Nadhila Story

Nadhila Story
Apa benar aku telah jatuh cinta?



Nadhila masuk ke dalam perusahaan dengan di tuntun oleh Hessel. Nadhila masih terdiam. Ia merasa bersalah kepada Tio. Tio pergi begitu saja. Tentu karena marah beserta kecewa kepada Nadhila.


"Minum, dulu!" Hessel menyerahkan air yang di atas meja kerjanya kepada Nadhila. Lalu duduk di samping Nadhila.


Nadhila meraihnya, dan meminumnya langsung.


"Terima kasih, Mas" ucapnya. Kemudian botol air itu Nadhila taruh di atas meja sofa.


"Ada apa, kenapa diam terus?" Hessel bertanya atas keterdiamannya Nadhila.


Seketika Nadhila meneteskan air matanya. Membuat Hessel menjadi lebih tidak mengerti.


"Hei, Dhila kenapa nangis?" Hessel lalu merengkuh tubuh Nadhila kedalam pelukannya. Mengusap rambutnya dengan lembut.


Nadhila menangis tapi tidak bersuara.


"Apa Nadhila menangis karena Tio. Atau Nadhila mencintai Tio?" Hessel bertanya-tanya di dalam hatinya. Hessel menyangka kalau Nadhila menangis karena Tio.


Nadhila berbicara di dalam pelukan Hessel, "Aku tidak menyangka. Bahwa aku di cintai oleh Pak Tio." Nadhila menjeda ucapannya, sementara Hessel terdiam, "Aku memang sangat mengaguminya. Dia pria tampan dan baik. Tapi. Setelah statusku berubah. Aku telah mengecewakannya. Dan hatiku kini mengagumi suamiku," lanjut Nadhila. Kini Nadhila mendongak menatap wajah suaminya yang memeluk erat tubuh Nadhila.


Seketika Hessel terdiam, "Nadhila mengagumi suaminya? berarti saya?. Iya saya kini yang di kagumi Nadhila," gumam Hessel di dalam hati. Ia begitu senang saat mendengar bahwa Nadhila kini mengaguminya.


"Tapi tunggu! kenapa hanya kagum? harusnya Nadhila mencintai saya!!" Hessel kembali berbicara di dalam hati.


Nadhila yang mendongak memperhatikan Hessel yang terdiam. "Mas?!" panggil Nadhila.


Hessel terbelalak, "Ah iya, ada apa?" tanyanya.


"Maaf, Mas aku hanya baru mengagumimu. Aku masih mencerna perasaanku sendiri." Nadhila melerai pelukan. Kini ia menatap Hessel dengan leluasa.


"Mas ajari aku, untuk jatuh cinta padamu!" ucap Nadhila membuat seketika Hessel menyunggingkan senyumannya.


"Baiklah. Jangan menyesal ya, kalau kamu telah mencintai saya!" ucap Hessel dengan menggoda.


Nadhila tersenyum, "Kenapa harus menyesal jika mencintai suami sendiri," ujarnya.


Hessel mengelus pipi Nadhila yang mulus, "Ah, saya jadi kepengen cepat-cepat meresmikan pernikahan kita," dengan di akhiri tangannya menyentuh bibir Nadhila yang merekah merah.


Nadhila merasa jantungnya berdetak sangat kencang jika berdekatan dengan Hessel.


"Mas, jauh-jauh!" Nadhila seketika mendorong dada Hessel.


Hessel mengerutkan alisnya merasa heran, "Kenapa?"


Nadhila memegang dada kirinya, "Jantungku suka tidak beraturan detaknya kalau dekat kamu, Mas," ucapnya. Membuat Hessel seketika tergelak.


"Mas, kok kamu malah tertawa seperti itu?" Nadhila merasa aneh terhadap Hessel.


"Nadhila sayang, kamu begitu polos sekali sih. Jantung kamu berdetak kencang seperti itu. Tandanya kamu telah mencintai saya."


Membuat Nadhila melotot.


"Saya mau tanya sama kamu, apa kamu nyaman bersama saya saat ini?"


Nadhila terdiam, seketika mengangguk pelan.


"Terus saat kamu tadi melihat saya bersama Rebecca, apa hati kamu merasa tidak tenang? atau tidak suka, kalau melihat saya dekat sama wanita lain?"


Nadhila kembali mengangguk.


Hessel tersenyum, "Kamu telah jatuh cinta sama saya, Nadhila," kemudian menggenggam tangan Nadhila. "Semua yang kamu rasakan adalah tanda-tanda, bahwa kamu sudah mencintai saya," tutur Hessel menjelaskan.


"Benarkah?" Nadhila menatap Hessel, "Apa seperti itu jatuh cinta?" pertanyaan polos Nadhila seketika membuat Hessel gemas. Tubuh Nadhila di peluk kembali oleh Hessel, dan di ciumi puncak kepala Nadhila dengan bertubi-tubi.


"Mas, apakah benar aku telah jatuh cinta sama kamu?" Nadhila kembali bertanya untuk meyakinkan kembali perasaannya selama ini.


"Benar sayang." Hessel hanya menjawab dengan datar. Padahal Hessel sangat merasa bahagia telah di cintai oleh wanita yang di cintainya saat ini.


"Tapi responmu sepertimmmph--"


Ucapan Nadhila seketika terpotong. Karena Hessel dengan cepat meraih bibir Nadhila. Di lum*tnya bibir merah itu, di ses*pnya secara bergantian bawah dan atas. Membuat Nadhila meremang tubuhnya dan rasa panas menjalar pada tubuhnya.


Nadhila yang sama. Nafasnya tersengal-sengal. Ia hanya terdiam saja. Masih tersisa rasa panas pada tubuhnya, seakan ia tidak mau ciuman itu di hentikan Hessel. Seakan Nadhila menginginkan lebih dan lebih.


"Saya mau bekerja. Kamu lebih baik tiduran saja di ruangan itu!" titah Hessel pada Nadhila.


"Jadi Mas, benar memecat saya?" Nadhila kini berubah sendu.


"Saya yang akan bekerja, untuk menafkahi kamu. Dan yang saya tidak mau, kamu di sini. Karena Tio. Saya tidak mau Tio selalu mengajakmu berbicara," ujarnya dengan tegas dan jelas.


Nadhila tiba-tiba kembali merasa tidak nyaman. Karena telah membuat Tio kecewa dan marah. Rasa bersalahpun kini menghinggapi Nadhila.


Dengan langkah gontai, Nadhila memasuki ruangan tempat istirahat Hessel. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang besar dan empuk. Membuat Nadhila dengan cepat terlelap.


***


Hessel baru saja merampungkan pekerjaannya. Para perwakilan divisi masing-masing mendatangi ruangan Hessel untuk menyerahkan berkas-berkas. Karena sang Asisten Tio tidak ada. Banyak yang mempertanyakan keberadaan Tio yang tidak biasanya bolos, dan sebagian karyawan melihat bahwa Tio sempat masuk saat pagi tadi.


Hessel memijit pelipisnya yang merasa pusing. Ia menatap jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya telah menunjukkan jam dua belas. Saatnya jam istirahat. Hessel meraih ponselnya untuk memesan makanan secara delivery untuk dirinya dan juga untuk Nadhila.


Setelah itu, Hessel melaksanakan shalat dzuhur terlebih dahulu seraya menunggu pesanan itu datang. Hessel melaksanakan shalatnya di ruangan yang terdapat Nadhila sedang tertidur.


Dengan masuk secara perlahan. Dan masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu terlebih dahulu. Lalu membentangkan sejadah di lantai itu. Dan menunaikan shalat dzuhur dengan khusyu.


Hingga beberapa menit kemudian. Hessel selesai. Ia melipat sejadah dan menaruhnya didalam lemari kembali. Kemudian merangkak naik ke atas kasur dengan memandangi wajah Nadhila yang ayu.


"Kamu cantik, Dhil ...," gumam Hessel seraya menatap wajah Nadhila yang terlelap.


Terlihat Nadhila mengerjapkan kedua matanya, dan langsung beradu pandang dengan Hessel.


"Mas?" Nadhila menyapa Hessel. Membuat Hessel tersenyum.


"Makan siang dulu, yuk!" ajak Hessel seraya turun dari kasur itu. Dan menuntun Nadhila keluar dari kamar.


Nadhila di dudukkan oleh Hessel di sofa. Dan tak lama terdengar ada yang mengetuk pintu ruangan Hessel, yang sudah Hessel sangka adalah pesanan makanannya datang.


Hessel langsung membuka pintu. Dan benar saja. Pesanan makanan Hessel di antar oleh Satpam yang berada di lantai bawah.


"Terima kasih," ucap Hessel setelah menerima pesanannya.


"Sama-sama, Pak."


Hessel lalu menutup pintu ruangannya. Dan melangkah mendekati Nadhila yang terduduk.


Makanan itu lalu Hessel buka. Terdapat dua porsi makanan padang.


"Kamu suka, kan?" tanya Hessel seraya mendorong satu porsi untuk Nadhila.


Nadhila tersenyum, "Tentu, aku suka" jawabnya jujur.


"Ya sudah. Ayo makanlah!" ujar Hessel menyuruh untuk Nadhila melahapnya.


Dengan malu-malu, Nadhila pun menurut. Kemudian melahapnya dengan santai. Nadhila merasa bahwa perlakuan Hessel begitu hangat. Membuat Nadhila semakin nyaman.


Nadhila mencuri-curi pandang pada Hessel. Seketika tertangkap oleh Hessel.


"Tampan, ya? sampai terus di lihatin," ujar Hessel narsis.


Membuat Nadhila seketika tersedak oleh makanannya.


"Ini minum!" Hessel menyodorkan air minum.


Nadhila dengan cepat meminum air itu. Dan tak mampu menatap Hessel karena malu. Malu karena sudah kepergok mencuri-curi pandang kepadanya.


***


Bersambung...


Mohon bantu author dengan like, comment, dan Hadiah poinnya ya!!


Terima kasih 😊