
Delina menatap Nadhila dengan sinis tanpa Nadhila ketahui. Nadhila sendiri sedang melahap roti panggang yang sudah Delina buatkan. Sedangkan Nadhila merasa senang, karena merasa di perhatikan oleh ibu mertuanya padahal dalam keadaan tidak sehat total.
"Mami sudah minum obat belum?" tanya Nadhila setelah selesai memakan roti panggang dan meminum susu buatan Delina.
Delina tersenyum, "Sudah. Tenang saja Mami tidak akan lupa," katanya seolah memberikan ketenangan kepada Nadhila. Padahal Delina tidak memakan obat apapun. Karena memang dirinya tidak apa-apa.
Nadhila menatap jam di dinding terlihat sudah hampir jam 11. Sebentar lagi waktunya jam makan siang. Nadhila berharap Hessel mau makan siang di rumah, sehingga Nadhila mengirim pesan kepada suaminya itu.
"Assalamualaikum, Mas ... sebentar lagi waktunya makan siang. Apakah Mas mau makan di rumah?" begitulah isi pesan yang Nadhila kirimkan kepada Hessel.
Delina memperhatikan gerak-gerik Nadhila sejak tadi. Dan kini Delina melihat Nadhila membuka kulkas. Nadhila mengeluarkan bahan masakan dari dalam kulkas tersebut.
"Nadhila, apa kamu mau memasak?" tanya Delina.
"Iya Mi. Nadhila mau buat makan siang untuk Mas Hessel dan Mami," balas Nadhila dengan tersenyum mengembang pada bibir merahnya.
"Masakan kamu selalu enak Nadhila. Bagaimana kalau kamu membuka Restauran?" Delina memuji dan menyarankan agar Nadhila membuka Restauran.
Nadhila tersenyum senang saat mendengar ibu mertuanya memuji masakan nya, "Nadhila belum kepikiran Mi,"
"Jangan banyak berpikir. Biar Nanti Mami saja yang mengurusnya," tambah Delina seakan meyakinkan Nadhila. Delina berucap seperti itu sengaja menguji Nadhila. Apakah Nadhila akan antusias seperti kebanyakan para wanita di luaran sana.
Nadhila menggeleng, "Tidak usah Mi. Nadhila saat ini ingin fokus mengurus Mami saja,"
Delina tertegun sejenak atas pendengar nya, yang tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran nya, "Jadi, kamu lebih baik memilih mengurus Mami?" tanya nya memastikan.
Nadhila mengangguk, "Iya Mi. Nadhila merasa bersalah pada mendiang almarhumah ibu. Yang tidak tahu sakitnya sejak kapan, lalu tahu-tahu setelah ibu meninggal. Sehingga Nadhila tidak pernah merasakan mengurus ibu yang sedang sakit. Hingga sekarang, Nadhila berniat ingin mengurus Mami. Karena Nadhila tidak mau kejadian yang serupa terulang lagi," terangnya menjelaskan alasan Nadhila.
"Mulia sekali niat mu. Mami bersyukur mempunyai menantu sepertimu," Delina dengan mengusap kepala Nadhila. Ada rasa sedikit senang menelusup masuk pada hati kecilnya mendapat pernyataan Nadhila, yang menolak mempunyai usaha demi ingin mengurus dirinya yang sedang sakit.
Tiba-tiba ponsel Nadhila bergetar, menandakan ada notifikasi masuk. Kemudian Nadhila pun membuka serta membacanya.
"Wa'alaikum salam ... maaf aku gak bisa makan siang di rumah. Soalnya, sekarang sedang menuju restauran dimana Klien janji bertemu." balas Hessel.
Nadhila tersenyum tipis, kemudian jari lentiknya mulai mengetik balasan untuk pesan yang di kirim suaminya.
"Ya udah gak apa-apa Mas. Selamat bekerja yaa ..." pesan balasan Nadhila untuk Hessel.
Kemudian Nadhila menaruh ponselnya kembali.
"Maaf Mi, barusan Mas Hessel memberi pesan. Bahwa tidak bisa makan siang di rumah," kata Nadhila memberitahu ibu mertuanya.
"Pasti mau bertemu Klien, ya?" tebak Delina dengan benar.
"Iya Mi. Kalau gitu, Mami mau di masakin apa untuk makan siang Mami?" Nadhila bertanya kepada Delina makanan yang di inginkan nya untuk makan siang nanti.
"Bagaimana kalau kita makan di luar saja? sekalian refreshing, Mami suntuk kalau di rumah terus," ajak Delina seraya mengeluh dengan keadaan.
"Mami mau makan di luar? ya sudah Nadhila temani," sahut Nadhila dengan senyum senang. Kemudian memasukkan kembali bahan masakan yang sempat ia keluarkan tadi.
Nadhila tidak menyangka jika ibu Mertuanya akan seakrab ini dengan dirinya, mengingat waktu pertemuan pertama sampai beberapa hari kebelakang nada bicara Delina agak ketus, dan Delina menatap Nadhila dengan sinis.
"Memang Yang Maha Kuasa benar-benar maha membolak-balikan hati manusia. Sehingga Mami sekarang benar-benar menerima ke hadiran ku. Sesuai doa yang selalu aku panjatkan," gumam Nadhila di dalam hati seraya tersenyum memperhatikan wajah ibu mertuanya yang masih terlihat cantik dan berpenampilan modis tersebut.
"Nadhila ada apa?" tanya Delina yang merasa di tatap terus oleh menantunya itu.
Nadhila langsung memeluk tubuh Delina dengan meneteskan air mata haru, "Terimakasih Mami. Mami sudah mau menerima Nadhila," ucap Nadhila dengan air mata kini mengalir deras.
"Gadis ini Sepertinya merasa terharu dengan sikap aku sekarang. Ok baiklah aku akan bersikap manis sekali di depan nya," Delina berbicara di dalam hatinya.
Delina mengusap punggung Nadhila dengan lembut. "Maafin Mami ya ... yang sempat memberikan sikap yang tidak baik padamu,"
"Ya sudah kita siap-siap!" ajak Delina mengingatkan.
"Baik, Mi. Nadhila ke kamar dulu ya," ucap Nadhila berniat untuk membawa tas serta mengganti pakaian di dalam kamarnya.
Sementara itu Delina mengirim pesan kepada Dokter Rendy selagi Nadhila berada di dalam kamarnya.
"Bagaimana dengan pesanan saya, apakah sudah di kirimkan?" isi pesan Delina kepada Dokter Rendy.
Selang beberapa menit, dokter Rendy pun membalas.
"Sudah Nyonya. Saya menyuruh kurir untuk mengantarkan nya," balasan dari dokter Rendy.
"Ok. Sekarang kamu datang ke Mall pusat. Saya akan datang ke sana!" pesan yang Delina kirimkan lagi.
"Ada apa Nyonya? apakah ada hal yang akan nyonya bicarakan?" balas dokter Rendy.
"Datang saja. Nanti kamu berkenalan dengan Nadhila menantu saya," Delina kembali mengirim pesan.
"Tapi nyonya, apa nyonya merencanakan sesuatu?" dokter Rendy membalas.
"Iya, tentu. Sudah. Secepatnya kamu datang ke Mall. Nanti saya beritahu kembali," Delina membalas pesan dokter Rendy lagi serta menaruh ponselnya.
Dan tak lama suara ketukan pintu dari luar terdengar, seraya suara teriakan khas kurir.
"Paket!" ucapnya.
Delina pun langsung bergegas melangkah ke arah pintu dan membukanya.
"Ada paket bu. Atas nama Nyonya Delina," ucap kurir tersebut membaca nama penerima paket.
"Saya sendiri," sahut Delina.
Kurir pun menyerahkan paket tersebut kepada tangan Delina. Dan Delina pun tak lupa mengucapkan kata terima kasih. Setelah itu Delina bermaksud untuk menaruh paketnya dengan cepat ke arah kamar. Namun Delina terperanjat saat melihat Nadhila baru saja keluar dari kamarnya.
"Itu apa Mi?" tanya Nadhila ingin tahu apa yang di pegang oleh Delina.
"Oh ini, paket Mami. Kemarin Mami memesan barang, di online shop," jelasnya dengan berusaha bersikap santai.
Nadhila pun mengangguk-angguk.
"Mami simpan paket ini dulu ya," dengan cepat Delina berjalan ke arah kamarnya.
Nadhila sejenak memperhatikan langkah Delina yang barusan terlihat normal. Tapi Nadhila tidak mempunyai pikiran lain, Nadhila mengira mungkin saat ini ibu mertuanya itu dalam keadaan bugar. Malah Nadhila bersyukur jika keadaan ibu mertuanya itu kembali sehat.
"Ayo Nadhila!" ajak Delina dengan menenteng tas mewahnya.
Nadhila mengangguk. Keduanya pun keluar dari dalam rumah milik Nadhila yang sederhana serta minimalis itu. Nadhila tidak lupa mengunci pintu serta pintu pagarnya.
Tetangga Nadhila yang melihat kedekatan Nadhila bersama ibu mertuanya tersenyum senang. Berharap Nadhila bahagia dengan rumah tangganya.
"Mami mau makan di mana?" tanya Nadhila memecah keheningan saat sudah berada di dalam taxi.
"Bagaimana kalau kita ke Mall? di sana banyak outlet makanan kesukaan Mami. Mami lagi pengen makan makanan yang ada di sana," ajak Delina dan di angguki Nadhila.
Tanpa Nadhila ketahui. Delina sedang merencanakan sebuah rencana kecil. Untuk menggoyahkan rumah tangga Nadhila beserta Hessel.
Bersambung...