Nadhila Story

Nadhila Story
Ke Mall.



Hessel yang baru saja pulang di sambut oleh senyuman hangat dari Nadhila.


"Bagaimana pekerjaanmu, Mas?" tanya Nadhila seraya meraih tas kerja Hessel dari tangannya.


Hessel mendudukan tubuhnya di sofa sebelum menjawab pertanyaan Nadhila, "Lancar. Hanya tidak bersemangat seperti biasanya,"


Nadhila menautkan kedua alisnya, "Memang kamu tidak bersemangat karena apa, Mas?"


"Ya, karena penyemangatnya sudah saya pecat," seloroh Hessel. Membuat Nadhila seketika mengerti dan merona wajahnya.


"Hmmm," hanya suara gumaman yang Nadhila keluarkan.


"Kamu tidak mau bertanya, siapa yang sudah saya pecat itu?!" Hessel sengaja ingin menggoda.


"Aku sudah tahu, kok" sahut Nadhila seraya melenggang pergi ke arah dapur.


Hessel hanya menanggapi dengan senyuman. Sementara itu Nadhila sudah kembali dari dapur, dengan tangannya memegang secangkir kopi.


"Ngopi, Mas!" kata Nadhila seraya menaruh cangkir berisikan kopi di meja hadapan Hessel.


Hessel menggeleng, "Bosen ngopi terus. Kapan nyusu-nya coba?!"


Nadhila menautkan kedua alisnya, "Ya sudah aku ganti," dan langsung di cegat Hessel saat Nadhila akan beranjak kembali ke arah dapur.


"Jangan!"


"Kenapa, Mas? bukannya Mas mau minum susu?" tanya Nadhila.


"Maunya susu itu!" batin Hessel seraya menatap dada Nadhila.


Hessel melipat bibirnya ke dalam. Menahan tawa yang ingin pecah di saat itu juga.


"Iya. Tapi gak apa-apa kopi dulu juga," katanya seraya menyeruput kopi buatan Nadhila.


Nadhila kini terdiam. Menatap Hessel yang kini sedang menyeruput kopi buatannya.


"Mas, aku ingin menanyakan hal sesuatu antara kamu dengan Rebecca. Tapi, aku tidak berani," ucap Nadhila di dalam hati.


Terlihat Hessel beranjak dari duduknya. Ia melangkah ke arah kamar Nadhila. Membuat Nadhila mengikutinya dari belakang.


"Mas, mau mandi sekarang?" tanya Nadhila.


"Iya. Badan rasanya lengket banget," Hessel dengan membuka kancing kemeja satu-persatu.


"Mau mandi air hangat atau dingin, Mas?" tanya Nadhila tanpa menatap Hessel yang sedang membuka kemejanya.


"Saya ingin mandi air dingin. Gak usah di siapkan, ya!" Hessel menolak Nadhila secara halus.


"Kenapa, Mas?"


"Gak usah. Siapkan saja baju gantinya!" ucap Hessel lalu berlalu kedalam kamar mandi.


***


Setelah makan malam, Nadhila dan Hessel duduk berdua di ruang tengah dengan menonton televisi.


Bahu Nadhila di rangkul Hessel, membuat jantung Nadhila terus berdegup kencang.


"Mas," Nadhila sengaja mengalihkan rasa kegugupannya dengan ingin mengajak Hessel berbincang.


"Apa?" jawab Hessel seraya meraih dagu Nadhila untuk menatapnya.


Mata Nadhila kini beradu dengan netra mata Hessel. Seketika Nadhila memilih menatap bibir Hessel, untuk mengajak berbincang. Jika terus menatap mata Hessel, ia akan di buat semakin gugup.


"Besok aku ijin mau pergi belanja untuk kebutuhan," ucap Nadhila.


"Itu saja?" tanya Hessel.


Nadhila mengangguk.


"Ya boleh. Pakailah kartu yang tadi pagi saya berikan!" Hessel kemudian menyambar bibir Nadhila. Mengecup dan melu*atnya dengan lembut. Memainkan bibir ranum milik Nadhila yang telah membuatnya candu. Hingga Hessel melepaskan setelah tidak ada pasokan udara pada keduanya.


"M-mas," Nadhila dengan nafas terengah-engah menatap mata Hessel yang sudah terlihat kabut gairah.


"Saya ingin lagi," Hessel dengan memajukan kembali wajahnya untuk meraih bibir Nadhila kembali.


Dengan cepat Nadhila mendorong dada Hessel. Lalu Nadhila menggeleng.


"Kenapa?" Hessel bertanya dengan suara parau.


Hessel kemudian terkekeh, ia sampai lupa hal itu. Padahal sudah di beritahu oleh Nadhila.


"Maaf." Hessel seraya mengecup kening Nadhila dengan rasa sayang.


Nadhila hanya mengangguk dengan tersenyum.


"Lebih baik kita, bobo yuk!" ajak Hessel dengan di angguki Nadhila.


***


Nadhila sedang menyiapkan sarapan untuk Hessel dan juga dirinya. Lalu Hessel datang dengan setelan jas yang sudah Nadhila siapkan.


"Mas, aku nanti pergi ya" sesuai apa yang Nadhila semalam bicarakan ia akan pergi berbelanja kebutuhan rumah. Dan satu hal lagi. Ia akan melakukan perawatan tubuh dan wajah tanpa sepengetahuan Hessel tentunya.


"Iya. Hati-hati. Lebih baik naik taksi saja ya, jangan naik motor. Nanti hari minggu, Saya akan belikan mobil agar kamu bisa kemana saja," ujar Hessel seraya melahap sabdwich buatan Nadhila.


"Jangan Mas!" tolak Nadhila. "Aku tidak bisa mengendarai mobil," lanjutnya beralasan. Padahal sempat ia berlatih dengan almarhum ayahnya. Hingga Nadhila bisa dan lancar.


"Beneran? ya, sudah nanti saya ajarkan ya!"


Nadhila hanya tersenyum dengan menganggukan kepala.


"Bagaimana dengan Pak Tio, apa dia kembali bekerja?"


Hessel mengangguk seraya meminum air setelah itu lalu berucap. "Tio bekerja seperti biasanya,"


"Syukurlah ... aku takut saja dia sampai berhenti bekerja karena aku," Nadhila merasa bersalah karena telah membuat Tio merasa kecewa.


"Sudah jangan pikirkan tentang itu. Ini sudah takdir kita. Kita menyatu dengan cara yang sudah Tuhan gariskan. Kalau bagitu saya berangkat!"


Nadhila langsung mencium punggung tangan Hessel dengan takzim. Lalu Hessel mencium kening Nadhila dengan sayang.


***


Sesuai ijinnya kepada Hessel. Nadhila kini sedang berada di sebuah Mall. Ia tersenyum senang karena sudah lumayan lama tidak menghabiskan waktu untuk berbelanja, karena waktunya tersita oleh jam kerja. Dan kini Nadhila menyusuri stand pakaian. Nadhila dengan malu-malu memilih lingerie seksi untuk nanti ia pakai saat memberikan haknya kepada Hessel. Baru berniat saja, Nadhila sudah bersemu merah wajahnya. Bagaimana jika saat melakukannya, Nadhila sudah tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dirinya.


Setelah berhasil membeli lingerie. Nadhila menatap binar pada sebuah outlet kecantikan. Dengan fasilitas spa dan perawatan wajah. Nadhila melangkah lebar dan masuk ke dalam outlet tersebut.


Hingga menghabiskan waktu tiga jam lebih. Nadhila baru keluar dari tempat itu. Dan kini ia berniat untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Nadhila masuk ke sebuah cafe dalam Mall tersebut. Langsung memesan makanan dan minuman tanpa menunggu lama. Pesanannya itu telah datang.


"Hai," sapa seseorang yang sengaja duduk di kursi seberang Nadhila.


Nadhila yang sedang mengunyah mendongak pada seseorang tersebut. Lalu memicingkan mata. Karena merasa lupa atau tidak kenal.


"Masih ingat. Saya adalah CEO dari perusahaan Sinar Mas. Klien yang pernah anda temui bersama Pak Direktur Hessel," ujarnya dengan tersenyum ramah kepada Nadhila.


"Oh ya? mohon maaf Pak, saya lupa lagi" ucap Nadhila dengan menyengir menambah kesan lebih pada kecantikannya.


Aldi tersenyum seraya menggeleng samar, "Tapi saya tidak pernah melupakan anda, Nona" ucapnya. Membuat Nadhila mengernyit tidak mengerti.


Memang betul. Sejak pertemuan pertama dengan perusahaan Hessel. Aldi tidak bisa melupakan sosok wajah Nadhila yang sudah mencuri hatinya pada pandangan pertama.


"Sudahlah lupakan, Nona. Em ... sepertinya Nona sendirian?" tanya Aldi basa-basi.


"Panggil saja Nadhila. Ya saya memang sendirian."


"Di jam kantor?" tanya Aldi yang tahu bahwa Nadhila adalah sekretaris Hessel.


Nadhila menggeleng, "Saya sudah resign," jawabnya. Lalu meneguk jus yang berada di hadapannya.


Nadhila menatap jam pada pergelangan tangannya sudah menunjukkan jam tiga. Ia harus cepat-cepat pulang sebelum Hessel lebih dulu pulang.


"Maaf, Pak. Saya pulang duluan," ujar Nadhila dengan meraih dua paperbag belanjaannya.


Aldi berdiri dengan mengangguk, namun baru Nadhila selangkah ia sudah menghentikan langkah Nadhila.


"Nona Tunggu!" ucapnya lalu mendekati Nadhila yang berdiri menatapnya.


Aldi menyerahkan kartu namanya, "Ini kartu nama saya. Jika Nona butuh pekerjaan atau yang lainnya. Boleh hubungi saya,"


Nadhila tidak enak hati jika menolaknya. Ia menerima dengan tersenyum.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu, saya pamit ya!" lalu Nadhila menunduk dan melangkah meninggalkan Aldi.


***


Bersambung...