocok lagi dengan mu. Dan Kau selalu sibuk dengan pekerjaan Model mu." Hessel menjawabnya dengan jelas.


"Karena itu?. Bisakah kita memulai lagi hubungan kita Hessel?." Rebbeca mengemis.


"Tidak bisa. Aku sudah mempunyai kekasih yang sangat aku cintai." Ucap Hessel dengan mulai meraih tangan Nadhila, dan mengecupnya.


Hah... Berani beraninya dia memegang tangan ku dan mencium nya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Demi melancarkan kepura-puraan ku sebagai pacar bohongan nya. Aku harus tenang.


Nadhila yang melotot ke arah Hessel terus berbicara di dalam hatinya.


"Ayolah Sayang. Lihat aku. Jangan kerja terus." Ucap Hessel kepada Nadhila yang terus berkutat dengan berkas-berkas pekerjaannya.


Rebbeca sontak menjadi emosi mendengar Hessel memanggil kata Sayang, kepada Wanita yang ada di depan nya.


Nadhila pun menoleh ke arah Hessel, lalu tersenyum. Nadhila kemudian melirik ke arah Rebbeca.


"Siapa dia?." Tanya Nadhila kepada Hessel, memulai aksi pura-pura nya.


"Dia Rebbeca."


"Aku Pacar Hessel." Rebbeca dengan cepat menjawab.


"Mantan pacar." Hessel membenarkan ucapan Rebbeca.


"Tapi aku tidak mau putus sama kamu." Rebbeca membantah.


"Tapi aku tidak mau berhubungan lagi dengan mu Rebbeca." Tegas Hessel.


"Aku masih mencintai kamu Hessel." Jujur Rebbeca.


"Tapi aku Tidak." Hessel dengan mantap.


Nadhila yang mendengar Hessel dan Rebbeca berbicara dengan sahut-bersahut merasa pusing kepalanya. Nadhila pun bangkit dari duduk nya, berniat ingin keluar ruangan. Tapi Hessel dengan cepat menarik tangan Nadhila, lalu memeluknya.


"Kamu mau pergi kemana?. Jangan tinggalkan aku dengan dia di sini. Apa kamu tidak cemburu?." Hessel dengan memeluk Nadhila.


Nadhila yang di peluk, merasakan Jantung nya berdetak lebih kencang. Ia merasa gemetar karena baru kali ini ada lelaki yang berani memeluknya selain almarhum Ayahnya. Nadhila dengan cepat melepaskan pelukan Hessel tanpa menjawab ucapan Hessel. Nadhila melangkah cepat keluar ruangan. Ia sungguh tubuhnya gemetar, dengan jantungnya yang merasa akan lompat dari tempatnya.


Rebbeca tersenyum menyeringai melihat Nadhila yang pergi begitu saja.


Hessel pun bingung akan Nadhila yang tiba-tiba pergi keluar dengan melangkah cepat.


Bersambung.