Nadhila Story

Nadhila Story
Kekesalan Nadhila.



Nadhila melangkah cepat menuju Pantry dengan tubuhnya yang masih bergetar. Kebetulan di Pantry sedang sepi, mungkin karena sudah waktu bekerja tidak ada yang berlalu lalang di sana.


Nadhila terduduk di sebuah kursi dengan menangkupkan kedua tangan nya di wajah. Nadhila merasa heran dengan akan sikap Bos nya yang telah berani memeluk, dan mencium tangan nya.


Sementara itu Hessel keluar dengan wajah yang cemas, yang di ikuti Rebbeca di belakang nya.


"Sekarang kamu pergi. Kehadiran mu membuat situasi kacau." Hessel mengusir Rebbeca.


"What?. Kamu mengusir ku?." Rebbeca tidak percaya akan sikap Hessel. Hessel asalnya begitu lembut memperlakukan Dirinya, kini Hessel berubah ketus seperti itu.


Hessel mengangguk.


"Apa yang di berikan wanita itu sampai kamu begitu berubah Hessel?. Kamu dulu begitu sangat lembut, tidak kasar seperti ini berbicara dengan ku." Rebbeca mengungkapkan akan asal sikap Hessel.


"Itu dulu. Tidak dengan sekarang." Ketus Hessel.


Dan Kebetulan Tio datang menghampiri Bos nya itu yang sedang berdiri dengan Rebbeca. Dengan Tangan Tio membawa sebuah Map.


"Permisi Pak. Ini Laporan tentang Penjualan Produk Kita hari kemarin." Tio sopan lalu melirik ke arah wanita yang memakai baju kekurangan bahan.


Hessel pun menerima Map tersebut.


"Tio. Tolong Cari keberadaan Nadhila. Dia pergi begitu saja dari ruangan." Perintah Hessel.


"Pergi?." Tio Heran akan ucapan sang Bos.


"Heemm..." Jawab Hessel.


Tio pun cepat undur diri dari hadapan Hessel dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


Rebbeca kini tersenyum tipis.


"Jadi Nadhila namanya." Bathin Rebbeca mengingat nama Wanita yang menjadi kekasih Hessel.


Setelah kepergian Tio, Hessel kini melirik Rebbeca. "Kenapa kamu masih berada di sini?." Tanya Hessel.


Rebbeca malah mencoba merangkul tangan Hessel. "Ayolah Hessel kamu jangan seperti itu. Aku jauh-jauh dari Jerman ke sini untuk ketemu kamu." Rebbeca dengan bergelayut di tangan Hessel.


Hessel merasa sangat Risih saat ini. Tangan Hessel mencoba untuk melepaskan tangan Rebbeca, Namun Rebbeca kekeh ia terus merangkul kembali Tangan Milik Hessel.


Tio yang sedang di tugaskan mencari Nadhila, ia mulai lelah dan haus. Ia kemudian ke Pantry untuk membuat kopi. Namun matanya terbelalak melihat Nadhila yang terduduk di kursi dengan berwajah kesal.


Tio pun dengan cepat melangkah menghampiri.


"Ternyata kamu di sini." Ucap Tio dengan duduk di kursi sebelah Nadhila.


Nadhila pun menoleh ke arah Tio yang duduk di sebelahnya.


"Saya di suruh Pak Hessel untuk mencari kamu. Katanya kamu pergi dengan tiba-tiba." Ucap Tio dengan Menatap Wajah Nadhila.


Nadhila dengan cepat menatap ke arah lain. "Iya memang Saya keluar tidak memberitahunya terlebih dahulu."


"Apa kamu tahu wanita yang sedang bersama pak Hessel?." Tio memancing wajah kesal Nadhila.


Nadhila menjawab dengan mengangguk.


"Apakah wanita itu pacarnya?." Tanya Tio lagi.


Nadhila pun menjawab dengan mengangguk kembali.


"Lalu apa kamu cemburu?." Tio ingin tahu.


Nadhila pun dengan cepat menggelengkan kepala nya.


"Hahaa... Dhila. Apa yang membuat wajah mu menjadi kesal seperti itu.?" Tio terkekeh merasa gemas melihat wajah Nadhila yang sedang kesal.


"Aduuh... Pak Tio kenapa banyak tanya sih?." Nadhila sedikit emosi.


Tio yang mendengar Nada Nadhila seperti itu sontak tertawa.


"Malah ketawa lagi. Sudah sana. Saya lagi ingin sendiri." Usir Nadhila.


Tio dengan cepat menghentikan tawa nya. Lalu kini ia menatap Nadhila dengan lekat.


"Saya hanya ingin tahu, apa penyebab wajah kamu di tekuk seperti itu. Apa kamu mempunyai perasaan kepada Pak Hessel?." Tio ingin memastikan akan kedekatan Nadhila dengan sang Bos.


"Saya memang lagi kesal. Dan saya tidak punya perasaan kepada Beliau." Tutur Nadhila Jelas.


"Terus apa penyebab kamu kesal?." Tio terus ingin bertanya.


"Ih Pak Tio kepo aja. Tidak jauh beda dengan Bos yang aneh itu." Nadhila dengan mengerucutkan bibirnya.


Tio pun sontak terkekeh. "Aneh?." Tanya nya.


"Iya Aneh. Kemarin Beliau meminta ku menjadi pacar pura-pura nya di depan Oma nya, lalu tadi ia memperkenalkan ku sebagai pacar nya di depan Mantan Pacar nya." Tutur Nadhila mengatakan ke anehan nya sang Bos dengan tidak sadar bercerita kepada Tio.


"Oopss..." Nadhila membekap mulutnya yang sudah lancang menceritakan nya.


Tio menatap Nadhila dengan sedikit aneh.


"Pak Tio. Mohon ini di rahasiakan. Aku tak sengaja mengatakan nya." Pinta Nadhila.


Tio pun mengangguk, ia merasa Bos nya itu Gercep untuk mendahului dirinya yang sudah jatuh hati kepada Nadhila.


"Lalu itu saja yang membuat mu kesal?." Tio ingin lebih tahu lagi.


"Ehmm... Bukan itu saja. Aku kesal karena berani-berani nya Beliau mencium tangan ku, dan memeluk ku." Tutur Nadhila.


"Apa?." Tio melotot kaget akan yang ia dengar.


"Suttt.... Bapak tidak boleh berteriak seperti itu. Nadhila malu. Nadhila kesal Pak."


Hessel terlihat memasuki Pantry, ia merasa pusing saat ini setelah berusaha membuat Rebbeca pergi dari kantornya, dan mengatakan ia akan menjumpai Rebbeca setelah jam kerja usai. Barulah Rebbeca bisa pergi. Hessel memasuki Pantry berusaha untuk membuat kopi, Tapi Matanya melotot melihat Nadhila yang tengah duduk bersampingan dengan Tio asisten nya.


"Ekhemmmm....." Hessel berdehem.


Dan membuat kedua nya menoleh ke arah nya.


Tio dengan cepat berdiri, setengah membungkuk hormat menyapa sang Bos.


Tapi Tidak dengan Nadhila, yang langsung melangkah pergi meninggalkan Pantry ia seakan enggan untuk bertemu Bos nya itu.


Kenapa Nadhila malah cepat pergi?.


Tio berbicara di dalam hatinya.


Hessel pun heran dengan tingkah Nadhila yang pergi begitu saja tanpa menyapa.


"Kebetulan kamu ada di sini. Tolong buatkan Saya kopi." Perintah Hessel dengan membalikkan tubuhnya bergegas pergi meninggalkan Pantry.


Tio pun dengan cepat membuatkan Kopi untuk Bos nya, dan untuk dirinya. Memang sedari awal Tio ke Pantry berniat untuk membuat kopi, namun malah bertemu Nadhila lalu mengobrol.


Hessel sudah masuk ke dalam ruangan, terlihat Nadhila yang sudah duduk di kursi kerjanya dengan fokus ke layar Komputer nya.


Hessel pun duduk di Kursinya, dengan tetap melirik ke arah Nadhila.


"Ekhemmm...." Hessel mencoba berdehem agar Nadhila menoleh kepada nya. Namun nihil Nadhila tidak bergeming.


"Dhil..." Sapa Hessel.


Tapi Nadhila tidak menjawab. Ia terus mengetik pada keyboard nya.


Tak lama Tio masuk seperti biasa ia tidak suka mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dan meletakkan kopi untuk sang Bos.


"Ini pak Kopi nya". Tio lalu melirik ke arah Meja Nadhila.


Hessel pun mengangguk.


"Tio. Bisa kamu temani saya di sini. Saya di ruangan ini tidak ada teman." Pinta Hessel.


"Hah... Lalu?." Tio dengan menunjuk Ke arah Meja Nadhila.


Hessel menggelengkan kepala nya. "Entahlah, sepertinya dia sedang sakit gigi." Tutur Hessel mencoba membuat Nadhila agar bersuara.


Menyebalkan. Bahkan sekarang dia mengataiku sakit gigi.


Gumam Nadhila semakin kesal.


Tio pun akhirnya mengerti, ia mengingat Nadhila tadi yang sedang kesal.


"Baik Pak. Saya akan menemani Bapak di sini." Ucap Tio.


Tio pun duduk di kursi yang di depan meja Hessel dengan membuka berkas-berkas di meja Hessel.


Hessel menoleh kembali ke meja Nadhila, ia merasa tidak nyaman akan Nadhila yang tidak bersuara. Hessel lupa akan penyebab kekesalan Nadhila. Hessel malah berasumsi Nadhila sedang cemburu. Hessel pun tersenyum sendiri mengingat hal itu.


Dia pasti cemburu.


Aku yakin.


Akhirnya Aku tahu bahwa kamu suka padaku Nadhila.


Ucap Hessel di dalam Hati.


Hessel yang sedang senyum-senyum sendiri di perhatikan oleh Tio. Tio merasa aneh dengan sikap Bos nya. Terkadang Ketus, Dingin, Datar, kini Konyol di hadapan Tio.


Bersambung.