Nadhila Story

Nadhila Story
Permintaan Delina kepada Nadhila.



Esok Paginya...


"Mas, nanti pulang jam berapa?" tanya Nadhila seraya memakaikan dasi di kerah leher kemeja Hessel.


Hessel bisa menatap Nadhila dengan leluasa, sehingga bibir sensualnya itu terus menyunggingkan senyuman.


"Belum tentu. Memang ada apa?" jawab Hessel dengan bertanya.


"Tidak. Aku hanya tanya saja," tangan Nadhila merapihkan kemeja Hessel dengan cara mengusap-usap dada bidang suaminya. Entah mengapa Nadhila merasa berat di tinggal suaminya kala di rumah Hessel. Apa mungkin pertama kali baginya di tinggal di rumah tersebut, dan harus bersama Mami Delina.


"Jangan khawatir. Aku pasti pulang cepat," Hessel menenangkan. Ia seakan tahu apa yang di pikirkan Nadhila.


Nadhila tersenyum. Hessel benar-benar peka terhadapnya.


"Mas, maaf ya soal yang semalam!" ucap Nadhila mengingatkan kembali tentang Hessel yang meminta hak-nya.


"Aku mau tanya dulu, kapan kamu siapnya?" Hessel dengan merengkuh pinggang Nadhila. Hingga tubuh keduanya kini menempel.


Nadhila dengan menggigit bibir bawahnya, merasa gugup untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Aku, masih takut Mas. Katanya sangat sakit," alasan Nadhila.


Hessel terkekeh, "Memang iya. Katanya sakitnya hanya di awal saja. Tapi, kalau sering melakukannya akan berubah jadi enak," selorohnya.


"Ih, Mas. Gak usah di sebutin gitu dong. Aku malu dengarnya," cicit Nadhila dengan melepaskan pelukan suaminya.


Hessel kembali terkekeh. "Kamu ngegemasin sih, kalau lagi malu-malu gitu," Hessel mengecup pipi kanan dan kiri Nadhila.


"Sudah, Mas! kita sarapan dulu. Pasti Oma sudah menunggu," Nadhila merangkul lengan Hessel untuk keluar kamar. Tentu Hessel senang. Istrinya itu sudah mau sering kontak fisik dengannya.


Hessel dan Nadhila keluar dari kamar. Dan kebetulan Rebecca pun keluar dari kamar Delina, dengan mendorong kursi roda dimana Delina terduduk.


Hessel membiarkan Delina dan Rebecca terlebih dahulu melewatinya. Beruntung rumahnya itu tersedia Lift. Memudahkan Delina yang kini terduduk di kursi roda.


"Kita lewat tangga saja!" Hessel dengan menuntun Nadhila berjalan melewati tangga. Tangannya menggenggam jari jemari Nadhila membawanya hingga lantai bawah.


Di ruang makan sudah terlihat Oma Margaret yang sudah duduk di kursi tempat biasanya. Delina dan Rebecca baru sampai. Begitupun Nadhila dan Hessel.


Mereka makan dalam diam tak ada satu orang pun yang bersuara di meja makan. Setelah selesai barulah Rebecca bersuara.


"Mami. Ecca pagi ini ada pemotretan, maaf ya Ecca tinggal," Rebecca dengan mengusap-usap lengan Delina.


"Tidak apa-apa. Kamu bawa mobil tidak?" sahut Delina dengan bertanya apakah Rebecca membawa kendaraan saat ke rumahnya.


"Tidak, Mi. Aku mau naik taksi online saja,"


"Jangan. Lebih baik kamu numpang mobil Hessel saja!" saran Delina dengan menatap ke arah Hessel.


"Iya, Mas. Dari pada Rebecca harus naik taksi," Nadhila menimpali karena Hessel tak kunjung bersuara.


Hessel hanya mengangguk saja, dengan matanya menatap Nadhila seakan mencari sesuatu yang membuat Nadhila berat. Namun, Hessel tak kunjung mendapatkan. Pancaran mata Nadhila memancarkan ketulusan.


"Oma, Ecca pamit ya," ucap Rebecca tersenyum kepada Oma. Lalu tatapannya mengarah kepada Nadhila. "Dhila, aku pamit juga," ucapnya kemudian berlalu terlebih dahulu. Setelah itu baru Hessel keluar rumah dengan di antar Nadhila.


Nadhila menyalami tangan Hessel, dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Lalu di balas kecupan lama di keningnya dari Hessel.


"Mas, hati-hati ya" Nadhila dengan tersenyum.


"Iya, Assalamualaikum" salam Hessel.


"Wa'alaikum salam," jawab Nadhila dengan menatap punggung suaminya yang perlahan masuk ke dalam mobil.


Hessel melambaikan tangan sebelum gerbang pagar rumahnya di bukakan seorang Penjaga.


Nadhila setelah itu masuk ke dalam rumah, lalu menuju ruang keluarga dimana Oma dan Delina berada.


Oma mencoba memperhatikan saja interaksi antara Nadhila dan Delina.


"Iya, obat Mami di kamar," sahut Delina.


Nadhila tersenyum, "Nadhila ambilkan ya," tawar Nadhila.


"Tidak perlu. Antar Mami saja ke kamar," ujarnya dengan memutar rodanya sendiri.


"Biar, Dhila yang dorong Mi. Oma, Nadhila ke atas dulu ya," pamit Nadhila dengan sigap mendorongkan kursi roda Delina. Oma hanya tersenyum dengan mengangguk kepala sebagai jawaban.


Sesampainya di kamar Delina. Nadhila sigap membantu Delina untuk berbaring di atas kasur.


"Mami, obatnya dimana?" tanya Nadhila dengan menatap nakas yang dekat dengan ranjang Delina.


"Obatnya di dalam laci," sahut Delina. Nadhila dengan cepat membuka laci nakas tersebut, lalu mengambil obat-obatan yang Nadhila tahu itu adalah obat kanker. Nadhila membantu Delina meminum obatnya.


"Mami istirahat ya," Nadhila dengan menyelimuti tubuh Delina.


"Nadhila," lirih Delina.


"Ada apa, Mi? apa ada sesuatu yang Mami inginkan?" Nadhila dengan antusias.


Delina mengangguk, ia mencoba memasang wajah yang begitu terlihat sendu. Agar Nadhila akan iba kepada dirinya walaupun keinginan Delina belum di sampaikan.


"Apa, itu Mi?" tanya Nadhila ia kini duduk di bahu ranjang dengan mengusap-usap bahu Delina.


"Mami mau minta sesuatu, pada mu Dhila. Mami ingin sesuatu itu tercapai sebelum Mami meninggal," lirih Delina.


Membuat Nadhila teringat sang Ibu yang meninggal karena Kanker. Dan Nadhila tidak tahu apa saja yang di inginkan Ibunya itu, karena Nadhila sendiri tidak tahu penyakit di deritanya selama itu. Hanya yang Nadhila tahu, Ibu berwasiat ingin Nadhila menikah di hadapan jenazahnya saat itu.


"Dhila?" panggil Delina. Melihat Nadhila menjadi terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.


Nadhila terperanjat, "Eh maaf Mi," dengan menyeka air mata yang baru saja terjatuh.


"Kamu kenapa?" tanya Delina mencoba perhatian.


"Dhila ingat sama almarhumah ibu yang meninggal karena sakit kanker. Dhila tidak tahu ibu sakit parah, karena ibu menyembunyikan itu semua dari Dhila. Hingga saat sudah meninggal Dhila tahu. Dan ibu berwasiat ingin Dhila menikah di depan jenazahnya," cerita Nadhila.


"Sudah. Ibu kamu pasti bahagia di surga sana, karena kamu sudah memenuhi wasiatnya," ucap Delina dengan menggenggam tangan Nadhila. Semua Delina lakukan demi drama.


Nadhila tersenyum senang. Delina benar-benar sudah menerimanya.


"Maaf Mi. Tadi Mami mau bicara apa lagi?" tanya Nadhila kini mengingat tadi Delina sedang berbicara, ia malah sibuk melamun.


"Oh itu. Mami ada sesuatu yang ingin Mami inginkan sebelum Mami meninggal. Kamu tahu sendiri, sakit kanker tidak akan berumur panjang. Makanya, Mami ingin sekali keinginan Mami ini terwujud,"


"Keinginan Mami itu apa, Dhila boleh tahu?" Nadhila penasaran apa yang Delina inginkan itu.


Delina menggeleng, "Tapi bagi Mami itu tidak mungkin terwujud Dhil ... karena bagi Mami itu mustahil, karena Hessel putra Mami sendiri menolaknya," tutur Delina sengaja membawa-bawa nama Hessel.


"Apa mungkin yang menurut Mas Hessel saat itu adalah rahasia?" batin Nadhila.


"Apa itu Mi. Siapa tahu, Dhila bisa mewujudkan keinginan Mami itu?" Nadhila bertekad akan mengabulkan permintaan Delina. Walau ia belum tahu apa keinginan Delina tersebut.


"Kamu yakin akan mengabulkan permintaan Mami? sementara Hessel putra Mami sendiri tidak menanggapi," Delina mencoba ingin meyakinkan Nadhila.


"In syaa Allah. Nadhila akan mengabulkan permintaan Mami tersebut, selama Nadhila mampu. Jadi, apa keinginan Mami itu?" Nadhila dengan tersenyum meyakinkan Delina untuk bisa mengabulkan keinginannya selama ia mampu.


"Mami ingin. Hessel menikahi Rebecca. Itu adalah keinginan Mami selama hidup. Rebecca sudah masuk kedalam keluarga kami sebelum kamu hadir. Makanya Mami begitu ingin Hessel menikah dengan Rebecca, sebelum Mami meninggal," ujar Delina mengungkapkan keinginannya selama ini, dengan menatap Nadhila yang wajahnya mulai berubah seperti syok.


Bersambung...