Nadhila Story

Nadhila Story
Tio Terang-terangan.



Sesuai kesepakatan, Nadhila kini pulang bersama Direktur tampan nya itu.


Nadhila berjalan di belakang Hessel dengan kepala menunduk, karena Nadhila tidak mau melihat karyawan lain menatap dirinya seperti sengaja menginginkan Bos nya itu. Sedangkan Hessel berjalan di depan Nadhila dengan bermain ponsel. Seketika Hessel menghentikan langkahnya, dan Nadhila sontak menubruk punggung Hessel.


Hessel pun mengulum senyum akan Nadhila yang telah menubruk punggungnya karena kesalahan diri Hessel sendiri berhenti melangkah tanpa memberitahu.


"Sakit?," tanya Hessel menoleh Nadhila yang sedang mengusap-usap dahinya.


Nadhila hanya menggeleng.


Hessel pun mulai melangkah kembali melanjutkan langkahnya. Di ambang pintu lift Tio memperhatikan gadis yang selama ini mencuri hatinya, tengah berjalan dengan big boss nya itu.


"Selamat Sore Pak Hessel," sapa Tio seperti menyambut Boss nya itu.


"Hmm" jawab Hessel.


"Hai, Dhila. Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Tio kini ke arah gadis yang berada di belakang Hessel.


Nadhila mendongak dan bergeser dari belakang Hessel. "Iya Pak Tio," jawab Nadhila.


"Boleh saya antar?" ujar Tio menawarkan. Sengaja Tio terang-terang di hadapan Hessel, sebagai tanda peringatan bahwa dirinya sedang mengejar Nadhila sesuai kesepakatan yang telah di buat.


Nadhila menatap Hessel sekilas. "Tidak usah Pak Tio, saya bawa motor kok," ucap Nadhila.


Padahal Nadhila akan pulang ke rumah Hessel terlebih dahulu. Karena Hessel ingin memulai belajar tentang shalat yang belum Hessel ketahui.


Tio merasa kecewa dengan jawaban dari Nadhila namun, Tio tidak menampakkannya.


"Baiklah, mungkin lain kali saat kamu tidak membawa motor," ucapnya.


Hessel merasa kesal mendengar Asisten-nya itu yang terus mengajak ngobrol Nadhila. Hessel berinisiatif menekan tombol lift agar cepat berlalu.


Ting...


"Ayo Dhila!" ajak Hessel saat pintu lift sudah terbuka.


Nadhila pun mengangguk masuk ke dalam lift. Begitupun Tio ikut menyusul masuk. Bahkan Tio sengaja berdiri di sisi kiri Nadhila.


"Dhila, bolehkah saya nanti malam datang ke rumah mu?" tanya Tio.


"Untuk apa ya, Pak?" jawab Nadhila dengan bertanya.


"Saya ingin melamar kamu, kepada ibu mu!"


Hessel menganga mendengar Tio mengatakan akan melamar Nadhila.


Tio kamu menyebalkan! ucap Hessel dalam hati.


Nadhila tersentak mendengar Tio yang mengatakan akan melamar nya.


"Pak Tio, jangan becanda!" ucap Nadhila.


"Saya serius Dhila,"


Ting...


Pintu lift terbuka dan langsung Mereka keluar menuju Lobi kantor.


Hessel dengan cepat bergegas menghampiri mobil mewahnya yang terparkir khusus untuk dirinya, dengan berjalan menggerutu kesal terhadap Tio.


Kalau aku kalah sama Tio. Bagaimana?


Aku suka Nadhila, kepribadian, wajahnya.


Ahh ... Tio menyebalkan kenapa harus dengan langkah cepat? Kalau saja Nadhila menerima lamaran nya bagaimana?


Hessel berhenti menggerutu saat sudah berada di dalam mobilnya, dan Hessel sengaja menghentikan mobilnya itu di hadapan Nadhila yang masih mengobrol dengan Tio.


"Dhila ayo!" seru Hessel mengajak Nadhila untuk masuk ke dalam mobilnya.


Sontak membuat Tio merasa heran, bukannya Nadhila berkata akan pulang membawa motor. Tapi kini Hessel mengajak Nadhila untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Pak Tio Maaf. Saya ada urusan terlebih dahulu bersama Pak Hessel. Saya permisi!" pamit Nadhila.


Tio terdiam tidak menjawab. Tio benar-benar merasa kecewa. Baru saja dirinya memberanikan diri untuk mengakui perasaan-nya. Namun, di buat kecewa seketika itu juga.


Lain hal dengan Nadhila, yang kini sudah duduk di sebelah Hessel. Hati Nadhila terusik memikirkan perasaan Tio yang tadi telah secara terang-terangan ingin melamarnya. Nadhila melamun merasa tidak percaya kepada kejadian yang baru beberapa menit di lalui.


"Apa kamu senang akan di lamar Tio?"


Lamunan Nadhila pecah saat mendengar suara bariton Hessel dengan bertanya.


"Entahlah," jawab Nadhila.


"Apa kamu akan menerima lamaran nya?"


"Bagaimana jikalau ada orang lain yang melamar kamu, selain Tio. Apa kamu akan menerimanya?"


Nadhila terkekeh, "Pak Hessel. Menikah itu hanya cukup satu kali bagi saya. Kecuali takdir berkata lain yang harus saya berpisah dengan suami saya nantinya, yakni kematian. Maka dari itu saya akan beristikharah untuk mendapatkan jawaban,"


"Istikharah? apa itu?" tanya Hessel berubah cerewet dengan tangan nya menyetir.


"Istikharah itu adalah shalat sunat. Shalat yang bertujuan menginginkan petunjuk dari Allah. Maka dari hasil shalat istikharah itu kita akan mendapat petunjuk, dan tidak akan ada keraguan lagi,"


"Benarkah?"


"Iya"


Hening.


Seketika tak ada yang membuka suara lagi diantara Hessel dan Nadhila. Nadhila masih terpikirkan akan ucapan Tio tadi. Sedangkan Hessel berpikir ingin bisa melakukan shalat istikharah tersebut.


"Dhila. Bagaimana seandainya Saya yang melamar kamu. Apa ada kriteria yang kamu inginkan di diri saya?"


Jleb


Nadhila tentu merasa heran, dan harus bagaimana menilai kriteria pria yang Nadhila inginkan dari diri Hessel. Nadhila tidak ingin boss nya itu merasa kecewa jika Nadhila salah bicara.


"Dhila, ayo! katakan" desak Hessel.


Hessel sengaja menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Hessel sengaja ingin mendengar dengan seksama, bahkan serius tentang apa yang Nadhila ingin katakan tentang dirinya.


"Pak. Lebih baik kita percepat! Bukankah, kita akan mencari buku tentang penuntun sahalat?" Nadhila sengaja mengalihkan.


Hessel menggelengkan kepalanya.


"Tidak jadi bukan, Pak?"


"Bukan!"


Hessel berubah menjadi tajam menatap Nadhila. Hessel benar-benar bahwa Nadhila tidak tertarik kepadanya. Hessel langsung menyetir kembali, Hessel kecewa. Hessel marah.


"Ok. Saya sadar diri. Saya tidak pantas untuk bersanding dengan dirimu yang istimewa," ucap Hessel meluapkan kekesalannya.


"Apa maksud Pak Hessel?"


"Sudahlah. Lupakan!"


Nadhila terdiam, Nadhila paham Hessel saat ini sedang marah terhadap dirinya.


Apa Pak Hessel marah karena aku tidak menjawab pertanyaan nya tadi?.


Tapi untuk apa?


Aku tidak berhak memberi penilaian dirinya.


batin Nadhila.


Tak lama mobil yang Hessel kendarai terhenti di depan Sebuah Toko Buku.


Hessel langsung keluar dari mobil tanpa mengajak Nadhila, atau menyapanya.


Nadhila pun keluar dengan ekspresi biasa saja. Tanpa ada rasa kesal atau marah karena di tinggalkan Bosnya itu.


"Pak ini saya pilihkan buku tentang shalat, dan buku tentang belajar mengaji. Bapak pertama harus mempelajari cara belajar mengaji, baru tentang shalat. Karena kalau kita sudah bisa mengaji, maka kita akan lancar dengan bacaan-bacaan shalat," ujar Nadhila setelah berhasil menemukan dua buah buku.


"Hmm" sahut Hessel hanya dengan gumaman.


"Apa bapak ingin langsung belajar sekarang?"


"Tidak perlu! saya akan mencari guru khusus. Terima kasih kamu sudah mau menemani dan mencari buku untuk saya,"


Tentu kata-kata Hessel membuat Nadhila merasa heran. Bukankah dirinya tadi menyuruh Nadhila untuk menemani membeli buku, dan setelahnya mengajari Hessel tentang mengaji dan shalat.


"Jadi bapak tidak mau saya ajarkan?"


"Tidak perlu! lebih baik kamu pulang. Dan bersiap-siap menyambut kedatangan Tio," ucap Hessel.


"Apa maksud Pak Hessel? dari tadi Pak Hessel terus membahas Pak Tio sepanjang jalan. Dan sekarang Pak Hessel menyuruh saya untuk bersiap-siap. Saya sungguh tidak mengerti!. Jika Pak Hessel tidak mau saya temani, kenapa tadi Pak Hessel meminta saya?. Ya sudahlah, saya lebih baik pergi,"


Akhirnya Nadhila memilih pergi meninggalkan Hessel di toko buku itu. Kekesalan Nadhila diluapkan begitu saja. Nadhila merasa geram kepada Hessel yang tiba-tiba berubah ketus dan menyebalkan.


"Saya cemburu Nadhila," ucap Hessel saat melihat kepergian Nadhila.


Bersambung.


Maaf Baru bisa up lagi.


Karena sedang fokus pada novel yang satu lagi. 😊😊