
Di sebuah kamar Hotel XX Rebecca sudah lelah menunggu kedatangan Hessel. Ia mengumpat bahkan terus menggerutu. Menggeram dengan kata-kata kasar yang ia tujukan kepada Hessel.
"Sialan. Hessel benar-benar sudah mencampakkan ku. Aku menyesal telah mementingkan kepentinganku. Padahal aku sangat mencintainya," sesal Rebecca. Ia menerawang jauh saat-saat kebersamaannya dengan Hessel.
Dulu Hessel sangat begitu mencintainya. Namun, dulu Rebecca lebih mementingkan kariernya sebagai model sehingga ia terus menerus sibuk dengan hal potret-memotret. Membuat seketika Hessel jengah dan merasa terabaikan sehingga Hessel memutuskan Rebecca.
"Aku menyesal Hessel. Aku menyesal," ucapnya. Ia berteriak histeris membuat Alice sang Manager keluar dari kamarnya karena merasa mendengar Rebecca yang menangis.
Tok ... tok ... tok ...
Rebecca langsung membuka pintu kamarnya, karena ia menduga bahwa Hessel-lah yang telah mengetuk pintu.
"Kau?" Rebecca seakan kecewa saat mendapati siapa yang telah datang.
"Kau kenapa, Rebecca? aku dapat mendengar suara jeritan mu, dari kamarku?" Alice langsung bertanya tentang Rebecca yang menjerit histeris.
"Aku sedang kesal menunggu Hessel. Tapi sudah jam segini. Dia tidak datang-datang," sahut Rebecca dengan berwajah sendu.
Alice menghela nafas dengan perlahan, "Sudahlah Rebecca ... kau jangan terus berharap pada pria itu. Seakan tak ada pria lain yang mengagumimu."
"Alice ... kau bisa saja berkata seperti itu. Tapi hatiku sangat mencintainya. Dia pria yang sempurna. Pria yang sangat lembut memperlakukan wanitanya," Rebecca dengan tersenyum membayangkan saat Hessel memperlakukannya dengan istimewa.
"Dia mencumbuku. Membuat aku candu. Tak ada pria yang begitu lembut seperti dirinya. Dan bahkan aku yang pertama bagi dirinya mendapatkan cumbuannya,"
Alice menggeleng-gelengkan kepala. Sudah lelah mendengar Rebecca memuja-memuji Hessel di depannya.
"Aku balik lagi ke kamar. Kalau ada sesuatu hubungi aku," Alice melenggang pergi dari kamar Rebecca dan masuk ke dalam kamarnya yang tidak jauh dari kamar Rebecca.
Kini Rebecca sendiri lagi di dalam kamarnya. Ia mencoba meraih handphone miliknya untuk menghubungi Hessel. Namun Nomor Hessel tidak dapat di hubungi.
"Sialan. Sepertinya Hessel telah memblokir nomorku," geram Rebecca ia langsung membantingkan handphone-nya itu ke atas ranjang.
Rebecca kini terduduk di tepian ranjang. Ia mengingat tentang tadi apa yang Hessel katakan kepada dirinya.
"Pergilah! kamu adalah masalalu ku. Dan jangan menampakkan di hadapan ku ataupun di hadapan kekasihku,"
Seketika Rebecca menggeram. Ia mengingat wajah lugu Nadhila yang di anggap ia kampungan.
"Gara-gara wanita itu. Aku tidak dilirik Hessel lagi," Rebecca dengan mengepalkan tangannya.
"Awas kau wanita sialan. Aku tidak akan membiarkan dirimu selalu bersama Hessel. Aku akan membuat hidupmu menjauh dari Hessel," Rebecca dengan tersenyum menyeringai. Ia akan merencanakan hal untuk menjauhkan Hessel dengan Nadhila.
Rebecca pun lebih memilih membaringkan tubuhnya. Padahal dirinya sudah menyiapkan sesuatu untuk menggoda Hessel. Dengan memakai lingerie seksi, dan minuman yang sudah ia campur sesuatu yang akan membuat Hessel jatuh kedalam pelukannya.
Tapi rencananya gagal. Karena Hessel yang tidak ada datang-datang. Sehingga membuat Rebecca uring-uringan.
****
Nadhila yang kini tertidur seranjang, masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Begitupun dengan Hessel ia terus menatap ke arah langit-langit kamar.
"Dhila ... kau belum tidur, kan?"
Hessel memilih memiringkan tubuhnya untuk menatap punggung Nadhila, yang terbaring memiring ke arah lain.
Nadhila melotot. Hessel tahu kalau dirinya belum tidur. Tapi, Nadhila sengaja tidak mau menyahut agar di anggap telah tidur oleh Hessel.
"Pasti, ini hal pertama bagimu. Tidur seranjang dengan seorang pria,"
Nadhila memilih memejamkan kedua matanya dengan telinga yang terus mendengarkan celotehan Hessel. Tubuh yang di lilit selimut tebal. Membuat Nadhila kegerahan. Namun, ia tidak berani membukanya. Takut serta malu yang ia rasakan saat ini.
"Dhila ... nanti bangunkan saya saat waktu subuh, ya!"
Dan Hessel memilih memunggungi Nadhila. Sehingga sepasang suami istri itu akhirnya tertidur dengan saling memunggungi.
Nadhila tiba-tiba ingin membuang air kecil. Sehingga menimbulkan pergerakan pada ranjang. Nadhila dengan berhati-hati melepaskan lilitan selimut tebal itu dari tubuhnya, dan lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Hessel yang tahu hanya tersenyum. Ia berpura-pura masih tertidur. Dan di lihat jam baru saja menunjukan jam tiga dini hari. Baru saja dirinya tertidur jam sebelas malam, namun rasanya dengan cepat sudah mau pagi saja.
Hessel mencari-cari benda pipih miliknya di atas nakas. Namun, ia sama sekali tidak menemukannya. Membuat Hessel mengingat-ingat keberadaan benda pipih nya itu.
Ceklek ...
Suara pintu kamar mandi terbuka. Membuat Hessel repleks menutup mata untuk berpura-pura tidur. Agar Nadhila tidak mengetahuinya bahwa dirinya sudah terbangun.
Nadhila terdengar menghembuskan nafas lega setelah mengetahui bahwa suaminya masih tertidur. Ia dengan gerakan santai naik merangkak ke atas ranjang. Baru saja ia akan melilitkan selimut tebalnya, ia di kejutkan dengan Hessel yang berbalik dengan mata yang masih terpejam lalu tangannya melingkar di pinggang Nadhila. Membuat Nadhila melotot. Dan menegang.
"Astagfirullah ... Mas aku bukan guling," Nadhila dengan cepat mengangkat tangan Hessel untuk tidak melingkar di pinggangnya. Tapi usaha Nadhila sia-sia. Dengan cepat Hessel menarik tubuh Nadhila masuk dalam dekapannya.
"Tidurlah!" bisik Hessel dengan lembut. Tangannya melingkar mendekap tubuh Nadhila.
Hah ... Nadhila terperangah. Dan kini ia tahu bahwa Hessel terbangun. Hanya matanya saja yang terpejam.
"Tapi, Mas. Jangan begini!" tolak Nadhila dengan mendongak dalam dekapan Hessel.
Hessel membuka kedua matanya dan menunduk. Netra matanya langsung bertubrukan dengan Netra mata Nadhila yang bulat dan bening.
"Kau belum terbiasa! maka, biarkanlah saya memelukmu seperti ini," Hessel dengan menatap ke arah Nadhila yang masih mendongak. Sapuan nafas terasa dari keduanya menerpa wajah masing-masing.
Seketika Hessel mulai berkabut gairah. Ia semakin menundukkan kepalanya untuk meraih benda yang seakan menggodanya. Benda kenyal dan ranum tentu halal untuk ia lahap di dini hari itu.
Tubuh Nadhila menegang kaku. Saat bibir Hessel menempel di atas bibirnya. Memainkan dan melu*atnya dengan lembut. Seketika Nadhila memejamkan kedua matanya. Ia yang tidak tahu harus berbuat apa. Membeku kaku. Menerima serangan bibir dari suaminya yang baru pertama ia rasakan.
Hessel melepaskan pagutannya setelah di rasakan Nadhila seperti kehabisan nafas.
"Apakah itu pertama bagimu?" Hessel dengan menempelkan keningnya di kening Nadhila. Dengan tangan memeluk pinggang Nadhila dengan posesif.
Nadhila dengan malu-malu ia mengangguk.
Hessel tersenyum. Sungguh ia merasa beruntung menjadi orang pertama yang menyentuh benda kenyal tersebut.
"Saya mau lagi," bisik Hessel. Dan kembali menempelkan bibirnya, memberikan lu*atan demi lu*atan pada bibir ranum istrinya itu. Menc*cap dengan lembut. Sehingga Nadhila repleks memeluk tubuh Hessel. Sungguh ada rasa yang panas menjalar keseluruh saraf dan otak Nadhila seakan aliran panas itu menyalur dari darah.
"Ada apa ini? kenapa rasanya tubuhku panas begini?" Nadhila membatin di sela-sela ciumannya.
***
Bersambung...