Nadhila Story

Nadhila Story
Drama Delina.



Nadhila menyantap makanan nya dengan suasana bahagia. Selama perbincangan Delina ibu mertuanya, menceritakan tentang Nadhila kepada Dokter Rendy. Dari hal masakan Nadhila, sifat Nadhila, serta kesopanan Nadhila. Memang Ada rasa senang di hati Nadhila, sehingga Nadhila berpikiran bahwa Delina memang sudah menerima dirinya sebagai menantu.


Padahal tanpa Nadhila ketahui, ucapan manis itu semua hanya bualan Delina agar Nadhila semakin yakin bahwa memang dirinya sudah menerima Nadhila seperti pikiran Nadhila saat ini.


"Wah, kalau ada lagi wanita yang seperti Nadhila ini, saya mau juga Nyonya," celetuk Dokter Rendy.


Delina memandang wajah Dokter Rendy, yang kebetulan kini sedang menatap ke arah Nadhila. Namun Nadhila sejak tadi menyantap makanan nya hanya dengan tertunduk, sehingga tidak tahu jika saat ini sedang di tatapi oleh dokter Rendy.


"Ya, dokter cari sendiri. Zaman sekarang sudah langka loh, kriteria seperti Nadhila ini. Beruntung Hessel mendapatkan nya," sahut Delina semakin memuji Nadhila.


Kini Nadhila ikut menimpali, berniat untuk mengakhiri ucapan-ucapan manis sang ibu mertua.


"Mami bisa aja. Maaf, Nadhila masih banyak ke kurangan nya. Dan setiap sudut pandang orang pasti berbeda-beda. Maka, Mami jangan menerbangkan nama Nadhila setinggi itu," dengan tersenyum setelahnya.


"Tuh 'kan, Mami benar-benar bangga punya menantu seperti kamu. Sudah di puji-puji, masih saja merendah," Delina dengan wajah berbinar seolah memang ucapan nya benar-benar tulus.


Dokter Rendy kali ini hanya tersenyum. Dengan menatap ke arah Nadhila, lalu setelah itu menatap ke arah Delina yang sedang memberikan jenis-jenis makanan yang ada di meja.


"Maksudnya nyonya itu apa ya, dengan memuji-muji Nadhila di depan saya? apa memang semuanya hanya drama?" batin Dokter Rendy bertanya-tanya dengan ucapan-ucapan Delina.


Dokter Rendy justru bingung. Dengan Delina yang katanya benci pada Nadhila. Tapi, kini malah memuji semua yang ada pada Nadhila. Walau sebenarnya Dokter Rendy menyetujui, jika semua ucapan manis Delina itu benar. Dokter Rendy sendiri bisa menilainya sendiri walau baru dua kali bertemu dengan Nadhila.


Dokter Rendy merasa dirinya harus cepat meninggalkan tempat itu. Mengingat tugas yang Delina berikan sudah berhasil ia laksanakan.


"Nyonya, Nadhila ... mohon maaf saya pamit terlebih dahulu. Karena jam tiga nanti saya ada jadwal praktek," ucap Dokter Rendy menatap ke arah Delina dan Nadhila.


"Oh, ya sudah. Terima kasih ya Dokter Rendy, sudah mau bergabung makan siang bersama kami," kata Delina berbasa basi agar tidak terlihat angkuh di depan Nadhila.


"Soal blazer nya, Nadhila pinjam dulu. Nanti di kembalikan," Nadhila menyahuti.


"Sama-sama Nyonya," balas Dokter Rendy pada Delina.


"Baik Nadhila. Tenang saja. Kapan-kapan boleh di kemvalikan," lanjutnya membalas ucapan Nadhila.


Kemudian setelah itu Dokter Rendy melenggang pergi meninggalkan meja yang di tempati bersama Delina dan Nadhila. Dokter Rendy langsung menuju kasir, berniat membayar semua tagihan makanan. Dokter Rendy gengsi jika soal makanan harus di traktir oleh orang lain, walaupun Delina sudah di anggap seperti bosnya.


Di meja, Delina mengakhiri makan nya. Dengan meminum jus kesukaan nya.


"Nadhila, baru kali ini Mami makan dengan lahap. Biasanya Mami cuma makan sedikit. Apa mungkin karena pikiran Mami saat ini sedang bahagia ya?"


Nadhila pun sudah menyelesaikan makanan nya, "Syukurlah kalau Mami merasa lahap. Memang benar kebahagiaan seseorang itu mulai dari pikiran nya sendiri. Dan Alhamdulillah jika Mami pikiran nya sedang bahagia. Nadhila ikut senang, Mi" jawab Nadhila yang kena banget dengan ucapan Delina.


Delina mengangguk-angguk, "Kalau begitu Mami ingin secepatnya keinginan Mami itu terkabul, Nadhila" ujar Delina yang membuat Nadhila langsung menghentikan niatan nya yang akan meminum air mineral.


"Mami benar-benar ingin melihat Hessel menikah dengan Rebecca. Jadi Mami sudah siap jika nyawa Mami akan segera di ambil," Delina menatap Nadhila dengan tersenyum.


Nadhila pun mengangguk pelan. Walau sebenarnya ada rasa sakit yang begitu tajam menembus dadanya. Tapi, demi kesembuhan ibu Mertuanya, Nadhila akan mengabulkan permintaan nya itu. Nadhila takut terjadi sesuatu jika Nadhila sampai tidak mengabulkan nya. Bayangan tentang mendiang ibunya yang pernah berwasiat tentang keinginan nya, melihat Nadhila menikah selalu menghantui pikiran Nadhila. Dan Nadhila tidak mau itu terjadi pada Delina.


"Ya sudah kita cari-cari barang yuk setelah ini!" ajak Delina.


Nadhila kembali merespon ibu mertuanya itu dengan mengangguk.


"Dokter Rendy, baik juga ya Mi," ucap Nadhila setelah meninggalkan meja Kasir.


"Memang anak itu baik. Keluarganya, sudah Mami anggap seperti keluarga Mami sendiri. Ya mungkin sepantasnya ia berlaku seperti itu," ada nada angkuh pada ujung ucapan Delina.


Nadhila hanya mengangguk saja.


Delina mengajak Nadhila ke sebuah butiq besar yang berada di Mall tersebut. Bahkan, Delina memilihkan dress serta tas untuk Nadhila.


"Mi, ini mahal-mahal semua," ujar Nadhila saat melihat bandrol harga di setiap helai pakaian serta barang lain nya.


"Ya ampun Nadhila. Kamu tidak ingat jika suami yang sudah menikahimu adalah anggota keluarga dari orang kaya? maka nikmatilah harta keluarga suami mu itu!" cetus Delina seakan menyuruh Nadhila untuk membeli apapun yang selama Nadhila mau dengan harta keluarga suaminya.


"Tapi, Mi--"


"Sudah ya, jangan nolak! ini Mami sengaja belikan buat kamu. Kamu harus terlihat berbeda Nadhila, kamu itu sebagai menantu keluarga Wijaya," potong Delina saat Nadhila kembali ingin menolak.


Nadhila pun akhirnya pasrah menerima.


Sampai tidak terasa Nadhila dan Delina pulang pada jam lima sore. Dengan terakhir melakukan perawatan wajah dan tubuh. Sehingga tubuh Delina dan Nadhila pun kini merasa ringan.


"Nadhila ke kamar dulu ya, Mi" ucap Nadhila saat sudah berada di dalam rumah.


"Iya, Nadhila. Mami juga mau ke kamar. Mau istirahat sebentar,"


Nadhila dan Delina pun masuk ke dalam kamarnya masing-masing.


Delina yang kini di dalam kamar. Langsung menaruh barang belanjaan nya. Lalu duduk di pinggir ranjang. Setelah itu, ia teringat akan paket yang tadi ia taruh sebelum berangkat. Delina penasaran dengan reaksi obat tidur kali ini yang ia pesan dari Dokter Rendy. Delina berharap semua rencananya berhasil.


Tidak lama kemudian Delina keluar dari kamarnya, setelah mengganti pakaian.


"Hei, sudah di dapur aja?" tanya Delina saat mendapati Nadhila yang kini sudah berkutat pada bahan masakan di ruang dapur.


"Iya Mi. Nadhila mau masak buat Makan malam nanti," kata Nadhila dengan tersenyum.


"Jadi gak sabar Mami ingin makan," Delina bisa saja membuat Nadhila tersenyum dengan ucapan palsunya.


"Oh, ya Mami mau bikin teh. Apa mau Mami buatkan?" Delina berniat untuk membuat teh untuk dirinya, sekalian akan membuat untuk Nadhila juga.


"Boleh Mi. Kalau Mami tidak merasa repot," jawab Nadhila yang kini sudah mencuci sayuran yang sudah ia potong.


"Cuma bikin teh, tidak mungkin Mami repot," sahut Delina dengan tangan nya kini sudah meraih dua gelas cangkir. Sengaja Delina memilih dengan corak gelas cangkir yang berbeda. Agar ia bisa membedakan teh untuk Nadhila dan juga dirinya.


Saat Nadhila fokus memasukkan bahan bumbu pada blender. Delina mulai beraksi. Memasukan serbuk obat tidur yang sudah ia siapkan di balik saku dasternya. Serbuk itu sudah berhasil masuk pada teh, lalu Delina dengan cepat mengaduknya agar ikut larut dengan gula.


"Nikmatilah permainan ibu mertua mu ini Nadhila ... bahkan saya enggan mengaku sebagai ibu mertua mu. Jika tidak ada rencana untuk membuat Hessel marah serta kecewa pada mu," Delina berbicara di dalam hatinya dengan menatap sinis pada punggung Nadhila, yang kebetulan posisinya memunggungi Delina.


Bersambung...