Nadhila Story

Nadhila Story
Jangan Malu, lihat saya!



Tangan Hessel membelai rambut Nadhila. Namun, tidak ada pergerakan dari tubuh Nadhila. Seakan Nadhila bermimpi indah dalam tidurnya.


Hessel tersenyum saat memandangi wajah ayu Nadhila yang terlelap. Ia bisa memandangi dengan leluasa tanpa harus mencuri-curi pandang. Sehingga Hessel ikut merangkak, membaringkan tubuhnya di sebelah Nadhila. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Nadhila. Hingga di siang itu kedua insan terlelap tidur dalam damai.


Tidak berselang lama. Nadhila terbangun. Dan terkejut saat ia membuka mata. Mendapatkan dirinya terbaring di atas ranjang.


"Aku tidur dimana ini?" gumam Nadhila. Ia mengumpulkan kesadarannya. Dan tetap ruangan yang kini ia tempati rasanya sangat asing. Namun, saat Nadhila akan bangkit. Tiba-tiba Nadhila menjerit saat menatap ada tangan melingkar di pinggangnya.


"Aaaahhh,"


Hessel sontak terbangun karena mendengar teriakan Nadhila yang memekakan telinga.


"Ada apa?" tanya Hessel dengan memicing. Masih mencoba membuka matanya lebar-lebar.


Nadhila menggeleng-gelengkan kepala. Merasa terkejut dan ketakutan. Bahkan tubuhnya terlihat bergetar.


"Bapak, membawa saya ke tempat ini?"


Hessel mengangguk. Kini ia bersandar pada sandaran ranjang dengan kaki berselonjor.


"Apa ini hotel?"


Hessel tergelak, saat mendengar pertanyaan konyol dari Nadhila. Membuat Nadhila menatap dengan kebingungan.


"Pak, kenapa bapak malah tertawa?"


Hessel kini terkekeh. "Stop Dhil ... stop! panggil saya bapak. Saya ini suamimu bukan, bapak mu!!" Hessel menyanggah agar Nadhila tidak terus-terusan memanggil 'bapak' kepadanya.


"Bukankah, kamu tadi sudah memanggil saya dengan kata lain?" Hessel mengingatkan Nadhila saat tadi ia akan bertemu klien.


Nadhila menunduk merasa malu. Saat teringat akan tadi dirinya yang keceplosan mengatakan panggilan kepada Hessel dengan kata 'Mas'.


"Jangan malu. Lihat saya! lihat orang yang mengajak mu bicara!"


Nadhila pun perlahan meluruskan kepalanya, dan menatap Hessel yang kini terduduk dengan jarak yang begitu dekat.


"Saya suamimu. Walau hanya secara agama. Tapi sebentar lagi kita akan meresmikan pernikahan itu. Hingga di akui oleh Agama dan Negara. Jadi biasakanlah menatap Saya, dan bersentuhan dengan saya!"


Nadhila terdiam. Merasa malu jika harus mengangguk. Mengiyakan apa yang Hessel baru saja katakan.


Tiba-tiba Hessel memeluk dan mendekap Nadhila. Meresapi wangi parfum dan aroma tubuh Nadhila. Sementara itu Nadhila yang di peluk mendadak tubuhnya kaku. Dan melotot dalam dekapan Hessel.


"Rileks-kan tubuhmu, dan balas pelukannya!" bisik Hessel tepat di belakang daun telinga Nadhila. Membuat tubuh Nadhila meremang dan menegang.


"Ya Tuhan jantungku, kenapa ritmenya tidak seperti biasanya?!" pekik Nadhila di dalam hati. Ia mencoba melingkarkan tangannya pada punggung Hessel. Hingga kini Nadhila merasa nyaman. Setelah merasakan tubuh hangat Hessel yang mendekapnya, Nadhila seperti enggan untuk terlepas.


Hessel tersenyum saat merasakan tangan Nadhila melingkar pada pinggangnya.


"Kamu istri penurut. Saya gak salah menyukai, dan mencintai kamu. Nadhila" batin Hessel memuji Nadhila.


Hessel perlahan mengurai pelukannya. Kini tangannya terangkat untuk merapihkan rambut Nadhila yang sedikit berantakan. Membuat kedua mata Nadhila dan Hessel beradu. Menikmati paras masing-masing. Menyelemai tatapan dengan dalam.


Cup...


Hessel mengecup bibir Nadhila sekilas. Membuat mata Nadhila membola sempurna. Sungguh di luar dugaan. Bibir Nadhila di kecup oleh Hessel, membuat wajah Nadhila memanas merasakan sensasi yang tak pernah Nadhila rasakan. Kepolosan dan ketidaktahuan tentang hal pacaran dan berciuman. Membuat Nadhila tidak mengerti tentang rasa yang kini hinggap pada dirinya.


"Kamu marah?" tanya Hessel yang melihat Nadhila terdiam dengan mata membola.


"Maaf ya! Saya tak bisa mengontrol. Kita sudah halal, kan? kamu tak perlu takut akan dosa!" lanjut Hessel karena masih belum mendapatkan jawaban dari Nadhila.


Hessel pun menyusul. Keduanya kini keluar dari ruangan itu.


"Oh Ya Tuhan. Ternyata aku masih di kantor. Aku rasa di tempat lain," gumam Nadhila di dalam hati saat sadar bahwa dirinya keluar dari ruangan pribadi Hessel.


Nadhila duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Hessel merasa bersalah saat Nadhila mendiamkannya. Bahkan Hessel merutuki dirinya yang tidak bisa mengontrol untuk menyentuh bibir Nadhila.


Hessel kini duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap jam digital yang ada di atas mejanya. Terlihat sudah menunjukkan jam tiga sore.


"Lama juga saya tidur bersama Nadhila,"


Hessel mengecek kembali berkas-berkas yang sempat tertunda saat harus bertemu Klien tadi.


Nadhila yang terduduk memegang perutnya, "Oh Tuhan, perutku merasa lapar sekarang," ucap Nadhila di dalam hatinya. Ia kini menatap jam yang berada di ponsel miliknya.


"Astagfirullah ... aku tertidur sangat lama. Untung saja aku lagi datang bulan," Nadhila kembali berbicara di dalam hatinya.


Nadhila memutuskan untuk cepat merampungkan pekerjaannya sore itu. Agar waktu sedikit longgar dan Nadhila bisa ke Pantry mencuri waktu agar bisa melahap makanan di sana.


Hingga waktu pulang telah tiba. Hessel bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Nadhila yang masih terduduk.


"Ayo pulang!" ajak Hessel.


Nadhila mendongak, "Tidak lembur?"


Hessel menggeleng, "Tidak, lagian pekerjaan sudah tidak ada lagi," sahutnya.


Nadhila pun merapihkan mejanya, dan meraih tas kecilnya. Dan berdiri melangkah.


Hessel sengaja Nadhila agar berjalan di depannya. Seakan Hessel ingin melindungi.


"Sore Pak, mohon maaf tadi bapak dan Nadhila kemana ya, saya masuk keruangan tapi tidak ada?" tanya Tio kini yang sudah menghadang perjalanan pulang Hessel dan Nadhila. Tio menghadang di depan Lift.


"Oh ... em kemana ya, tadi?!" Hessel menggaruk pelipisnya. Ia bingung mencari jawaban untuk Tio.


Sementara Nadhila gugup. Ia memilih menunduk dan memegang tas kecilnya dengan erat.


"Oh iya mungkin saya tadi ke Mushola," Hessel kini mendapat jawaban. "Dan Nadhila sedang ke Pantry, iyakan Dhil?" Hessel meyakinkan Tio.


"Eh i-iya Pak," sahut Nadhila dengan terbata.


"Pak Hessel ke Mushola. Tapi saya tidak bertemu dengannya? dan Nadhila ke Pantry? Saya dari Mushola dan langsung keruangan Pak Hessel, terus ke Pantry. Tapi tidak bertemu dengan Nadhila." Tio berucap dalam hati dengan perasaan bingung.


Tanpa bertanya lagi Tio langsung memencetkan tombol Lift. Lalu setelah Lift itu terbuka, Tio mempersilahkan Hessel masuk dan Nadhila. Setelah itu baru dirinya masuk.


Seperti pagi. Hessel menggeser tubuh Nadhila agar berada di sisi dinding Lift. Sehingga Hessel yang berada di tengah-tengah.


"Ehemm ... Dhila. Apa kamu sudah memiliki jawaban tentang lamaranku?" Tio membuka suara di dalam Lift itu. Dengan di saksikan Hessel yang berada di tengah-tengah antara Tio dan Nadhila.


Nadhila tercengang. Ia bingung untuk mengutarakan kata penolakan kepada Tio. Nadhila tidak mau membuat Tio merasa kecewa, karena Nadhila salah dalam berucap. Nadhila melirik ke arah Hessel, yang terlihat tatapan Hessel lurus ke depan dengan menatap tajam.


Membuat nyali Nadhila ciut saat ingin meminta bantuan, untuk membantunya berbicara kepada Tio.


***


Bersambung...