Nadhila Story

Nadhila Story
Insecure.



"Bolehkah aku berteman, denganmu?" Rebecca membuka percakapannya. Dan menatap Nadhila dengan serius.


Nadhila yang tidak merasa curiga apapun kepada Rebecca. Ia menyunggingkan senyumannya.


"Boleh. Memang lebih baik kita berteman, Nona" ucapnya.


Rebecca tersenyum senang tentunya. Karena ia tidak menyangka kalau Nadhila akan menerima dengan cepat pertemanannya.


"Tapi aku mohon sembunyikan pertemanan kita dari Hessel. Karena aku takut, dia tidak akan menyukai pertemanan kita," ucap Rebecca dengan penuh harap.


Nadhila mengernyit heran, karena merasa bingung. Kenapa pertemanan mereka harus di sembunyikan dari Hessel? bukannya, itu adalah hal baik. Setidaknya istrinya berteman baik dengan mantan pacarnya. Akhirnya Nadhila memilih untuk menganggukkan kepalanya. Sebagai tanda menyetujui permintaan Rebecca.


Rebecca melangkah mendekati Nadhila yang terduduk di hadapannya. Rebecca memeluk tubuh Nadhila, sebagai ungkapan rasa senangnya kepada Nadhila.


"Terima kasih, Nadhila kamu mau menjadi temanku," ujarnya dengan tersenyum menyeringai di balik tubuh Nadhila.


"Ya sama-sama," sahut Nadhila dengan membalas pelukannya.


Kemudian Rebecca melerai pelukannya. Dan duduk kembali di sofa tadi. Kini Nadhila menatap serius kepada Rebecca. Seolah-olah memberikan tanda bahwa dirinya saat ini akan menanyakan beberapa hal.


"Nona, aku hanya ingin tahu saja. Apa alasan mu ingin berteman denganku?" Nadhila mempertanyakan hal itu yang sedari tadi sudah melanda hatinya untuk di pertanyakan.


Rebecca tersenyum, "Panggil saja Ecca. Aku hanya ingin berteman baik dengan mu. Karena dirimu terlihat wanita yang baik menurutku. Dan aku benar-benar membuktikannya, bahwa kamu memanglah wanita yang baik," alasan Rebecca yang ia katakan kepada Nadhila. Padahal berbeda dengan tujuannya. Yang hanya ingin tahu tentang seputar Hessel melalui Nadhila.


Nadhila hanya tersenyum, "Aku tersanjung sekali. Di puji oleh kamu Ecca. Aku harap kita bisa berteman dengan baik," Nadhila menatap penuh harap.


"Tentu. Aku akan menjadi teman baikmu," Rebecca dengan tersenyum lebar. Ia tidak menyangka akan begitu mudah mendapatkan kedekatan dengan Nadhila dengan berdalih pertemanan.


Nadhila merespon dengan mengangguk.


"Bagaimana kalau kita keluar untuk merayakan pertemanan kita?" Rebecca dengan tatapan penuh harap agar bisa membawa Nadhila keluar dengan beralasan merayakan pertemanan.


"Maaf, aku belum bisa keluar saat ini," tolak Nadhila. Membuat raut wajah Rebecca kecewa seketika.


"Kenapa? apa tidak di ijinkan oleh suamimu?" pertanyaan Rebecca sangat tepat. Membuat Nadhila mengangguk dengan cepat.


Rebecca tersenyum kecut, "Posesif sekali suamimu. Eh, aku sampai lupa memang dia sangat pesesif saat dulu berpacaran denganku," membuat Nadhila seketika berwajah sendu. Setidaknya sekarang ia benar-benar telah menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Hessel yang telah menjadi suaminya. Mendengar mantan pacar suaminya mengatakan seperti itu, membuat dada Nadhila menjadi ngilu.


"Tahu tidak. Hessel sangat lembut saat berada di ranjang. Ciumannya sungguh membuat aku terlena," Rebecca sengaja berujar seperti itu agar emosi Nadhila terpancing.


"Oh, ya? ternyata kalian sejauh itu saat berpacaran?" Nadhila bertanya seraya menahan sesak di dada.


"Ya, kami dulu sering melakukan adegan panas hingga berjam-jam. Hessel itu menyukai wanita yang agresif," membuat Nadhila menyadari dirinya yang pendiam. Pacaran saja tidak pernah. Bahkan bersentuhan baru bersama Hessel pria yang menjadi suaminya. Seketika Nadhila menjadi insecure.


Dengan sesak di dada, Nadhila terdiam. Namun pada akhirnya ia bertanya tentang alasan mereka berpisah.


"Lalu kenapa kalian sampai berpisah?" tanya Nadhila penasaran. Karena ia merasa aneh. Jika Hessel dan Rebecca saling mencintai. Lalu kenapa sampai mereka berpisah.


"Terus kenapa kamu berada di kota ini, apa kamu orang asli sini?" Nadhila tentu ingin lebih tahu tentang Rebecca.


"Aku asli Jerman. Hanya aku punya tante di kota ini," Padahal Rebecca berada di kota ini tentu menyusul Hessel.


Rebecca mencoba tersenyum hangat, "Aku ucapin selamat ya, atas pernikahanmu," ujarnya.


"Terima kasih. Kami belum resmi menikah, hanya secara siri saja. Nanti setelah seratus hari ibu meninggal. Baru kami akan meresmikan pernikahan itu," Nadhila dengan tersenyum bahagia membayangkan ia akan menjadi ratu sehari dan duduk di kursi pelaminan bersama Hessel yang wajahnya bak seorang pangeran.


"Oh ya? apa aku akan di undang?" Rebecca menatap dengan penuh harap.


"Tentu. Aku akan mengundang. Kamu sekarang teman baik ku," sahut Nadhila dengan tersenyum.


Rebecca berpura-pura menatap ponsel miliknya, "Ah, Nadhila mohon maaf pertemuan kita sampai di sini. Aku lupa bahwa jam tiga nanti aku ada pemotretan," ujarnya berpamitan. Lalu berdiri memeluk Nadhila sebagai tanda perpisahan.


Nadhila tersenyum dengan menjawab pelukan Rebecca. "Hati-hati," pesannya.


Rebecca tersenyum ramah, "Iya. Em ... apa aku boleh bermain lagi ke rumah mu?" tanya Rebecca.


"Tentu. Pintu rumahku terbuka untuk teman baikku," sahut Nadhila dengan tersenyum senang. Setidaknya ia kini mempunyai teman yang mau menemaninya kala di rumah.


"Oh ya? terima kasih," Rebecca tersenyum senang.


"Kalau gitu, aku pulang ya! bye ...," Rebecca dengan melambaikan tangan kepada Nadhila. Dan Nadhila pun menjawab lambaian tangan itu.


Kini Nadhila langsung menutup pintu rumahnya. Ia termenung di dalam kamar. Memikirkan perkataan Rebecca tentang Hessel tadi.


"Ya, kami dulu sering melakukan adegan panas hingga berjam-jam. Hessel itu menyukai wanita yang agresif,"


Perkataan Rebecca terngiang-ngiang di telinga Nadhila. Membuat Nadhila menelungkupkan kepalanya di antara dua lutut yang ia tekuk.


"Mas, ternyata pacaran mu sudah sejauh itu? aku tidak mau di sentuh oleh pria yang sudah bersentuhan dengan melewati batas," Nadhila bermonolog. Hingga tidak terasa air matanya menetes.


Bukan Nadhila merasa jijik atau munafik. Hanya Nadhila takut membayangkan jika suatu saat Hessel menyentuh dirinya, Hessel membanding-bandingkan antara rasa dirinya dengan Rebecca. Sehingga Nanti Hessel merasa kecewa pada Nadhila, karena Nadhila tidak bisa melayaninya dengan sesuai keinginannya.


"Ya Tuhan bagaimana ini?" keluh Nadhila. Ia benar-benar merasa insecure.


Nadhila melangkah menuju meja rias. Ia menatap dirinya melalui pantulan cermin. Kemudian Nadhila membandingkan penampilan dirinya dengan penampilan Rebecca tadi. Sungguh jauh berbeda.


Wajah Nadhila yang tampak pucat tanpa make-up. Rambut yang tidak terawat, karena hanya dengan memakai shampo biasa. Kemudian baju yang di kenakan tidak bermerk, dan tidak modis. Membuat Nadhila benar-benar berkecil hati.


"Ok. Aku mulai besok akan merawat tubuh dan wajahku. Aku tidak boleh kalah oleh Mantan pacar suamiku."


Nadhila menyemangati dirinya sendiri. Ia bertekad mulai besok akan mendatangi tempat perawatan tubuh dan wajah. Agar Hessel tidak melirik Rebecca kembali. Mungkin karena rasa cinta yang sudah tumbuh pada diri Nadhila. Sehingga Nadhila ketakutan jika Hessel berpaling dari dirinya.


Bersambung...