Nadhila Story

Nadhila Story
Mungkin saja.



"Em ... Mas" Nadhila berusaha mendorong tubuh Hessel yang sudah mengungkungnya pada tembok kamar mandi.


Hessel tak bergeming. Ia terus menatap lekat wajah Nadhila. Terlihat pancaran hasrat dari sinar matanya. Membuat Nadhila seketika ketakutan.


"Mas, jangan begitu!" protes Nadhila yang kini merasa gelenyar aneh pada tubuhnya saat bibir Hessel mulai menelusuri leher jenjangnya.


"Mas, seharusnya kita lakukan shalat sunat terlebih dahulu. Kemudian berdoa," suara Nadhila sudah berubah parau. Namun, masih mengingatkan suaminya itu. Nadhila takut Hessel bernaf su seperti itu akibat telah di kuasai se tan.


Hessel menghentikan aktivitasnya. Telinganya sedari tadi menangkap apa yang Nadhila katakan.


"Benarkah, begitu?" Hessel seperti ingin keyakinan.


"Iya, Mas. Bukannya, kita ingin memiliki keturunan yang shaleh atau shalehah?" jelas Nadhila dengan bertanya mengenai keinginan Hessel memiliki keturunan yang baik.


"Tentu, aku ingin" jawab Hessel antusias.


"Ya sudah. Aku mau mandi dan berwudhu terlebih dahulu--"


Toktoktok...


Belum juga Hessel melanjutkan perkataannya. Ia di kejutkan oleh suara ketukan pada pintu kamarnya.


"Aku buka pintu dulu" ucap Hessel dan berlalu. Nadhila dengan cepat meraih baju yang tergeletak di atas kasur dan memakainya di dalam kamar mandi.


Ceklek...


Hessel membuka pintu, dan matanya tajam saat melihat pelaku yang sudah mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa?" Hessel dengan ketus.


"Mami, seperti kejang-kejang tadi," ucap Rebecca dengan cemas.


"Apa?" pekik Hessel lalu dengan cepat melangkah ke arah kamar Delina yang jauhnya terhalang tiga kamar kosong.


Rebecca tersenyum senang saat melihat Hessel langsung menemui Delina.


"Mami, Mami" Hessel masuk dengan memanggil Delina.


Delina nampak pucat. Lalu tersenyum kepada Hessel.


"Mami, sudah baikan kok" ucap Delina memberikan ketenangan kepada Hessel.


"Syukurlah," Hessel seakan bisa bernafas lega. Namun, ia menangkap sorot mata kesedihan dari tatapan Delina.


"Mami, sepertinya sangat sedih. Apa yang membuat Mami sedih? katakan!" Hessel tidak tega melihatnya. Ia ingin mendesak agar Delina mengatakan apa penyebab sedihnya itu.


Delina menghela nafas panjang. Kemudian ia menatap langit-langit kamar. Tanpa menatap Hessel yang akan di ajak berbicara.


"Maaf Mami telah meminta hal yang tidak kamu sukai saat siang tadi. Namun, saat ini Mami merasa umur Mami sebentar lagi. Dan Mami ingin sekali melihat anak satu-satunya Mami menikahi gadis yang Mami inginkan," ujar Delina dengan mengeluarkan air mata keserdihannya.


Hessel menatap Delina dengan perasaan campur aduk. Marah, Tidak suka, dan sedih. Itu yang Hessel rasakan saat ini. Mendengar Delina meminta permintaan seperti itu, seolah seperti pertanda bahwa Delina tidak akan berumur panjang.


"Bisa tidak, Mami meminta yang lain?" Hessel mengusulkan pertanyaan.


Delina menggeleng. "Mami hanya menginginkan itu," ucapnya.


"Lalu bagaimana dengan Nadhila istriku? bagaimana perasaannya?" Hessel dengan dada menggebu merasakan sesak, jika menatap Nadhila yang nanti akan kecewa atau marah saat mendengar permintaan Delina.


"Nadhila wanita baik, Mami baru menyadarinya. Dan Mami yakin, Nadhila akan menerima jika suaminya menikah lagi," Delina dengan enteng berucap. Menampakkan ekspresi seolah dirinya kini menerima Nadhila.


"Jika Nadhila wanita yang baik, kenapa Mami meminta Hessel menikahi wanita lain, yang menurut Hessel wanita itu tidak baik?!" suara Hessel pelan namun tegas.


Delina terdiam. Ia juga merasa aneh. Mungkin karena Delina lebih mengenal Rebecca, jadi ia ingin sekali menantunya itu adalah Rebecca. Rebecca selalu berbicara lembut, lalu bersikap sopan jika di depannya. Membuat Delina merasa di sayangkan jika Rebecca menikah dengan pria lain.


"Mami menyukai Rebecca. Rebecca gadis yang tulus," ujarnya.


Hessel menggeleng-gelengkan kepala. Delina tidak tahu sikap Rebecca yang membuat Hessel meninggalkannya.


"Mami, Rebecca waktu berpacaran saja sudah berselingkuh. Hessel takut, jika menjadi istri Hessel ia seperti itu," Hessel mengatakan sikap yang Rebecca yang tidak Delina ketahui.


Tepat setelah itu Rebecca datang bersama Nadhila yang terlihat akrab di pandangan mata Delina.


"Lihat, mereka nampak akrab!" celetuk Delina saat melihat Rebecca dan Nadhila mendekati ke arah tempat tidurnya.


Hessel menatap tidak suka, Nadhila akrab dengan Rebecca.


"Nadhila," panggil Delina. Membuat Nadhila lebih mendekati dan menjawab panggilannya.


"Iya, Mami ada apa?"


"Hmm ... sekarang kamu boleh senang dulu. Aku akan bersikap manis kepadamu sebelum Hessel menyetujui permintaanku. Dan aku akan membujuk mu agar Hessel mau menyetujuinya," batin Delina.


Deluan tersenyum begitu lembut kepada Nadhila. Membuat Rebecca tidak suka melihatnya, namun tidak Rebecca tampakkan saat itu.


"Mami minta maaf, kemarin Mami marah-marah sama kamu. Dan Mami menuduh yang tidak-tidak," ucap Delina.


Nadhila membalas senyuman Delina, "Mami tidak perlu meminta maaf. Karena sebelum Mami melakukannya pun, Aku sudah Memaafkannya,"


Hessel tersenyum senang, benar-benar istrinya itu berhati baik.


"Pantas saja, putra Mami satu-satunya begitu mencintaimu. Kamu gadis yang baik," Delina dengan mengusap-usap lengan Nadhila.


Hessel mendekat. Lalu merangkul bahu Nadhila di depan Rebecca dan Delina.


"Hessel tidak salah pilih Mi. Hessel sendiri bangga, memiliki istri seperti Nadhila." Hessel berharap Maminya itu tidak mengungkit kembali tentang permintaannya.


Sontak perkataan Hessel membuat Rebecca tidak suka, begitupun dengan Delina. Tapi, sekuat mungkin tidak Delina tampakkan di depan putranya.


Sementara Nadhila tersenyum seraya menundukkan kepalanya.


"Ya sudah kalian, beristirahat saja." ucap Delina. "Nadhila, bisakah besok kamu temani Mami di sini. Mami ingin lebih dekat denganmu," lanjutnya.


"Tentu Mami. Aku akan di sini menemani dan merawat Mami," sahut Nadhila dengan tersenyum senang. Nadhila berpikir Delina telah menerimanya.


"Kalau begitu, Mami tidurlah." Hessel seraya menyelimuti Delina.


"Ya, Mami malam ini ingin tidur di temani Rebecca," sahut Delina.


Hessel hanya memberikan anggukan kepala saja. Kemudian ia mengecup kening sang Mami dengan penuh sayang.


"Mulai besok, Hessel akan carikan perawat untuk Mami. Agar perkembangan Mami bisa terpantau," Hessel kemudian menatap Nadhila, "Ayo, kita lanjutkan yang tadi!" ucapnya.


"Mas," protes Nadhila sedikit melotot. Tatapan Nadhila beralih kepada Delina. "Mami, aku pamit ya! semoga Mami cepat sembuh," pamit Nadhila kepada Delina. "Ecca, aku pamit ya," ucapnya. Dan mengikuti langkah suaminya. Rebecca menjawab dengan mengangguk dan tersenyum.


Rebecca cepat mengunci pintu kamar Delina. Setelahnya mendekat kembali ke arah ranjang Delina.


"Mami sudah menerima Nadhila?" tanya Rebecca yang penasaran.


Delina menatap Rebecca dengan tersenyum.


"Iya, Mami menerimanya," jawabnya ia ingin tahu bagaimana reaksi Rebecca.


"Bagus itu, Mi. Karena Nadhila memang gadis yang baik," ucap Rebecca. Padahal dalam hati ia dongkol. Merasa Delina tidak bisa ia pengaruhi kembali.


"Apa kamu masih mencintai putra Mami?"


Rebecca tersenyum seraya mengangguk, "Iya Mi. Tapi, mungkin Rebecca harus pendam atau buang rasa cinta itu. Karena, Hessel sudah memiliki istri dan mencintai istrinya," drama Rebecca yang membuat Delina tersenyum bangga.


"Misalkan jika kamu menjadi istri Hessel walaupun itu istri kedua, apa kamu mau?"


Pertanyaan Delina membuat Rebecca syok. Namun, sejurus kemudian Rebecca tersenyum dengan lebar.


"Tentu Rebecca mau, Mi. Tidak apa, jadi istri keduanya Hessel, yang penting Rebecca bisa hidup bersama Hessel pria yang Rebecca cintai," Rebecca kemudian memberengut, "Tapi, itu tidak mungkin rasanya, Mi. Jika Hessel menikahi Rebecca,"


"Mungkin saja, Ecca. Mudah-mudahan itu terjadi," Delina dengan yakin.


Bersambung...