Nadhila Story

Nadhila Story
Kemahiran Delina bersandiwara.



Delina dan Nadhila pun kini sudah sampai di Mall besar pusat kota. Delina mengajak Nadhila ke lantai dua, dimana terdapat banyak outlet makanan. Sesampainya di lantai dua Delina berpamitan ke toilet, dan membiarkan Nadhila untuk memilih meja di stand Korea food.


Nadhila sengaja memilih meja depan, agar ibu mertuanya saat nanti datang tidak kesusahan untuk mencarinya.


"Akhirnya, aku bisa jalan-jalan bersama Mami," gumam Nadhila merasa senang, seraya membaca buku menu yang ada di atas meja. Sungguh tidak menyangka. Nadhila bisa seakrab seperti sekarang bersama ibu mertuanya.


Tidak lama, datang seseorang yang kedatangannya memang sudah di setting oleh Delina.


"Selamat siang," ucap Dokter Rendy berbasa basi menyapa Nadhila.


Nadhila menoleh menatap seseorang tersebut, "Iya," jawab Nadhila sambil mengingat-ingat wajah seseorang yang berdiri di depannya.


Dokter Rendy tersenyum. Merasa terpukau dengan wajah Nadhila yang teduh, di tambah balutan make-up tipis yang sangat pas di wajahnya.


"Apa yang membuat Nyonya Delina tidak suka dengan menantunya ini?" tanya Dokter Rendy dalam hati.


Dokter Rendy mengulurkan tangan, bermaksud mengenalkan dirinya. Karena dari tatapan Nadhila, seolah sedang mengingat-ingat dirinya.


"Perkenalkan saya Rendy, dokter pribadi Nyonya Delina. Nona menantu nya 'kan?"


"Oh i-iya ... pantas saja saya seperti pernah melihat anda," kata Nadhila dengan membalas uluran tangan Dokter Rendy.


"Nama saya Nadhila," lanjutnya menyebutkan namanya.


Dokter Rendy tersenyum, "Boleh saya duduk di sini?" tanya nya kemudian.


"Silahkan! Kebetulan Mami juga bersama saya. Hanya sekarang Mami sedang ke toilet," Nadhila membolehkan Dokter Rendy untuk duduk dan memberitahukan kebersamaannya dengan Delina yang kebetulan sedang ke toilet.


Dokter Rendy kembali terpana. Kali ini terpana dengan tutur kata Nadhila yang lembut serta sopan. Membuat Dokter Rendy lagi-lagi bertanya, mengapa Delina tidak suka pada Nadhila.


Dokter Rendy pun duduk, "Wah kebetulan sekali ya," sahut Dokter Rendy seolah-olah kedatangannya memang benar suatu kebetulan.


Nadhila mengangguk serta tersenyum.


Sedari tadi pelayan yang bertugas akan mencatat pesanan yang terus berdiri. Di suruh kembali nanti saat Delina datang oleh Nadhila. Karena, Nadhila belum tahu selera ibu mertuanya itu.


Kini di meja itu tidak ada pembicaraan. Membuat Dokter Rendy mencari akal, agar Delina bisa memotret kebersamaan nya. Seperti yang sudah di perintahkan Delina saat sebelum masuk ke dalam toilet saat tadi. Dan pada saat ada pramusaji yang akan melewati Dokter Rendy. Dokter Rendy sengaja memasang kakinya dengan posisi sedikit memalang agar pramusaji tersebut tersandung.


Dan benar saja. Minuman di atas nampan yang di pegang tangan Pramusaji tumpah, dan tepat sekali mengenai kemeja Nadhila. Bahkan tumpahnya tepat pada dada Nadhila.


"Maaf Nona, saya tidak sengaja!" kata pramusaji tersebut dengan wajah takut.


Nadhila tahu pramusaji tersebut tidak sengaja, "Iya gak apa-apa, Mas" kata Nadhila dengan menatap pramusaji. Dan mengelap wajahnya yang sedikit cipratan air jus.


Dokter Rendy bergerak berdiri, "Bagaimana Mas ini, kenapa sampai ceroboh?" ucapnya memarahi pramusaji.


Pramusaji hanya bisa menunduk, "Maaf Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja," dari nadanya sangat terlihat takut.


"Akan saya laporkan sekarang juga pada atasan mu agar di pecat!" ancam Dokter Rendy.


"Tidak perlu Dok! Mas ini gak sengaja. Saya sudah memaafkan nya kok, jadi tidak perlu di perpanjang," Nadhila dengan cepat menghentikan ucapan Dokter Rendy.


Nadhila kemudian kembali menatap pramusaji, "Mas lain kali berhati-hati ya! takutnya, kejadian serupa menimpa kembali kepada Mas," kata-kata Nadhila seolah nasihat agar pramusaji tersebut tidak ceroboh.


Nadhila pun mengangguk paham.


Dokter Rendy terdiam. Kini diamnya itu merasa kagum pada Nadhila. Nadhila benar-benar pembawaannya lemah lembut, bahkan keadaan dirinya sedang mendapat keteledoran dari orang lain, masih saja bertutur kata yang sopan. Jika kejadian seperti barusan terjadi pada wanita-wanita lain, sudah pasti Pramusaji sudah di caci maki, begitu pemikiran nya.


"Ya sudah. Mas silahkan pergi!" kata Dokter Rendy berpura-pura masih emosi.


Kini Dokter Rendy menatap kemeja Nadhila yang basah. Mendadak tenggorokan nya tersedak salivanya sendiri. Bagaimana tidak? Dibalik kemejanya yang basah, Dokter Rendy bisa menatap dengan jelas belahan dada yang terlihat ukurannya sedang dengan penutup berwarna merah.


Dokter Rendy cepat-cepat melepaskan blazer yang di kenakan nya, berusaha memberikan perhatian kepada Nadhila. "Nona, pakailah blazer saya. Agar bisa menutupi bagian tubuh anda yang basah," ujarnya.


Nadhila terperangah, dengan menerima blazer milik Dokter Rendy.


"Terima kasih dok," ucap Nadhila dengan cepat memakai blazer milik Dokter Rendy.


Dokter Rendy kemudian meraih tisu, "Maaf Nona. Bagian rambut Nona ada yang basah terkena jus tadi," seraya tangan dokter Rendy mengelapkan tisyu tersebut pada rambut depan Nadhila.


Lalu Nadhila sendiripun tidak bisa mencegah pergerakan Dokter Rendy yang sudah cepat mengelap rambutnya menggunakan tisu.


Posisi Dokter Rendy yang sedang mengelap rambut Nadhila tersebut, begitu pas untuk Delina memotretnya. Seperti Nadhila tengah berciuman dengan seorang pria. Karena posisi Dokter Rendy sedikit condong ke depan, yang memang membelakangi dimana Delina sedang sembunyi.


"Sudah. Lumayan tidak terlalu basah," ujar Dokter Rendy yang merasa perbuatannya sudah lumayan lama untuk Delina mengambil gambar.


"Terima kasih," Nadhila berucap walau di dalam hatinya merasa was-was takut ada yang salah paham.


"Nona kenapa memaafkan pramusaji tadi?" Dokter Rendy berbasa-basi.


"Saya yakin, pramusaji itu tidak sengaja Dok,"


"Tapi tetap, itu sangat teledor sekali. Untung orangnya Nona. Kalau orang lain sudah pasti pramusaji tersebut dapat cacian,"


"Tidak pantas jika pramusaji itu dapat cacian atau makian. Karena sejatinya manusia adalah tempat salah dan lupa. Dan menurut saya sesama manusia, lebih baik saling memaafkan,"


Nyess... hati Dokter Rendy merasa adem dengan perkataan Nadhila. Membuat dirinya merasa bersalah, yang sudah menerima perintah dari Delina. Sehingga kesalahan pramusaji tersebut adalah kesalahan besar yang dirinya ciptakan.


"Loh, kok ada Dokter Rendy?" Delina kini datang menghampiri dengan cepat menyapa Dokter Rendy seolah keheranan dengan keberadaan nya.


Dokter Rendy pun seolah-olah sama dengan Delina, "Nyonya. Maaf saya ikut bergabung di meja ini. Kebetulan saya tadi habis membeli sesuatu di Mall sini. Dan saat berniat mau makan siang. Saya melihat menantu Nyonya. Saya hampir dan menyapanya,"


Delina mengangguk-angguk dan duduk di kursi samping Nadhila, "Ya sudah lebih baik kita makan siang bersama," sahutnya. Lalu menatap meja, "Loh kok masih kosong, belum ada yang pesan?"


"Maaf, Mi. Nadhila sengaja menunggu Mami. Karena Nadhila belum tahu makanan kesukaan Mami, sehingga Nadhila menunggu Mami," ujar Nadhila menjelaskan.


"Oh ya Ampun. Nadhila segitunya kamu, maaf Mami lama ya di toiletnya. Tadi ngantri. Lalu pas selesai, ada yang nelepon. Jadi Mami sengaja menjawab di toilet saja, agar tidak ada suara berisik," Delina memberikan alasan kepada Nadhila.


Nadhila pun hanya tersenyum seraya mengangguk paham.


"Ternyata Nyonya begitu Mahir dalam sandiwara," gumam Dokter Rendy memperhatikan dan menyimak ucapan Delina kepada Nadhila. Sehingga ada rasa kasihan kepada Nadhila. Tapi, Dokter Rendy tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti setiap apa yang akan Delina perintahkan, karena terlalu banyak jasa keluarga Wijaya terhadap keluarganya. Sehingga menjadi senjata Delina untuk mengancam Dokter Rendy.


Bersambung...