Nadhila Story

Nadhila Story
Nadhila bingung.



Setelah Hessel pergi berangkat ke Kantor. Delina langsung menelepon Dokter Rendy. Dan menanyakan tentang dosis obat tidur yang telah Delina berikan kepada Nadhila. Ternyata dosis yang di berikan dokter Rendy, masih sangat aman. Efek samping dari obat tidur tersebut hanya memberikan kelesuan pada tubuh.


"Berikan dosis yang tinggi sekarang juga!" kata Delina meminta dosis yang tinggi, untuk obat tidur yang di pesan nya kali ini.


Dari sebrang telepon Dokter Rendy mengerutkan dahi karena bingung, "Apa nyonya, insomnia?" tanya nya ingin tahu, sebab Delina meminta dosis yang tinggi.


"Iya," sahut Delina cepat tanpa menjelaskan bahwa obat tidur yang di pintanya, akan di berikan kepada Nadhila.


"Tapi nyonya, anda jangan terlalu banyak mengkonsumsi obat tidur secara berlebihan. Nanti efeknya akan tidak baik," saran Dokter Rendy.


"Kali ini saja. Tapi butuh stok yang banyak. Agar aku tidak meminta lagi pada mu, saat aku sedang insomnia. Jadi jangan khawatir, saya hanya menggunakan nya sesekali," ketus Delina tanpa mau mendengar saran Dokter Rendy dan beralasan yang lain.


"Baiklah nyonya. Saya akan kirimkan segera," akhirnya Dokter Rendy berkata patuh.


"Kebetulan saya sedang berada di rumah Nadhila menantu saya. Jadi alamatnya nanti akan saya kirim lewat chat," kata Delina memberitahukan tentang posisinya agar dokter Rendy mengantarkan pesanan nya dengan sesuai.


"Baik nyonya," sahut Dokter Rendy singkat.


Dan setelah itu Delina menutup sambungan telepon nya, dan meng-share lokasi yang kini ia tempati kepada Dokter Rendy. Kini ia melirik ke arah kamar Nadhila yang masih saja tertutup pintunya.


"Lama juga ya, efeknya. Padahal sekarang hampir jam sembilan," gumam Delina seraya menatap jam di dinding ruangan tersebut.


"Gak kebayang jika setiap hari gadis itu tertidur dengan pulas. Hessel akan merasa kecewa, atau bahkan membencinya," kata Delina dengan pelan, yang berniat akan membuat Nadhila tertidur setiap hari.


Sementara itu Nadhila yang baru saja terbangun. Merasa bingung, dan merasa kepalanya sedikit pening. Kemudian ia menatap ke arah jendela yang terlihat cahayanya terang benderang. Karena tirai jendela kamarnya masih tertutup rapat, sehingga sinar terik matahari begitu terpancar ke dalam kamarnya.


"Astagfirullah, sudah jam delapan lebih," Nadhila terbelalak kaget saat melihat jam di dinding kamarnya.


Nadhila lekas buru-buru terduduk. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala merasa tidak mengerti dengan cara tidurnya yang begitu terlelap hingga meninggalkan waktu shalat subuh yang tak pernah Nadhila tinggalkan selama ia tidak ada halangan.


"Kenapa aku sampai tidak bisa mendengar suara adzan ya? dan Mas Hessel pasti marah karena aku tidak mengurus kebutuhan nya pagi tadi," rutuk Nadhila dengan merasa aneh yang terjadi pada dirinya. Biasanya ia akan sangat peka terhadap suara yang sedikit berisik sekalipun saat ia tertidur. Tapi kali ini, ia tertidur begitu lelap hingga Nadhila tidak mengingat saat dirinya tidur.


Dengan menghembuskan nafas berat akhirnya Nadhila beranjak bangun. Lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


***


"Pak, nanti ada jadwal bertemu Klien pada jam 11," kata Tio memberitahukan jadwal penting pada Hessel.


Hessel mengangguk, "Persiapkan saja materi untuk di persentasikan!" titahnya.


"Baik Pak," sahut Tio. Setelah itu Tio keluar dari ruangan Hessel.


Hessel yang sendiri di ruangan nya, berniat ingin menelepon istrinya. Menanyakan soal semalam yang di tinggal tidur terlebih dahulu oleh Nadhila.


"Assalamualaikum, Mas!" sahut Nadhila yang menerima telepon dari Hessel.


"Wa'alaikum salam," balas Hessel.


"Mas, mohon maaf. Aku tidur begitu lelap hingga kesiangan. Dan maaf sekali aku tidak mengurus keperluanmu," Nadhila dengan cepat meminta maaf kepada Hessel soal dirinya yang bangun tidur kesiangan.


"No problem. Hanya, sampai kapan first night kita tertunda terus?" Hessel langsung menyinggung masalah malam pertamanya yang selalu terganggu.


"Maaf, Mas. Aku benar-benar gak ingat masalah itu. Bahkan saat mulai tidurpun aku tidak mengingatnya. Yang aku ingat, aku masih menunggu kamu selesai berbicara dengan Mami," jelas Nadhila secara jujur.


Di seberang sana Nadhila pipinya merona merah, merasa malu serta gugup saat mendengar penuturan Hessel yang agak absurd.


"Sayang?" Hessel memanggil istrinya yang tidak mendapatkan respon atas ucapan nya tadi.


"Ya?" sahut Nadhila.


"Kenapa diam saja? tadi dengar 'kan saat aku berbicara?" tanya Hessel memastikan.


"Iya, aku dengar Mas," jawab Nadhila.


"Syukurlah. Soalnya tidak ada kata ulang. Jadi, bersiap-siaplah untuk di unboxing!" Hessel dengan terkekeh.


"Ih Mas," respon Nadhila dengan wajah memanas. Apalagi mendengar suaminya yang memanggilnya dengan panggilan sayang. Nadhila merasa benar-benar di cintai oleh Hessel.


"Kalau begitu ... aku kerja dulu ya! bye ...," kata Hessel dengan cepat menutup sambungan telepon nya.


Hessel kini semangat untuk memeriksa berkas-berkas, dengan senyuman terukir di bibir sensualnya yang mengiringi aktivitasnya kali ini.


Di lain tempat Nadhila yang sudah mandi, dan selesai menerima telepon dari suaminya. Merasa dag-dig-dug dadanya. Membayangkan jika malam nanti ia akan melakukan ritual aktivitas suami istri, bersama suaminya nanti malam.


Tok tok tok ...


Nadhila terperanjat kaget saat mendengar bunyi ketukan pada pintu kamarnya.


"Astagfirullah, aku sampai lupa bahwa Mami ada di sini," ucap Nadhila dengan menghampiri pintu.


"Nadhila kamu gak apa-apa?" tanya Delina saat melihat Nadhila membuka pintu kamar yang baru saja ia ketuk.


"Nadhila gak apa-apa, Mi. Memang ada apa?" jawab Nadhila.


Delina memasang wajah khawatir, "Mami cemas sejak tadi. Soalnya kamu belum saja keluar kamar, dan Mami takut kalau kamu jatuh sakit,"


Nadhila tersenyum senang dengan perhatian Delina, "Enggak kok Mi. Nadhila baik-baik saja,"


"Ya udah sekarang cepetan sarapan. Soalnya kamu sudah melewati jam sarapan," Delina meraih lengan Nadhila dengan lembut. Seakan-akan dirinya terlihat tulus melakukan itu semua.


"Iya Mi," sahut Nadhila pasrah.


Lalu Nadhila dan Delina kini sudah berada di dapur. Terlihat hidangan roti bakar yang telah Delina buatkan di atas meja makan serta segelas susu. Yang tentu sudah Delina bumbuhi obat tidur ke dalam segelas susu tersebut.


"Ayo, sarapan! Mami sengaja membuat roti panggang untukmu ," kata Delina memberitahukan jika ia membuatkan roti panggang itu untuk Nadhila.


"Iya Mi Terimakasih," sahut Nadhila dengan cepat meraih satu potong roti panggang, dan melahapnya dengan pelan.


"Mi, maafkan Nadhila. Seharusnya Nadhila yang menyiapkan sarapan untuk Mami, dan Mas Hessel. Ini Nadhila malah bangun kesiangan," ucap Nadhila yang merasa bersalah serta tidak enak pada ibu mertuanya tersebut.


Delina tersenyum, "Tidak apa-apa, Mami mengerti Nadhila. Kamu pasti kelelahan. Tidak setiap hari 'kan kamu seperti itu? Mami tahu kamu," ujarnya.


"Dan setiap hari kedepan, kamu akan kesiangan terus," batin Delina dengan penuh rencana.


Bersambung...