Nadhila Story

Nadhila Story
Guna-guna apa yang sudah kamu pakai?



Saat pulang Hessel sengaja tidak mampir terlebih dahulu ke sebuah Restauran melainkan ia melajukan mobilnya agar cepat sampai di Kediamannya. Sengaja Hessel lakukan itu agar ia bisa makan malam bersama sang Oma yang Hessel sayang.


"Akhirnya kalian datang juga," pekik Oma yang senang mendapati ketiganya pulang dengan cepat.


"Iya Oma. Kebetulan kebakaran di sana sudah berhasil di padamkan. Dan tidak ada korban jiwa," ucap Hessel santai.


Nadhila hanya tersenyum saja saat mendapati sang Oma yang menatapnya senang. Sementara Delina Mami Hessel melenggang pergi.


"Ya, sudah kita makan malam sekarang! kalian belum makan di luar, kan?" Oma dengan senyuman mengembang di bibirnya berharap Cucu dan Cucu menantunya belum makan di luar.


"Belum, Oma. Hessel sengaja. Agar Hessel makan bersama dengan Oma," sahut Hessel membuat Oma tersenyum senang.


Hessel dan Nadhila mengikuti langkah Oma menuju ruang makan. Dan di ruang Makan sudah nampak Mami Delina sedang menata piring di atas meja.


"Delina, kenapa kamu tambahkan piring lagi?" tanya Oma saat duduk di kursi tempatnya biasa ia makan. Menatap bingung saat Delina menambah dua piring di meja.


"Ada temanku Ma. Sekarang masih di jalan. Aku sengaja mengundangnya untuk makan malam di sini. Tidak apa-apa kan, Oma?" Delina memastikan mertuanya.


"Ya. Tidak apa-apa," sahut Oma. Bagaimana pun Oma tidak bisa menolak toh tamunya sudah menuju ke rumahnya, pikir Oma begitu.


Hessel menatap tidak suka pada Maminya. Karena Hessel tahu teman yang di maksud Delina adalah Tantenya Rebecca.


"Selamat malam," suara serempak dari Yasmin dan Rebecca yang sudah menuju ruang makan. Keduanya di persilahkan masuk oleh pelayan sesuai intrupsi dari Delina tadi.


Delina langsung menghampiri dua tamunya itu. Sementara Nadhila merasa mendadak menjadi tidak nyaman. Apalagi Hessel yang sudah enggan berhadapan dengan mantan kekasihnya itu.


"Hai, Oma" Rebecca menyalami tangan Oma dan mencium kedua pipinya.


"Apakabar Rebecca?" tanya Oma yang ramah.


"Baik Oma, bagaimana Oma sendiri keadaannya, sehat?" tanya Rebecca lalu melirik ke arah dua kursi yang bersampingan.


"Keadaan Oma, sehat" sahut Oma.


"Hai, Hessel, Nadhila" sapa Rebecca ramah.


Nadhila hanya mengulas senyum. "Hai, Rebecca," sapa Nadhila.


Sedangkan Hessel menatap Rebecca dengan datar.


"Maksud Mami apa sih, harus mengundang Tante Yasmin beserta Rebecca makan di sini?" gerutu Hessel yang merasa tidak suka dengan keberadaan Rebecca bersama tantenya.


Hessel menggenggam tangan Nadhila di atas bawah meja. Membuat Nadhila menatap kepadanya.


"Ayo jeng, kita makan! aku sengaja ngundang kalian, kita sudah lama tidak bertemu!" ajak Delina dengan menarik satu kursi untuk Yasmin.


"Ayo, Sayang ... duduk!" lanjut Delina kepada Rebecca.


"Ah, iya tante" senyum mengembang di bibir Rebecca. Tentu karena senang bahwa ibu dari mantan kekasihnya memperlakukannya dengan baik.


Nadhila yang mendengar itu. Merasa tidak nyaman. Seakan kehadirannya tidak di inginkan oleh Delina. Mendengar sebutan kata 'sayang' kepada Rebecca. Membuat Nadhila berasumsi, bahwa Delina lebih menyukai Rebecca di banding dirinya yang sudah menjadi istri Hessel.


"Nadhila, ayo makan!" ucap Oma mempersilahkan Nadhila untuk makan karena menatap piringnya masih kosong.


"I-iya Oma," sahut Nadhila gugup. Lalu langsung mengambil nasi beserta lauk pauknya.


"Sayang, bagaimana dengan kariermu di sini?" Delina mengajak Rebecca untuk berbincang di sela-sela makannya.


"Lumayan tante. Walau tidak sesibuk di Jerman," sahut Rebecca.


Hessel muak mendengarkannya. Ia dengan cepat mengakhiri makannya. Lalu menatap Nadhila yang masih makan dengan pelan.


"Apa kamu mau saya suapin?" tanya Hessel yang menatap gerakan tangan Nadhila yang seperti tidak bertenaga.


Nadhila menggeleng. Ia mempercepat gerakan makannya kala melihat Hessel seperti menunggunya.


"Mas, aku sudah selesai" bisik Nadhila pada Hessel.


Hessel mengangguk. Lalu beralih menatap Oma dan yang lainnya. "Maaf semuanya. Kami berdua sudah selesai," Hessel berdiri dengan menggenggam tangan Nadhila di hadapan semuanya dan melenggang pergi dari ruang makan.


"Biarkanlah, Delina. Mereka butuh waktu berdua. Mereka baru pengantin baru" Oma sengaja menimpali dan menekankan semua ucapannya agar terdengar oleh Rebecca yang tidak Oma sukai.


"Betul itu," Rebecca menyahuti. Padahal di dalam hatinya ia menggerutu. "Awas kau Nadhila. Beraninya sekali merubah Hesselku menjadi takluk kepadamu!"


Sementara itu Nadhila dan Hessel tengah duduk di balkon kamar. Keduanya memandangi langit malam yang cerah dengan bertabur bintang. Hessel menghirup nafas dengan perlahan. Sedari tadi ia ingin menanyakan perihal Nadhila yang saling menyapa dengan Rebecca.


"Nadhila ...," panggil Hessel seketika membuat Nadhila menoleh kepadanya.


"Apa Mas?"


Hessel menatap lekat wajah cantik Nadhila, "Saya merasa kamu dengan Rebecca seperti akrab?"


Nadhila mengulas senyum, "Bukannya, itu lebih baik Mas. Dari pada bermusuhan," kata Nadhila dan langsung dapat anggukan dari Hessel. Walau Hessel masih penasaran mengapa bisa Nadhila dan Rebecca akrab dengan cepat. Tapi, Hessel tidak mau bertanya lebih lanjut. Karena Hessel merasa itu tidak perlu. Padahal, Nadhila sudah di racuni pikiran buruk oleh mantan pacarnya itu, tanpa Hessel tahu.


"Mas, em ...," Nadhila ragu untuk melanjutkan apa yang akan di ucapakannya.


Hessel mengernyit, menunggu apa yang akan Nadhila katakan kepadanya. Tapi, yang di tunggu malah terdiam dengan pikirannya.


"Hei, mau bicara apa?" tanya Hessel lalu merangkul bahu Nadhila, dan ia usap lengan Nadhila dengan penuh sayang.


Nadhila menggeleng, sebenarnya ia banyak sekali yang ingin di tanyakan kepada Hessel. Dari masalah apa yang telah Rebecca katakan waktu itu, bahwa Hessel sudah sering tidur bersamanya, dan mengenai Mami Delina yang seperti tidak menyukai dengan keberadaannya. Tapi, Nadhila belum berani mengatakannya.


"Sayang ... kamu di sini?" Mami Delina mendekati dimana Hessel dan Nadhila yang tengah duduk berdekatan di Balkon. Seketika Nadhila menoleh bersamaan dengan Hessel.


"Ada apa, Mi?" tanya Hessel.


Mami Delina menatap Nadhila dengan tatapan yang tak bisa Nadhila mengerti.


"Turun dulu, Tante Yasmin dan Rebecca akan pulang," ujarnya.


Hessel menggeleng, "Maaf, Mi. Hessel sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarga itu. Jadi, Maaf Hessel tidak perlu menemui mereka," sela Hessel yang menolak perintah Sang Mami.


Mami Delina menggeram kesal. Baru kali ini putra tunggal kesayangannya menolak hal kecil yang ia perintahkan. Membuat Mami Delina menatap tajam kepada Nadhila.


"Benar dugaan Mami. Semenjak kamu kenal wanita ini. Kamu banyak berubah," tukas Mami Delina dengan sorot mata yang seakan menerkam Nadhila begitu saja.


"Guna-guna apa yang sudah kamu pakai untuk memikat putra saya?!" Mami Delina dengan penuh emosi.


Nadhila menatap Hessel dengan menggeleng, ia benar-benar tidak mengerti apa yang Mami Delina tanyakan.


"Aku gak--"


"Jangan banyak alasan. Aku tahu kamu, pasti sudah mengguna-guna anak saya, dukun mana yang sudah kamu datangi? aku akan datang kepadanya, untuk menghentikan perintahmu!!" teriak Mami Delina. Membuat Hessel meradang.


"Mami, cukup!" pekik Hessel dengan tegas.


"Diam kamu Hese--"


"Maaf Mami. Mami jangan mengatakan sesuatu yang membuat Hessel tidak suka. Atau yang membuat Hessel marah. Kedekatan kita murni, kita saling mencintai. Malah Hessel yang sudah mencintainya lebih dahulu. Jadi, mohon Mami jangan menuduh sesuatu yang tidak masuk di akal!" nada Hessel tegas namun dengan penuh kelembutan. Walau bagaimanapun seseorang yang ia hadapi adalah sang Mami. Jadi Hessel tahu batasan untuk meluapkan amarahnya.


Mami Delina berdecak kesal. Matanya masih menyorot tajam. Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung melenggang pergi meninggalkan Hessel dan Nadhila yang kini menegang.


Hessel mengacak rambutnya, merasa pusing dengan apa yang ia hadapi kini.


"Maaf," ucap Nadhila dengan lirih.


"Maaf untuk apa?" tanya Hessel yang tidak mengerti maksud maaf yang Nadhila tujukan.


"Maaf, Mas. Kehadiranku, membuat Mas menjadi tidak nyaman." Nadhila tahu Hessel seperti frustasi. Ada dirinya merasa tidak baik demi hubungan anak dan ibu itu.


Hessel menggeleng, "Apa sih, siapa yang tidak nyaman? saya sangat nyaman berada di dekatmu, bahkan selalu bersamamu," tegas Hessel.


Namun, Nadhila malah terdiam. Bukan senang atau bahagia mendengar ucapan Hessel barusan. Nadhila malah merasa bersalah. Kehadirannya membuat Mami Delina harus bertengkar dengan putranya karena dirinya.


Bersambung...