
Jam istirahat pun telah tiba. Dhila keluar dari Ruangan nya tanpa menyapa kepada Bos nya itu.
"Dhila...." Langkah Dhila terhenti kala Hessel memanggilnya.
"Iya ada apa Pak?." Sahut Dhila.
"Saya juga ingin ke kantin. Ayo bareng." Kata Hessel mengajak Nadhila.
Nadhila sejenak terdiam kemudian Ia mengangguk dengan pelan.
Nadhila pun keluar dengan berjalan bersejajar bersama Hessel.
Dan saat itu Tio sedang berdiri menyambut Nadhila.
"Dhila. Bagaimana apa kamu tak lupa akan ucapan saya tadi?." Tanya Tio sehingga membuat Hessel mengernyitkan dahinya.
Nadhila mengangguk. "Saya masih ingat Pak."
"Ayo." Ujar Tio.
"Nadhila akan pergi ke Kantin. Kamu mau ngajak kemana?." Kini Hessel bersuara.
"Pak Hessel ini saya ada sesuatu yang penting dengan Nadhila. Dan ini di jam istirahat. Tentu Pak Hessel tidak keberatan kan bila saya mengajak Nadhila pergi makan di luar?." Tukas Tio dengan sopan kepada Direkturnya itu.
"Kalau begitu saya ikut." Ucap Hessel yang membuat Tio kebingungan.
"Kalau begitu nanti saja selepas pulang kerja." Tio akhirnya membatalkan niat makan siang bersama dengan Dhila.
Sedangkan Nadhila merasa bingung serta penasaran akan apa yang nanti Tio sampaikan kepadanya.
"Pak Tio sebenarnya sesuatu apa yang akan Pak Tio sampaikan?." Tanya Nadhila.
Dan Hessel pun seketika mengangguk membetulkan pertanyaan Nadhila.
Tio tersenyum dan menatap lekat pada Mata Nadhila yang bulat. "Sesuatu. Yang hanya perlu kamu saja yang tahu."
Pletak!!! Seketika Dahi Tio di sentil Hessel.
"Kamu menyindir saya?."
"Ah bukan seperti itu Pak... Saya hanya ingin berbicara berdua." Ucap Tio.
Nadhila merasa tidak sabar ingin cepat makan. Nadhila pun pergi berlari meninggalkan Bos dan Asisten nya itu yang sedang berdebat.
"Bicara apa?." Desak Hessel.
"Saya akan melamar Nadhila." Tio pun dengan cepat menyadari keberadaan Nadhila yang tidak ada di depan nya.
Hessel Terdiam membisu.
Saya tidak boleh ke duluan Tio.
Saya sadar bahwa saya jatuh cinta pada Nadhila.
Hessel berbicara di dalam hatinya dengan wajah yang sedatar mungkin tidak nampak perubahan terkejut atau khawatir akan ucapan Tio barusan.
Tio dan Hessel akhirnya memilih ke arah kantin. Dan melihat gadis yang baru saja di perdebatkan sudah menyantap makanan dengan Teman dekatnya yaitu Rere. Dan ada juga Bu Siska serta Ricky.
Tio dan Hessel pun memilih tempat yang lain karena tidak mungkin bergabung bersama Nadhila yang sudah duduk beserta teman nya.
"Oh iya Dhila. Pas hari apa ya lupa lagi deh. Itu... dengar Pak Tio berbicara sendiri. Dia marah saat kamu pergi bareng Pak Hessel. Terus yang membuat aku terkejut lagi Dia keceplosan ngomong kalau Dia sangat mencintaimu." Celetuk Bu Siska yang membuat Nadhila, Rere, dan Ricky menganga.
"Wah beneran bu?. Terus kenapa Bu Siska ini gak ceritain sama aku?." Komplain Rere.
Sedangkan Ricky merasa cemburu karena ternyata Nadhila ada yang menyukai nya selain dirinya.
"Dhila Elu diam aja?." Rere membuyarkan Nadhila yang sedang terdiam.
"Terus aku harus gima hm?." Sahut Nadhila.
"Ya Elu setidaknya berekspresi Senang gitu. Secara Lu di taksir Cowok tampan Pertama di Kantor ini." Celoteh Rere.
"Pertama?." Ricky, Bu Siska, Nadhila serempak.
"Eitsss.... Kompak amat." Rere dengan terkekeh.
"Jelaskan!" Pinta Bu Siska.
"Jelaskan apanya?." Rere dengan bingung.
"Cowok Tampan pertama maksud kamu, terus pasti ada yang seterusnya kan?." Tanya Bu Siska.
"Hehe... Iya iya. Pak Tio itu Cowok Tampan pertama, lalu yang kedua Pak Hessel dan yang ketiga onoh...." Rere dengan menunjuk Ricky menggunakan dagu nya.
Ricky seketika tertawa. " Kenapa gue gak di urutan pertama Re?." Protes Ricky.
Nadhila kini berpikir akan perhatian Pak Tio selama ini Nadhila jadi mengerti.
"Aku ke Mushola." Pamit Nadhila dengan cepat melangkah lebar meninggalkan Kantin tanpa mendengar jawaban dari Teman-temannya.
Nadhila dengan cepat melepas sepatu nya. Ia langsung berwudhu. Dan maksud ke dalam Mesjid dengan mulai memakai Mukena nya. Padahal Jam Istirahat masih ada dua puluh menit lagi. Tapi Nadhila kini ingin lebih lama berada di Mushola itu. Hatinya kini tengah merasa tidak tenang.
"Ya Tuhan Hamba berserah diri pada-Mu.
Tolong berikanlah Hamba ketenangan hati.
Astagfirullah.... Astagfirullah...."
Nadhila seraya berdo'a di dalam hati dengan mata terpejam.
Tak lama terdengar suara Adzan Dzuhur berkumandang.
Satu persatu Para Karyawan dan Karyawati memenuhi Mushola tersebut untuk menunaikan Shalat Dzuhurnya.
Selang beberapa menit Nadhila keluar dari Mushola setelah menyelesaikan Ibadahnya.
Nadhila terduduk dengan memakaikan Sepatu nya.
Nadhila pun berdiri seketika pandangan nya beradu dengan Pandangan sang Asisten Direktur yang tengah berdiri tidak jauh dari arahnya.
Nadhila pun dengan cepat mengalihkan pandangan nya dan berjalan.
"Dhila..." Kini suara Bariton Hessel memanggilnya.
Nadhila pun menoleh dan menatap Hessel yang kini tengah mendekat ke arahnya dengan di susul Tio di belakangnya.
"Ada apa Pak?." Tanya Nadhila.
"Nanti pulang kamu bareng saya. Sesuai tadi Pagi yang kita bicarakan."
Nadhila mengingat kembali yang tadi pagi Ia bicarakan dengan Hessel yaitu mengenai Tentang Hessel yang ingin belajar Shalat.
"Iya Pak." Jawab Nadhila.
Pak Hessel sepertinya sengaja ingin menghalangi niat ku.
Sebenarnya apa mau nya?.
Katanya tidak mempunyai perasaan kepada Nadhila, tapi dia seperti sengaja ingin berdekatan.
Gerutu Tio di dalam hatinya.
Mereka pun akhirnya pergi ke ruangan masing-masing.
Tio dengan rasa berkecamuk di dalam hatinya masuk ke dalam ruangan, ia memikirkan waktu yang tepat untuk mengutarakan hatinya kepada gadis pujaan nya itu.
Astagfirullah....
Tio akhirnya fokus kepada pekerjaan nya.
Di ruangan lain Hessel nampak sedang tersenyum sendiri mengingat dirinya yang seperti anak ABG yang sedang kasmaran. Hessel menyadari dirinya telah jatuh cinta kepada Sekretarisnya.
Hessel akan menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan nya. Yang lebih tepatnya Hessel akan membuat Nadhila jatuh cinta terlebih dahulu kepada dirinya baru Ia akan mengutarakan perasaan nya.
Hessel memang sudah berpengalaman dengan masalah pacaran. Berbanding sang Asisten yang belum pernah tahu dan merasakan hal berpacaran.
Hessel seketika senyum nya berubah menjadi rasa cemas. Saat ia sadar bahwa gadis yang tengah ia sukai bukan gadis seperti biasanya. Gadis yang di sukai Hessel ini Cuek. Dan tidak mau di sentuh.
Kini Hessel mencuri pandang ke arah meja Nadhila. Terlihat Nadhila yang fokus saat sedang bekerja.
"Dhila...." Tanpa Hessel sadari mulutnya menyapa Nadhila.
"Ada apa Pak?." Tanya Nadhila.
"Bagaimana menurut mu. Pria yang cocok menjadi pendamping hidup mu?." Pertanyaan Hessel yang begitu saja lolos dari bibirnya.
Eitss... Apa-apaan kenapa aku bertanya seperti itu?. Hessel merutuki dirinya yang tiba-tiba bertanya tentang hal pribadi.
Nadhila menautkan alisnya terlebih dahulu karena merasa heran atas pertanyaan Bos nya itu. Tapi Nadhila tetap menjawab.
"Yang bisa membimbingku hingga ke syurga."
Telak kata-kata Nadhila membuat Hessel berkecil hati. Ia sadar diri Tentang hal itu Hessel tidak percaya diri. Hessel hanya mempunyai kekayaan harta. Tapi Jika berusaha belajar tidak masalah kan?. Pikir Hessel.
"Oh begitu ya."
Lalu hening tak ada percakapan lagi diantara mereka.
Bersambung.