
Tio yang dalam keadaan marah serta kecewa. Kini masih di liputi emosi. Tio kini sedang menenangkan diri di pinggir danau yang tidak jauh dari gedung perusahaan Hessel. Tio memandang lurus air yang begitu tenang itu. Melempar satu persatu batu kecil yang ada di hadapannya ke arah danau itu.
"Sungguh menyedihkan sekali, yang di tolak cinta!" celetuk seorang wanita yang sejak tadi mengikuti arah kepergian Tio. Rebecca menemukan cara untuk mengambil Hessel dari Nadhila setelah melihat wajah prustasi Tio. Ia akan mencoba mengajak bekerja sama.
Tio mendongak dengan ekspresi dingin dan datar menatap Rebecca yang duduk di sampingnya. Kemudian beralih kembali menatap Danau yang sedari tadi ia pandangi.
"Sepertinya kau begitu mencintainya?" Rebecca dengan tersenyum menyeringai. Lalu Tio tidak menyahuti sedikitpun. Seakan Tio tidak mendengar bahwa Rebecca sedang berbicara kepadanya.
"Nasib kita sama. Sama-sama di tolak," cicit Rebecca kembali. Ia sedikit merasa kesal karena Tio masih terus mengabaikannya. Tapi Rebecca akan menepiskan rasa kesalnya, demi mencapai tujuannya.
Lalu Rebecca kembali berbicara, "Aku tadi mendengarkan semuanya. Kalau Hessel menikahi wanita itu, karena wasiat mendiang ibunya wanita itu. Berarti tidak ada cinta pada keduanya," tukas Rebecca. Membuat Tio seketika menatap ke arahnya dengan tatapan dingin.
"Jika Nona ingin terus mengoceh di sini, lebih baik pergi! saya tidak butuh di temani oleh orang yang sangat berisik!," Tio kembali memandangi danau yang sejak tadi menjadi pusat pandangannya.
Rebecca menggeram kesal. Tentu jika bukan mempunyai maksud lain. Rebecca enggan jika harus mendekati Tio pria yang lebih dingin dari Hessel, menurutnya. Tapi seketika Rebecca terpesona oleh wajah Tio yang tampan.
Rebecca kembali membuka suara, "Aku tidak masalah, di bilang orang yang berisik. Aku hanya ingin menjadi temanmu saja," ucapnya meyakinkan Tio.
Tio dengan masih memandang danau, keningnya mengkerut. Tentu, ia merasa heran mendengar Rebecca yang secara tiba-tiba ingin menjadi temannya.
"Apa maksudmu?" Tio bertanya akhirnya.
Rebecca mencondongkan tubuhnya ke arah Tio. Membuat dadanya yang membusung menempel tepat di punggung Tio.
"Kau ternyata tidak bisa di ajak basa-basi, ya?" perlahan tangan Rebecca mengelus rahang Tio yang kokoh, "Kau ternyata sangat tampan. Hanya kau sedikit kaku dan dingin," dengan suara sensual Rebecca tangannya beralih pada dada bidang Tio. Dan memainkan kancing kemeja Tio yang melekat.
Seketika Tio mendorong bahu wanita itu dengan cepat-cepat. Ia pria normal. Walau ini baru pertama ada wanita yang begitu berani menyentuhnya. Tetap saja Tio tidak mau sampai terbawa suasana.
"Apa mau mu?" Tio menatap tajam Rebecca.
Rebecca dengan santai ia hanya tersenyum, "Kenapa kau terlalu buru-buru? bisakah, kita main-main terlebih dahulu. Aku bisa mengajarkan bagaimana cara menghadapi wanita dengan baik. Dan aku tahu, kau pria polos, kaku, serta dingin. Makanya wanita yang kau cintai, tidak mau denganmu. Karena kamu terlalu pendiam, tidak seperti Hessel yang sudah lihai dalam memainkan wanita," Rebecca bisa melihat Tio terdiam setelah mendengar ucapannya. Tio seperti sedang termakan ucapan Rebecca. Dan Tio seketika menyadari itu semua. Ia memang menyadari dirinya yang tidak mempunyai pengalaman dalam percintaan, apalagi menyentuh, pacaran saja ia tidak pernah. Sedikit Tio ingin mempertimbangkan ajakan Rebecca tersebut.
Rebecca kembali mendekati Tio. Rebecca yang sangat kesepian akan belaian pria. Ia merasa ingin mengajak Tio yang polos untuk di ajaknya bermain-main. Rebecca dengan tidak tahu malu. Ia duduk di pangkuan Tio, dengan tangannya ia kalungkan pada leher kokoh milik Tio. Membuat Tio melotot kaget, tentunya. Jantungnya langsung berdetak tidak karuan, serta aliran panas tiba-tiba menjalar pada seluruh tubuhnya. Tio akui itu adalah hasrat gairah.
Tio ingin melepaskan Rebecca yang anteng duduk di pangkuannya. Tapi Rebecca dengan cepat mencium bibir tipis Tio, dengan rakus. Seperti wanita yang begitu sangat kesepian. Mendambakan sentuhan dari seorang pria. Tangan wanita itu menekan-nekan tengkuk Tio agar memperdalam ciumannya.
Tio yang baru merasakan. Ia terdiam kaku. Merapatkan bibirnya. Tapi, sentuhan bibir dari Rebecca telah membangunkan sesuatu yang di duduki Rebecca. Apalagi tubuh Rebecca yang mulus, dengan balutan dress mini, sungguh menambah gairah kelakian Tio yang baru saja tersulut. Dengan tubuh Rebecca yang kini begitu menempel dengan tubuh Tio. Membuat rasa panas itu semakin menjalar pada tubuh Tio.
"Pasti itu adalah ciuman pertama mu?" tebak Rebecca dengan membelai lembut bibir Tio. "Bagaimana rasanya?" Rebecca memancing respon Tio. Ingin mendengar bahwa Tio sangat menikmatinya. Entah mengapa. Rebecca sampai lupa pada tujuan awalnya yang akan meminta kerja sama dengan Tio. Untuk merusak hubungan antara Hessel dan Nadhila. Namun, Rebecca malah tidak bisa menyangkal bahwa Tio penuh dengan pesona. Sehingga Rebecca menjadi ingin menyentuh tubuh Tio.
Tapi, dugaan Rebecca sangat salah. Tio dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Rebecca, sehingga Rebecca terlepas dan terjatuh pada tanah. Untung saja tanah itu di lapisi rumput sintetis, sehingga Rebecca tidak terlalu kesakitan.
Tio masih dengan tampang dingin dan datar yang ia tunjukkan. Padahal di balik dadanya ada jantung yang sudah berdetak karuan. Dengan gairah yang sudah menjalar pada tubuhnya.
"Auw ...!!" pekik Rebecca meringis kesakitan. Sehingga Tio dengan repleks mengulurkan tangannya membantu Rebecca untuk berdiri. Tio yang memang notaben pria berhati lembut. Saat melihat Rebecca kesakitan, ia tidak tega melihatnya.
"Maaf!," lirih Tio. Lalu melepaskan tangannya yang baru saja membantu Rebecca berdiri.
Rebecca lagi-lagi hanya tersenyum, ia seperti tertantang untuk terus menggoda Tio. Merasa sedikit terhibur walau Tio bersikap datar dan dingin kepadanya.
"Bagaimana? apa kamu mau bekerja sama denganku?" Rebecca kembali menawari. Ia mengingat pada tujuan awalnya untuk mendekati Tio.
"Nanti saya pikirkan," ujarnya. Lalu kembali duduk di bangku tadi.
Rebecca pun ikut duduk di sebelah Tio. Tak menyerah untuk menawari.
"Aku akan mengajarkan bagaimana rasanya bercinta. Aku tahu, kau sepertinya sangat begitu polos. Aku akan senang hati membantu, dan mengajarimu bagaimana bermain di ranjang," suara Rebecca begitu sensual. Membuat Tio semakin geram. Dengan wajah memanas.
Tio menatap Rebecca dengan tajam. Seperti mata elang yang akan siap memangsa mangsanya.
"Apa anda tidak malu Nona?" Tio menjeda ucapannya. "Sebagai wanita seharusnya anda menghormati diri anda sendiri, bukan mempermalukan diri anda sendiri dengan menawari hal seperti itu. Pantas saja anda di tinggalkan Pak Hessel. Karena anda wanita yang begitu tak patut di dekati!!," hardik Tio.
Tio mengepalkan tangannya, "Sungguh anda wanita yang tidak tahu malu, menciumi pria yang sedang prustasi!!" tukas Tio masih dengan tatapan tajam.
Tapi Rebecca hanya tersenyum manis. Seperti tidak merasa sakit atau tersinggung karena hardikan Tio. Ia malah terus menatap dengan menyeringai.
"Lihat aku akan bermain-main dengan mu, wahai pria kaku!" Rebecca tersenyum seraya membatin. Ia merasa tertantang dengan sikap penolakan Tio.
Padahal di dunia permodelan. Rebecca sudah di cap sebagai wanita yang sangat menggoda bagi pria. Banyak para photografer, dan produser yang sudah tidur dengannya. Hanya dulu Kekasihnya saja yang tidak mau tidur dengannya, yaitu Hessel. Dan sekarang Rebecca merasa tertantang untuk mencoba mendekati Tio. Walau tujuannya untuk memperalat Tio, demi memisahkan Hessel dengan Nadhila.
***
Bersambung...