Nadhila Story

Nadhila Story
Mulai Dekat.



Seorang gadis tengah mengendarai motornya menuju Kantor tempat Ia bekerja selama tiga tahun ini. Dan gadis tersebut harus ekstra merubah kebiasaan buruknya yang selalu saja datang terlambat. Kini jabatan nya sebagai Sekretaris sang Direktur gadis tersebut perlahan bisa berubah. Ia selalu datang tepat waktu, bahkan sebelum yang lain datang Ia sudah ada di dalam ruangan nya.


Kini Gadis tersebut tengah memarkirkan Motor Matic miliknya di parkiran khusus motor. Ia tak lupa memberi kunci ganda agar menjaga Keamanan Motor tersebut.


Terlihat Suasana Kantor masih sepi. Ia cepat-cepat masuk ke dalam Lift menuju lantai lima. Setelah keluar dari dalam Lift gadis tersebut masuk kedalam ruangan nya yang seruangan dengan sang Direktur. Cepat-cepat Ia menuju meja kerjanya. Lalu menaruh tas, dan melenggang pergi ke arah Pantry untuk menyiapkan menu sarapan sang Direktur yang termasuk tugasnya.


"Eh... Neng Dhila sudah di Pantry saja?." Tanya Ketua OB di kantor Itu yaitu Pak Ajis.


"Iya Pak. Saya mau bikin nasi goreng. Apa bahan-bahan nya masih tersedia pak?." Nadhila seraya memakai apron.


"Ada Neng, di Lemari pendingin." Sahut Pak Ajis.


"Ya sudah saya mau masak dulu ya Pak." Ucap Nadhila.


Pak Ajis mengangguk dan merasa aneh kepada Direktur barunya yang selalu ingin sarapan buatan Nadhila. Ini baru pertama kalinya Seorang Direktur yang menugaskan masalah hal perutnya di tugaskan kepada Sang Sekretaris.


Beberapa menit Nadhila telah menyelesaikan membuat Nasi goreng untuk Direkturnya. Kini Ia sedang menuangkan gula putih kedalam gelas tinggi lalu memasukkan satu buah teh celup, Kemudian disusul dengan memasukkan Air Panas jadilah Teh Manis.


Setelah itu Nadhila mengambil nampan dan diletakan nya Nasi goreng serta segelas Air Teh manis di atas nampan tersebut Lalu Nadhila pun melenggang menuju Ruangan sang Direktur. Dan di taruh di atas meja Sang Direktur.


Tak lama setelah Nadhila baru saja duduk di Kursi Kerjanya Sang Direktur datang. Dan merasa Aneh sekaligus senang melihat sarapan nya sudah tersedia di Meja nya.


"Selamat Pagi..." Sapa Hessel sang Direktur.


"Pagi..." Sahut Nadhila tanpa menoleh Direktur nya.


Hessel pun hanya bisa mendengus melihat sekretarisnya yang tidak mantap nya.


Mungkin Dhila masih marah.


Hessel bergumam di dalam hatinya.


Lalu duduk di Kursi kebanggaan nya dengan cepat meraih Nasi goreng yang telah di buat Nadhila, Hessel mulai melahap dan mengunyahnya dengan pelan.


Sangat enak. Puji Hessel dalam hati.


Sang Direktur Sedang enak melahap sarapannya. Namun suara ketukan pintu membuat Suapan nya terhenti.


"Masuk." Seru Hessel.


Dan terlihat Tio masuk ke dalam ruangan dengan membawa berkas.


"Permisi Saya mau menemui Dhila." Ucap Tio sang Asisten.


Hessel pun mengangguk dengan menyuapkan suapan nya yang baru saja tertunda.


"Hai Dhila...." Sapa Tio seraya duduk di sebuah kursi depan Meja Nadhila.


Nadhila pun menoleh dan menatap Asisten Direktur tersebut.


"Ada apa pak?." Nadhila to the point.


"Ini Jadwal Pak Hessel dari Mulai masuk kerja." Tio dengan menyerahkan map berisi jadwal sang Direktur yang sudah Tio Rancang.


Nadhila pun meraihnya. Dan kembali pokus kepada layar komputer.


Duh gimana ya cara menyampaikan nya?.


Gumam Tio dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Hessel menoleh dan memperhatikan Asistennya yang sedang kebingungan.


Pasti Tio mau modus. Gerutu Hessel dalam hati.


Nadhila kini menatap Tio yang merasa masih duduk di depan meja nya.


"Apa masih ada lagi pak?." Tanya Dhila.


"Em... Ini tentang Pribadi. Nanti Siang Saya ingin mengajak kamu Makan siang bareng. Apa kamu mau?." Tanya Tio dengan kaku.


Karena bagi Tio ini hal baru berbicara dengan gadis yang telah memikat hatinya mengajak makan bersama.


Sontak Ucapan Tio membuat Sang Direktur tersedak.


Tio Seperti nya serius dengan ucapan nya yang kemarin. Gumam Hessel dalam hati.


Nadhila sedikit menoleh kepada Direktur nya itu, kemudian menatap Tio yang tengah menatap dan menunggu jawaban darinya.


"Iya Saya mau pak." Kata Nadhila menjawab dengan sedikit keras suaranya.


Tio pun tersenyum senang. Hal pertama yang Ia tempuh telah berhasil, tinggal menempuh langkah kedua yang nanti akan Ia sampaikan langsung kepada Nadhila saat berdua.


"Ya sudah Saya undur diri. Selamat bekerja." Tio dengan tersenyum yang membuat Nadhila pun tersenyum kembali dan mengangguk.


Tio kini berjalan mendekat ke arah meja Hessel.


Hessel telah selesai dengan sarapan nya. Lalu berjalan menaruh bekas piringnya tersebut di sebuah Washtafel di sudut ruangan yang berdekatan dengan pintu toilet pribadinya.


Lalu Hessel kini berdiri di depan meja Nadhila.


"Tadi Tio bicara apa?." Ujar Hessel ingin tahu.


Nadhila pun mendongak dan menatap Direkturnya itu. "Pak Tio nyerahin Map ini." Sahut Nadhila dengan menunjuk map berwarna merah di meja nya.


"Apa itu?." Tanya Hessel.


"Ini semua jadwal bapak. Oh ya sebentar saya akan membaca jadwal bapak hari ini. Em... Bapak nanti ada meeting bersama Klien dari perusahaan Tekstil yang bernama Pak Suseno." Tutur Nadhila.


"Nanti temani Saya." Perintah Hessel.


"Baik pak." Sahut Nadhila dengan mengangguk.


Kemudian Hessel kembali duduk di Kursinya kembali. Dan memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja nya. Hessel memang telaten dalam bekerja maka ia di percaya untuk memimpin perusahaan Besar milik Ayah nya itu. Setelah beberapa berkas Sudah Hessel periksa. Kini Ingatan nya berputar saat Ia hari kemarin ikut shalat bersama Tio. Hessel benar-benar tersentuh hatinya dan telah terbuka untuk memperdalam ilmu Agama Islam. Meskipun Status agamanya Islam namun pemahaman terhadap ajarannya Hessel sungguh rendah. Bisa di bilang dirinya sangat buta.


Hessel kini berpikir untuk meminta bantuan kepada Nadhila. Mungkin pikirnya Nadhila bisa membantu dirinya untuk belajar mendalami Ajaran Agama Islam tersebut.


Hessel berjalan kembali mendekati Meja kerja Nadhila. Kini Ia duduk di kursi yang bekas Tio tadi duduk.


"Em... Dhila. Saya mau bicara serius sama kamu. Bisakah kamu tinggalkan dahulu pekerjaan mu?. Dan pokuslah kepada Saya yang akan bicara." Hessel sengaja berbicara seperti itu karena sedari tadi Nadhila mengacuhkan nya.


Nadhila pun menurut lalu Ia menatap Direkturnya itu dengan serius. "Silahkan Kalau Bapak mau bicara."


"Dhila... Jujur saya baru hari kemarin merasakan hati yang sangat tenang setelah ikut Shalat bersama Tio di Mushola. Seakan Beban pikiran yang selalu ada di otak itu hilang. Padahal Saya tidak bisa bahkan tidak pernah tahu tentang semua bacaan yang di ucapkan seperti orang-orang lain. Apa kamu tahu kenapa hati saya bisa tenang seperti itu?." Hessel berbicara dengan tenang dan jelas apa yang kemarin Ia rasakan kepada Nadhila tanpa ada yang Hessel tutupi.


Nadhila sontak kaget di usia Hessel yang sudah sangat Matang masih awam terhadap Agama yang di anutnya. Nadhila kini tersenyum dan mulai ingin menanggapi apa yang di bicarakan Direkturnya itu.


"Sebenarnya Sudah di tetapkan dalam Al-qur'an bahwa Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan Keji dan Mungkar. Dan Ketahuilah Mengingat Allah melalui Shalat itu lebih besar keutamaan nya dari Ibadah yang lain. Dan tentang Pak Hessel yang merasa tenang saat bapak setelah melaksanakan shalat itu karena Shalat dapat menenangkan hati, pikiran, dan jiwa yang gundah juga fisik yang letih akibat tenaga terlalu banyak diforsir. Sebab, dalam shalat, seseorang sejatinya tengah menghadap Allah SWT, meninggalkan sejenak kesibukan duniawi untuk memberikan kesempatan bagi rohani atau jiwanya untuk berkomunikasi dengan-Nya." Tutur Nadhila dengan Panjang dan jelas.


Hessel manggut-manggut menanggapi. Sungguh Penuturan dari Nadhila dapat cepat Hessel pahami itulah kelebihan Hessel selalu mudah cepat tanggap.


"Shalat adalah ibadah yang berisi zikir (mengingat Allah) dan doa kepada Allah SWT. Shalat secara bahasa artinya doa. Dalam Alquran, zikir disebutkan dapat membuat hati menjadi tenang."


Lalu Nadhila menjeda kata-katanya.


"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d [13]: 28).


Kata Nadhila dengan menjelaskan sesuai Dalil dalam Alquran.


Hessel kagum pada Gadis di hadapan nya. Sungguh Nadhila begitu paham tentang apa itu Shalat.


"Satu Lagi Nadhila. Apakah seusia saya masih bisa untuk belajar tentang Shalat?. Atau saya sudah terlambat?." Kini Hessel mengatakan nya dengan wajah sendu.


Nadhila terharu mendengar Direkturnya itu Seperti ingin belajar tentang shalat dengan tidak malu mengatakan nya kepada dirinya.


"Masih Bisa dan Tidak terlambat." Jelas Nadhila.


"Apakah kamu bersedia mengajari saya?." Tanya Hessel dengan menatap Wajah Nadhila yang sangat teduh di pandang.


Nadhila terperanjat. "Bapak meminta saya untuk mengajarkan bapak?." Nadhila dengan bertanya kembali kepada Hessel.


"Iya Dhila. Mohon Bantu Saya untuk lebih mengenal Tentang Islam." Sahut Hessel dengan memohon.


Nadhila terdiam sejenak. Lalu Ia berpikir sejenak. "Bisa Pak." Kata Nadhila.


"Yess terima kasih. Dari kapan kamu mau mengajari saya?."


"Em... Ya kalau sedang tidak ada pekerjaan saja pak." Ucap Nadhila.


"Tapi Dhila. Saya ingin kamu mengajari Saya di rumah saya. Agar tidak ada halangan." Hessel dengan sedikit modus karena ia ingin lebih dekat lagi dengan gadis yang membuat nya kagum. Hessel berpikir Biarlah seperti menyelam minum air. Siapa tahu dengan belajar bersama Nadhila Ia akan Bisa dan Tahu tentang shalat, Serta dapat memikat Nadhila dengan caranya.


"Gimana ya pak?." Nadhila seperti sedang berpikir.


"Ayolah Dhila... Bantu saya. Dan akan saya masukan ke jam kerja kamu. Kamu akan tetap saya gaji." Hessel dengan wajah memelas.


"Baiklah." Kata Nadhila.


Nadhila menyanggupi bukan karena mendengar akan gaji nya namun melihat Wajah Hessel yang memelas membuat dirinya tidak tega.


"Terima Kasih Banyak Dhila. Okey dan terima kasih atas waktunya kamu bersedia mendengarkan dan menyampaikan nya kepada saya. Selamat bekerja kembali." Tutur Hessel dengan tersenyum lalu pergi dan duduk kembali ke Kursi kerjanya.


Nadhila tersenyum hingga Hessel duduk pun di kursinya Bibir Nadhila terus tersenyum. Lalu Nadhila sadar akan dirinya yang terus tersenyum itu.


"Ish... Ada apa dengan ku?. Kenapa aku harus tersenyum terus kepada pak Hessel?." Gerutu Nadhila di dalam hatinya.


Maaf Author Baru bisa Update di Nadhila Story **ini.


Semoga Readers terhibur dengan cerita Author**.


Bersambung.