
Nadhila yang pergi dengan tiba-tiba dari kantor nya, ia kini sedang berada di bengkel untuk membawa motornya yang telah berhasil di servis, setelah memberikan uang untuk jasa servis, Nadhila pun cepat pergi meninggalkan bengkel.
Nadhila merasa ia butuh hiburan, ia pergi ke suatu taman yang penuh dengan para pengunjung. Nadhila memarkirkan motornya, di parkiran khusus motor. Jika ia langsung pulang ke rumah, pasti ibunya akan banyak bertanya karena pulang lebih awal sebelum jam kerja selesai.
"Aku gak perduli, akan hari esok Bos aneh itu akan memarahi ku." gerutu Nadhila.
Ia sadar, ia telah berani lari dari tanggung jawab pekerjaan nya. Sekarang Nadhila butuh ketenangan. Ia tidak mau untuk melihat wajah Bos nya yang menurutnya menyebalkan.
Hingga sampai tak terasa Nadhila duduk di Taman itu sudah beberapa jam lama nya. Nadhila melihat jam di pergelangan tangan nya, telah menunjukkan pukul15:30.
Nadhila pun berniat untuk mencari Mushola terdekat, ia ingin menunaikan terlebih dahulu kewajiban nya. Setelah menemukan sebuah Mushola, Nadhila pun langsung melakukan apa yang tadi ia niatkan. Setelah selesai Nadhila pun bergegas keluar, ia kini ingin berniat makan makanan yang di pinggiran jalan Taman itu.
Hingga tatapan nya tak sengaja melihat Hessel yang sedang duduk berdua dengan wanita yang tadi pagi datang ke kantornya, Hessel pun melihat Nadhila yang sedang menatap nya. Namun Nadhila dengan cepat berjalan, ke arah lain, dan menghampiri tukang penjual Batagor.
"Pak, Batagor kuah nya satu."
"Saya juga satu pak." Tiba-tiba ada suara seseorang yang Nadhila kenal. Nadhila pun dengan cepat menoleh ke arah suara tersebut. Terlihat pria tinggi berkulit putih, yang berwajah tampan, yang menjadi paforit di kantor nya.
"Pak Tio...." Nadhila menyapa.
Tio pun hanya memberikan senyum nya kepada Nadhila.
Nadhila pun mengambil Batagor yang sudah di buatkan penjualnya, dengan duduk di sebuah kursi meja yang di siakan penjual. Lalu Tio pun ikut duduk dengan membawa mangkuk yang berisikan pesanan batagor nya.
"Kenapa kamu pulang sebelum jam kerja berakhir?." Tio mulai bertanya, dengan berpura-pura tidak tahu alasannya.
"Saya, lagi kesal aja sama Pak Hessel." Tukas Nadhila.
Tio tersenyum mengerti akan apa yang Nadhila sampaikan.
Terlihat seseorang menghampiri dengan berwajah datar. Iya Hessel menghampiri Nadhila yang duduk berhadapan dengan Tio.
Dengan wanita yang sedang kesal di belakang nya.
"Sayang.... Kamu di sini juga?." Hessel dengan mengerlingkan mata nya, memulai aksi pura-pura nya di depan Mantan pacarnya.
Nadhila yang sedang enak mengunyah makanan nya, terperanjat mendengar Bos nya bersuara dengan menghampiri.
Tio pun sama terperanjat nya, namun Tio mengerti dengan melihat ada Rebbeca di belakang Hessel.
"Hei, aku bertanya pada mu, kenapa diam saja?." Hessel memecah Nadhila yang terperanjat kaget.
"Menyebalkan sekali, kenapa harus menghampiri sih. Padahal tadi aku pura-pura tidak melihat nya." Gerutu Nadhila dalam hati.
"Lihat pacar mu ini. Sedang duduk berdua dengan laki-laki lain." Tunjuk Rebbeca mengompori Hessel.
Seketika Tio menatap tajam ke arah Rebbeca. Rebbeca pun merasa ciut nyali nya, melihat Tatapan Tio yang begitu menakutkan.
"Benar. Tapi Laki-laki ini adalah asisten ku." Tutur Hessel.
"Kenapa kamu diam saja sayang?." Hessel kembali bertanya kepada Nadhila.
Nadhila pun menoleh ke arah Hessel yang begitu dekat dengan nya. Deg.... Nadhila merasa gugup melihat Bos nya yang begitu dekat wajahnya dengan wajah dirinya. Seketika Hessel dan Nadhila pun berpandangan menatap mata satu sama lain.
Hingga suara Deheman Tio membuat ke dua nya terperanjat.
"Ekhemmm...." Tio dengan berwajah datar melihat tingkah ke duanya.
Nadhila pun buru-buru beralih berdiri dengan mengembalikan mangkuk bekas batagor nya ke penjual. Dengan cepat membayar. Dan berlalu pergi meninggalkan ke tiga orang yang berada di meja tersebut.
"Sepertinya mereka sedang bertengkar?. Atau mungkin cemburu, karena aku tadi bersama Hessel." Bathin Rebbeca memperhatikan Nadhila yang pergi.
Tio pun dengan cepat berdiri, dan membayar makanan nya, lalu bergegas mengejar Nadhila. Tio sudah memutuskan ketika tadi berbicara berdua dengan Hessel, ia akan lebih mendekati Nadhila. Hessel pun mengetahui itu.
"Apa begitu perlakuan pacar mu?." Rebbeca seperti ingin mempengaruhi Hessel.
"Jangan mencampuri urusan ku." Ketus Hessel.
Hessel sedikit kesal dengan perlakuan Nadhila, di tambah Perlakuan Tio yang berani mengejar Nadhila di hadapan nya.
Hati Hessel merasa tidak rela, jika melihat Nadhila dekat dengan laki-laki lain. Ia seperti sakit melihat nya, padahal Hessel sudah tahu akan Tio yang menyukai Nadhila.
Hessel pun dengan cepat meninggalkan Rebbeca, ia ingin bergegas pulang ke rumah nya. Dan lagi-lagi Hessel melihat Nadhila yang tengah duduk berdua dengan Tio. Hati Hessel seperti teriris, namun Hessel bingung dengan hatinya. Ia pun dengan cepat melangkah menuju mobil nya yang terparkir.
Setelah masuk ke dalam mobil, Hessel memukul setir nya. Ia merutuki Hatinya yang tidak dapat ia mengerti.
"Hei Ada apa dengan ku?. Aneh sekali." Umpatnya.
Hessel pun mulai melajukan mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Taman itu.
Tio yang duduk bersama Nadhila. Kini ia memberanikan diri mengatakan apa yang selama ini ia pendam.
"Dhila... Apa kamu menyukai Pak Hessel?." Tanya Tio.
"Hah... Pak Tio ini aneh. Masa iya aku suka sama beliau. Aku hanya sedang kesal saja. Mentang-mentang dia atasan ku, Ia bersikap sesuka nya." Jelas Nadhila.
Tio pun akhirnya lega mendengar penjelasan Nadhila.
"Syukurlah kalau kamu tidak menyukai beliau." ujar nya.
Dan membuat wajah Nadhila menatap Tio dengan heran.
"Memang kalau saya tidak menyukai beliau. Kenapa Pak Tio mengucapkan syukur?."
"Ah i-iya saya hanya bersyukur saja. Ehm... boleh saya bertanya lagi?." Ucap Tio serius.
"Bertanya tentang apa?." Tanya Nadhila heran.
"Tapi kamu harus jujur menjawab nya." Tukas Tio.
"Iya. Aku usahakan jujur. Tapi tentang apa dulu?." Nadhila dengan penasaran.
"Apa kamu pernah berpacaran?." Tanya Tio.
Nadhila dengan cepat menggeleng.
"Benar kah?. Tanya Tio lagi.
Nadhila menjawab dengan mengangguk.
Tio tersenyum senang dengan jawaban Nadhila berikan. Tio pun sama hal nya dengan Nadhila yang belum pernah merasakan apa itu pacaran.
Nadhila yang merasa Tio terdiam, Nadhila memberanikan untuk menatap Tio, terlihat Tio sedang tersenyum sendiri. Nadhila pun bingung di buatnya.
Tio pun langsung terkekeh. "Tentu bukan Dhila, untuk apa saya menertawai mu."
"Lalu?." Nadhila penasaran.
"Bukan apa-apa. Hanya saja kita sama." Tio dengan mulai berwajah serius.
Nadhila yang tidak mengerti akan ucapan Tio, ia mengerutkan dahi nya. "Sama. Maksudnya?." Tanya nya.
"Iya sama. Belum pernah pacaran." Seketika Nadhila langsung tertawa akan apa yang di dengarnya.
"Mana mungkin. Pak Tio pasti berbohong. Banyak sekali wanita yang menyukai bapak di kantor. Tidak mungkin bapak belum pernah pacaran." Nadhila berujar dengan masih tertawa.
"Saya serius Dhila." Tegas Tio. Dan membuat Tawa Nadhila terhenti.
"Iya Deh aku percaya." Nadhila pun tersenyum.
"Tapi ada wanita yang sudah lama saya sukai. Namun saya belum berani untuk mengungkapkan nya. Dan saya juga tidak tahu wanita itu suka atau tidak sama saya." Ucap Tio tiba-tiba.
"Wah beruntung sekali wanita itu." Ucap Nadhila polos.
"Maksudnya?." Tio merasa heran.
"Iya. Beruntung. Di saat yang lain menyukai, dan mengagumi bapak. Bapak malah menyukai wanita lain." Nadhila dengan tersenyum.
Tio pun terdiam, ia merasa ragu untuk mengatakan bahwa wanita nya itu adalah Nadhila. Dan dengan tiba-tiba Ponsel Tio berdering. Tertera Pak Bos calling di layar nya. Tio pun dengan cepat mengangkat panggilan nya.
Nadhila yang masih terduduk di dekat Tio, memilih berdiri dan menatap sekelilingnya.
"Apa kamu masih betah di sini?." Tanya Tio tiba-tiba, yang sudah selesai menerima panggilan nya.
"Seperti nya iya. Tapi sekarang sudah begitu sore. Aku mau pulang saja."
"Kalau begitu. Ayo Saya Antar." Tio menawarkan untuk mengantar Nadhila.
"Tidak usah pak. Saya bawa motor ke sini." Tolak Nadhila.
"Ya sudah. Hati-hati . Saya pamit yaa...." Tio dengan tersenyum lalu pergi meninggalkan Nadhila.
Nadhila pun pergi bergegas menuju motor nya yang terparkir. Nadhila pun dengan cepat melajukan motornya, menuju rumah nya.
Setelah sampai, Nadhila pun dengan cepat memasuki rumah nya.
"Assalamu'alaikum..... Ibu Nadhila pulang." Teriaknya.
"Wa'alaikum salam...." Jawab Ibu Nadhila yang sedang duduk menonton tv.
Nadhila pun menghampiri, dan menyalami tangan ibunya. Ibu nya pun tersenyum kepada Nadhila.
"Oh ya, tumben gak lembur?." Tanya Ibu nya kini.
"I-iya bu. Ehm... Nadhila langsung ke kamar ya." Nadhila dengan cepat masuk kamar nya.
Nadhila menghindari pertanyaan ibu nya, ia takut ibunya melihat Nadhila yang sedang berbohong. Nadhila pun dengan cepat memasuki kamar mandi, ia ingin melakukan aktivitas mandi nya. Setelah selesai Nadhila pun memakai pakaian rumahan nya.
Nadhila kini terduduk di tepi ranjang yang tidak begitu besar, ia memilih bermain ponsel sebelum menunggu Adzan Magrib. Ada tersirat di hati Nadhila yang mengingat perlakuan Hessel tadi pagi, yang dengan lancang mencium tangan dan memeluk nya, tanpa sadar bibir Nadhila tersenyum. Namun cepat-cepat ia mengucapkan istighfar karena Nadhila telah sadar melakukan kesalahan nya.
"Astagfirullah... Ya Allah Maafkan Hamba-Mu ini. Yang tidak bisa menjaga diri Hamba." Ucap nya menyesal.
Lalu terdengar Adzan menggema dari Arah Mesjid yang memang dekat dari rumah Nadhila. Nadhila pun dengan cepat berwudhu, lalu berdiri untuk menunaikan shalat fardu Magribh nya, dan setelah selesai shalat, Nadhila berdzikir terlebih dahulu dan membaca Al-qur'an.
Setelah selesai dengan bacaan Al-qur'an nya, Nadhila merasa tenang hatinya. Ia tidak merasa jengkel seperti tadi. Nadhila pun keluar kamar untuk menghampiri ibu nya.
Terlihat sang ibu sedang menyajikan makanan yang tadi ia masak ketika waktu sore.
"Wah... Ada opor ayam kesukaan Dhila. Ibu sengaja memasak nya?." Tanya Nadhila senang.
"Iya. Ibu sengaja memasaknya. Agar kamu lahap makan." Jelas Ibu Nadhila.
"Terima kasih. Dhila sayang ibu...." Nadhila dengan cepat memeluk ibu nya.
"Iya sayang sama-sama," Ucap Ibu yang membalas pelukan Nadhila anak nya.
Nadhila pun setelah melepaskan pelukan nya, langsung cepat menyendoki makanan ke atas piring kosong nya.
"Bismillahirrahmaannirrahiim, Allahumma bariklana fima rojaktana waqina adza banar...." Ucap Nadhila lantang berdo'a sebelum makan seperti anak balita.
Ibu yang melihat tingkah lucu anaknya hanya tersenyum.
Nadhila dengan lahap memakan makanan nya, hingga ia menambah porsi nya. Mungkin memang sedari tadi makan siang di kantin, ***** makan Nadhila menghilang karena Bos nya yang datang menghampirinya.
"Nak... Ibu ingin cepat melihat kamu menikah." Ucap Ibu Nadhila tiba-tiba.
Sontak Nadhila langsung tersedak, dan Ibu nya langsung buru-buru memberikan segelas air minum.
"Pelan-pelan kalau makan nak." Peringat Ibu Nadhila.
"I-iya bu." Jawab Nadhila. Dengan mulai menyuapi makanan nya kembali.
"Dhila, Ibu sudah tua. Dan kamu juga sudah dewasa. Ibu ingin sekali melihat kamu menikah sebelum Ibu meninggal." Ibu Nadhila mengucapkan kembali ke inginan nya.
Nadhila pun langsung terdiam. Kini ia menatap Wajah Ibu nya yang berubah menjadi sendu.
"Ibu ini bicara apa sih. Nadhila tidak mau mendengar ibu berbicara seperti tadi. Tentu Dhila pasti akan menikah, bahkan ibu akan menyaksikan hingga cucu ibu memberikan cicit. Tapi Dhila, belum ada calon nya bu...."
Ibu Nadhila seketika tersenyum mendengar penuturan anaknya.
"Maka nya cepat cari calon nya!." Suruh si Ibu.
"Hih ibu ini. Memang Dhila wanita apa, yang harus mencari calon suami?. Ada juga Dhila menunggu nya. Bukan mencari nya." Sahut Nadhila.
Ibu Nadhila terkekeh." Iya Nak. Maksudnya jika kamu merasa ada pria yang mendekati mu, lalu dia menyukai mu. Suruh saja dia langsung melamar mu." Perintah Ibu Nadhila.
"Aduh apa lagi ini. Ibu ada-ada saja. Jika Ada pria yang mendekati Dhila, lalu Dhila tidak menyukai nya. Masa iya Dhila suruh untuk melamar dan menemui ibu." Dhila tidak terima perintah ibu nya.
"Iya benar itu. Maksud ibu Jika pria itu serius dan kamu menyukai nya juga. Cepat lah suruh untuk melamar mu. Ibu tidak mau kamu lama-lama berpacaran." Tukas si Ibu.
Nadhila pun dengan cepat mengangguk.
"Hiss... Ibu ini. Iya.... terus siapa lagi yang berpacaran. Orang Dhila belum pernah juga." Gumam Nadhila yang masih terdengar oleh Ibu nya.
Bersambung.