
"Loh, kenapa harus tersinggung sayang ... Mami hanya memastikan bahwa wanita yang kamu nikahi bukanlah wanita parasit," ujar Mami semakin menekan.
Nadhila hanya bisa menunduk saja. Ia semakin gugup di buatnya.
Terdengar nada dering dari ponsel milik Hessel, memekikkan telinga. Hessel menatap ponsel tersebut dengan mengernyitkan dahinya, namun ia langsung menjawab panggilannya.
"Hallo, ada apa?" tanya Hessel.
"Kenapa, bisa?" Hessel tercengang.
"Iya, sekarang juga saya akan ke sana,"
Hessel lalu mematikan panggilannya secara sepihak.
"Ada apa, Mas?" tanya Nadhila yang memperhatikan wajah Hessel seperti terkejut.
Hessel menghela nafas dengan kasar, "Gudang bahan di Pabrik Garmen terbakar. Dan saya harus ke sana sekarang juga,"
"Apa?" ucap Mami dan Oma bersamaan.
"Astagfirullah ...," ucap Nadhila. "Aku ikut, Mas" lanjut Nadhila.
"Mami juga ikut," ujar Mami Hessel.
Hessel mengangguk. "Oma ... di rumah saja ya, nanti Hessel pastikan akan tidur di sini," tutur Hessel seraya menyalami tangan Oma, dan di ikuti oleh Nadhila.
"Hati-hati. Semoga tidak ada korban jiwa," pesan Oma.
Hessel dan Nadhila berjalan beriringan. Terlihat Mami Hessel sudah duduk di samping kursi kemudi, berarti Nadhila harus terpaksa duduk di belakang. Hessel yang sudah melihat itu, membukakan pintu belakang untuk Nadhila masuk. Lalu mengusap lembut pipi Nadhila sebelum menutup kembali pintunya. Dan semua itu di perhatikan oleh Mami. Sehingga Mami menatap ke arah Nadhila dengan sinis.
"Jadi benar. Hessel telah di butakan oleh wanita itu seperti kata Rebecca," batin Mami.
Flashback On.
Mami Hessel sengaja ketemuan dengan Yasmin tantenya Rebecca. Yasmin adalah teman baik Delina semenjak Sekolah Menengah. Yasmin sudah duduk bersama Rebecca di sebuah kursi di Cafe terdekat.
Delina, Mami Hessel tersenyum senang saat bertemu dengan Yasmin. Keduanya saling berpelukan. Begitupun dengan Rebecca ia memeluk Delina dengan erat.
"Bagaimana kabar, suamimu jeng?" tanya Yasmin setelah mereka bertiga duduk dan memesan makanan dan minuman.
"Baik. Suamiku sedang mengurus perusahaan yang ada di sana," ujar Delina.
Kini Rebecca tersenyum menatap ibu dari mantan pacarnya itu. "Jadi tante, ke sini tidak bareng Om Wijaya?" tanyanya.
"Tidak. Tante sendiri datang ke sini karena mendadak."
"Mendadak? apa yang membuatmu mendadak datang ke Indonesia, Delina?" Yasmin bertanya.
"Kemarin lusa. Hessel anak tunggalku mengatakan telah menikahi seorang gadis. Ya tentu, aku sangat syok. Apalagi menikah sudah hampir dua minggu," tutur Delina.
"Rebecca, jadi kamu sudah putus sama Hessel?" tanya Yasmin kini. Ia belum tahu perihal bahwa Rebecca dan Hessel sudah putus. Karena Rebecca selalu mengakui kepada tantenya itu masih menjalin hubungan dengan Hessel.
"Itu terpaksa Tante. Karena Hessel menikahi gadis itu karena wasiat ibunya sebelum meninggal. Jadi aku lebih baik mengalah saja." drama Rebecca. Membuat Delina dan Yasmin tercengang.
"Kenapa kamu baik sekali sih, Nak?" Delina tangannya terulur untuk membelai bahu Rebecca, seperti menandakan bahwa dirinya bangga pada Rebecca.
"Aku terpaksa tante. Karena aku juga kenal baik dengan gadis yang di nikahi Hessel. Dan Hessel setelah mengenal gadis itu, berubah sangat drastis," ujarnya mendramatisir.
"Maksudnya bagaimana, Nak?" Delina menautkan kedua alisnya tanda tidak mengerti.
Rebecca tersenyum. Senyum kemenangan yang telah berhasil membuat drama langsung pada Mami Hessel tanpa ia duga.
"Nanti tante juga akan tahu setelah bertemu," ucapnya.
Yasmin kini merangkul bahu Rebecca. "Kenapa, kamu selalu bilang pada tante bahwa kamu baik-baik saja?" seraya mengelus punggung Rebecca dengan sayang.
Delina merasa iba. Dari dulu ia menyukai Rebecca yang selalu lemah lembut dalam berkata. Bahkan kariernya yang sudah tidak di ragukan dalam permodelan. Tanpa tahu bahwa Rebecca adalah gadis nakal yang selalu menghalalkan segala cara, demi mendapatkan uang.
"Tenang saja. Tante akan membuat Hessel menjadi milikmu lagi. Lagian, mereka hanya menikah secara siri. Dan kamu, akan bisa menduduki sebagai istri yang satu-satunya sah di mata negara dan agama," mata Delina dengan menerawang jauh merencanakan sesuatu demi membuat Hessel dan Rebecca bersatu.
Rebecca menggeleng, "Tidak perlu tante. Jangan lakukan apapun," sanggahnya.
"Tidak Nak. Tante lebih setuju kamu yang menjadi menantu tante. Bukan gadis itu yang tante tidak tahu asal usulnya," sahut Delina dengan tegas dan jelas.
Rebecca tersenyum. Dari lubuk hatinya yang paling dalam ia bersorak senang. Telah berhasil mendapatkan dukungan dari Mami Hessel.
Delina menatap jam tangan mahalnya, lalu menyeruput jus yang berada di hadapannya.
"Jeng, Maaf ya. Aku buru-buru. Aku ingin cepat melihat gadis yang telah memberi pengaruh buruk itu kepada anakku," ucapnya berpamitan. Lalu kembali Delina dan Yasmin berpelukan. Begitu juga dengan Rebecca.
"Lain kali kamu main ya, ke rumah tante," ujarnya kepada Rebecca.
"Tentu tante," sahut Rebecca dengan senang.
Delina telah pergi meninggalkan Cafe tersebut. Rebecca tersenyum puas tanpa di ketahui Yasmin.
Flashback off.
"Mi, Mami ngelamun?" tanya Hessel yang langsung membuyarkan lamunan Delina. Hessel kini sudah melajukan mobilnya menuju Pabrik Garmen yang terbakar.
"Mami hanya sedang berpikir kok, kenapa bisa gudang bahan itu terbakar dengan tiba-tiba," alasan Delina.
"Bisa juga Mi. Kita kan, tidak tahu kapan musibah itu datang," ujar Hessel. Membuat Delina mengernyitkan dahinya. Sedangkan Nadhila dengan pandangan menunduk tersenyum bangga dengan apa yang di ucapkan Hessel memanglah benar.
Tidak berselang lama Mobil yang Hessel lajukan sampai di depan gerbang Pabrik Garmen yang sudah terlihat ada dua buah mobil Damkar, dan banyak kerumunan orang yang Hessel sudah yakin mereka adalah karyawan pabrik tersebut.
Hessel keluar dengan tergesa-gesa. Begitulah Nadhila dan Delina. Keduanya berjalan menyusul langkah Hessel.
Hessel menemui salah satu Manager Pabrik Garmen tersebut, "Pak Burhan, bagaimana apa ada korban jiwa atau tidak?" tanya Hessel.
"Alhamdulillah tidak ada Pak Hessel. Hanya sepertinya bahan-bahan yang tersedia habis terbakar," tutur Pak Burhan.
"Syukurlah kalau tidak ada korban jiwa. Apa sudah di selidiki penyebab pemicu kebakaran tersebut?"
"Kata petugas Damkar. Dari konsleting listrik Pak,"
Hessel manggut-manggut. Ia merasa lega karena tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran tersebut. Walaupun sudah di pastikan banyak kerugian. Tapi tidak masalah bagi Hessel. Terpenting menurutnya nyawa para karyawan yang lebih penting.
Terdengar suara adzan Maghrib di telinga Hessel dari Mesjid seberang Pabrik milinya. Hessel kemudian melangkah mendekati Nadhila dengan tersenyum.
"Bagaimana Mas, apa ada korban jiwa?" tanya Nadhila yang merasakan cemas sedari tadi.
"Tidak ada," sahut Hessel. "Saya ke Mesjid itu dulu ya," lanjut Hessel.
"Aku ikut, Mas"
Hessel mengernyitkan dahinya, "Bukannya, lagi datang bulan?"
Nadhila menggeleng, "Aku sudah bersih,"
Hessel tersenyum senang. "Ayo,"
"Mami, kita pergi ke Mesjid dulu ya, kalau Mami tidak mau ikut. Mami tunggu saja di dalam mobil," pamit Hessel seraya berpesan.
"Iya, Mami tunggu di Mobil saja," ucapnya ketus.
Membuat Hessel menghela nafas pelan. Lalu menggenggam tangan Nadhila menuju Mesjid seberang.
Bersambung...