Nadhila Story

Nadhila Story
Jangan Menolak, Ya!



Nadhila mendorong dada Hessel dengan sekuat tenaga. Dengan nafas yang terengah-engah, Nadhila memejamkan mata tidak berani untuk menatap suaminya yang telah menciumnya. Ciuman itu menimbulkan perasaan yang tidak dapat Nadhila mengerti.


Sementara Hessel terus menatap lekat wajah Nadhila. Ia merasakan sesuatu miliknya sudah mengeras dan menegak.


"Shiit!" umpat Hessel. Membuat Nadhila seketika membuka mata dan menoleh kepadanya.


"Ada apa, Mas?" Nadhila bertanya dengan mengerutkan dahi tidak mengerti. Kini giliran Hessel yang memejamkan kedua matanya. Ia sekuat tenaga menahan gairah yang sudah bergejolak.


"Tidur!" ucapnya menyuruh agar Nadhila tidur kembali.


Nadhila pun menurut. Ia langsung memejamkan kedua matanya, dan sampai tidak terasa ia tertidur dengan pulas.


Hessel yang tidak bisa tertidur kembali. Ia menyandarkan tubuhnya.


"Ah ... kenapa gak bisa tidur lagi, sih?" kemudian Hessel menoleh kepada Nadhila yang sudah terlelap, "Bahkan dia bisa tidur dengan lelap. Kenapa saya tidak?" Hessel terus menggerutu.


Akhirnya ia bangkit dari ranjang untuk menuntaskan sesuatu yang sudah terasa sesak. Dengan masuk kedalam kamar mandi untuk bermain solo ria.


"Sial. Sudah nikah juga. Harus main tangan, terus!" umpatnya. Dengan mulai memainkan sesuatu yang sudah menegak karena gairah mencumbu sang istri.


Hingga dua puluh menit lamanya. Hessel baru bisa mengeluarkan laharnya. Setelah itu ia langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Nadhila yang menggeliat. Terbangun dari tidurnya. Ia mendengar sayup-sayup suara adzan Subuh dari kejauhan. Mungkin karena rumah Hessel yang besar, atau karena letak Mesjid yang jauh.


Ceklek ...


Nadhila menoleh ke arah kamar mandi yang terbuka. Memperhatikan Hessel yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di area pribadinya. Nadhila langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia merasa malu jika harus menatap tubuh Hessel yang memperlihatkan perut kotak-kotaknya.


Hessel tersenyum merasa lucu kepada Nadhila yang menatap ke arah lain. Ia melewati Nadhila langsung menuju ruang ganti.


Setelah Hessel masuk kedalam ruang ganti. Nadhila menghirup nafas dalam-dalam.


Sungguh ia merasa gugup, bercampur rasa malu. Mengingat semalam Hessel menciumnya dengan lembut. Walau Nadhila tidak membalasnya. Namun, rasa gelenyar aneh seakan menelusup pada tubuhnya sehingga, tubuhnya merasa gairah memanas.


Nadhila menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak mau mengingat kejadian semalam. Namun, masih teringat jelas dalam ingatannya.


"Oh ya Tuhan. Kenapa aku mengingat itu terus?" gumam Nadhila ia bahkan tidak tahu kalau Hessel sudah keluar dari ruang ganti dan berdiri memperhatikannya.


"Apa yang selalu kamu ingat?" celetuk Hessel karena ia mendengar gumaman Nadhila barusan.


Nadhila melotot dengan wajahnya sudah bersemu merah, merasa malu karena ucapannya terdengar oleh Hessel. Ia seketika menoleh kepada Hessel. Ia terpaku, dan bahkan terpesona. Melihat penampilan Hessel memakai sarung beserta kemeja koko-nya, dan tak lupa kopiah sudah menempel di kepalanya. Hessel bertambah berkali-kali lipat ketampanannya dengan penampilan seperti itu.


"Saya, mau ke Mesjid dulu. Kamu lagi datang bulan, kan?" Hessel berujar seraya bertanya. "Ah iya. Semalam kan, kamu memakai pembalut punya Mami," ucapnya tenang. Lalu melangkah ke arah pintu, dan keluar.


Tapi tidak dengan Nadhila ia merasa malu mendengar ujaran Hessel yang membahas tentang dirinya yang sedang datang bulan. Ia hanya menunduk dengan mengangguk menanggapi ujaran Hessel tersebut.


***


Nadhila setelah mandi dan berganti pakaian. Ia turun kelantai bawah. Waktu sudah menunjukkan jam enam pagi. Tapi, Hessel belum pulang juga dari Mesjid. Membuat Nadhila merasa jenuh terus berdiam di kamar.


Nadhila kini menghampiri Oma Hessel yang sedang duduk membaca suatu Majalah.


"Selamat Pagi, Oma" sapa Nadhila seraya duduk di sofa sebelahnya.


Oma tersenyum, lalu menutup Majalahnya. "Pagi juga Dhila," ucapnya menyapa kembali. "Dimana Hessel?" lanjut Oma bertanya.


"Mas Hessel tadi ke Mesjid sejak subuh, Oma" sahut Nadhila dengan tersenyum.


"Mesjid?" pekik Oma terkejut.


Nadhila mengangguk dengan tersenyum.


"Oh Ya Tuhan. Aku jadi teringat pada diriku sendiri. Yang sudah lama tidak beribadah kepada Mu," batin Oma menjerit. Ia merasa teringat pada dirinya yang sudah lama tidak melakukan kewajiban sebagai seorang Muslim. Seketika hatinya bagai teriris.


Dan tak lama yang mereka berdua bicarakan datang dari arah Pintu utama. Mata Oma terbelalak melihat penampilan Hessel yang sangat berbeda.


"Assalamualaikum," salam Hessel setelah masuk. Ia langsung duduk dan menyalami tangan Oma-nya dengan mencium punggung tangan sang oma dengan takzim.


"Ya Tuhan. Sepertinya Nadhila memberikan pengaruh yang baik kepada cucuku Hessel," Oma berbicara di dalam hatinya seraya memperhatikan Nadhila yang terlihat begitu menghormati suaminya.


Begitu pula dengan Hessel ia merasakan perasaan yang membuncah di dalam hatinya. Kala Nadhila menyalami tangannya dengan mencium punggung tangannya, merasakan hatinya menghangat dan merasa begitu damai dalam penglihatannya.


"Mas kenapa baru pulang?" tanya Nadhila yang baru melepaskan tangan Hessel yang ia salami.


Hessel tersenyum, "Saya berbincang dulu sama Ustadz Dahlan. Ustadz pengurus Mesjid di sini," jawabnya.


Memang benar. Hessel setelah mengikuti shalat subuh berjamaah. Ia mengajak Ustadz Dahlan untuk berbicara. Ia menanyakan bagaimana tata cara dalam berumah tangga, dan tentang hak nafkah.


Oma Hessel terkesiap. Dirinya yang tinggal sudah lama di rumah itu. Merasa tidak sama sekali mengenali Ustadz Dahlan tersebut. Membuat hatinya sungguh merasa tersentuh akan perubahan Hessel yang ia lihat.


"Mas, meminta belajar kepada beliau?" tebak Nadhila. Ia yang waktu itu pernah mendengar Hessel meminta di ajarkan oleh Ustadz Anwar setelah pulang dari Mesjid bersama. Sehingga Nadhila berasumsi demikian juga.


"Iya. Bukannya, menuntut ilmu tidak di batasi?" Hessel dengan tersenyum menatap Nadhila yang sedang menatapnya. Sehingga netra mata keduanya beradu.


"Memang benar. Dan masalah hal itu, kita harus merasa kurang. Karena tidak salahnya kita terus mencari dan menggali. Setelah kita tahu, kita bisa mengamalkannya dan mengajarkannya pada rekan, atau anak cucu kita," ucap Nadhila dengan tersenyum.


Hessel manggut-manggut merasa mengerti. Begitupun Oma. Ia turut mendengarkan. Bahkan hatinya lagi-lagi tersentuh.


"Makanya. Mulai sekarang ajarkan saya. Saya yang awam. Saya yang bodoh. Dan Saya yang begitu tersesat ini," pinta Hessel dengan menggenggam tangan Nadhila. Meminta Nadhila untuk mengajarkannya.


Nadhila tersenyum seraya mengangguk.


Oma hanya terdiam menanggapi. Dirinya masih enggan, dan di tambah rasa malu jika harus mengatakan bahwa dirinya juga sama ingin di ajarkan oleh Nadhila. Sehingga Oma lebih mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana, kalau kita sarapan dulu?" Oma mengalihkan.


"Ah iya. Ayo!" sahut Hessel. Lalu menatap Nadhila lebih dahulu, "Ayo kita, sarapan!" ajaknya dan Nadhila mengangguk.


Oma melangkah terlebih dahulu, dan di susul oleh Nadhila dan Hessel.


"Dhila. Saya ingin bertanya tentang tadi."


Hessel yang berjalan sejajar dengan Nadhila mengajukan pertanyaan.


"Tanya apa, Mas?"


"Apa kamu sudah siap. Memiliki anak?"


Langkah Nadhila seketika terhenti. Ia tahu bagaimana cara melakukan pembuatan anak karena Nadhila mendapat ilmu itu saat sekolah melalui pelajaran biologi. Nadhila seketika berubah menjadi merinding membayangkan semuanya yang akan terjadi.


"Kok, kamu malah diam? sudah siap tidak?" Hessel tahu bahwa Nadhila terdiam karena malu atau takut. Ia sengaja ingin menggoda Nadhila dengan cara seperti itu.


"Dosa ya, kalau suaminya minta haknya kepada istri?" Hessel mengajukan pertanyaan.


Nadhila menggeleng, "Tidak, Mas," jawabnya.


"Lalu, kalau istrinya menolak. Berdosa tidak?"


Nadhila seketika mengangguk dengan pelan.


Hessel tersenyum, "Jadi kalau kamu tidak mau berdosa. Jangan menolak, ya!. Kita beribadah bersama-sama," bisik Hessel lalu meninggalkan Nadhila yang mematung.


***


**Bersambung.


Jangan Lupa Like, dan Comment!.


Beri Hadiah poinnya juga ya, untuk dukung karya Author ini.


Terima kasih 😍**