
Nadhila keluar dari mobil bersamaan dengan Hessel. Nadhila mematung sejenak setelah menatap banyak orang di halaman, dan di dalam rumahnya. Nadhila memastikan kembali untuk menatap bendera kuning yang sudah terpampang di sebuah tiang.
"Tidak. Tidak mungkin," gumam Nadhila. Ia merasakan sebuah firasat yang tidak enak setelah memastikan menatap bendera kuning tersebut.
Hessel sedari tadi memperhatikan rumah Nadhila yang begitu ramai banyak orang.
"Sebenarnya ada apa ini?" gumam Hessel. Tapi, ia bisa menangkap sebagian orang berwajah sendu dan kesedihan.
Nadhila akhirnya melangkah dengan cepat ke arah pintu, yang sudah ada banyak orang menyambutnya dengan tatapan sendu. Dan di susul oleh Hessel dari belakang.
"Dhila ... yang sabar ya, Nak." Ibu Asih menepuk bahu Nadhila.
Nadhila masih dalam keadaan bingung, ia tidak merespon. Nadhila langsung menerobos masuk ke arah dalam. Betapa tercengang, dan terkejutnya. Nadhila menatap ruang tamu, di mana sebagian orang sedang mengaji di depan jenazah yang tertutup kain.
Ibu Sari yang merupakan tetangga dekat Nadhila, mendekat. Ia memeluk Nadhila dengan erat. Dan membisikkan kata-kata yang membuat Nadhila menangis.
"Dhila, ibu kamu sudah meninggal Sayang ... dan tadi yang menelpon lewat hp ibu kamu, adalah saya. Yang sabar ya, Nak" ucap Ibu Sari.
Nadhila terpaku, namun air matanya terus mengalir, dengan bibir bergetar menahan sesak di dada. Bu Sari melepaskan pelukan, dan menatap sendu ke arah Nadhila.
Hessel yang memperhatikan sedari tadi. Kini ia mengerti bahwa Ibu Nadhila sudah di Panggil Sang Khaliq.
Bu Sari menuntun Nadhila untuk mendekati jenazah sang ibu yang sudah terbujur kaku, begitupun dengan Hessel, ia mengikuti arah Nadhila beranjak. Jenazah sang Ibu sudah selesai di mandikan dan di shalatkan. Sehingga para warga menunggu Nadhila terlebih dahulu, untuk di makamkan.
"Bu Sari, jelaskan kenapa Ibu saya bisa meninggal?" tanya Nadhila. Sungguh pertanyaannya, sangat konyol. Tentu Meninggal sang ibu, itu sudah ketentuan Sang Khaliq. Namun, Nadhila seperti ingin tahu penyebabnya.
Bu Sari menghela nafas terlebih dahulu, sebelum memulai bercerita kepada Nadhila. "Nak, sebelumnya Bu Ratna sudah mempunyai sakit kanker sudah lama. Tanpa sepengetahuan kamu. Saya yang selalu mengantar beliau saat berobat. Beliau meminta saya untuk tidak menceritakannya kepada mu, karena ibu mu itu, tidak mau sampai kamu mengkhawatirkannya. Hingga saat tadi, beliau mengikuti pengajian seperti biasa di Madrasah, beliau berpesan terlebih dahulu. Ia ingin kamu menikah di hadapan jenazah beliau. Setelah itu, beliau baru menghembuskan nafasnya yang terakhir," tutur Bu Sari.
Penuturan Bu Sari membuat Nadhila menangis semakin menjadi. Ia tidak pernah berpikir bahwa ibunya selama ini menutupi penyakitnya selama ini dari dirinya. Bahkan Nadhila merasakan rasa bersalah yang amat besar. Ia tidak bisa mengurus dan merawat ibunya. Hanya bekerja, dan bekerja setiap hari yang Nadhila lakukan. Dan itu semua tentu untuk memenuhi kebutuhan Keluarga. Namun, ternyata kondisi sang ibu yang terlihat baik saja, ternyata ia sedang berperang melawan penyakit yang sedang menggerogotinya.
"Bu ... Maafkan Dhila. Dhila, sebagai anak tidak berguna sekali. Ibu ... kenapa ibu, tidak menceritakan semuanya kepada Dhila? Ibu ...."
Nadhila tidak sanggup berucap kembali. Ia memilih mengeluarkan tangisnya. Dengan sesegukan, dan isakan yang begitu pilu terdengar. Hessel yang sedari tadi di samping Nadhila ia menguatkan Nadhila, dengan mengelus punggung Nadhila. Hessel sendiri begitu terpukul merasakan apa yang Nadhila rasakan saat ini.
Bu Sari memanggil seorang Kiyai, yang sangat di segani di daerah itu. Yang kebetulan ikut melayat jenazah Ibu Nadhila. Kiyai itu merangkap sebagai penghulu pekerjaannya. Sehingga Bu Sari, akan menikahkan Nadhila saat itu juga di depan jenazah sang ibu.
"Dhila, siapa pria yang bersamamu?" tanya Bu Sari dengan memindai wajah Hessel yang tampan.
Nadhila dengan mata sembab, ia menatap Hessel terlebih dahulu. "Beliau at--"
"Saya kekasih Dhila, bu" ucap Hessel memotong ucapan Nadhila dengan cepat. Nadhila melotot tidak terima. Tapi tidak mungkin ia berdebat saat itu juga, apalagi harus di saksikan banyak warga.
Bu Sari tersenyum, "Benarkah? kalau begitu, bagaimana kalau kita laksanakan ijab kobul di depan jenazah sekarang juga. Ini Wasiat. Dan biarlah kalian menikah siri terlebih dahulu. Dari pada kita tidak melaksanakan wasiat dari beliau,"
Lagi-lagi Nadhila dibuat terkejut. Ia akan di nikahkan dengan Hessel saat ini juga. Begitupun dengan Hessel ia tercengang, namun di balik itu ia senang. Karena akan menikahi Nadhila tanpa harus berjuang lebih lama.
"Saya bersedia," sahut Hessel dengan mantap. Bahkan wajahnya sangat serius.
Bu Sari tersenyum hangat. "Ayo duduk yang rapih. Pak Kiyai Anwar akan melakukan ijab kobul, di sini. Dan siapkan untuk maharnya, apapun itu" ujar Bu Asih.
Hessel yang berada di samping Nadhila bisa mendengar samua yang baru saja Nadhila ucapkan. Sehingga Hessel membuka suara, "Bu ... Maaf jika selama ibu masih hidup. Saya Hessel, belum pernah bertemu dengan ibu. Namun, bagi saya ibu adalah ibu terhebat. Yang tidak mau membuat sedih anaknya. Sehingga ibu menyembunyikan penyakit ibu dari Nadhila. Saya Hessel di depan ibu. Saya berjanji. Akan memperlakukan Nadhila dengan baik, dan akan menyayanginya sepenuh hidup saya. Karena selama ini saya sangat mencintainya."
Sungguh Nadhila tercengang, dengan ucapan Hessel yang begitu serius kepada jenazah sang ibu. Apalagi semua ucapan Hessel, membuat ritme jantung Nadhila yang berubah berdetak dengan kencang. Ada rasa senang saat mendengar bahwa Hessel mencintainya selama ini.
Bu Sari pun tersenyum senang mendengar semua yang Hessel ucapkan. Hingga ia merasa tenang jika Nadhila di dampingi pria yang benar-benar mencintainya.
"Ekhemm ... baiklah, ayo kita laksanakan ijab kobulnya," suara Pak Kiyai Anwar menginstrupsi kepada semua yang berada di dalam rumah Nadhila.
Hessel teringat belum ada mahar yang ia siapkan. Sehingga Hessel merogoh, dan membuka dompet untuk melihat isi uang tunainya.
"Mohon maaf Pak Kiyai. Karena ijab kobul ini sangat mendadak sekali. Jadi saya tidak melakukan persiapan sebelumnya. Bagaimana dengan masalah maharnya?" Hessel bertanya terlebih dahulu kepada Pak Kiyai Anwar.
"Pakai uang tunai juga bisa. Apa ada uang tunai di dompet anda?"
Hessel dengan semangat mengeluarkan uang tunai yang berada di dalam dompetnya. Terdapat tiga puluh lembar uang berwarna merah, dan sepuluh uang berwarna biru. Jadi uang yang ada di dalam dompet Hessel senilai tiga juta lima ratus ribu rupiah.
"Maaf Dhila ... uang cash saya hanya ada tiga juta lima ratus di dalam dompet saya. Tak apa, kan?" tanya Hessel merasa tidak enak. Ia akan menikahi dengan mahar yang jelas bagi Hessel tidak ada nilainya uang segitu.
"Tidak Pak. Yang penting ada buat mahar," sahut Nadhila.
"Jika anda ingin memberikan mahar yang lebih, bisa saja saat nanti pernikahan anda resmi dengan ikatan pernikahan agama dan negara. Namun, yang saat ini akan di lakukan yaitu hanya di akui dengan agama saja. Yang di sebut nikah siri. Baiklah ... karena Nadhila sudah tidak mempunyai kerabat, ataupun saudara. Saya Anwar sebagai penghulu sekaligus wali hakim untuk Nadhila Sahila Putri."
Semua orang yang datang melayat, menjadi para saksi di acara ijab kobul antara Hessel dan Nadhila. Dengan di buka dengan beberapa doa. Pak Kiyai Anwar, mulai melaksanakan acara ijab kobul untuk Nadhila dan Hessel.
Dengan perlahan dan tarikan nafas. Yang Hessel lafalkan. Suara yang begitu lantang. Memberikan kesan bahwa Hessel tidak ada rasa gugup terlihatnya. Sehingga sekali tarikan nafas kalimat ijab kobul sudah Hessel laksanakan.
Sehingga Para warga yang melayat, yang menyaksikan. Menyerukan kata 'Sah" saat Pak Kiyai Anwar bertanya kepada para saksi.
Dengan ucapan Hamdalah, dan doa. Pak Kiyai Anwar menutup acara tersebut. Dan memberikan nasehat kepada kedua mempelai.
"Nadhila ... sekarang engkau telah menjadi seorang istri dari Nak Hessel. Maka patuhilah, semua perintah dari suamimu. Dan begitupun engkau Nak Hessel ... menjadilah suami yang bisa membimbing Nadhila. Semoga kalian menjadi pasangan yang Sakinah Mawadah dan Warahmah. Ayo cium punggung tangan suami mu, Dhil ... dan engkau Nak Hessel, cium kening istrimu, kalian sudah menjadi pasangan halal," tutur Pak Kiyai Anwar. Ia memberikan nasihat serta perintah untuk Nadhila dan Hessel.
Nadhila dengan ragu-ragu meraih tangan Hessel. Ia mencium tangan Hessel dengan takzim. Begitupun dengan Hessel ia melakukan apa yang di perintahkan Pak Kiyai Anwar untuk mencium kening Nadhila.
Membuat senyuman di wajah para warga menghiasi acara tersebut.
"Baiklah ... wasiat dari Almarhumah sudah kita laksanakan. Mari sekarang kita hantarkan jenazah Almarhumah ke pengistirahatannya yang terakhir," ujar Pak Kiyai Anwar. Sehingga petugas yang akan mengangkat jenazah langsung mendekat. Dan dengan gerakan serempak petugas itu langsung menggotong jenazah yang sudah berada di dalam keranda.
Nadhila menangis kembali. Kali ini Hessel menggenggam tangan Nadhila dengan erat. Memberikan kekuatan agar Nadhila tidak terlalu terpuruk merasakan kesedihan.
Jenazah itu di giring ke pemakaman umum terdekat, dengan di iringi lapadz Tahlil dari semua yang mengiringi. Sehingga Nadhila tangisnya semakin menjadi.
***
Bersambung.