
Hessel setelah mendengar apa yang Delina inginkan. Kini duduk merenung sendiri. Dirinya tidak mungkin untuk menikah lagi. Apalagi dengan wanita seperti Rebecca, yang Hessel pun pernah merasa kecewa saat dulu beberapa tahun berpacaran dengan nya. Di tambah sudah tidak ada rasa untuk wanita tersebut. Hanya untuk Nadhila istrinya, rasa cinta nya kini berlabuh.
Hembusan kasar mengiringi keterdiaman Hessel. Kini, pikiran Hessel berkecamuk. Di tambah dengan sang istri yang mendadak membingungkan saat ini. Sudah dua malam sejak tinggal di rumah peninggalan orang tua Nadhila, Hessel tidak bisa berbincang malam sebelum tidur, yang ada ia selalu di tinggalkan tidur duluan oleh Nadhila.
"Sepertinya, besok aku gak boleh masuk kerja!" tegas Hessel berniat akan berdiam di dalam rumah. Dan akan menanyakan tentang perubahan Nadhila saat ini. Takutnya, Hessel ada sesuatu yang di rasakan istrinya yang tidak ia ketahui. Di tambah, dengan ucapan Delina tadi membuat Hessel ingin menanyakan nya langsung tentang kebenaran nya.
Hessel setelah cukup berdiam di kursi teras. Akhirnya masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu utama. Lalu melangkah ke arah kamarnya bersama Nadhila.
Senyuman tercipta dari bibir sensual milik Hessel saat menatap Nadhila yang terlelap damai dalam tidurnya. Ia ikut bergabung dan merengkuh tubuh Nadhila. Dan berselimut bersama. Tidak ada penolakan dari istrinya dengan apa yang Hessel lakukan. Membuat ide jahil Hessel kini terbit.
"Apakah kamu akan terus ternyenyak, dengan yang akan aku lakukan sebentar lagi?" ucap Hessel dengan menyunggingkan senyumnya.
Ia mulai mengecup kening, pipi, dan tak lupa leher istrinya. Terdengar lenguhan dari bibir ranum Nadhila. Membuat gelora di tubuh Hessel memanas.
"Jangan salahkan dengan tindakan ku ini, sayang!" bisik Hessel di telinga Nadhila dengan sengaja.
Namun, Nadhila masih saja memejamkan matanya. Hessel menggeleng merasa gemas dengan nyenyaknya tidur Nadhila.
Hessel kembali beraksi. Ia menyusuri leher jenjang Nadhila dengan menggunakan bibirnya. Meng**up, menye**p, serta melu*atnya dengan penuh gairah. Dan tak lupa tanda merah ia berikan di sana.
Kini tangan nya merayap diantara gunung kembar. Dengan pelan-pelan serta degupan jantung yang seakan meledak, Hessel berhasil membuka kancing piyama yang Nadhila pakai. Matanya mengerjap, dengan menelan saliva. Ia tidak menyangka. Jika gunung kembar yang di miliki istrinya itu memiliki size yang begitu besar. Istrinya itu begitu pandai menutupi keindahan yang di milikinya dengan menggunakan pakaian yang selalu over size, sehingga tidak menampakan keindahan itu semua.
Hessel mulai meraba sebelah gunung kembar itu, dan inilah pertamanya ia memegang langsung walau masih dari balik kain b*a yang menutupinya. Karena tidak sabar, Hessel langsung membuka akses untuk menuju gunung kembar tersebut dengan membukanya dari belakang punggung Nadhila.
Mulut Hessel kini merasakan puncak gunung kembar tersebut. Ada rasa bahagia dalam diri Hessel saat merasakan bisa menjamah gunung kembar istrinya. Tak lupa tangan sebelahnya ia pakai untuk bermain di puncak gunung kembar tersebut.
Nafas Hessel memburu. Namun, anehnya istrinya tersebut hanya melenguh dan melenguh. Membuat Hessel menghentikan aksinya tersebut, dan menatap Nadhila yang masih saja terpejam.
"Ini sungguh aneh. Tidur Nadhila tidak bisa di ganggu. Tidak biasanya dia seperti ini?" Hessel bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan ke anehan istrinya tersebut.
Akhirnya Hessel kembali membenahi penutup gunung kembar istrinya serta mengancingkan kembali piyamanya. Dan memilih memeluk Nadhila serta menutup mata untuk menyusul ke alam mimpi.
***
Saat pagi menyapa, Nadhila terbangun lebih dulu. Dan merasa kaget saat mendapati suaminya yang tertidur bersamanya. Nadhila mengingat-ingat kapan suaminya pulang. Dan ingatan terakhirnya tertuju saat ia habis mandi, dan tak ingat lagi apa-apa. Membuat Nadhila merasa aneh dengan dirinya sendiri dalam dua hari ini.
"Ya Tuhan ada apa dengan ku? mengapa aku selalu tertidur sebelum suami ku pulang?" lirih Nadhila dengan tatapan rasa bersalah pada suaminya yang masih terlelap.
"Bentar--" potong Nadhila saat ingatan nya berputar. Ingatan nya tertuju saat meminum teh yang ibu mertuanya berikan. Dan memutar kembali ingatan nya, saat malam sebelumnya meminum minuman yang Delina berikan.
"Tidak mungkin semua yang aku alami. Karena aku meminum minuman yang Mami berikan?" imbuh Nadhila dengan pelan dan kepalanya menggeleng kuat. Nadhila bukan ingin menuduh ibu mertuanya, tapi setelah di kaitkan seakan menyambung.
"Ya Tuhan, maafkan aku! jangan sampai aku su'udzon pada Mami," lirih Nadhila.
Kemudian Nadhila bangkit, lalu membuka lemari memilih pakaian ganti dan langsung melangkah menuju toilet. Sedangkan Hessel langsung membuka mata setelah terdengar pintu toilet Nadhila tutup. Ternyata, semenjak Nadhila bangun. Hessel sudah terbangun. Hanya saja ia berpura-pura masih terlelap. Dan Hessel mendengar semua ucapan lirih dari Nadhila. Membuat Hessel memiliki kesimpulan, apa yang terjadi pada Nadhila ada kaitan nya dengan Delina, ibunya sendiri. Sehingga Hessel tidak akan bertanya pada Nadhila langsung sesuai rencananya semalam. Namun, akan menyelidikinya sendiri atas ke anehan istrinya tersebut.
"Apa ini semua Mami yang melakukan nya? lalu untuk apa?" tanya Hessel dengan menerka-nerka. Namun, ia tidak bisa menebak pertanyaan nya.
Hessel baru akan duduk menyandar. Namun, ia di kejutkan dengan suara teriakan Nadhila dari bilik toilet.
Hessel langsung berdiri dan mengetuk pintu toilet, "Dhila ... ada apa? apa yang terjadi?" tanya Hessel dengan panik.
Hening
Nadhila tidak menjawab, membuat Hessel kembali bertanya.
"Apa kamu terjatuh, terpeleset?"
"E-enggak Mas. Aku hanya terkejut saja," jawab Nadhila dari dalam toilet.
"Oh syukurlah kalau gitu," ucap Hessel lega, jika tidak terjadi sesuatu pada istrinya.
Hessel memilih merapihkan tempat tidur, dan menunggu Nadhila selesai dari dalam toilet.
"Mas, maaf aku tertidur lagi!" ucap Nadhila tertunduk saat sudah keluar dari toilet. Dan memilih mengutarakan kata maafnya pada Hessel.
"Gak apa-apa," jawab Hessel dengan tersenyum lembut.
"Tapi, aku gak nyaman Mas. Aku sudah dua kali ketiduran terus," Nadhila masih dengan rasa bersalahnya.
Hessel melangkah mendekati Nadhila, dan memeluknya dengan sayang.
"Sudahlah. Aku tidak apa-apa,"
Nadhila pun membalas pelukan suaminya tersebut. Ada rasa lega saat suaminya tidak mempermasalahkan nya.
"Mas aku mau siapin sarapan dulu ya," Nadhila mengurai pelukan.
"Nanti saja. Aku mau menagih hutang," ujar Hessel dengan santai.
"Hutang?" dahi Nadhila mengkerut merasa tidak mengerti.
"Iya Hutang," Hessel kembali berujar santai.
"Siapa yang berhutang, Mas?" tanya Nadhila yang penasaran.
"Tentu kamulah yang berhutang," kata Hessel.
"Aku?" tunjuk Nadhila pada dirinya sendiri.
Hessel mengangguk.
"Tapi aku punya hutang apa Mas?" tanya Nadhila tidak tahu.
"First Night, kita" bisik Hessel pada telinga Nadhila. Dan membuat kulit Nadhila meremang merasa merinding dengan hembusan nafas Hessel mengenai telinganya.
Bersambung....