Nadhila Story

Nadhila Story
Tio tahu.



Hessel dan Nadhila baru saja sampai di Loby perusahaan. Keduanya keluar dari mobil dengan langsung berjalan memasuki lift untuk membawanya ke dalam ruangan.


Nadhila masih membisu. Ia terus memikirkan apa yang tadi Hessel katakan. Hingga Nadhila tidak menyadari kini langkahnya sudah tepat di depan ruangannya.


"Selamat Pagi, Sayang!" suara wanita yang menyapa Hessel membuyarkan lamunannya.


Terlihat Rebecca berdiri di depan ruangan Hessel, di sampingnya ada Tio.


"Maaf. Pak, Nona Rebecca memaksa untuk masuk kedalam perusahaan," Tio meminta maaf karena sudah memasukan Rebecca ke dalam gedung perusahaan Hessel.


Hessel tidak menyapa Rebecca. Ia malah melirik kepada Nadhila. Yang mengedikan bahu seolah acuh. Nadhila bahkan langsung membuka handle pintu dan masuk ke dalam ruangan.


Rebecca bergelayut manja pada lengan Hessel. Dan Hessel merasa tidak suka.


"Lepas, Rebecca," Hessel dengan menepiskan tangan Rebecca kasar.


Rebecca memberengut, "Kamu sangat berubah Hessel. Kamu jadi kasar begini sama aku," ucapnya.


Hessel tidak memperdulikan. Ia langsung masuk kedalam ruangan. Dan di susul oleh Tio. Lalu Rebecca tidak mau ketinggalan. Ia masuk dan duduk di sofa.


Tio mendekati Nadhila yang sudah terlihat sibuk pada pekerjaannya.


"Pagi, Dhila," sapa Tio dengan tersenyum.


Nadhila mendongak dan tersenyum, "Pagi juga Pak Tio," ucapnya menyapa kembali.


"Dhila, nanti makan siang bareng saya mau?" Tio mengajak Nadhila untuk makan siang bersama. Sepertinya Tio masih ingin mendekati Nadhila, walau Nadhila sudah menolak lamarannya.


Baru saja Nadhila ingin membuka suara. Hessel lebih dulu menyela.


"Tio. Mulai besok kamu merangkap pekerjaan Nadhila," Hessel dengan membuka layar Komputernya.


Nadhila mengernyitkan dahi tidak mengerti. Begitupun Tio.


"Maksudnya bagaimana Pak?" Tio mempertanyakan ketidak mengertiannya.


Hessel sekilas menatap Nadhila. "Dhila mulai besok tidak bekerja," ujarnya. Membuat Nadhila terperangah, dan menatap tajam pada Hessel. Walau yang di tatap hanya punggungnya saja.


Rebecca menyeringai di tempat duduknya. Ia ingin menyaksikan apa yang akan terjadi antara Hessel dan Nadhila.


Nadhila langsung berdiri, dan menghampiri Hessel.


"Maksud bapak, apa? bapak memecat saya?" Nadhila dengan menatap tajam kepada Hessel.


Hessel mengangguk, "Iya saya memecat kamu. Dan kamu kerja di rumah. Menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Mengurus rumah. Dan mengurus keperluan suami," tuturnya dengan santai.


Nadhila menganga. Begitupun Tio ia sungguh terkejut dengan apa yang Hessel katakan. Ibu rumah tangga? Tio benar-benar harus mencerna dengan baik kata-kata itu.


Rebecca yang tadi tersenyum menyeringai. Kini terdiam. Ia sama-sama terkejut. Rebecca memilih berdiri dan memastikan kepada Hessel.


"Apa wanita mu itu sudah menikah, Sayang? Oh My God. Makanya kembalilah sama aku lagi,"


Hessel menatap Rebecca dengan tajam.


"Iya Nadhila sudah menikah. Dan menikahnya dengan saya," sahut Hessel membuat Tio dan Rebecca terbelalak.


Nadhila hanya bisa menunduk. Sebenarnya ia belum siap untuk di ketahui semua orang tentang statusnya sekarang. Tapi. Hessel seolah ingin memberitahukan orang-orang bahwa Nadhila adalah miliknya.


Tio beralih menatap kepada Nadhila. Ia sungguh terkejut dengan semua yang telah di dengarnya.


"Dhila, apa itu semua benar?" tanya Tio ingin memastikan. Perlahan Nadhila mengangguk, dengan pandangan masih menunduk.


Hessel tersenyum, "Sudah jelas, kan?" sepertinya Hessel telah puas membuat Tio terkejut. Karena Tio terdiam membisu.


Rebecca menggelengkan kepala, "Aku tidak percaya. Kamu belum menikah dengannya," pekik Rebecca dengan menatap Hessel.


"Apa yang membuatmu tidak percaya, Rebecca?" Hessel berdiri dan mendekati Nadhila.


Nadhila tidak mau keadaan menjadi panas. Ia tahu kedua orang yang di depannya belum bisa mempercayai. Sehingga Nadhila memilih untuk berlalu dari ruangan itu.


"Permisi," Tio membungkukkan badan berpamitan kepada Hessel untuk menyusul Nadhila.


Hessel membuang nafas dengan kasar. Lalu duduk di kursinya, "Kenapa kamu malah pergi, Dhila? Saya hanya ingin Tio tahu kalau kita sudah menikah. Karena saya cemburu. Tio sudah berani mengajak mu di depan saya," batin Hessel.


"Jelaskan Hessel! apa itu semua benar?" Rebecca masih belum percaya.


"Lebih baik kamu pergi. Saya sudah tidak mempunyai urusan denganmu!!," Hessel mengusir Rebecca.


Rebecca dengan tidak tahu malunya, ia malah memeluk bahu Hessel dari belakang, "Aku masih mempunyai urusan denganmu. Yaitu hatiku dan cintamu. Aku yakin kamu belum sepenuhnya melupakanku, Hessel," Rebecca dengan suara sensualnya.


Hessel melepaskan tangan Rebecca yang melingakar di bahu miliknya. "Saya mohon. Jangan ganggu saya lagi. Saya sudah melupakanmu. Pintu keluar ada di depan!!," Hessel dengan menunjuk pintu.


Rebecca akhirnya keluar dengan kekesalan. Sebelum keluar ia sempat mengucapkan kata-kata , "Jangan menyesal kalau kamu telah meninggalkan ku," ucapnya lalu berlalu.


Sementara itu Nadhila yang sudah berhasil keluar dari gedung Perusahaan Hessel ia terus berjalan menyusuri trotoar. Dengan wajah yang menekuk. Tanpa menghiraukan Tio yang sudah memanggilnya berulang kali di belakangnya.


Tio berhasil mencekal tangan Nadhila. Lalu Nadhila menoleh dan berhadapan dengan Tio.


"Lepas Pak Tio!" Nadhila dengan menghentakkan tangannya yang Tio cekal.


"Kalau tidak begini. Kamu akan terus melangkah. Dan tidak mau berbicara dengan saya,"


Nadhila akhirnya melunak, "Apa yang akan Pak Tio bicarakan? maaf saya tidak ada banyak waktu," alasan Nadhila.


Tio memegang kedua bahu Nadhila. "Apa benar yang di katakan Pak Hessel?" Tio kembali mengulangi pertanyaannya.


"Iya. Saya sudah menikah dengan Pak Hessel."


Membuat pegangan di bahu Nadhila terlepas. Lalu Tio memundurkan langkahnya. Seperti syok mendengar penuturan Nadhila.


"Apa kamu mencintainya?" Tio mempertanyakan tentang perasaan Nadhila terhadap Hessel.


Nadhila terdiam. Ia belum paham pada perasaannya sendiri. Yang masih terasa abu-abu.


"Entahlah. Saya belum merasakannya,"


Tio merasa lega, Namun ia masih ingin tahu pernikahan yang tiba-tiba itu.


"Bagaimana kalian bisa menikah?"


Suara seseorang menjawab dari belakang Tio. "Karena saya mencintainya," membuat Tio menoleh dan menatap seseorang itu.


Tio tidak bisa bertanya banyak bila Hessel sudah berada di hadapannya.


"Pak Tio. Saya mohon maaf. Pak Tio jangan marah. Kami menikah karena memenuhi wasiat ibu sebelum meninggal. Ibu berwasiat. Beliau ingin melihat saya menikah di hadapan jenazahnya sebelum di makamkan." Nadhila menjeda ucapannya.


Dan di lanjuti oleh Hessel. "Karena saya berada di sana. Saya yang menikahi Nadhila. Karena jujur saya sangat mencintai Nadhila," jelas Hessel membuat Tio semakin terdiam.


"Saya jujur sangat kagum kepada Pak Tio. Saya sempat menyukai Pak Tio. Tapi Mohon maaf. Saya sekarang sudah bersuami. Pak Tio harus melupakan perasaan Pak Tio terhadap saya. Dan semoga Pak Tio mendapatkan seseorang yang lebih baik dari saya," Nadhila kembali menjelaskan. Bahkan Nadhila mengatakan bahwa dirinya sempat menyukai Tio.


Tio masih terdiam. Ini sungguh mengejutkan bagi dirinya. Ia tanpa berucap. Meninggalkan Nadhila dan Hessel yang sedang menatapnya.


"Pak Tio!?" panggil Nadhila.


Hessel merangkul Nadhila, "Sudah. Mungkin Tio belum bisa menerima. Karena pernikahan kita yang tiba-tiba," Hessel menenangkan Nadhila.


"Tapi--"


"Shutt ... sudah jangan di pikirkan. Lebih baik kamu kembali lagi ke kantor." Hessel dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Nadhila.


"Bukannya, aku sudah di pecat?"


"Iya. Tapi di kantor kamu temani saya bekerja," ucapan Hessel seketika membuat Nadhila memberengut.


***


Bersambung.