
Sesuai yang di ucapkan Nadhila kepada Hessel, akhirnya Delina ke esokan harinya mengunjungi rumah Nadhila. Walau di dalam hati Delina begitu ilfeel terhadap Nadhila, tapi demi rencananya untuk berhasil ia harus meyakinkan putranya terlebih dahulu. Meyakinkan Hessel percaya bahwa dirinya kini menerima Nadhila sebagai menantunya.
"Ini rumah kamu?" tanya Delina yang sudah turun dari mobil yang di antar sang sopir. Berjalan perlahan, selayaknya orang lemah agar sandiwaranya tercapai.
Nadhila tersenyum serta mengangguk, "Iya, Mi. Rumah kecil ini adalah rumah Nadhila, peninggalan kedua orang tua Nadhila,"
Delina sebenarnya enggan sekali untuk masuk. Tapi, lagi-lagi demi rencananya berhasil. Ia harus terlihat nyaman dan suka dengan apa yang Nadhila miliki.
"Cih, kalau saja aku tidak mempunyai rencana agar Hessel menurut padaku. Tentu aku tidak mau masuk ke dalamnya," desis Delina di dalam hati.
Nadhila menuntun Delina agar semakin dekat ke arah pintu depan rumahnya. Kebetulan Hessel tidak ikut bersama, di karenakan ada pertemuan mendadak dengan Klien nya. Begitu pula dengan Oma, yang tidak ikut karena ada jadwal kontrol kesehatan nya.
"Assalamualaikum," ucap Nadhila saat membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam dengan tangan nya masih menuntun tubuh Delina.
Delina sebenarnya merasa risih, di tempeli oleh Nadhila. Namun, lagi-lagi demi tujuan nya tercapai, Delina menerima saja.
"Mami, duduk dulu saja di sini. Nadhila, mau membawa air minum untuk Mami," kata Nadhila dengan lembut sebelum melenggang ke arah dapur.
Delina hanya mengangguk, lalu matanya menatap mengelilingi dinding. Menatap bingkai photo. Namun, Delina menatap dari atas sofa saja tidak berniat untuk melihat lebih dekat. Untuk apa melihat-lihat photo yang ada di dinding itu, tidak penting sekali begitulah pikirannya.
Nadhila sudah kembali dari arah dapur dengan membawa nampan serta cemilan. Beruntung, Nadhila masih punya stok makanan sebelum rumahnya di tinggalkan.
"Silahkan di minum, Mi. Maaf, hanya ada makanan ringan saja," ucap Nadhila menyuruh ibu mertuanya untuk mencicipi.
Delina mengangguk dengan tersenyum tipis, "Nadhila, Bagaimana kalau kita tinggal di sini saja?"
"Memang Mami mau tinggal di rumah kecil Nadhila?" tanya Nadhila memastikan. Walau di dalam hati Nadhila merasa aneh dengan permintaan ibu mertuanya.
"Mami hanya merasa nyaman saja berada di sini. Pikiran Mami terasa adem banget. Dan yang paling utama, kamu tidak merasa sedih karena tidak meninggalkan rumah peninggalan mendiang kedua orang tuamu," jawab Delina menjelaskan.
Nadhila tersenyum merasa senang dengan penjelasan Delina, "Jika Mami bersedia, tentu Nadhila juga bersedia. Tapi, bagaimana dengan Mas Hessel, Mi?" jawab Nadhila. Namun, Nadhila belum tahu dengan Hessel yang ingin tinggal dimana.
"Hessel pasti mengijinkan Mami tinggal di sini. Begitupun dirinya juga pasti ikut," sahut Delina meyakinkan.
"Bagaimana dengan Oma?" Nadhila teringat Oma yang sudah tua. Apakah dirinya mau di tinggalkan Delina beserta Hessel.
"Gampang soal itu. Kita bisa giliran. Misalkan, seminggu di sini, seminggu di sana." Delina kembali meyakinkan Nadhila.
Nadhila pun mengangguk mengerti.
"Oh, ya Nadhila ... Mami ingin sekali hidup tenang sebelum Mami benar-benar meninggal," ucap Delina yang membuat Nadhila tertegun.
"Mami jangan bicara seperti itu," dengan tangan Nadhila yang langsung meraih tangan Delina, berniat memberikan kekuatan agar Delina semangat untuk melanjutkan hidup.
"Tapi Nadhila, Mami ingin sekali keinginan Mami tercapai semua," tambah Delina dengan wajah memelas.
Delina tertunduk, dengan balik menggenggam tangan halus milik Nadhila, "Mami ada satu keinginan yang dari dulu, belum tercapai saat ini," ujarnya.
"Apa itu, Mami?" balas Nadhila dengan penasaran.
"Menikahkan Hessel dengan Rebbeca," ucap Delina kini dengan menatap mata Nadhila.
Deg
Nadhila tertegun, bahkan seakan syok dengan ucapan Delina. Nadhila tidak bisa berkata apa-apa, seakan lidahnya mendadak kelu, dan tercekat.
"Tapi, Mami berpikir lagi. Mana mungkin, Hessel mau menikahi Rebbeca sementara sekarang, Hessel sudah memiliki istri yaitu kamu, ya walaupun istri siri," Delina kali ini berucap dengan nada agak sinis. Seakan berperan lembut membuat dirinya jengah.
Nadhila kini tertunduk. Ada rasa tidak nyaman dengan nada bicara ibu mertuanya kali ini. Tapi, Nadhila tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam dan mendengarkan ucapan Delina selanjutnya.
"Tapi, Mami ingin sekali melihat Hessel menikahi Rebbeca," Delina berbicara seakan keinginan nya itu adalah keinginan untuk terakhir kalinya.
"Nadhila, bukankah agama islam membolehkan seorang pria mempunyai lebih dari satu istri?"
Nadhila kini menatap wajah ibu mertuanya, "Iya," jawabnya lirih.
"Apakah kamu akan mengizinkan Hessel menikahi Rebbeca?"
"Apakah Maksud Mami, ingin Mas Hessel berpoligami?" Nadhila dengan sesak di dada bertanya karena ingin kejelasan dengan pertanyaan ibu mertuanya.
"Maaf Nadhila. Bukan Mami urus campur tentang rumah tanggamu. Mami, hanya ingin melihat Hessel menikah dengan Rebbeca. Seperti mendiang almarhumah ibumu yang ingin melihat kamu menikah. Ya walaupun di saksikan dengan jasad ibumu yang sudah tidak bernyawa,"
Nadhila kini jadi mengingat kembali wasiat almarhumah ibunya yang berpesan lewat tetangga baiknya. Ada rasa sesak saat membayangkan itu semua. Dan kini Nadhila membayangkan jika posisi itu di alami ibu Mertuanya. Tentu, ada rasa bersalah nantinya jika Nadhila tidak mengabulkannya. Tapi ... apakah dirinya siap dimadu? Nadhila ingin sekali mengatakan kalau dirinya tidak mau di madu. Tapi, lagi-lagi bayangan wajah ibu mertuanya yang kini sedang sakit parah. Tentu akan semakin sakit, jika keinginannya itu sampai belum terwujud.
"Nadhila akan mengizinkan Mas Hessel menikah lagi. Dan ini demi Mami. Nadhila tidak mau membuat Mami banyak pikiran. Yang nantinya akan berakibat buruk pada kesehatan Mami," ujar Nadhila dengan mantap. Sungguh, Nadhila tidak mau bayangan-bayangan buruk mengenai ibu mertuanya itu terjadi.
"Benarkah? oh ya Tuhan ... benar ternyata kamu adalah gadis yang luar biasa baiknya. Terima kasih sayang. Mami sungguh bersyukur, memiliki menantu sebaik kamu," Delina lalu memeluk tubuh Nadhila yang duduk di sampingnya.
Seringaian puas di balik tubuh Nadhila, yang Delina ciptakan. Ternyata, mudah melabui menantunya yang Delina anggap sangatlah bodoh. Selangkah lagi, keinginan Delina akan terwujud. Tinggal, memperdayai Nadhila untuk bisa membujuk Hessel agar mau menikahi Rebbeca.
"Tapi, Mami tidak yakin Hessel mau menikahi Rebbeca," keluh Delina dengan wajah kembali sedih.
Nadhila mengusap punggung tangan ibu mertuanya, "Biar Nadhila yang akan bicara kepada Mas Hessel secara baik-baik."
Sungguh di dalam hati Nadhila ada rasa sesak di dada. Dirinya harus meminta Hessel untuk menikahi Rebbeca sesuai permintaan Delina.
"Apakah keputusan ini baik untuk ku? apakah aku akan mampu berbagi suami?" pertanyaan itu muncul dalam hati Nadhila dengan rasa sesak yang kini meliputi bagian dadanya.
Bersambung...