
"Mami, istirahat ya. Nanti akan ada Dokter Rendy yang sengaja mengantar obat ke mari," Hessel dengan menyelimuti Mami Delina. Dan mengecup pipi Maminya itu dengan sayang.
Delina hanya mengangguk dengan tersenyum.
Hessel keluar dari kamar Delina. Setelah itu Delina tersenyum senang. Perlahan tapi pasti putra kesayangannya itu akan mematuhi apa yang Delina pinta. Dengan penuh keyakinan Delina kembali tersenyum menyeringai.
"Mas," sapa Nadhila yang melihat Hessel masuk ke dalam kamar. Hessel langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan Nadhila yang sedang terduduk di sofa.
"Entah sejak kapan Mami menderita kanker? perasaan saya, Mami sangat higenis dalam memilih makanan. Dan begitu dengan kesehatan. Mami sangat menjaga," Hessel dengan menatap langit-langit kamar membayangkan kebiasaan apa yang Delina lakukan dalam menjaga kesehatannya.
Tangan Nadhila repleks mengusap-usap rambut Hessel yang kepalanya tertidur di atas pangkuannya.
"Mas, semua itu sudah kehendak Tuhan. Sekeras apapun kita berencana. Jika Allah berkehendak lain. Maka, kita tidak bisa berbuat apa-apa."
Nadhila memberikan pengertiannya kepada Hessel, dan membuat Hessel sedikit tenang.
"Iya, benar juga. Em ... bukankah, makhluk akan di uji sesuai kemampuannya?" Hessel mengatakan apa yang pernah ia baca di sebuah buku. Dan perkataan Hessel tersebut membuat Nadhila mengangguk dengan menyunggingkan senyuman bangga. Karena Hessel sudah mulai tahu tentang hal itu.
Hessel menegakkan tubuhnya. Dan kini ia duduk di samping Nadhila.
"Berjanji pada saya, jika ada sesuatu terjadi yang mengusik rumah tangga kita, kamu tidak akan meninggalkan saya!" Hessel menatap netra mata Nadhila yang begitu teduh siapapun yang melihatnya.
"Mas, aku tidak akan meninggalkanmu. Selama itu kamu yang mau," Nadhila dengan tegas mengatakannya. Sejujurnya ada sedikit takut di dalam hatinya setelah tahu bahwa Mami Delina tidak menginginkan keberadaannya. Tapi, selama Hessel tidak mempermasalahkan itu. Ia akan berjuang mempertahankan posisinya.
Hessel tersenyum. Apa yang Nadhila katakan membuat hatinya sedikit menghangat. Hessel sendiri tidak akan melepaskan istrinya itu. Walau kini statusnya masih istri siri. Dalam hatinya berjanji setelah keadaan Mami Delina membaik. Ia akan menggelar resepsi pernikahan untuk meresmikan pernikahannya itu agar sah dalam mata Negara dan Agama.
Tanpa Hessel ketahui. Mami Delina merencanakan perpisahan antara dirinya bersama sang istri dengan trik yang begitu licik. Mengelabui semua orang dengan berpura-pura sakit Kanker.
"Mas, mau mandi sekarang?" tanya Nadhila yang melihat Hessel meraih handuk.
Hessel mengangguk.
"Mas," panggil Nadhila saat Hessel yang baru akan masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada apa?" sahutnya dengan menatap Nadhila yang berdiri sedikit jauh darinya.
"Mas, bisa tidak bicaranya jangan terus resmi seperti di Kantor?" pinta Nadhila. "Aku, jadi merasa canggung Mas," lanjutnya lagi.
"Maaf. Mungkin karena kebiasaan di kantor. Baiklah, saya akan memenuhi permintaanmu. Tapi, mendekatlah!"
Nadhila pun menurut ia mendekati Hessel. Hingga kini jarak antara dirinya hanya sejengkal.
"Lebih dekat lagi!" titah Hessel.
"Kenapa harus terlalu dekat, Mas?" Nadhila tidak mengerti.
Hessel tidak menyahuti. Memilih dirinya yang maju satu langkah. Kini nafasnya terasa menerpa wajah Nadhila yang sudah berhadapan dengannya. Begitupun dengan Nadhila, hembusan nafasnya terasa hangat dan sejurus kemudian Hessel merasakan ada gelenyaran hasrat yang menjalar pada tubuhnya.
Cup
Hessel mengecup bibir Nadhila sekilas. Lalu tersenyum menggoda setelahnya.
"Gak usah melotot begitu? apa, kecupanku kurang?" Hessel sengaja menggoda Nadhila yang terkejut karena mendapat kecupan darinya. Dengan ucapan yang sudah tidak terlihat resmi seperti yang di minta Nadhila tadi.
"Sudah. Mas, bukannya mau mandi?" Nadhila sengaja mengalihkan. Dirinya begitu malu jika harus membahas yang baru saja Hessel lakukan.
"Baiklah," Hessel dengan cepat berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Dengan senyuman mengembang di bibirnya. Ia begitu bersyukur mendapatkan istri yang begitu polos dalam hal sentuh menyentuh. Tiba-tiba Hessel jadi membayangkan bagaimana nanti tubuh Nadhila berada di bawah tubuhnya, dengan mengeluarkan suara seksi dan lembut membuat Hessel tersenyum lebar.
Sementara Nadhila ia tersenyum dengan memegang dada kirinya. Nadhila merasakan debar jantungnya tidak beraturan setelah berdekatan dan mendapat kecupan dari Hessel. Membuat Nadhila paham begitu indahnya jatuh cinta.
Di Kamar Delina.
Yasmin datanglah. Aku takut usiaku tidak panjang lagi. Makanya aku ingin bertemu denganmu.
Isi pesan yang Delina kirimkan kepada Yasmin temannya.
Delina kini duduk bersandar di sandaran ranjang king sizenya. Ia memberikan pesan kepada Yasmin seolah-olah dirinya benar-benar dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Apa yang terjadi denganmu Delina? kenapa kamu berkata seperti itu?
Ok aku akan datang sekarang juga bersama Rebecca ke sana.
Balasan pesan yang Yasmin kirimkan. Membuat senyuman di bibir Delina melebar. Delina akan mempersiapkan dirinya agar benar-benar terlihat lemah oleh temannya itu.
Ceklek
Suara pintu kamar Delina terbuka. Ia menatap Hessel yang masuk ke dalam kamarnya dengan di ikuti Nadhila di belakangnya.
"Mami, apa ada yang Mami butuhkan?" tanya Hessel dengan menggenggam tangan Delina.
Delina mengulas senyum dengan keadaan yang terlihat lemah.
"Mami tidak perlu apa-apa. Hanya Mami ingin meminta sesuatu kepadamu," lirih Delina. Membuat Hessel merasakan sedih. Melihat Delina yang bersuara lirih seperti menahan sakit.
Nadhila yang berasal orang lainpun merasakan sedih. Melihat Ibu mertuanya yang kini lemah.
"Apa yang Mami minta?" tanya Hessel ingin tahu permintaan apa yang Delina inginkan.
Delina menatap Nadhila dengan tatapan sendu. Kemudian ia beralih menatap Hessel putra tunggal kesayangannya.
"Menikahlah--" suara Delina tersengal.
Hessel tersenyum.
"Dengan Rebecca," lanjut Delina. Membuat senyuman pada bibir Hessel surut.
Hessel menggeleng. "Tidak, Mami. Hessel sudah menikahi Nadhila. Tidak mungkin Hessel menikahi Rebecca," tentu Hessel akan menolaknya. Rebecca masa lalunya. Dan Hessel tidak sedikitpun tertarik untuk menjalin rumah tangga dengan gadis itu.
Tatapan Delina begitu sendu. "Nak, maafkan Mami. Mami hanya ingin permintaan Mami ini di turuti sama kamu. Sebelum, nyawa Mami menghilang dari tubuh Mami ini yang mulai sakit dan melemah," Ah benar-benar sandiwara yang bagus. Delina tersenyum di dalam hatinya mengaspresiasi bakatnya yang membuat Putranya itu berwajah sedih setelah mengucapkan itu semua.
Hessel terdiam. Hatinya merasa tercubit mendengar penuturan Delina yang menyangkut pautkan dengan nyawa. Hessel tidak sanggup jika sesuatu terjadi pada Delina sehingga membuat dirinya kehilangan sosok sang ibu.
"Mami lebih baik istrahat ya, Hessel mau acara empat puluh hari almarhumah Ibu Nadhila," Hessel mengecup kening Delina dengan lama. Lalu melenggang pergi dengan menggandeng tangan Nadhila di hadapan Delina. Nadhila sebelum di gandeng Hessel, ia membungkukkan tubuhnya seperti memberikan hormat kepada ibu mertuanya itu.
Wajah Delina menggelap. Merasakan marah kepada Hessel yang tidak mengabulkan permintaannya. Namun, Delina tidak akan menyerah. Ia akan menyusun rencana lain kembali.