Nadhila Story

Nadhila Story
Mas, Hati-hati!



Nadhila dan Hessel berangkat bersama. Nadhila terus terdiam masih memikirkan panggilan apa yang pantas untuk Hessel sang big boss yang sekarang merangkap menjadi suaminya.


Hessel memarkirkan mobil miliknya di parkiran khusus untuk dirinya. Hessel keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu samping untuk Nadhila keluar.


"Pak, padahal tidak perlu membukakan pintu! saya juga bisa," ucap Nadhila yang kini keluar setelah berhasil membuka seatbelt.


Hessel hanya menyunggingkan senyuman. Merasa gemas. Terhadap Nadhila yang tidak peka, akan perlakuannya yang bisa di bilang sangatlah manis. Hessel berjalan lebih dulu dan di susul oleh Nadhila yang berjalan di belakangnya.


"Selamat pagi Pak Hessel, Selamat Pagi Dhila ...," sapa Tio saat Hessel dan Nadhila sudah di depan lift.


"Pagi Tio," sapa Hessel balik.


Tio menatap ke arah Nadhila yang menunduk, "Dhila ... kenapa kamu harus masuk? padahal istirahatlah di rumah!" Tio memberikan perhatiannya.


"Saya, tidak bisa di rumah terus Pak Tio. Saya lebih baik bekerja." Nadhila menyahuti.


Hessel memejamkan matanya sejenak. Merasa tidak suka jika ada pria yang memberikan perhatiannya kepada Nadhila. Apalagi Tio. Yang sudah terang-terangan mengungkapkan perasaannya kepada Nadhila. Hessel memilih menhirup nafas dengan dalam. Setelah itu ia menormalkan kembali emosinya.


"Mari!" Tio mempersilahkan Hessel masuk ke dalam lift terlebih dahulu, dan di susul oleh Nadhila. Saat Nadhila berdiri di tengah-tengah, Hessel merangkul Nadhila agar berpindah di dekat dinding. Dan jadilah Hessel yang berdiri di tengah-tengah.


Tio mengernyit heran atas sikap atasannya itu. Seakan Nadhila tidak boleh berdekatan dengan dirinya. Namun, ia cukup menaruh rasa penasarannya di dalam hati. Tanpa bertanya kepada keduanya.


Ting...


Lift terbuka. Hessel mempersilahkan Nadhila berjalan di depannya terlebih dahulu.


"Tio, saya mohon hari ini. Kamu atur jadwal saya. Biarkanlah Nadhila bersantai hari ini," ucap Hessel kemudian berlalu tanpa mendengar sahutan Tio.


Hessel melangkah mengikuti langkah Nadhila yang kini akan masuk ke dalam ruangannya. Setelah keduanya masuk. Hessel dengan cepat mengunci pintu. Dan menyalakan layar komputer saat sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Dhila ... lebih baik kamu tiduran saja di ruangan itu!" tunjuk Hessel pada ruangan khusus dirinya. Yang Nadhila pun belum tahu tentang isi ruangan tersebut.


"Tidak perlu, Pak. Saya akan bekerja seperti biasanya," tolak Nadhila.


"Ok" Hessel kembali menegakkan duduknya dan menatap layar komputer yang berada di hadapannya.


Nadhila pun langsung berkutat pada berkas yang kemarin sempat tertunda.


"Dhila, kapan pernikahan kita akan di resmikan?!"


Pertanyaan Hessel sontak membuat Nadhila yang fokus pada berkas, terhenti. Nadhila menatap ke arah Hessel. Yang kini menatap ke arahnya.


"Pernikahan?" Nadhila malah kembali mengulangi kata 'pernikahan'.


"Iya pernikahan kita?" tegas Hessel.


"Em ... terserah bapak saja. Kalau bisa setelah seratus harinya almarhum ibu saja. Bagaimana?" Nadhila memberikan usul. Kini Nadhila akan menerima kenyataan serta menerima keadaan. Kenyataan yang harus merelakan kepergian sang ibu. Keadaan kini menjadi istri dari Bosnya sendiri.


Hessel manggut-manggut. "Baiklah," sahut Hessel. Ia kembali fokus pada berkas yang belum sempat ia tandatangani.


Nadhila tersenyum masih menatap ke arah Hessel. Namun, yang di tatapnya kini adalah punggung kursi. Karena Hessel sudah kembali menghadap ke meja.


Hessel tiba-tiba berdiri, dan mendekat ke arah meja Nadhila. Membuat Nadhila repleks menunduk. "Dhila, apa sekarang kamu sudah bisa menerima kalau saya ini suamimu?" Hessel bertanya seraya duduk di kursi depan meja kerja Nadhila.


Nadhila mengangguk, "Iya, saya sudah menerimanya,"


"Kalau begitu. Boleh dong saya menyentuh mu?," ucap Hessel dengan menaik turunkan alisnya, menggoda Nadhila.


Nadhila melotot. Namun, ia gugup untuk menjawab. Ia akhirnya hanya bisa mengangguk saja, tanpa berucap.


Hessel tersenyum senang, kini ia menggeserkan kursinya dan meletakan kursi tersebut tepat di sisi kursi Nadhila. Membuat Nadhila gugup beserta takut.


"Jangan takut, saya hanya ingin memelukmu saja!" ucap Hessel menenangkan. Hessel paham pada gestur tubuh Nadhila yang langsung membeku, saat melihat Hessel duduk di sebelah kursinya.


Nadhila mengangguk. Namun, dengan bersamaan suara ketukan pintu terdengar.


Hessel menghela nafas. Dan bangkit dari duduknya. Menghampiri pintu yang tadi ia kunci. Kemudian Hessel memutarkan kunci yang masih menempel di handle pintu.


"Maaf Pak ini berkas yang sudah saya siapkan. Jam sepuluh bapak bertemu klien," ucap Tio saat sudah Hessel buka pintunya.


"Aneh biasanya tidak pernah di kunci," lanjut Tio membatin.


"Ya," sahut Hessel dengan meraih berkas yang Tio serahkan.


"Klien meminta bertemu di sebuah restaurant yang sudah ia reservasi. Nanti saya akan meminta alamat restaurannya,"


"Ya, atur saja Tio."


"Kalau begitu saya undur pamit," ucap Tio dengan melirik ke arah Nadhila yang fokus membaca dokumen.


"Hmmm," Hessel hanya menggumam. Lalu menutup pintu dan menguncinya kembali.


Baru saja tadi Hessel berhasil akan memeluk istrinya tersebut. Namun, malah ada gangguan. Sehingga kini Hessel fokus pada berkas yang baru saja Tio serahkan. Ia membaca dan menelaah tentang yang tertera pada dokumen tersebut.


Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Itu tandanya Hessel harus bergegas menemui Klien yang sudah menjanjikan tempat dan waktunya.


"Dhila ... saya tinggal dulu ya, kalau kamu lelah atau ngantuk, lebih baik istirahat saja!"


Hessel dengan berdiri meraih tas yang sudah ia isikan dokumen penting untuk menunjang pertemuannya.


"Mas hati-hati," ucap Nadhila. Membuat langkah Hessel terhenti saat sudah di ambang pintu.


Hessel tersenyum saat sadar bahwa Nadhila memanggilnya dengan kata 'Mas'. Namun, Hessel langsung meneruskan langkahnya keluar.


Sementara itu Nadhila merutuki dirinya yang keceplosan memanggil Hessel, dengan panggilan kata 'Mas'.


"Ya Tuhan. Bagaimana ini, kenapa aku isa keceplosan," gumam Nadhila.


Pikiran Nadhila yang terus memikirkan panggilan untuk suaminya. Akhirnya repleks terucap tanpa sadar. Kata 'Mas' yang baru saja Nadhila ucapkan. Membuat Nadhila sendiri salah tingkah.


"Bodo ah. Mudah-mudahan Pak Hessel gak dengar tadi," ucapnya.


Nadhila kembali berkutat pada berkas dan email yang masuk bergantian dari divisi lain. Membuat rasa sedih atas kehilangan sang ibu, terlupakan. Karena tugas yang banyak membuat pikiran dan hati Nadhila fokus pada pekerjaan.


Tidak berselang lama. Waktu istirahat telah tiba. Namun, Nadhila merasa enggan untuk ke kantin. Hingga Nadhila memilih saja untuk tertidur di ruang kerja. Dengan menelungkupkan kepala ke atas tangan yang menjadi bantal di atas meja.


Hessel yang sudah selesai bertemu Klien, dan masuk ke dalam ruangannya. Ia terkejut saat mendapati Nadhila tertidur dengan posisi duduk di kursi miliknya.


"Dhila, apa kamu sudah makan siang?" tanya Hessel dengan hati-hati.


Tidak ada respon dari Nadhila. Membuat Hessel melangkah mendekati Nadhila yang tertidur.


"Dhila, apa kamu sudah makan siang?" tanya Hessel mengulangi pertanyaan nya.


Masih hening.


Tanpa meminta ijin kepada Nadhila. Hessel menggendong Nadhila untuk ia pindahkan ke dalam kamar pribadinya. Dengan gerakan hati-hati, Hessel membaringkan tubuh Nadhila di atas ranjang empuk.


"Sepertinya Nadhila sangat kelelahan," gumam Hessel.


Tangan Hessel membelai rambut Nadhila. Namun, tidak ada pergerakan dari tubuh Nadhila. Seakan Nadhila bermimpi indah dalam tidurnya.


...***...


...Bersambung.......