Nadhila Story

Nadhila Story
Bertemu Rebecca.



"Ya sudah gak apa-apa kalau kamu belum punya jawaban." Tio berucap setelah menunggu Nadhila menjawab pertanyaannya, namun tidak ada jawaban. Nadhila hanya menunduk dan terdiam.


Ting...


Lift terbuka, dan dengan cepat Hessel keluar di susul oleh Nadhila dan Tio dari belakang.


"Pak Hessel, apa saya boleh berbicara dulu dengan Pak Tio?"


Hessel melirik Nadhila, lalu melirik Tio. Hessel terdiam tidak memberikan respon. Sementara itu Nadhila menunggu jawaban dari Hessel.


"Kenapa kamu meminta ijin kepada Pak Hessel, kalau kamu mau berbicara dengan saya? ini sudah di jam kerja Dhila," Tio dengan heran mempertanyakannya kepada Nadhila di hadapan Hessel.


Nadhila bingung. Jika mengatakan yang sebenarnya saat ini, kepada Tio. Nadhila belum siap. Terlalu sangat mendadak dan mengejutkan pastinya. Kalau saja Tio mendengar status antara Nadhila dengan Hessel. Apalagi bila segedung perusahaan tersebut sampai mengetahui. Pasti ada yang menilai negatif kepada Nadhila tentunya.


"Em ... Mendiang Ibu telah menitipkan saya kepada Pak Hessel. Jadi saya berhak meminta ijin terlebih dahulu apapun itu," ucap Nadhila dengan menatap Hessel memastikan agar menyetujui apa yang di sampaikannya kepada Tio.


"Apa iya, Pak Hessel pernah bertemu ibu Nadhila? bukankah, Pak Hessel belum pernah datang ke rumah Nadhila, sebelum Ibu Nadhila meninggal," batin Tio.


Tio akhirnya mengangguk paham.


"Ya sudah kalian boleh bicara. Tapi di hadapan saya," ujar Hessel akhirnya mengijinkan.


Nadhila mendelik, merasa aneh. Hessel mengijinkan. Namun, harus di hadapannya.


"Ayo, mau bicara apa kamu sama Tio?!" Hessel merasa tidak sabar ingin mendengar apa yang akan Nadhila bicarakan kepada Tio.


"Tapi, tidak nyaman kalau bicara di sini Pak ... banyak karyawan lain melihat dan mendengar," Nadhila dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat yang ia dan kedua pria tampan itu berdiri. Dan benar saja. Ada yang menatap sinis kepada Nadhila. Mungkin karena Nadhila begitu dekat dengan kedua pria tampan itu yang di segani karyawan segedung.


"Ya sudah. Ayo kita ke cafe dekat gedung ini," ajak Hessel. Dengan langsung melangkah menghampiri parkiran khusus dirinya.


Nadhila mengangguk. Dan begitupun Tio.


"Dhila, ayo bareng saya saja!" tawar Tio.


Nadhila bingung. Jika menolak tentu Tio akan kecewa berkali lipat. Dan bila ikut. Bagaimana dengan Hessel.


"Dhila, kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Hessel kini yang sudah berada di dalam mobilnya.


"Maaf Pak. Saya sepertinya akan ikut di mobil Pak Tio saja," ucap Nadhila dengan cepat menghampiri Tio yang berdiri di dekat mobilnya.


Tio tersenyum senang saat Nadhila menghampirinya. Dengan semangat Tio membukakan pintu samping kemudi, untuk Nadhila masuk. Sementara Hessel menatap tajam ke arah keduanya. Ia dengan cepat melajukan mobil. Meninggalkan Tio dan Nadhila.


"Maaf Pak. Saya melakukan ini. Agar membuat Pak Tio tidak terlalu kecewa kepada saya. Setelah saya nanti akan mengatakan penolakan kepadanya," ucap Nadhila di dalam hati seraya menatap belakang mobil Hessel yang melaju cepat.


Tio sudah duduk di balik kemudinya. Ia melirik Nadhila terlebih dahulu, sebelum melajukan mobilnya.


"Dhila, boleh saya bertanya?" Tio memecah keheningan di dalam mobil itu. Seraya tangannya dan pandangannya fokus menyetir.


Nadhila menoleh sejenak, kemudian meluruskan kembali pandangannya ke arah depan. "Pak Tio mau bertanya apa?"


"Saya perhatikan. Kamu bersama Pak Hessel semakin dekat saja. Apa kalian mempunyai hubungan khusus?."


Jleb...


Hati Nadhila langsung bergemuruh. Ia harus menjawab apa atas pertanyaan Tio.


"Em ... perasaan biasa saja Pak Tio. Saya tidak mempunyai hubungan apa-apa sama beliau. Sekedar rekan kerja saja. Seperti halnya bersama Pak Tio,"


Tio tersenyum tipis. Ia bisa merasakan hal berbeda antara Nadhila dan Hessel seharian ini.


Tidak berselang lama. Mobil Tio memasuki area cafe. Ia memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Hessel. Yang ternyata Hessel baru saja keluar dari mobilnya.


Hessel langsung membukakan pintu mobil Tio. Agar Nadhila cepat keluar.


Lalu Hessel melangkah lebih dulu memasuki area Cafe, lalu di susul oleh Nadhila dan Tio dari belakangnya.


Ketiganya pun kini sudah terduduk di sebuah meja yang melingkar. Ada empat kursi, dan tersisa satu kursi yang kosong.


Mereka pun memilih menu makanan terlebih dahulu. Sebelum akan ada pembicaraan antara Nadhila kepada Tio. Setelah di pesan makanan. Mereka terdiam. Hessel mengalihkan dengan main ponsel. Sementara Nadhila hanya diam, dengan melirik sekeliling Cafe. Tapi tidak dengan Tio. Ia memandangi wajah Ayu Nadhila. Tanpa di ketahui oleh Hessel ataupun Nadhila.


Tidak berselang lama. Pesanan makanan dan minuman mereka pun datang. Dengan cepat Nadhila melahapnya, setelah membaca doa terlebih dahulu. Perutnya yang tidak sempat di isi saat jam istirahat. Kini Nadhila lampiaskan dengan melahap cepat makanan yang di pesannya.


Saat ketiganya asyik melahap makanan masing-masing. Seseorang tiba-tiba datang dan meminta duduk di kursi kosong sebelah Hessel.


Tio dan Nadhila tercengang, begitupun dengan Hessel.


"Silahkan, Nona" sahut Nadhila mempersilahkan Rebecca mantan kekasih big bosnya itu.


Hessel hanya terdiam. Ia masih melanjutkan melahap makanannya. Begitupun dengan Tio. Tapi tidak dengan Nadhila. Ia tiba-tiba kehilangan selera makannya. Hatinya mendadak di liputi rasa cemas, dan khawatir.


Cemas, takutnya Hessel meninggalkannya karena gadis seksi itu. Khawatir, Hessel berpaling dari dirinya.


"Baby, apakabar?" Rebecca menyapa Hessel yang sedang asyik melahap makanannya.


"Panggil saya Hessel," pinta Hessel.


"Kenapa? memang itukan, panggilan ku padamu. Dan kamu memanggilku dengan Honey," ujar Rebecca menjelaskan.


Hessel menatap Nadhila yang terlihat biasa saja. "Itu dulu. Tapi tidak dengan sekarang," sela Hessel kepada Rebecca.


Tio sudah menyelesaikan makannya. Kini ia tidak perduli dengan Hessel yang sedang berdebat dengan Rebecca. Yang terpenting sekarang bagi Tio adalah berbicara dengan Nadhila.


"Dhila, apa yang akan kamu bicarakan?" Tio bersuara, hingga mendapat tatapan dari Hessel dan Rebecca.


Nadhila melirik sekilas ke arah Hessel.


"Saya mau pindah meja," kata Nadhila lalu bangkit dan melangkah pada meja yang kosong. Di ikuti oleh Tio dari belakangnya.


Hessel mengepalkan tangannya, menatap kepindahan Nadhila dan Tio pada meja lain. Kini Hessel menoleh Rebecca yang duduk di sampingnya.


Memang dulu Hessel sangat mencintai Rebecca. Namun, rasa cinta itu pudar tatkala Rebecca selalu tidak ada waktu untuk dirinya. Jadi Hessel lebih baik mengakhiri hubungannya. Dari pada terus menerus merasa kesepian.


"Bisa tidak, kamu jangan ganggu saya lagi?!" pekik Hessel.


"What?" Rebecca dengan tersenyum kecut.


"Aku akan terus mendatangimu Sayang. Aku tahu kamu sangat mencintai aku," ucap Rebecca dengan penuh percaya diri.


Hessel terkekeh, "Itu dulu sebelum aku kecewa karena sikap mu," sahut Hessel.


"Bisakah kita memperbaiki itu semua, Baby?"


Hessel menggeleng, "Tidak mau. Dan tidak akan pernah," tegas Hessel.


"Apa karena wanita itu?" Rebecca dengan menunjuk Nadhila yang sedang terlihat berbicara dengan Tio.


"Ya, dia wanita yang istimewa," ucap Hessel dengan tersenyum menatap ke arah Nadhila.


"Istimewa dari mananya? dia kampungan sekali, dan itu tidak pantas untukmu Hessel," tukas Rebecca menghina Nadhila.


Hessel mengepalkan tangan menahan amarah. Jika Rebecca bukan wanita, tentu saat itu juga Hessel akan memberikan kepalan tangannya kepada wajahnya. Mendengar Rebecca menghina Nadhila. Membuat darah Hessel seakan naik dan mendidih.


"Percaya diri sekali, kamu!" ujar Hessel dengan menatap tajam.


"Tentu. Bukankah, kita pernah menjalani semuanya. Bahkan, banyak yang merasa iri akan kebersamaan kita. Kamu ingat, Sayang?" Rebecca seperti mengingatkan tentang kebersamaan antara dirinya dengan Hessel.


Tapi Hessel bersikap acuh. Bahkan tidak mau mengingatnya. Memang dulu dirinya menjalin hubungan sangat serius dengan Rebecca. Sampai sering tidur seranjang. Namun tidak melakukan adegan panas seperti pada umumnya. Karena Hessel tidak mau melakukan itu sebelum terikat tali pernikahan. Walaupun Rebecca selalu mendesak dan mengajaknya. Tapi Hessel selalu mencari cara untuk menolak dan tidak menerimanya.


"Pergilah! kamu adalah masalalu ku. Dan jangan menampakkan di hadapan ku ataupun di hadapan kekasihku," pinta Hessel dengan penuh harap.


Rebecca tersenyum manis. Ia masih ingin berada dalam pandangan Hessel.


"Dengan satu syarat," bisik Rebecca tepat di telinga Hessel.


Hessel menjauhkan tubuhnya. Ia takut Nadhila salah paham dengan jarak dekat antara dirinya dengan Rebecca.


"Syarat apa?"


"Datanglah nanti malam, ke Hotel xx. Maka aku tidak akan mengganggumu," ucap Rebecca dengan mendapatkan tatapan tajam dari Hessel.


***


Bersambung...