
"Dhila!" pekik Hessel. Ia menatap Nadhila sejak tadi terdiam. Setelah melaksanakan Tahlilan ke empat puluh hari Ibu Nadhila. Nadhila menjadi melamun.
Nadhila menatap Hessel, "Ada apa, Mas?" tanyanya setelah panggilan Hessel yang ke tiga kalinya.
"Kamu kenapa? sejak setelah selesai tahlilan, kamu menjadi bengong?" Hessel menanyakan keterdiaman Nadhila.
Nadhila menghela nafas panjang. "Mas. Kamu tahu 'kan, penyakit ibu ku hingga meninggal?"
Hessel mengingat-ingat kembali percakapan waktu Bu Sari tetangga Nadhila. Lalu ia mengangguk.
"Apa?" Nadhila ingin memastikan.
"Kanker," jawab Hessel.
"Mas. Aku takut kejadian yang menimpaku terjadi padamu. Aku sedari tadi teringat Mami terus." Nadhila berwajah sendu menatap suaminya yang kini terdiam.
Hessel jadi mengingat saat tadi Maminya meminta sesuatu yang tidak Hessel sukai bahkan tidak mungkin Hessel kabulkan.
"Mas," panggil Nadhila. Karena melihat kini Hessel yang menjadi diam.
Hessel menatap sang istri dengan penuh artian. "Dhila, tadi Mami meminta sesuatu padaku," ujar Hessel.
"Sesuatu apa, Mas?" tanya Nadhila dengan antusias.
"Tapi, permintaan itu tidak mungkin aku kabulkan," Hessel dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Nadhila mengerutkan dahinya, "Memang apa yang di minta Mami?"
Hessel kembali menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak mau mengatakan permintaan Maminya itu kepada Nadhila. Ia takut membuat Nadhila menjadi risau ataupun sedih.
"Tidak ada. Kamu tidak perlu tahu," Hessel seraya memeluk sang istri. Saat ini ia Menginginkan ketenangan hatinya dari pelukan sang istri.
"Kok, gitu Mas? apa rahasia?" Nadhila pun menjawab pelukan Hessel. Dan benar saja, rasa nyaman yang Hessel dapatkan saat ini.
"Bisa di bilang begitu," sahut Hessel seraya memejamkan kedua matanya. "Kita tidur di sini, ya!" lanjut Hessel mengajak untuk menginap di rumah Nadhila peninggalan orang tuanya.
"Tapi, bagaimana dengan Mami?" Nadhila mengkhawatirkan Delina, sementara Hessel malah mengajak untuk tidur di rumah Nadhila.
"Mami pasti baik-baik saja. Bukannya, tadi Dokter Rendy bilang mau datang. Bisa juga ia menjaga Mami di rumah,"
Nadhila hanya bisa diam. Tidak kembali protes. Namun, sejujurnya ia mencemaskan Delina. Ketakutan untuk kehilangan ibu mertuanya itu sangat di rasakan oleh Nadhila. Entah karena dari kejadian sang ibu yang meninggal tanpa ia tahu dari awal, bahwa ibu menderita sakit kanker. Dan kini Nadhila merasakan kecamasan dan ke khawatirannya yang begitu besar.
Hessel melerai pelukannya, kini ia menatap Nadhila yang malah terdiam.
"Mikirin apa lagi?" Hessel mengusap pipi Nadhila dengan lembut.
"Mas, kita ke rumah kamu sekarang yuk! aku tidak tenang," Nadhila kembali meminta Hessel untuk tidur di rumahnya.
Hessel menatap lekat wajah teduh Nadhila. Ia sangat beruntung. Hati Nadhila begitu tulus mencintainya dan menerimanya. Walau Nadhila sudah di hina, di tuduh, dan di tolak terang-terangan oleh Delina.
"Kamu tidak benci sama, Mami?" pertanyaan Hessel membuat Nadhila mengerutkan dahinya.
"Kenapa aku harus benci, Mas?" jawaban Nadhila malah bertanya.
"Mami sudah menghina kamu, Dhil. Bahkan menuduh kamu dengan tidak-tidak, lalu menolakmu secara jelas."
"Mas, aku tidak pernah ada rasa benci sedikitpun dalam benak hati aku. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar Mami bisa menerima aku. Itu saja!"
Hessel tersenyum, ia tidak salah memilih Nadhila dan mencintai Nadhila. Membuat Hessel tidak mau untuk kehilangan gadisnya itu.
"Ya, sudah. Kalau kamu mau nginap di sana." Hessel seraya mencium kening, mata, pipi Nadhila. "Sekalian, bawa perlengkapan milikmu," lanjutnya.
Nadhila menggeleng, walau ada rasa risih saat mendapat banyak ciuman di wajahnya. Namun, rasa senangnya mengalahkan rasa risih tersebut karena Hessel menyetujui permintaannya.
"Ya, aku mau siapkan dulu perlengkapan ku," sahut Nadhila dengan cepat masuk ke dalam kamar.
***
"Assalamualaikum," salam dari Hessel dan Nadhila saat memasuki kediaman keluarga Hessel.
"Wa'alaikum salam," jawab Oma. "Kalian, akhirnya datang kembali. Oma kesepian," lanjut Oma.
Nadhila menyalami tangan Oma, dan di ikuti oleh Hessel.
"Bagaimana dengan Mami?" tanya Hessel. "Lalu, apa Dokter Rendy sudah datang?" lanjut Hessel bertanya tentang Dokter Rendy yang akan datang untuk mengantarkan obat Delina.
"Mami kamu sedang di temani Rebecca. Tadi Dokter Rendy sempat datang, dan hanya mengantarkan obat saja," kata Oma.
Membuat Hessel menatap Nadhila dengan tatapan risau. Karena di rumahnya kini ada Rebecca mantan pacarnya.
"Ada dia di sini, lebih baik kita balik lagi," kata Hessel kini kepada Nadhila. Hessel ingin menjaga perasaan Nadhila. Walau bagaimanapun Nadhila tidak menunjukkan rasa cemburu, tapi Hessel ingin lebih dulu menjaga perasaan istrinya itu.
"Kenapa, Mas?" Nadhila menatap suaminya tidak mengerti.
Oma yang tahu maksud dari cucunya itu, memberikan intrupsi.
"Lebih baik kalian ke kamar saja. Istirahatlah!" titahnya.
Nadhila pun menurut, walau di dalam hatinya ia ingin sekali melihat keadaan Delina. Tapi bagaimana lagi, suaminya malah mengajak untuk beristirahat.
Sesampainya di dalam kamar. Hessel dengan cepat mengunci pintu kamarnya. Kemudian melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Nadhila ia memilih menunggu Hessel. Ia juga ingin sekali membersihkan dirinya saat ini.
Tidak lama Hessel keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit dari pinggang sampai lutut. Terlihat jelas dada bidang, serta perut kotak-kotak milik Hessel di pandangan mata Nadhila.
Nadhila memilih memalingkan muka dengan segera masuk ke dalam kamar mandi. Hingga ia melupakan baju ganti yang sudah ia persiapkan tadi di atas ranjang.
"Istriku menggemaskan sekali. Jadi ingin sekarang meminta hak-ku," gumam Hessel setelah melihat reaksi Nadhila yang malu menatap dirinya yang hanya memakai handuk.
Hessel pun melenggang masuk ke dalam ruang ganti. Tidak butuh lama. Ia sudah keluar dari ruang ganti dengan setelan piyama. Lalu menyisir rambut dan duduk di atas ranjang.
"Istriku, sampai lupa membawa baju ganti. Saking ingin cepat menghindar saat aku memakai handuk," Hessel terkekeh melihat baju ganti Nadhila yang tergeletak di atas kasur.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka sedikit, dan hanya memperhatikan kepala Nadhila saja.
"Mas," panggil Nadhila.
"Ada apa?" jawab Hessel santai. Ia sudah tahu istrinya itu pasti meminta pertolongan kepada dirinya untuk menyerahkan baju ganti Nadhila yang tergeletak.
"Aku minta tolong, em ... maaf tolong ambilkan bajuku yang di atas ranjang. Aku tadi lupa membawanya!" pekik Nadhila.
Hessel tersenyum menyeringai.
"Iya," jawabnya. Dan tangannya mulai meraih dua benda yang merupakan benda pembungkus dua area yang membuat Hessel menelan ludah kasar saat membayangkannya. Hessel dengan cepat menyerahkan dua benda itu kepada Nadhila tanpa membuka pintu kamar mandi.
Nadhila pun menerimanya, namun seketika langsung memberikan protesnya.
"Mas, loh kok ini saja? tolong ambilkan semuanya, maaf!" Nadhila wajahnya dengan memerah saat menerima dua benda itu. Membayangkan Hessel yang memberikannya.
"Sudah pakai itu dulu!" teriak Hessel sebenarnya ia sengaja ingin mengerjai istrinya yang polos itu.
"Baiklah," sahut Nadhila dengan langsung memakai dua benda itu dengan cepat.
Baru saja Nadhila selesai memakai dua benda tersebut. Pintu kamar mandi terbuka lebar oleh Hessel.
Membuat Nadhila melotot, lalu meraih handuk dengan cepat untuk menutupi tubuhnya itu.
"Ih, Mas kok ke sini?" Nadhila dengan wajah yang menunduk malu.
Hessel mendekati Nadhila dengan menyunggingkan senyuman berbeda.
"Tidak perlu kamu sembunyikan, karena malam ini aku ingin membukanya!" bisik Hessel dengan meraba lengan Nadhila dengan lembut. Wangi sabun, serta shampo yang menyeruak pada indra penciuman milik Hessel membangkitkan gairah hasrat yang sedari tadi terpendam.
Nadhila yang menerima sentuhan Hessel pada lengan dan kini naik ke lehernya. Membuat Nadhila merasa gelenyar aneh. Dan Nadhila tahu ini adalah sebuah respon dari tubuhnya yang mulai terpancing gairah.
"Mas, tapi aku belum siap," ucap Nadhila dengan memejamkan kedua matanya dengan pandangan menunduk.
Seketika hasrat yang sudah menggelora pada diri Hessel, seketika menghilang.
"Kenapa, apa kamu tidak mau aku sentuh?" ucapan Hessel menandakan rasa kecewa.
Nadhila mulai mendongak, menatap wajah suaminya yang begitu dekat dengan dirinya, "Bukan begitu, Mas. Aku hanya ingin memastikan dulu. Apakah, aku adalah wanita pertama yang akan kamu sentuh?" pertanyaan Nadhila membuat Hessel memicingkan mata.
"Maksud kamu apa?" tanya Hessel. "Apa aku terlihat seperti pria yang selalu menjamah tubuh wanita?" Hessel kini dengan menatap tajam. Ia tidak terima mendapat pertanyaan yang seolah dirinya sering melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain tanpa pernikahan.
"Maaf, Mas. Bukan begitu maksud aku. Aku hanya teringat kata-kata seseorang yang pernah mengatakan. Kalau kamu bersamanya sering melakukan itu," suara Nadhila dengan lirih. Sebenarnya ia takut mengatakannya, namun demi rasa penasaran dan kejelasan ia katakan.
"Apa?" pekik Hessel. Kepalanya serta menggeleng. Ia tahu maksud seseorang yang Nadhila katakan. Adalah Rebecca.
"Apa saja yang sudah wanita itu katakan kepadamu?" Hessel dengan memegang bahu Nadhila.
"Mas sering tidur bersamanya. Dan Mas sangat puas atas pelayanan yang dia berikan," ujar Nadhila.
Seketika Hessel tertawa. Dengan kepala menggeleng.
"Oh Tuhan. Istriku telah terpengaruhi oleh perkataan bohongnya." Hessel masih tertawa. "Sumpah Nadhila. Aku tidak pernah melakukan perbuatan kotor seperti itu. Ya walaupun aku hanya bercumbu saja tidak lebih. Namun, untuk tidur aku tidak bisa melakukannya. Karena aku ingin tidur dengan istriku. Tidak sembarangan seperti itu," tatapan Hessel kini serius untuk meyakinkan istrinya bahwa dirinya tidak pernah tidur bersama Rebecca.
"Apa kamu percaya, bahwa aku masih perjaka ting-ting?" tanya Hessel membuat Nadhila merona merah.
Lalu Nadhila mengingat dirinya yang masih memakai handuk.
"Permisi, Mas. Aku mau pakai baju dulu," Nadhila dengan melangkah melewati Hessel tanpa menjawab pertanyaan Hessel.
Namun, dengan cepat Hessel membuka lilitan handuk yang melilit tubuh Nadhila.
"Mas," pekik Nadhila kaget. Ia meraih kembali handuk itu. Namun dengan cepat Hessel melemparnya.
"Aku ingin meminta hak-ku." ucap Hessel seraya mengungkung tubuh Nadhila.
Bersambung...