
Nadhila berjalan dengan tergesa-gesa. Yang ada di pikirannya saat ini tertuju pada Hessel big bosnya itu. Nadhila langsung berlari saat keluar dari lift, dengan cepat membuka pintu saat sudah di depan ruangan kerjanya.
Terlihat Hessel tertidur pulas di atas sofa. Dengan melipat tangan di dada. Seketika membuat Nadhila benar-benar beranggapan bahwa big bosnya itu, benar-benar sedang sakit. Karena tidak biasanya big bosnya itu tertidur di ruangan kerja.
Nadhila mendekat, dan duduk di sofa single dengan menatap lekat wajah polos Hessel yang tertidur. Tidak ada kata-kata yang terdengar menyebalkan, dan senyuman yang membuat Nadhila kesal. Terlihat tampan dan damai dari raut wajah Hessel.
"Astaghfirullah ...," gumam Nadhila saat tersadar telah menatap lawan jenis dengan lama, bahkan terkagum-kagum.
Akhirnya Nadhila memilih duduk di kursi kerjanya saja. Dengan sesekali menatap ke arah sofa yang belum terlihat pergerakan, dari Hessel yang tanda-tanda akan bangun.
"Kenapa Pak Hessel, tidak tidur di ruangan istirahat ya?" gumam Nadhila kembali. Ia merasa heran karena Hessel malah tertidur di sofa, tidak tidur di ruangan yang khusus untuk dirinya beristirahat. Ruangan khusus itu ada tempat tidurnya dan kamar mandinya. Yang di khususkan untuk sang Direktur beristirahat.
Selang beberapa lama. Hessel terbangun. Namun, tetap terlihat tampan walau sedikit rambutnya berantakan. Ia terduduk dan mengumpulkan kesadaran. Setelah itu ia menatap jam di pergelangan tangannya. Yang sudah hampir jam satu siang.
"Oh Tuhan. Aku belum shalat dzuhur," gumamnya. Namun, terdengar oleh Nadhila yang terduduk di kursi kerjanya.
Hessel bergegas masuk ke dalam ruangan khususnya. Tanpa menyadari keberadaan Nadhila yang sudah duduk di kursi kerjanya.
"Alhamdulillah ... Pak Hessel sudah mulai shalat. Tapi, siapa yang sudah mengajarkan? bukan nya, kemarin aku di suruh pulang, jadi gak jadi ngajarin?!" gumam Nadhila kembali. Ia senang melihat Hessel yang mulai melakukan shalat untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim.
Nadhila mulai berkutat pada berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Tapi, ia teringat kembali pada sosok Hessel.
"Apa Pak Hessel sudah makan siang atau belum, ya?" Nadhila bermonolog dengan lirih. Ia memikirkan bahwa atasannya itu sudah makan siang atau belum. Hingga Nadhila berinisiatif pergi ke Pantry. Ia ingin membuatkan makanan siang untuk Hessel.
Kebetulan di Pantry sudah ada hasil masakan dari para OB, yang merupakan makanan yang tidak terlalu buruk untuk Nadhila suguhkan kepada Hessel. Ada sop iga dan balado rolade. Nadhila pun mengambil piring, dan menyidukan nasi beserta lauknya.
Setelah itu, Nadhila kembali bergegas ke dalam ruangannya. Terlihat kebetulan Hessel baru keluar dari ruangan khususnya. Ia menatap Nadhila yang membawa nampan, dan menaruhnya di meja yang berhadapan di sofa.
"Pak Hessel pasti belum makan siang. Jadi aku bawakan makanan ini untuk bapak," ujar Nadhila setelah menaruh nampan itu.
Hessel menatap Nadhila, ia tersenyum dengan mengangguk, "Kenapa bisa tahu?" tanyanya datar. Kemudian duduk di sofa dan menatap makanan yang berada di meja.
Nadhila menatap sekilas lalu menundukkan kepalanya, "Saya tahu. Karena tadi Bapak tertidur di sofa" tuturnya.
Hessel menatap Nadhila yang menunduk. Sehingga ia bisa leluasa memandang penampilan Nadhila dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Tapi, ini bukan masakan mu, ya?" tanya Hessel seperti tidak berselera.
Nadhila mendongak, hingga netra matanya bertemu dengan netra mata Hessel yang sedari tadi menatap ke arahnya.
"Iya, memang kenapa kalau bukan saya yang masaknya, Pak?" jawab Nadhila seraya bertanya.
Hessel mulai menyendoki. "Not bed." Hessel berucap setelah merasakan rasa dari makanan tersebut. "Kembali saja ke meja kerja mu!," lanjutnya.
Nadhila pun menurut ia langsung duduk di kursi kerjanya. Masih ada waktu dua puluh menit lagi waktu istirahat, ia yang sedang halangan bulanan tidak menunaikan kewajiban, beralih meraih ponsel yang sedari pagi ia taruh di dalam tas.
Nadhila membuka layar ponsel miliknya. Melihat banyak panggilan dari nomor ibu. Membuat Nadhila merasa cemas bercampur khawatir.
"Ibu menelponku, ada apa ya?" tanya Nadhila pada diri sendiri. Ia mulai memanggil nomor ibunya itu. Namun, setelah beberapa kali tidak ada jawaban dari sang ibu.
Nadhila melihat jadwal Hessel yang di serahkan Tio hari-hari kemarin, tidak ada meeting penting, dan tidak ada pertemuan dengan Klien. Ia ingin meminta izin setelah di rasa tidak ada jadwal penting.
Nadhila mendekati Hessel yang sedang menikmati makannya, "Permisi, Pak!" ucapnya lirih.
"Hmm," jawab Hessel dengan deheman.
"Boleh Saya meminta ijin. Saya kerja setengah hari saja. Saya mengkhawatirkan ibu di rumah. Beliau menelpon beberapa kali, tapi tidak saya jawab karena ponsel sedari pagi saya taruh di tas,"
Nadhila tercengang. Ia berpikir untuk apa Hessel ikut. Tapi, tidak bisa ia ucapkan saat ini. Lebih baik saja mengiyakan dari pada tidak dapat ijin sama sekali. "Silahkan Pak," ucapnya.
"Bersiap-siaplah," titah Hessel. Ia langsung memakai jas mahalnya dan mengambil kunci mobil yang Hessel taruh di laci, beserta dompet dan ponsel miliknya.
Nadhila langsung menyambar tas dan mematikan layar komputer yang sudah ia nyalakan tadi. Kemudian berdiri menatap Hessel.
"Ayo, Dhila!" ucap Hessel seraya membukakan pintu.
Dan Akhirnya Nadhila beserta Hessel berjalan dengan beriringan. Hessel lebih dulu, dan Nadhila berada di belakangnya.
"Ya Allah ... kenapa perasaanku, saat ini tidak tenang sekali," batin Nadhila. Ia merasakan hatinya tidak tenang setelah melihat banyak panggilan dari nomor Ibunya.
"Dhila ... saya ke ruangan Tio sebentar. Kamu tunggu di depan Lift saja, ya!"
Nadhila mengangguk dengan cepat melangkah menuju Lift. Sedangkan Hessel bergegas ke dalam ruangan Tio. Yang baru saja Tio terlihat mendudukan tubuhnya di kursi kerja.
"Tio. Maaf saya ada keperluan mendadak bersama Nadhila. Jika ada berkas penting, kamu taruh saja di meja milik saya!" ucap Hessel setelah berhadapan dengan Tio.
Tio menatap atasannya itu dengan penuh tanya, "Keperluan apa ya, Pak?" tanyanya.
"Saya ingin mengantar Dhila. Sepertinya pemikiran saya ada sesuatu yang terjadi dengan ibunya. Maka saya berniat mengantarkan,"
"Bagaimana kalau saya saja, Pak? yang mengantar Dhila," sela Tio.
"Sudah kamu di Kantor saja. Saya Permisi!" Hessel dengan cepat meninggalkan Tio.
Sepertinya Tio tidak mau aku dekat-dekat dengan Nadhila? batin Hessel seraya berjalan menghampiri Nadhila yang sedang berdiri di depan Lift.
Nadhila langsung memencetkan tombol lift setelah melihat Hessel berjalan ke arahnya. Lalu Nadhila masuk terlebih dahulu, dan di susul oleh Hessel.
Lift terbuka saat sudah sampai di lantai dasar. Hessel memberitahukan Nadhila agar menunggunya di luar, sedangkan Hessel akan membawa mobilnya yang terparkir khusus untuk dirinya.
Tak lama Hessel sudah membawa mobilnya dan menyuruh Nadhila untuk masuk.
"Di mana rumahmu, Dhila?" tanya Hessel dengan mulai melajukan mobilnya ingin keluar gerbang.
"Bapak, ambil jalur kiri. Nanti lurus saja, dan Nanti saat perempatan lampu merah, Bapak kembali mengambil jalur kiri!" sahut Dhila dengan jelas.
Hessel pun paham. Ia langsung mengambil jalur kiri sesuai apa yang di ucapkan Nadhila. Dan saat perempatan pun ia mengambil jalur kiri sesuai apa yang di katakan Nadhila.
Saat sudah mulai mendekati halaman rumah miliknya. Nadhila memastikan Hessel agar memelankan kemudinya.
"Pak, Pelankan. Nanti di pagar hitam itu. Bapak berhenti,"
Hessel mengangguk patuh. Namun, dari kejauhan Nadhila melihat di depan rumahnya terdapat banyak orang-orang.
"Kenapa banyak orang di rumahku?" ucap Nadhila.
Hessel pun menghentikan laju mobilnya. Ia menatap depan rumah Nadhila yang terlihat banyak orang. Lalu Hessel pandangan mengarah ke arah tiang, dan terdapat sebuah bendera.
"Bendera kuning?" pekik Hessel bersamaan dengan Nadhila.
Bersambung.