Nadhila Story

Nadhila Story
Awal permulaan rencana Delina



Saat malam Hessel datang ke rumah Nadhila, Setelah pulang dari kantor. Dan di sambut oleh Nadhila, dengan menyalami tangannya serta mencium punggung tangan nya. Hessel tersenyum senang saat melihat Nadhila sekarang sudah akrab dengan ibunya. Merasa bahwa Delina benar-benar sudah menerima Nadhila saat ini.


"Mi, bagaimana keadaan Mami sekarang?" tanya Hessel setelah menyalami dan mencium punggung tangan Delina.


Delina tersenyum tipis, "Mami masih begini saja,"


"Mami harus mau ya berobat di luar negeri. Ke Jerman sekalian biar berdekatan sama Papi," ujar Hessel memberi saran.


Delina menggeleng, "Enggak sayang ... Mami tidak ingin jauh-jauh dari kamu. Cukup satu tahun Mami pernah berjauhan dengan kamu," dengan tangan Delina mengusap kepala Hessel dengan lembut.


Sementara Nadhila hanya terdiam menyimak, dengan penuh perasaan yang campur aduk. Membayangkan permintaan Delina, yang harus ia sampaikan kepada suaminya.


"Tapi, Mi. Hessel ingin Mami cepat sembuh. Dan kenapa selama ini Mami sembunyikan penyakit Mami itu? dan Hessel tahu-tahu saat penyakit Mami parah seperti sekarang," Hessel menyayangkan atas pernyataan Dokter Rendy yang mengatakan bahwa Delina sudah menderita sakit kanker dari dulu. Padahal itu semua tidak benar. Tentu termasuk dari drama yang Delina ciptakan, melalui Dokter Rendy yang sangat takut atas ancaman Delina.


"Sayang ... Mami hanya ingin semua keinginan Mami tercapai. Itu saja sudah membuat semangat hidup Mami kembali,"


"Apa keinginan Mami yang belum tercapai saat ini?" selidik Hessel yang penasaran.


"Ada," sahut Delina singkat.


Saat mendengar perbincangan Delina dan Hessel atas keinginan Delina yang belum tercapai. Nadhila langsung beranjak bangun dari duduknya. Sengaja dirinya ingin menghindar, karena tidak kuasa mendengar keinginan Delina yang pasti akan meminta Hessel menikahi Rebbeca, seperti ucapan sebelumnya kepada Nadhila.


"Loh, mau kemana?" Hessel bertanya saat melihat Nadhila akan meninggalkan ruang tengah.


"Maaf Mas, mau ke kamar dulu," sahutnya dengan cepat langsung melangkah tanpa mendengar terlebih dahulu sahutan Hessel.


"Sudah. Biarkan Nadhila beristirahat saja. Mungkin Nadhila kecapekan soalnya dari tadi beres-beres serta mengurus Mami," kata Delina seakan mengerti keadaan Nadhila.


Hessel mengangguk pelan, lalu kembali beralih pada pembicaraan saat tadi, "Memang keinginan Mami itu apa sih? mobil keluaran terbaru? tas terbaru? atau berlian langka?" sungguh pertanyaan umum yang baru saja Hessel tanyakan. Namun, Hessel semakin bingung saat melihat reaksi Delina yang menggeleng lemah.


"Lalu apa dong Mi?" desak Hessel.


Delina mulai menunjukan wajah nelangsa, serta memelas di hadapan putranya. Berharap dengan ekspresi seperti itu Hessel akan luluh dan menuruti permintaan nya saat ini.


"Mami tidak mau itu semua. Mami sudah bosan dengan harta kekayaan. Hanya satu yang Mami inginkan,"


"Apa Mi, katakan kepada Hessel! apa keinginan Mami itu?" Hessel sungguh tidak sabar dengan keinginan sang ibu yang tersirat dari wajah Delina yang seperti begitu di inginkan.


Delina mengusap wajah putranya, "Mami ingin melihat kamu menikah, Nak"


"Hessel 'kan sudah menikah Mi. Tapi tenang sebentar lagi, Hessel akan meresmikan pernikahan Hessel bersama Nadhila secara negara. Dan Hessel akan mengadakan nya dengan secara meriah. Mami akan melihatnya, dan Hessel yakin Mami pasti akan suka," terang Hessel panjang.


"Sepertinya, aku harus menyusun kembali strategi. Pasti Hessel akan menolak. Jika saat ini aku minta ia untuk menikahi Rebbeca," gumam Delina dalam hati saat melihat reaksi Hessel menjelaskan secara panjang, yang salah paham atas keinginan dirinya untuk melihat Hessel menikah. Padahal Delina ingin melihat Hessel menikah dengan Rebbeca.


Delina tersenyum tipis, dengan sedikit mengangguk.


"Iya Nak," sahut Delina.


"Kalau begitu, Hessel ke kamar ya," dengan seraya mengecup pipi sang ibu.


Setelah Hessel masuk ke dalam kamar, yang sama dengan Nadhila. Delina tersenyum penuh arti. Tanpa Nadhila ketahui, Delina sudah memberikan obat tidur serbuk pada minuman Nadhila. Saat Nadhila sedang melakukan shalat magrib. Tujuan Delina, agar Nadhila dan Hessel tidak berbincang-bincang terlebih dahulu sebelum tidur, apalagi melakukan ritual suami istri. Delina tidak ingin memiliki keturunan yang lahir dari rahim Nadhila. Entah kenapa dengan pemikiran Delina yang seperti sangat membenci Nadhila.


Di sisi lain, Hessel yang masuk ke dalam kamar menatap Nadhila yang sudah tertidur pulas di atas ranjang. Hessel hanya menggeleng dengan menatap Nadhila yang menurutmu sangat menggemaskan.


"Dhila, kenapa tidur?" bisik Hessel di telinga Nadhila. Berpikir dengan cara itu biasanya istrinya itu akan terbangun. Tapi, tidak ada reaksi dari Nadhila.


Hessel kini membelai wajah Nadhila, dan beralih membelai rambut Nadhila yang panjang, berharap dengan seperti itu Nadhila akan terbangun. Tapi, tetap saja tidak ada reaksi sama sekali dari Nadhila.


"Harus sampai kapan malam pertama kita terganggu, sayang? ayo bangun! katanya ingin menjadi istri yang baik. Tapi, sudah tidur duluan," kata Hessel mengeluh dengan suara sedikit tinggi, namun masih dengan nada lembut.


Tetap saja Nadhila masih terlelap. Kini Hessel menciumi leher istrinya itu, sedikit menggigit hingga menciptakan noda merah seperti kissmark.


"Ya ampun, sayang!" Hessel kini menggoyang-goyangkan bahu Nadhila. Merasa bingung dengan cara tidur Nadhila yang seperti orang mati saja. Tapi, terdengar hembusan nafas Nadhila yang teratur. Menandakan bahwa memang Nadhila sedang tidur nyenyak.


Akhirnya, Hessel pasrah dengan sedikit uring-uringan masuk ke dalam kamar mandi, berniat untuk membersihkan tubuhnya.


***


Esok paginya, Hessel terbangun lebih dulu. Dan menatap ke samping dimana tempat Nadhila masih terbaring. Masih dengan posisi yang seperti semalam.


"Tidak biasanya Nadhila tidur sepulas ini. Apa mungkin memang sangat lelah ya," monolog Hessel sembari bangkit dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah mandi pun, Nadhila masih saja tertidur. Membuat Hessel merasa bingung. Tapi, Hessel membiarkan. Dan pada akhirnya, Hessel menuju dapur dan melihat Delina sedang membuat roti panggang.


"Mi, mending Mami duduk saja! biar Hessel yang membuat," kata Hessel dengan tangan nya beralih mengambil roti-roti yang sudah Delina olesi selai.


"Nadhila kemana? biasanya ia akan bangun pagi sekali," tanya Delina soelah bingung dengan tidak kehadiran nya Nadhila di dapur.


"Maaf, Mi. Mungkin Nadhila kelelahan. Nadhila masih tidur," jawab Hessel.


Delina menyeringai senang, "Oh begitu? tapi, menurut Mami selelah-lelahnya seorang istri. Ia harus tetap mengurusi suami, dari mulai pakaian dan makanan nya. Ya setelah itu, baru tidur kembali jika memang masih mengantuk," saran Delina seolah mengompori.


Hessel mengangguk, "Iya Mi. Baru kali ini saja kok, Nadhila seperti itu. Biasanya selalu mengurusi Hessel,"


"Syukurlah kalau begitu," sahut Delina seolah mengerti.


"Tapi hari berikutnya. Nadhila akan seperti itu. Nadhila akan lalai akan tugasnya sebagai istri. Dan kamu, akan merasa jenuh. Atau bahkan kecewa dengan istrimu sendiri. Sehingga saat Nadhila suatu saat meminta kamu menikahi Rebbeca, kamu akan menurut," batin Delina dengan penuh banyak rencana buruk dalam rumah tangga putranya.


Bersambung...