
Kini semua sedang makan malam bersama. Nadhila melayani suami dan ibu mertuanya dengan telaten.
Sementara Delina sejak tadi menunggu kedatangan Rebecca. Namun, Rebecca belum saja datang.
"Mami, apa ada yang Mami perlukan?" Nadhila bertanya setelah santapan makan malam usai. Nadhila menatap heran kepada Delina yang terlihat gusar.
"Tidak. Mami hanya sedang menunggu Rebecca," sahut Delina dengan menatap ke arah ruang utama. Delina berharap Rebecca datang.
Oma Margaret terdengar mencebik. Begitupun dengan Hessel.
"Mami ... bisa tidak jangan mengharapkan orang lain untuk datang?" Hessel kini menimpali. Dengan raut wajah yang tidak suka, jika Delina terus menginginkan kehadiran Rebecca.
Delina mengernyit, lalu tatapannya kembali menatap Nadhila.
"Dhila, apa belum kamu sampaikan keinginan Mami kepada Hessel?" tanyanya.
Membuat Hessel mengernyit heran, begitupun dengan Oma.
Nadhila tercengang. Ia sampai lupa untuk mengutarakan keinginan Mami Delina. Mungkin karena dirinya tadi sempat demam, hingga Nadhila memutuskan untuk tidak membahasnya saat tadi.
"Maaf, Mi. Nadhila belum mengatakannya," Nadhila dengan wajah yang merasa bersalah. Pasti ibu mertuanya itu mengharapkan lebih kepada dirinya.
"Mami ingin apa?" Hessel yang sedari tadi mendengar, akhirnya bertanya. Merasa penasaran dengan keinginan Maminya yang ia sampaikan lewat istrinya.
Delina menatap Hessel dengan dalam. Kemudian ia menggeleng. Ingin menyembunyikannya terlebih dahulu untuk saat ini. Agar Hessel tidak menyangka bahwa dirinya sudah membujuk Nadhila atas keinginannya.
"Mami tadi minta di ajak ke rumah aku, Mas." kata Nadhila mengerti arti dari gelengan kepala Delina. Hingga Nadhila mencari kata-kata lain.
"Benarkah?" Hessel merasa senang dengan permintaan Delina. Ia tidak menyangka ingin berkunjung ke rumah istrinya.
Delina mengangguk mengiyakan apa yang di katakan Nadhila.
"Besok kita ke rumah Nadhila ya, Mi." Hessel berucap dengan lembut. Menciumi tangan Maminya tersebut.
"Lebih baik sekarang Mami istirahat," Hessel dengan mulai mendorong kursi roda yang di duduki Delina. Meninggalkan Oma dan Nadhila yang sedari tadi menatapnya.
Nadhila menatap kepergian suami dan ibu mertuanya itu. Oma Margaret merangkul bahu Nadhila dan mengucapkan selamat.
"Selamat, akhirnya mata hati Delina terbuka untuk menerima kamu,"
Nadhila tersenyum dengan menganggukkan kepala. Menyetujui apa yang Oma katakan.
"Oma, aku mau ke kamar." Nadhila berpamitan untuk menuju kamarnya.
"Ya. Selamat istirahat Nadhila" ucap Oma dengan tersenyum.
"Oma juga selamat beristirahat," sahut Nadhila membalas ucapan Oma.
Di Tempat lain...
"Ah, ya terus sayang. Lagi!" suara ******* seorang pria yang menerima jasa layanan dari seorang gadis yang selalu di bangga-banggakan Delina. Kini gadis tersebut sedang melayani naf su para lelaki hidung belang dengan bayaran yang cukup besar tentunya.
Rebecca selain model merangkap berprofesi sebagai pemuas naf su para lelaki kesepian. Lelaki tua maupun muda Rebecca layani asal tarif yang di tentukan sangat menggiurkan. Mungkin bisa di katakan kalau profesi modelnya hanya sebagai kedok saja.
Rebecca kini tengah melayani seorang pengusaha muda yang seumuran dengan Hessel. Pengusaha muda tersebut merasa penasaran dengan pelayanan Rebecca yang ia dengar dari rekan-rekan bisnisnya yang pernah memakai jasa Rebecca. Dan semua itu terbukti malam ini.
"Sayang ... kamu sudah cantik. Ternyata sangat memuaskan," ucap Aldi di sela-sela des**annya. Posisinya kini tengah berada di bawah. Sedangkan Rebecca di atas tubuhnya yang sedang mengambil alih jalannya hasr*t itu tersalurkan.
Tubuh Rebecca yang memang menggoda membuat siapa saja menyukainya apalagi dengan tanpa sehelai benang, semakin tinggi saja hasr*t bagi yang melihatnya.
"Ah ..." suara er*ngan dari keduanya mengakhiri sesi pele*asan. Rebecca terkulai di atas tubuh Aldi yang sama-sama lemas.
Aldi menciumi kening Rebecca dengan berucap. "Terima kasih sayang ... kau sudah memuaskanku,"
Rebecca hanya mengangguk saja. Untuk mengeluarkan suaranya saat ini sangatlah lemah, tenaganya seakan terkuras untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk konsumennya tersebut.
Setelah sekian menit. Rebecca turun dari atas tubuh lelaki itu. Memilih membaringkan tubuhnya di sebelah Aldi.
"Jangan lupa untuk mentransfer sisanya!" ucap Rebecca mengingatkan Aldi yang saat tadi baru memberikannya uang muka.
"Tentu saja sayang ... aku akan mentransfer nya sekarang juga," Aldi dengan langsung meraih ponsel mahalnya yang tergeletak di atas nakas samping ranjang. Kemudian membuka layar ponselnya, dan membuka aplikasi M-Banking.
"Lihat sayang, sudah aku transfer!" Aldi dengan memperlihatkan layar ponselnya yang menyala dimana riwayat transaksi yang baru saja ia lakukan.
"Dua puluh lima juta?" Rebecca membacanya dengan mulut menganga. Merasa uang yang di berikan Aldi begitu besar.
"Iya, dua puluh lima juta untuk malam ini dan malam besok. Bukannya, kau menarifkan tubuhmu itu hanya lima juta?"
Rebecca tersenyum senang. "Iya, bahkan aku lebih dari lima juta dalam semalam," ya karena Rebecca melayani beberapa pria dalam waktu semalam. Ia begitu senang saat Aldi memberikannya dua puluh lima juta hanya untuk dua malam, karena Rebecca hanya harus melayani satu orang saja. Jujur Rebecca lelah jika bergonta-ganti pria dalam waktu semalam, apalagi prianya sudah tua. Tapi demi uang Rebecca lakukan dengan senang hati.
"Karena yang kau layani tidak hanya satu pria?" tebakan Aldi sangat benar.
"Ya begitulah pekerjaanku," sahut Rebecca kini dengan mulai meraih selimut.
"Jangan dulu tidur, Babe!" Aldi menarik paksa selimut yang Rebecca tarik.
"Kenapa?" Rebecca menatap Aldi dengan tidak mengerti.
"Aku tidak akan membayarmu hanya untuk tertidur. Giliranku, yang akan membuatmu berg*linjang nik mat di bawah tubuhku," Aldi dengan mulai meraba tubuh Rebecca yang masih lengket karena keringat.
"Aku tidak suka jika tubuhku berkeringat seperti ini," Rebecca menahan tangan Aldi yang akan mulai menjelajahi gunung kembarnya.
"Aku akan mandi dulu," lanjut Rebecca.
"Kita mandi bersama," kata Aldi membuat Rebecca menatap tidak percaya. Baru pertama kali ini partner ranjangnya akan mandi bersama dirinya. Mungkin karena kemarin-kemarin Rebecca hanya melayani konsumennya itu dua jam atau tiga jam-an. Namun, kini konsumennya itu akan mengurung dirinya selama dua malam di kamar hotel tersebut.
Suara des*han kembali terdengar memenuhi ruangan. Hanya suara des*han itu kini berpindah, suaranya memenuhi ruang kamar mandi.
Tubuh keduanya menyatu kembali, kini yang mereka lakukan di dalam bathup. Rasa dinginnya air terasa hangat pada tubuh keduanya.
"Ah," kali ini suara Rebecca yang mendominasi ruangan tersebut. Kali ini ia berada di tubuh Aldi yang mengungkungnya.
Sesuai ucapan Aldi tadi. Kini yang menjerit, mende*ah nik mat yaitu Rebecca.
"Ya lagi, ah ... aku sudah tidak tahan" pekik Rebecca yang sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Lalu disusul oleh suara berat pria yang berada di atas tubuhnya.
Pria tersebut terkulai lemas di atas tubuh Rebecca.
Bersambung...