
Nadhila langsung melepaskan tangannya yang sedari tadi Hessel genggam. Lalu Tio yang sempat mematung dan menatap tajam. Ia berjalan menghampiri meja Hessel. Ia menaruh berkas-berkas yang harus Hessel tandatangani.
Nadhila beranjak dari duduknya. Dan melangkah mendekati Tio. Nadhila merasa tidak nyaman saat Tio menatap tajam pada dirinya.
"Pak Tio?" sapa Nadhila yang kini sudah berdiri di samping Tio.
"Hmm" Tio menjawab dengan gumaman. "Permisi," lanjutnya. Tio langsung keluar dari ruangan Hessel begitu saja.
Nadhila tercengang. Ia langsung ingin mencegah Tio untuk pergi, "Pak Tio, tunggu!!" pekiknya. Tapi, Tio seolah tidak mendengar. Ia terus berjalan melangkah dengan cepat.
"Kenapa? apa yang akan kamu bicarakan dengan Tio?" seloroh Hessel kini ia berdiri di samping Nadhila di depan pintu ruangannya.
Nadhila pun berpikir.
"Eh iya juga ya, aku harus bicara apa sama Pak Tio?. Sedangkan aku Tidak mempunyai hubungan apa-apa. Pak Tio hanya mengutarakan lamaran-nya kepada Ibu. Tapi belum aku jawab," Nadhila berbicara di dalam hatinya.
"Apa kamu sudah menerima lamaran Tio?" wajah Hessel kini memucat. Ia takut bahwa Nadhila akan menjawab kata 'sudah'.
Nadhila menggeleng dengan pelan.
Hessel bisa bernafas lega. "Lalu kenapa kamu tadi ingin mencegah ia pergi?"
"Saya takut dia salah paham Pak. Takut dia mengira kita punya hubungan. Lagian kenapa tadi bapak harus memegang tangan saya? dan kenapa pula bapak tempelkan pada dada bapak?"
Hessel terkekeh, "Ternyata kamu cerewet juga ya?" seraya menyentil dahi Nadhila tanpa menjawab yang Nadhila tanyakan. Lalu ia beranjak duduk di kursi kebesarannya.
"Ish ... sakit tahu Pak," Nadhila mencebikkan bibirnya seraya menutup pintu ruangan.
Hessel yang sudah duduk. Ia memperhatikan wajah Nadhila yang cemberut.
"Kamu lucu juga ya, kalau lagi cemberut gitu?"
Nadhila tidak menggubris ucapan Hessel. Ia terus berjalan menuju kursi kerjanya. Heninglah ruangan tersebut. Karena Nadhila dan Hessel mulai kembali bekerja.
***
Jam makan siang sudah tiba. Nadhila cepat-cepat keluar dari ruangan. Ia ingin sekali bertemu dengan Rere. Hessel nampak kecewa. Nadhila kembali acuh pada dirinya.
Hessel memilih terdiam di ruangan. Ia merasa malas jika harus ke Kantin.
Nadhila menghampiri ruangan Rere.
"Hai Re," sapa Nadhila ia berdiri di ambang pintu.
Rere melotot dengan senyum khasnya, "Ada angin apa elu datang ke sini?" seraya melangkah mendekati Nadhila.
"Ngajak ke Kantin," Nadhila dengan menyengir. Ia merasa memang setelah menjadi Sekretaris Hessel jarang ada waktu bersama Rere.
"Ya udah. Lets go!!" Rere seraya merangkul pundak Nadhila.
Nadhila dan Rere berjalan dengan saling merangkul untuk menuju Kantin.
"Dhil ... gue mau protes ya sama elu!"
"Protes apa?"
"Sekretaris itu harusnya seksi, menor, dan modis tentunya. Nah, elu tertutup begini. Cantik sih, tapi polos!"
Memang benar Nadhila walaupun menjabat menjadi sekretaris ia tetap memakai pakaian yang ia sukai. Tidak memakai rok pendek seperti sekretaris pada umumnya. Nadhila memakai celana panjang, dengan kemeja panjang, dan di lapisi blazer dari luarnya.
"Terus kalau aku jadi sekretaris, harus mengumbar aurat gitu?" Nadhila seraya duduk di meja kantin. Ia kini duduk berhadapan dengan Rere.
"Eh iya jug ya, gue lupa. Elu kan gak suka ngumbar aurat," ucap Rere dengan menyengir.
"kamu pesanin ya Re, aku males untuk ngantri,"
"Ok. Asal lu traktir gue,"
"Iya deh," Nadhila seraya mengeluarkan uang dua lembar berwarna biru.
"Lu mau makan apa?" Rere dengan menerima uang yang Nadhila berikan.
"Pengen Bakso deh, sambalnya banyakin," ujar Nadhila.
"Ok. Tunggu ya," Rere dengan cepat melangkah untuk membelikan pesanan Nadhila dengan membeli makanan yang sedang ia inginkan.
"Cerita jangan ya ke Rere, kalau Pak Tio semalam datang melamar ke ibu," gumam Nadhila di dalam hati.
Nadhila memandang lurus ke depan menatap orang-orang yang sedang mengantri di tempat penjual makanan.
"Boleh aku duduk di sini?" suara Ricky membuat Nadhila mendongak.
"Silahkan saja Rick, tempat umum ini" sahut Nadhila.
"Lagi di beliin Rere,"
Ricky menganggukkan kepala tanda mengerti. Dan tak lama Rere datang dengan membawa nampan di tangannya.
"Ini permintaan elu. Bakso granat dengan kuah sambal yang berlevel-level," Rere dengan menaruh nampan di atas meja hadapan Nadhila.
Nadhila tersenyum, "Aku hanya ingin bakso, dengan sambal di banyakin. Bukan Bakso granat dengan kuah sambal berlevel-level," seraya tangannya mulai mengaduk bakso tersebut.
"Elu protes? tapi akhirnya di embat juga?" Rere lalu melirik ke arah sampingnya. "Ah, elu Rick ... ikut gabung kita? atau ingin PDKT sama Nadhila?" sontak membuat Nadhila tersedak kuah bakso yang berkuah pedas.
Ricky buru-buru menyodorkan botol minum miliknya. Nadhila dengan cepat menerima, dan meneguknya langsung.
"Re, kalau ngomong jangan ngaco deh," Nadhila yang sudah merasa tenang, melayangkan protes kepada Rere.
"Eh serius loh gue ngomong. Tuh, yang gue tuduhnya juga diam aja!" sahut Rere dengan melirik Ricky yang nampak tenang.
Nadhila menjadi tidak nyaman jika apa yang di katakan Rere adalah benar.
"Re, aku mau menceritakan sesuatu sama kamu," dengan melirik sekilas ke arah Ricky.
"Ceritakanlah!" Rere dengan antusias.
Nadhila kembali melirik Ricky, hingga Rere mengerti bahwa Nadhila belum mau cerita jika masih ada Ricky.
"Rick, elu gak bakalan ember kan, kalau Nadhila ngomongin sesuatu ke gue sekarang juga?"
Membuat Ricky mendelik. Dan acuh dengan ucapan Rere. "Emang aku cowok apaan? harus bocorin omongan orang. Apalagi omongan Nadhila. Enggak, lah" ujarnya santai.
"Tapi ini masalah pribadi aku." Nadhila kini berucap kepada Ricky.
Ricky tersenyum, "Ceritakanlah! anggap saja aku tidak nampak," titahnya. "Kalau kamu menganggap aku teman, berbagilah jika ada keluh kesah yang akan kamu sampaikan," lanjutnya.
Nadhila tersenyum merasa menghargai perlakuan Ricky. "Terima kasih," ucapnya.
"Ish ... ayo Dhil. Ceritakan! apa yang mau kamu ceritakan!" Rere sudah tidak sabaran.
Nadhila menghela nafas terlebih dahulu, "Semalam. Pak Tio ... melamar aku ke ibu,"
Sontak Ricky terbatuk-batuk. Sehingga Rere menepuk-nepuk punggung Ricky.
"Beneran?" pekik Rere dan Ricky bersamaan.
Nadhila mengangguk.
"Dan kamu terima?" Ricky yang bertanya.
Nadhila menggeleng, "Aku belum menerimanya,"
"Kalau belum, pasti akan?" Ricky kembali bertanya. Membuat Rere tersenyum.
"Elu ini Rick, makanya dari kemarin napa jujur. Jangan terus di pendam. Di embat orang tahukan, gimana rasanya?!" hardik Rere.
Nadhila tidak mengerti. Ia menatap ke arah Rere agar menjelaskan. "Maksudnya apa? aku bercerita masalahku, tapi kamu Re malah bercerita tentang hal lain,"
"Ok. Nanti gue jelaskan. Tapi gue mau tanya dulu sama lu Dhil ... elu suka gak sama Pak Tio?" tanya Rere.
"Ya rasa suka sih ada."
"Suka dari hal apa?"
"Suka apa ya?. Dari kepribadiannya, dia sopan baik, em ... pekerja keras,"
"Terus ada gak, sedikit rasa cinta sama dia?"
"Hah, cinta? aku gak ngerti yang gimana itu cinta?"
Rere menepuk dahinya. "Rick, coba lu yang jelasin. Gue takut salah menjelaskan!"
Ricky mengangguk, kemudian ia mulai menatap Nadhila dengan tatapan penuh arti, "Jujur aku gak munafik. Aku pernah menjalin cinta dengan seseorang. Cinta itu adalah rasa manis yang di rasakan seseorang jika kala bertemu. Terus kalau sehari saja tidak berjumpa, rasa gundah melanda. Dan jika saling bertatapan ritme jantung berdetak tak karuan, lalu apabila seseorang itu dalam keadaan sakit atau kesulitan kita akan merasakan khawatir yang sangat berlebih,"
Nadhila mendengar apa yang di jelaskan oleh Ricky dengan seksama, bahkan Nadhila beradu pandang. Netra matanya tepat menatap netra milik Ricky. Hingga semua yang di ucapkan Ricky itu di benarkan di dalam benak Nadhila.
"Aku merasakan itu semua ketika aku berdekatan dengan Pak Hessel. Bahkan tadi saja, aku mendengar Pak Hessel sakit, aku sangat mengkhawatirkan-nya. Oh ya Tuhan Pak Hessel, dia sedang sakit. Aku harus cepat-cepat ke ruangannya,"
Nadhila langsung beranjak dari duduknya. Ia teringat akan Hessel yang sedang sakit.
"Re, Rick ... maaf aku harus kembali ke ruangan ku," Nadhila langsung melangkah cepat membuat Rere dan Ricky saling pandang dengan rasa tidak mengerti.
Bersambung.