Nadhila Story

Nadhila Story
Sekretarisku, Istriku



Keduanya kini sudah masuk kedalam rumah. Sungguh Nadhila gugup harus serumah dengan Hessel. Walaupun di kantor ia seruangan. Namun, beda dengan sekarang. Ia bahkan akan semalaman, bahkan sampai malam-malam berikutnya.


"Oh tidak, " gumam Nadhila dengan menggeleng-gelengkan kepala. Ia kini duduk di sofa ruang tengah. Pikirannya terus berputar-putar memikirkan hal-hal yang membuat dirinya pusing.


Hessel yang baru saja dari arah dapur. Menatap istrinya itu dengan heran. "Dhila ... kamu kenapa?" tanyanya.


Nadhila menoleh dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Tidurlah. Saya tahu kamu pasti lelah seharian ini. Maksudnya lelah menangis," seloroh Hessel dengan nada bercanda.


Nadhila mendelik. Kemudian ia langsung beranjak dari duduknya. Ia berjalan melangkah melewati Hessel.


"Hei istriku, apa kamu akan berbagi ranjang untuk ku?"


Nadhila menelan salivanya dengan kasar. Saat mendengar pertanyaan Hessel yang menanyakan perihal ranjang. Sehingga langkahnya terhenti.


"Belum siap ya? ya sudah saya akan menunggu," ujar Hessel dengan berbaring di atas sofa.


Nadhila menoleh sebentar. Kemudian ia meneruskan kembali langkahnya ke arah kamarnya. Nadhila gugup saat memasuki kamar. Ia takut Hessel masuk dan tertidur di atas ranjangnya. Ia lekas mengunci pintu kamar.


"Ibu ... Dhila masih gak percaya, kalau ibu secepat ini akan meninggalkan Dhila ...," Air mata dari pelupuk mata Nadhila pun tumpah. Kini Nadhila merangkak ke atas ranjang. Dan menyelimuti tubuhnya.


Dengan mata yang menangis. Nadhila menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Membayangkan kenangan-kenangan bersama Almarhumah sang ibu.


"Ibu ... aku tidak tahu apa keputusan menikah dengan Pak Hessel, adalah keputusan yang benar atau pun sebaliknya. Namun, demi memenuhi wasiat darimu. Aku rela melakukannya. Semoga ibu bahagia. Dan semoga ibu tenang."


Perlahan mata Nadhila tertutup rapat. Rasa kantuk dan lelah membawa dirinya cepat ke alam mimpi.


Esok Paginya...


Nadhila terbangun saat mendengar kumandang adzan subuh. Ia menggeliat, dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Saat hendak buang air. Ternyata ia dapat tamu bulanan.


"Pantas saja, aku merasa mules," gumam Nadhila saat melihat ada darah di celananya.


Nadhila pun cepat-cepat membersihkan diri. Menuntaskan ritual membersihkan diri. Dengan gerakan cepat. Ia langsung keluar kamar, dan memakai baju untuk bekerja.


Setelah selesai memakai baju. Nadhila bercermin dan memoles make-up tipis di wajahnya, menyisir dan mengikat rambut.


Nadhila keluar kamar setelah merasa puas dengan penampilannya. Ia melangkah ke arah dapur.


"Oh, iya ... apa Pak Hessel sudah bangun atau belum ya?" gumam Nadhila. Ia memilih melangkah ke arah kamar tamu. Namun, baru saja ia ingin melangkah ke arah kamar tamu. Ia di kejutkan dengan Hessel yang baru saja masuk dari arah luar. Sepertinya Hessel baru saja menunaikan shalat subuh di mesjid.


"Pagi," sapa Hessel dengan tersenyum.


"Pagi juga, Pak" sapa Nadhila kembali.


Kecanggungan kembali menghinggapi. Nadhila merasa tidak punya kata-kata untuk berbasa-basi. Ia terus mematung dan menunduk.


Sementara Hessel mengulas senyum tipis. Dan melangkah menghampiri sofa.


"Kamu mau kerja hari ini?" tanya Hessel saat melihat penampilan Nadhila sudah rapih dengan baju kantornya.


"Iya, saya mau kerja," sahut Nadhila masih dengan menunduk.


"Lebih baik kamu libur dulu. Bukannya ada jatah cuti untuk siapa saja keluarganya yang meninggal?" Hessel dengan menatap Nadhila yang terus menunduk.


"Tapi saya, pasti merasa sepi jika diam di rumah. Lagian saya tidak apa-apa, kok" sahut Nadhila.


"Bisa tidak kalau bicara itu tidak harus menunduk?!" protes Hessel.


Nadhila pun menegakkan kepalanya. Ia menatap Hessel sejenak, dan mengarahkan tatapannya pada bahu Hessel.


"Huh ... ya, sudah kamu lebih baik buat sarapan saja!" akhirnya Hessel menyuruh Nadhila agar pergi dari hadapannya.


"Baik, Pak" Nadhila dengan cepat membalikkan badan, melangkah menuju dapur.


Hessel menonton acara News di pagi itu. News di pagi itu menyuguhkan tentang bisnis dunia. Dari berbagai macam bisnis yang di tonton Hessel. Seakan Hessel membandingkan perusahaan yang kini ia kelola.


Semerbak aroma masakan masuk ke indra penciuman. Sehingga Hessel lebih memilih menghampiri sumber aroma wangi tersebut. Ia melangkah menuju dapur. Terlihat Nadhila sedang memasak nasi goreng.


"Sekretarisku, istriku" celetuk Hessel membuat Nadhila menoleh ke arahnya.


"Kenapa? benarkan?" Hessel dengan menaikkan salah satu alisnya, seraya menarik salah satu kursi yang menghadap meja makan.


Nadhila tidak menggubris ucapan Hessel. Ia kembali fokus pada wajan yang ada di atas kompor. Setelah merasa matang masakannya. Nadhila pun mematikan kompornya. Dan mengambil dua piring. Lalu piring itu ia isi dengan nasi goreng yang Nadhila buat.


"Em ... dari wanginya, sepertinya enak" Hessel memuji, saat Nadhila menaruh piring yang sudah ia isi nasi goreng ke hadapannya.


"Maaf. Hanya itu yang bisa saya buat pagi ini. Karena bahan masakannya ternyata sudah habis," Nadhila seraya duduk di kursi yang berada di sebrang Hessel.


"Tidak apa-apa. Nanti sepulang kerja, kita belanja,"


"Apa bapak mau tinggal di rumah ini?" tanya Nadhila. Membuat Hessel menghentikan gerakan sendok yang akan mulai menyuapi nasi goreng kemulutnya.


"Apa kamu keberatan saya tinggal di sini?" tanya Hessel dengan serius.


"Tidak. Hanya saya tidak enak saja. Jika Pak Hessel harus tinggal di rumah kecil ini," sahut Nadhila dengan biasa menunduk.


"Saya tidak pernah mempermasalahkan tentang tempat tinggal. Yang penting sekarang saya tinggal bersama istri saya. Selama istri saya nyaman di tempat yang ia pilih. Saya juga tidak akan memaksa, untuk ikut ke rumah milik saya," Hessel dengan menatap Nadhila.


Nadhila kini memberanikan diri untuk menatap ke arah Hessel. Sehingga netra matanya bertemu dengan netra mata milik Hessel.


"Boleh saya bertanya?" tanya Nadhila dengan hati-hati.


"Silahkan! apa yang ingin kamu tanyakan?" sahut Hessel dengan santai menyuap nasi goreng yang baru pertama ia masukkan ke dalam mulutnya.


"Kenapa bapak, bersedia menikahi saya untuk memenuhi wasiat almarhumah ibu?"


Hessel menatap wajah Nadhila dengan dalam. Tersirat wajah yang serius ia perlihatkan kepada Nadhila.


"Karena saya benar-benar ingin menjadikan mu istri. Dan yang paling utama --" Hessel sengaja menjeda, lalu kini tangannya meraih tangan Nadhila yang berada di atas meja. Ia menggenggam tangan Nadhila dengan erat. Membuat Nadhila merasa gugup.


"Dan yang paling utama. Karena saya mencintai kamu, Nadhila Sahila Puteri ...," ucap Hessel seraya kini ia mengecup tangan Nadhila.


Nadhila tercengang. Ada rasa senang saat Hessel mengatakan kata cinta pada dirinya. Sehingga ia mengulas senyum tanpa Hessel tahu.


"Bagaimana?, apa sekarang kamu mengerti alasannya?" Hessel bertanya memastikan Nadhila telah mengerti.


Nadhila mengangguk, "Sejak kapan bapak mencintai saya?" tanya Nadhila hati-hati.


"Sejak kapan ya? saya lupa lagi. Jadi sekarang saya mohon. Panggil suamimu ini dengan benar!"


"Memang saya selama ini, tidak benar memanggil bapak?"


"Panggil suamimu dengan panggilan yang enak di dengar. Bukan Bapak, seperti di kantor. Karena kamu sekarang istri saya, dan saya sekarang suami kamu,"


Nadhila menatap Hessel dengan bingung.


"Jadi saya harus panggil apa?"


"Pikirkan saja!. Sekarang Saya mau mandi,"


Hessel beranjak bangkit dari kursinya, dan melangkah pergi meninggalkan ruang dapur.


***


Bersambung...