Nadhila Story

Nadhila Story
Hessel Syok.



Setelah Nadhila menyelesaikan masakan nya. Ia menatap teh yang sedari tadi belum ia minum di atas meja. "Ya Ampun ... itu 'kan teh yang mami buatkan," ucapnya dengan mendekati cangkir teh tersebut. Perlahan Nadhila mengambilnya, kemudian ia mulai meneguknya.


Setelah menghabiskan teh manis buatan Delina. Nadhila langsung meninggalkan dapur. Berniat akan membersihkan badan, dan menyambut kedatangan Hessel.


Delina tersenyum saat melihat Nadhila masuk ke dalam kamar. Berharap Nadhila cepat terlelap, dan Delina akan menyusun rencana saat nanti Hessel pulang.


Nadhila saat habis mandi terus saja menguap merasakan kantuknya yang sangat berat. Dengan tergesa-gesa ia memakai piyama tidur, dan cepat menyisir rambut.


"Kenapa ngantuk sekali ya?" dengan menguap Nadhila bermonolog. Merasakan kantuknya yang benar-benar berat. Tidak biasanya ia merasakan kantuk seperti sekarang ini. Padahal waktu Magrib tinggal setengah jam lagi, yang menurutnya begitu tidak baik jika harus tertidur.


Tapi karena rasa kantuknya yang sangat berat. Nadhila langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sampai ia meninggalkan handuk basah di atas kursi meja rias, yang biasanya tidak pernah ia lakukan.


Sementara itu, Delina yang merasa bahwa Nadhila sudah tertidur. Membuka pintu kamar Nadhila perlahan. Dan benar saja. Delina melihat Nadhila sudah tertidur pulas di atas ranjang. Senyum merekah pun di bibir Delina saat ini.


"Selamat tidur menantu kesayangan," ucapnya. Dan menutup cepat pintu kamar Nadhila.


Mengingat bahwa putranya akan pulang sebentar lagi. Delina berpura-pura menyusun piring-piring di atas meja, dan menuangkan air minum pada masing-masing gelas.


Selang beberapa menit, Hessel pulang dengan wajah yang berseri. Karena Hessel sudah tidak sabar dengan malam ini. Hingga langkah lebarnya langsung menuju dapur dimana biasanya Nadhila berada.


"Wah, masakan nya sepertinya enak ni?" Hessel langsung berceletuk mengira bahwa Nadhila yang sedang menyusun makanan di meja.


"Loh, Mami?" Hessel dengan wajah bingung. Perkiraan nya saat ini salah. Ternyata yang berada di dapur adalah Maminya.


"Eh, Hessel. Mau makan sekarang?" tanya Delina langsung menawari putranya makan.


Hessel menggeleng, "Nadhila mana Mi?" tanya nya langsung.


"Nadhila tadi masuk kamar," jawab Delina.


Hessel langsung melangkah menuju kamar. Dan pemandangan pertama adalah melihat Nadhila yang sedang tertidur lelap.


"Kenapa sih sekarang Nadhila selalu ketiduran? biasanya ia akan menyambut aku saat pulang," tanya Hessel dalam hatinya seraya melangkah masuk ke dalam kamar.


Pertama Hessel menaruh tas kerjanya, dan membuka jas yang melekat pada tubuhnya. Lalu duduk sejenak di pinggir ranjang dengan menatap wajah teduh Nadhila yang terlelap.


"Apa kamu kelelahan, sehingga sekarang kamu gampang tertidur?" tanya Hessel pada dirinya sendiri.


Hessel berpikir mungkin Nadhila kelelahan karena sudah mengurus Delina serta mengurus rumah. Maka Hessel berniat ingin kembali ke rumahnya agar Nadhila hanya fokus untuk mengurusnya. Di rumah besarnya tentu ada banyak pelayan, sehingga Nadhila tidak akan kelelahan.


Hessel setelah merasa cukup untuk berdiam. Ia akhirnya melenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Hingga beberapa menit kemudian, Hessel keluar dengan sudah mengenakan handuk.


"Nadhila ... sayang bangun! sebentar lagi magrib," kata Hessel dengan mengguncang bahu Nadhila pelan.


Namun, tidak ada respon dari Nadhila hanya suara helaan nafas yang teratur terdengar oleh Hessel.


Hessel hanya menggeleng, kemudian memakai baju yang ia ambil dari dalam lemari.


Setelah rapih dengan baju koko pendek serta sarung. Hessel meraih kopiah hitam yang tergantung di kapstok.


"Lebih baik aku ke Mesjid saja. Sudah lama gak shalat berjamaah," gumam Hessel.


Hessel pun keluar kamar. Dan berpapasan dengan Delina yang sedang berjalan menuju kamarnya.


"Mi, aku ke mesjid dulu ya," ujar Hessel.


Delina merespon dengan mengangguk.


Setelah Hessel benar-benar keluar dari rumah. Delina berbicara sendiri, sebab merasa bingung dengan raut wajah Hessel yang seperti biasa.


"Kenapa tidak ada raut wajah kesal atau marah ya? apa Nadhila sudah bangun? ah masa?"


Delina pun mengetuk pintu kamar Nadhila demi memastikan, bahwa Nadhila sudah bangun atau belum. Satu ketuk, dua ketuk, hingga ketukan berikutnya tidak ada sahutan dari dalam. Sehingga Delina membuka pintu kamar tersebut.


"Ah syukurlah masih tidur," gumam Delina dengan cepat menutup kembali pintu kamar Nadhila.


Delina pun memilih duduk santai di ruang tengah dengan menonton televisi. Menunggu kedatangan Hessel dari Mesjid.


Selang beberapa lama, Hessel datang dengan mengucap salam.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikum salam," jawab Delina.


"Mi, Nadhila mana?" Hessel menyangka Nadhila sudah bangun dan Delina tahu sedang apa istrinya itu.


"Dari tadi di dalam kamar, bahkan belum keluar sejak tadi," sahut Delina seolah tidak tahu.


Hessel pun langsung melangkah ke dalam kamarnya. Dan masih di suguhkan dengan pemandangan istrinya yang masih tertidur.


"Padahal waktu sudah magrib. Nadhila, sampai melewatkan nya," gerutu Hessel yang mulai merasa bingung.


Karena perutnya yang merasa lapar. Hessel pun keluar kembali dari kamar, dan menghampiri Delina.


"Mi, kita makan yuk! aku sudah lapar," ajak Hessel.


Delina mengangguk, "Istrimu mana?"


"Tidur. Kita aja yang makan," Hessel dengan langsung melangkah menuju dapur.


Delina yang menyusul. Tersenyum lebar. Mendengar nada Hessel yang terlihat kesal.


"Mau sama apa? biar Mami ambilkan,"


"Gak usah Mi. Biar aku saja," tolak Hessel yang tidak mau merepotkan Delina.


"Istrimu itu malah tidur. Seharusnya melayani kamu sebagai suaminya," kata Delina mulai memprovokasi.


Hessel tidak menimpali. Ia tetap santai menuangkan lauk pauk pada piringnya.


"Jadi Nadhila sempat memasak Mi?" tanya Hessel setelah melahap makanan nya. Dan Ia tahu dengan rasa masakan Nadhila.


Delina tadinya mau mengakui dirinya yang memasak. Namun, Hessel malah sudah menebak duluan.


"Iya tadi masak. Dan setelah masak ia langsung ke dalam kamar. Mami tidak tahu, kalau Nadhila sudah tidur,"


Hessel tetap melanjutkan makan nya. Berharap sebentar lagi Nadhila akan terbangun.


"Mi, bagaimana sekarang kondisi Mami, apa sudah baikan?" Hessel sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Ya namanya juga penyakit dalam. Walaupun terlihat bugar dari luar, tapi mami merasakan gak enak dengan badan Mami,"


"Mami sih kenapa gak mau berobat di luar negeri?"


"Enggak Nak. Mami ingin di sini saja. Dokter Rendy pun mampu merawat Mami, bahkan khasiat obatnya lumayan. Karena Mami meminta obat yang bagus,"


Hessel sudah menyelesaikan makan nya.


"Ya kalau itu mau Mami. Aku gak bisa maksa. Yang penting Mami nyaman. Karena Mami yang merasakan nya," Hessel tahu jika Maminya itu memang tipe keras kepala. Sehingga Hessel menurut saja.


"Mami cuma ingin pikiran Mami tenang saja," kata Delina lirih.


"Emang selama ini Mami memikirkan apa sih?" Hessel penasaran. Kendati ia sebagai anak tidak mau sampai ibunya berpikiran keras, bahkan sampai tidak tahu apa yang di pikirkan nya.


Delina menggeleng, "Tidak Nak,"


"Ayo Mi katakan sama aku!" desak Hessel.


Delina menatap wajah putranya dengan tatapan sendu, "Tapi, Mami gak mau kalau kamu sampai marah dengan permintaan Mami ini. Itulah yang selalu Mami pikirkan selama ini,"


Hessel kini meraih kedua tangan ibunya, "Katakan Mi, aku berjanji tidak akan marah dengan permintaan Mami itu!" janji Hessel. Hessel akan berusaha untuk memenuhi keinginan ibunya tersebut.


"Mami ingin kamu menikahi Rebecca," suara Delina dengan jelas.


Repleks Hessel melepaskan tangan ibunya yang tadi sempat ia genggam.


"Mi, apa ada yang lain permintaan Mami? jangan aneh-aneh deh," Hessel berharap ada lagi keinginan ibunya selain menikahi Rebecca.


Delina menggeleng, "Gak ada. Malahan Mami sudah membicarakan nya dengan Nadhila. Bahkan Nadhila setuju kok. Hanya dia mau mencari waktu yang pas untuk membicarakan nya pada mu,"


Hah? Hessel melongo, sungguh merasa syok dengan ucapan Delina. Yang mengatakan bahwa istrinya sudah menyetujui dengan permintaan nya itu. Apa iya ada wanita yang mau suaminya di bagi? pikiran Hessel langsung merasa kecewa.


Bersambung....