Nadhila Story

Nadhila Story
Nadhila merenung.



"Bagaimana Dhila, apa kamu bisa mengabulkan permintaan Mami ini sebelum meninggal?" kata-kata Delina menyadarkan Nadhila yang menjadi terdiam. Nadhila setelah mendengar permintaan Delina tadi yang meminta Hessel ingin menikahi Rebecca. Tentunya membuat Nadhila syok dan merasa lemas.


"Em ... nanti Dhila akan bicarakan dulu sama Mas Hessel, Mi" ucap Nadhila dengan tersenyum menyembunyikan kekalutan hatinya yang kini seakan tertancap ribuan pecahan kaca.


"Benarkah? bagaimana kalau Hessel menolak seperti kepada Mami?" Delina mencoba ingin meyakinkan Nadhila agar sepenuhnya bisa membujuk Hessel.


"In syaa Allah Mi. Mas Hessel akan menerimanya," Nadhila memberikan ketenangan bagi Delina.


"Apa kamu tidak masalah jika Hessel menikah dengan Rebecca? kamu akan mempunyai madu," Delina akan memastikan bahwa Nadhila memang tidak keberatan atas permintaannya.


Nadhila mencoba tersenyum kembali. "Bagi Dhila tidak masalah Mi. Asal, Mas Hessel sebagai suami bisa bersikap adil,"


Delina tersenyum senang. Perlahan ia akan mendapat keinginan itu. Dan setelah keinginan itu tercapai. Maka Delina akan menghempaskan Nadhila dengan caranya sendiri.


"Terima kasih sebelumnya Dhila ... Mami berharap Hessel akan menurut kepadamu," ujar Delina dengan rasa haru. Tentunya rasa haru tersebut adalah sebuah drama.


Nadhila mengangguk dengan tersenyum yang sangat tulus. Nadhila berpikir ibu mertuanya tersebut sudah sangat senang walau permintaannya itu belum sepenuhnya terkabul. Sehingga Nadhila akan bertekad untuk membuat Delina bahagia.


"Ya sudah Mami istirahat. Nanti Nadhila akan ke sini lagi," Nadhila seraya membenarkan selimut yang menyelimuti tubuh Delina.


"Baiklah. Mami akan tidur," sahut Delina dengan tersenyum.


Nadhila perlahan meninggalkan kamar Delina. Ia berjalan melangkah dengan perasaan yang tidak bisa ia artikan. Permintaan Delina membuat hatinya merasa tidak tenang.


Nadhila kini sudah berada di dalam kamar. Ia duduk termenung di atas sofa yang mengarah pada jendela. Dari jendela Nadhila bisa melihat langit hari tersebut yang cerah.


"Ya Tuhan. Berikan ketenangan pada hati Hamba-Mu ini," doa Nadhila seraya menatap ke arah luar.


"Hamba tahu. Semua sudah di gariskan. Namun, berilah ketabahan untuk diri Hamba. Berilah kelapangan untuk hati Hamba. Jadikanlah, apa yang Hamba utarakan nanti pada suami Hamba sebagai ibadah kepada Engkau," Nadhila kembali berdoa untuk menenangkan hatinya.


Hingga Nadhila hatinya sedikit tenang, dan kini ia merasa ngantuk. Perlahan Nadhila memilih terbaring di atas sofa, memejamkan kedua matanya yang mulai terasa berat.


***


Hessel menaiki anak tangga dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak melihat keberadaan istrinya saat pulang dan masuk rumah.


Perasaan Hessel menjadi lega setelah melihat istrinya terbaring di atas sofa. Nadhila masih memejamkan kedua matanya. Siang itu Nadhila tidur dengan nyenyak.


Dengan senyuman yang tersungging, Hessel mendekati sofa tersebut. Kemudian sedikit membungkuk, mengecup kening Nadhila. Namun, Hessel terperanjat saat merasakan hawa panas dari tubuh Nadhila, saat bibirnya menyentuh kening Nadhila.


"Dhila ... bangun! kamu demam," Hessel megusap-usap kepala Nadhila dengan lembut agar Nadhila terbangun. Dan setelah beberapa kali usapan, mata Nadhila terbuka dengan pertama tatapannya menyuguhkan wajah Hessel.


"Mas," Nadhila mencoba untuk duduk bersandar. Tapi, tubuh Nadhila oleh Hessel di baringkan kembali.


"Tidak usah duduk. Tiduran saja!" katanya. "Kamu demam, Dhil" wajah Hessel terlihat begitu cemas.


Nadhila mencoba memegangi dahi dan lehernya. Dan benar apa yang di katakan Hessel. Suhu tubuhnya terasa begitu panas.


"Kita ke rumah sakit, ya!?" ajak Hessel namun, langsung dapat gorengan dari Nadhila.


"Tidak usah, Mas. Dengan Minum obat penurun panas juga pasti akan sembuh," tolak Nadhila.


"Tapi, aku khawatir. Lebih baik ke rumah sakit, ya?" ajak Hessel kembali.


Tapi tetap Nadhila kembali menggeleng. Tangannya malah terulur untuk memeluk tubuh suaminya. Membuat Hessel senang bercampur heran.


"Aku ingin peluk kamu saja, Mas" ucap Nadhila.


Hessel terkekeh, "Mana bisa pelukan dapat meredakan demam," seloroh Hessel dengan tangannya membalas pelukan istrinya tersebut.


"Skin to skin?" Hessel yang langsung mengerti. Ia dulu saat sekolah pernah mendapatkan teori tentang cara menangani orang demam. Dan Skin to skin salah satunya.


Nadhila mengangguk dengan wajah merona. Namun, tidak nampak terlihat oleh Hessel karena wajah Nadhila menghadap pada dada bidangnya.


"Lebih baik, kamu makan dulu ya! setelah itu, minum obatnya!" Hessel tidak menanggapi. Ia tidak akan berbuat tega memanfaatkan situasi tersebut. Hessel lebih memilih keadaan Nadhila dalam keadaan sehat walafiat.


Nadhila mengangguk patuh. Hessel menelepon pada telepon rumah yang berada di lantai bawah. Hessel menyuruh pelayan untuk membawa makanan serta minumnya, dan juga obat penurun demam.


"Nanti ada pelayan datang. Kamu langsung makan dan minum obatnya. Aku mau mandi dulu," kata Hessel memberitahukan.


"Iya, Mas" sahut Nadhila.


Hessel pun melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Dan tak lama suara ketukan pintu terdengar. Nadhila dengan tubuh lemas, melangkah ke arah pintu. Kemudian menerima nampan yang di atasnya sudah berisi sepiring nasi yang sudah di tambah sup iga sapi, udang tepung goreng, dan kerupuk. Dan tak lupa segelas air beserta obat penurun demam.


"Habiskan makan nya!" suara Hessel terdengar saat Nadhila melahap makanan tersebut.


Nadhila hanya mengangguk saja tanpa menoleh. Nadhila selalu gugup jika Hessel setelah mandi melewati dirinya.


Nadhila memakan makanan tersebut dengan lahap. Setelah itu ia minum dan meminum obatnya.


"Alhamdulillah Ya Allah ... semoga panas di tubuhku menghilang," kata Nadhila lirih.


"Sudah di minum obatnya?" suara Hessel kembali terdengar di telinga Nadhila. Hessel keluar dari ruang ganti, sudah memakai pakaian santai rumahan. Hessel duduk di sebelahnya Nadhila.


"Sudah, Mas" jawab Nadhila kini dengan menoleh ke arah suaminya.


Hessel merengkuh tubuh Nadhila untuk masuk ke dalam pelukannya. Dan Nadhila tidak menolak. Seakan Nadhila ingin menikmati moment-moment seperti tersebut, sebelum Hessel benar-benar mempunyai istri dua.


"Kamu ngapain saja sih, kok bisa demam?" Hessel seraya mengecup kening Nadhila dengan rasa sayang.


"Aku gak ngapain. Aku hanya menemani Mami dan setelah itu aku tiduran di sofa,"


"Oh. Ya sudah, kamu tidur lagi saja!" ujar Hessel menyuruh agar Nadhila kembali tidur.


"Enggak, Mas. Sekarang aku gak ngantuk," ucap Nadhila.


"Jadi mau begini saja?" tanya Hessel saat Nadhila hanya terduduk berpelukan dengan dirinya.


"Iya, Mas. Aku ingin menikmati pelukan mu," Nadhila berucap seperti itu membuat Hessel merasa aneh.


"Kamu bisa peluk aku kapan saja. Tapi, apa aku boleh menikmati tubuhmu?"


Membuat Nadhila seketika mendongak dan menatap wajah Hessel dengan lekat. Saat tadi Nadhila akan menyerahkan dirinya. Tapi kini, ia akan mencari tahu keseriusan dan ketulusan dari wajah Hessel.


"Gak perlu natap aku seperti itu. Kalau belum siap. Aku tidak akan memaksa," tutur Hessel dengan merasa gemas karena tatapan Nadhila.


"Aku siap, Mas. Namun, ada syaratnya" ucapan Nadhila membuat Hessel mengerutkan keningnya dengan dalam.


"Syarat? apakah suami meminta haknya, harus dengan adanya syarat?" Hessel seraya terkekeh.


"Maaf, Mas" Nadhila kemudian berpikir kembali. Belum saatnya permintaan Delina ia sampaikan pada suaminya saat ini.


"Sudahlah. Lebih baik kamu istirahat. Aku akan ke kamar Mami dulu,"


Hessel langsung melenggang keluar kamar. Sementara Nadhila terdiam dengan merenungi permintaan Delina yang akan ia sampaikan kepada Hessel.


Bersambung...