Nadhila Story

Nadhila Story
Canggung.



Sore telah tiba. Nadhila terduduk sendiri. Ia belum menyangka hari ini dua kejadian secara bersamaan menimpanya. Kesedihan harus kehilangan Sang Ibu, dan senang? apa Nadhila harus senang bisa menikah tiba-tiba dengan Hessel?. Tentu, tidak. Nadhila sebenarnya belum siap. Namun, karena wasiat sang ibu yang meminta dirinya menikah di depan jenazahnya. Maka Nadhila bersedia.


Hessel mendekati Nadhila, dan duduk di sampingnya. Ia membawa kotak makan yang berisikan makanan, yang sudah Hessel pesan secara online "Dhila, makan dulu ya!, kamu jangan sedih terus, kasihan ibu" ucap Hessel.


Nadhila masih terdiam. Kini di rumahnya tinggal Nadhila bersama Hessel. Tentu, rasa canggung dan belum nyaman bagi Nadhila harus serumah dengan Hessel. Apalagi Nadhila masih mengingat-ingat tentang kebiasaan Ibunya di rumah itu. Nadhila semakin ingin menangis terus.


"Dhila ... ingat kesehatanmu lebih penting, ibu akan sedih kalau kamu di sini menyiksa dirimu sendiri. Saya suapin ya?!"


Hessel mulai membuka kotak makan itu, dan ingin menyuapi Nadhila. Nadhila menatap Hessel terlebih dahulu. Kemudian Nadhila menggeleng.


"Loh, kenapa gak mau. Kamu mau nangis terus?, nangis juga butuh tenaga, dan kalau kamu gak makan, maka tak ada tenaga untuk mu menangis!" Hessel mencoba menggurau agar Nadhila sedikit terhibur.


Dan benar saja Nadhila mengulas senyum tipis, kemudian tangannya meraih kotak makan dan mengambil alih sendok yang Hessel pegang.


"Gitu, dong!" ucap Hessel. Ia kini memperhatikan Nadhila yang mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya. Membuat Nadhila semakin canggung saja.


"Pak Hessel mau?" tanya Nadhila. Karena Hessel terus memperhatikannya.


Hessel mengangguk. Dan tanpa Hessel sangka. Nadhila menyuapi Hessel, dengan sendok bekas dirinya. Hessel tersenyum seraya mengunyah makanan yang di suapkan Nadhila. Suapan demi suapan, Nadhila menyuapi dirinya, dan setelahnya menyuapi Hessel. Terus seperti itu, hingga makanan itu sampai habis.


"Dhila, tahu gak barusan kita sama saja sudah berciuman?" celetuk Hessel. Membuat Nadhila tercengang kaget. Untung saja Nadhila sudah minum, jika ketika dirinya sedang minum pasti Nadhila sudah tersedak.


"Maksudnya?" Nadhila tidak mengerti, maka bertanya kepada Hessel.


"Tadi kan, kita makan dengan sendok yang sama. Dari bibir kamu, ke bibir Saya. Jadi seperti berciuman," Hessel dengan tersenyum.


Nadhila mengerti, ia langsung merasa malu. Hingga pipinya yang putih mulus, merona merah.


"Apa kamu pernah berciuman?" tanya Hessel. Ia tahu bahwa Nadhila gadis yang polos. Maka Hessel ingin meyakinkan.


Nadhila menggeleng cepat.


"Pacaran sudah pernah?" tanya Hessel lagi.


Nadhila kembali menggeleng cepat. Membuat Hessel tersenyum senang. Berarti dirinya akan menjadi orang yang pertama yang akan menyentuh Nadhila.


"Apa kamu gak pernah mau pacaran?"


Nadhila kini menatap lekat wajah Hessel. Merasa sudah 'Sah', Nadhila berani menatap wajah Hessel dengan lekat. Sehingga Nadhila kini kagum dengan wajah rupawan yang Hessel miliki. Namun, tetap berdua seperti ini membuat Nadhila masih merasa canggung.


"Saya tidak pernah memikirkan hal itu. Saya jika di takdirkan berjodoh dengan seseorang. Saya lebih baik langsung menikah," tutur Nadhila menjelaskan.


"Kenapa alasannya, kamu tidak mau berpacaran?"


"Saya tidak mau sampai terjerat dosa zina. Setan selalu datang untuk berbisik kepada manusia. Apalagi manusia yang berduaan dengan berbeda lawan jenis. Sehingga terkadang status pacaran tapi sudah seperti suami istri. Saya tidak mau seperti itu. Saya menyayangi diri saya, dan tentu menyayangi kedua orang tua saya," ujar Nadhila menjelaskan.


Hessel terdiam. Ia teringat jika pacaran selalu bersentuhan dengan pacarnya. Walaupun tidak sampai melakukan hubungan seperti halnya suami istri. Hessel kini menyesal. Dan bahkan kini ia merasa bersyukur di pertemukan dengan Nadhila, apalagi sekarang Nadhila adalah sebagai istrinya. Banyak ilmu yang harus ia pelajari lebih banyak dan dalam dari Nadhila istrinya.


"Saya, mau mandi. Kamar kamu di mana?" Hessel mengalihkan, dan kebetulan ia merasa badannya sangat gerah.


Nadhila langsung beranjak dari duduknya. Ia teringat bahwa sekarang statusnya sudah berubah, yaitu sebagai istri dari Hessel.


Nadhila melangkah ke arah kamarnya. Dan Hessel mengikuti dari belakang.


"Ini handuknya. Apa Pak Hessel mau mandi air hangat atau dingin? biar saya siapkan," Nadhila memberikan handuk yang masih baru dari lemari. Dan ia langsung membuka pintu kamar mandi ingin mempersiapkan air untuk mandi Hessel, dan bertanya terlebih dahulu.


"Tidak perlu kamu siapkan. Biar saya sendiri. Lebih baik kamu duduk saja," cegah Hessel.


Hessel pun tersenyum. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Menunaikan ritual mandinya. Hingga beberapa menit lamanya Hessel keluar dengan handuk yang melilit sebatas pinggang. Sehingga terlihatlah dada bidang putih dan berototnya.


Nadhila menatap dengan melotot. Bahkan tanpa di sadari ia menelan salivanya dengan susah. "Astagfirullah ...," pekik Nadhila seraya langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


Hessel tersenyum, dan mendekati Nadhila, "Dhila ... kita sudah suami istri. Kamu tidak perlu menutup matamu seperti itu. Tolong biasakan. Karena Saya juga nanti akan terbiasa melihat tubuh polosmu," bisik Hessel tepat pada telinga Nadhila. Hembusan nafasnya terasa, membuat bulu-bulu di leher tengkuk Nadhila meremang. Dan ritme jantungnya semakin kencang.


Nadhila membuka matanya, dan menatap Hessel yang masih bertelanjang dada. Namun, sekejap Nadhila memilih menatap ke arah lain.


"Dhila, Saya lupa tidak membawa baju ganti. Tapi saya ingat di bagasi ada baju. Tolong ambilkan ya, saya tidak mau tetangga mu melihat tubuhku yang polos ini,"


Nadhila langsung bangkit dari duduknya. Dan keluar cepat dari kamar. Tapi belum lama ia kembali lagi dan membuka pintu kamar, tanpa ingin masuk ke dalamnya.


"Pak, maaf kunci mobilnya mana?" pekik Nadhila dari ambang pintu, ia sengaja hanya menyodorkan tangan kanannya.


Hessel tersenyum ia merasa gamas dengan sikap Nadhila yang seperti malu melihat dirinya yang bertelanjang dada. Hessel pun meraih kunci mobilnya yang berada di dalam saku jas. Lalu ia serahkan pada tangan Nadhila yang masih di sodorkan dari balik pintu.


Setelah itu, Nadhila pun langsung keluar. Melangkah mendekati mobil Hessel. Tepat saat itu, Tio yang baru pulang kerja dan sengaja ingin singgah dahulu ke rumah Nadhila. Ia melotot saat melihat ada bendera kuning. Di sebuah tiang depan rumah Nadhila.


"Assalamualaikum,"


Nadhila yang sudah menemukan baju Hessel yang berada di Paper bag. Ia menatap ke arah sumber suara yang memberikan salam kepadanya.


"Wa'alaikum salam ... Pak Tio?" jawab Nadhila.


Tio melangkah untuk lebih dekat. Dan kini ia menatap mobil big bosnya. Namun, yang lebih penasaran ia ingin menanyakan siapa yang telah meninggal.


"Dhila ... siapa yang sudah meninggal?"


"Ibu saya. Pak,"


"Innalillahi wainna ilaihi rajiun ... turut berduka Dhil, semoga amal ibadah beliau di terima oleh sang Kuasa,"


"Aamiin ... terima kasih Pak," sahut Nadhila.


Tio kini menatap paperbag yang Nadhila pegang, "Pak Hessel dimana?" tanya Tio. Karena tidak menemukan Hessel di dalam mobil.


"Ada di dalam. Pak Tio mau singgah dulu, Mari!"


Tio melangkah mengikuti Nadhila. "Pak tunggu di sini. Saya mau memberikan ini kepada Pak Hessel," ujar Nadhila.


Tio mengangguk. Kemudian Nadhila bergegas masuk ke dalam kamar.


"Pak ini bajunya. Dan di depan ada Pak Tio. Saya mohon, bapak sembunyikan dulu perihal pernikahan kita dari Pak Tio," pinta Nadhila.


Hessel meraih paperbag dengan mengernyitkan dahinya, "Emang kenapa?"


"Saya belum siap Pak,"


Hessel menghela nafas dalam dan mengangguk mengiyakan permintaan Nadhila.


***


Bersambung.