Nadhila Story

Nadhila Story
Tio Bertamu.



Nadhila pulang dengan menaiki Taksi. Motornya sengaja ia tinggal di Parkiran Kantor. Karena rencana Hessel sebelumnya yang mengajak Nadhila pergi membeli buku dan mengajak ke rumahnya. Namun, rencana itu batal. Hessel sendiri yang membatalkannya.


"Assalamu'alaikum ...," salam Nadhila saat masuk ke dalam rumah. Seperti biasa Ibu Nadhila tengah berkutat di dapur menyiapkan masakan untuk makan malam nanti.


"Wa'alaikum salam," sahut Ibu Nadhila dari arah dapur.


Nadhila langsung bergegas ke dalam kamar. Ia masih merasa kesal terhadap Hessel bos yang semaunya menurut Nadhila. Ia kini memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dan tak lama ia langsung terlelap.


Hingga waktu Magrib. Ibu Nadhila merasa heran tidak melihat Nadhila keluar dari kamar. Membuat Ibu Nadhila memutuskan masuk ke dalam kamar Nadhila.


"Ya Ampun Nak ... ternyata kamu tidur, berarti kamu belum shalat magrib. Ayo bangun!!" pekik Ibu Nadhila saat sudah masuk ke dalam kamar dan melihat Nadhila yang tertidur di atas ranjang.


Nadhila hanya menggeliat. Ia sangat berat untuk membuka matanya yang terpejam.


"Dhila ... tidak baik kamu tertidur di saat waktu magrib seperti ini, Pamali! ayo bangun!!"


Nadhila akhirnya membuka mata. Setelah ia sadar telah tertidur di waktu magrib.


"Maaf bu ... Dhila ketiduran," ucapnya. Lalu Nadhila melenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan setelah itu ia akan melaksanakan shalat magrib.


***


Nadhila dan ibu kini sedang makan malam bersama. Dengan menu masakan rendang ayam, kentang balado, dan tumis buncis. Menu sederhana namun, membuat selera makan Nadhila tergugah.


Setelah makan selesai Nadhila beranjak melangkah ke dalam kamar kembali. Ia ingin menonton drama paforitnya. Namun, baru saja Nadhila ingin menonton. Ibu Nadhila mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa bu?" tanya Nadhila setelah membukakan pintu kamarnya.


Ibu Nadhila tersenyum, "Itu Nak ... di depan ada teman kerja kamu,"


Nadhila mengernyitkan dahinya, "Siapa bu?"


"Temui dulu, Nak ... ibu juga belum tahu. Teman mu itu pria," ujar Ibu Nadhila seraya menyuruh Nadhila menemui tamunya.


Nadhila mengangguk dengan perasaan bingung. Siapa teman kerjanya yang bertamu di malam ini. Ia pun akhirnya melenggang melangkah ke arah depan untuk menemui tamunya itu.


Mata Nadhila terbelalak saat melihat tamunya itu yang sedang duduk di kursi teras. Tamu itu Adalah Tio. Asisten Bosnya di kantor.


"Pak Tio?" sapa Nadhila dengan mata melotot.


Tio tersenyum, dan berdiri mendekati Nadhila yang berdiri di ambang pintu.


"Hei ... kenapa melotot begitu? bukannya saya sudah bilang tadi siang, bahwa saya akan datang kerumah mu," ucap Tio mengingatkan.


Astagfirullah ... Pak Tio serius dengan ucapannya. Batin Nadhila.


"Pak Tio, ayo silahkan masuk!" Akhirnya Nadhila menyuruh Tio masuk ke dalam rumahnya.


Tio mengangguk senang, bahkan senyumannya tak lepas ia lontarkan kepada Nadhila.


"Silahkan duduk Pak!, Saya mau bawa minum dulu," Nadhila langsung melangkah menuju dapur. Ia bertemu Ibunya yang sedang merapihkan piring-piring yang sudah dicucinya.


"Dhila siapa temanmu itu?" tanya Ibu yang ingin tahu.


"Pak Tio bu, dia Asisten Direktur di kantor," sahut Nadhila mengatakan yang sebenarnya.


"Ibu akan ikut menemui. Ibu rasa dia datang tidak hanya untuk bertamu saja. Namun, ada hal lain," Ibu Nadhila begitu yakin bahwa Tio datang dengan niatan lain.


"Hah ibu ini ... ada saja pikirannya! mana iya, dia datang dengan hal lain," sanggah Nadhila.


"Ya sudah, Nanti akan ibu tunjukan kepadamu,"


Nadhila kembali menemui Tio di ruang tamu. Dengan tangannya membawa nampan yang di atasnya terdapat air mineral dan berbagai cemilan. Ibu pun ikut menemui sesuai yang ia katakan tadi kepada Nadhila.


"Silahkan Pak Tio, diminum airnya dan di cicipi cemilannya," ucap Nadhila seraya mendudukan tubuhnya di atas sofa.


Tio mengangguk. "Tentu saja," ucapnya. Dan pandangannya ia alihkan kepada Ibu yang duduk di sebelah Nadhila.


"Bu ... kedatangan saya kemari. Ada niat lain di baliknya," ucap Tio dengan menatap Ibu Nadhila.


"Niat lain, apa ya?" tanya Ibu berpura-pura tidak mengerti. Padahal ia sangat yakin bahwa kedatangan Tio ada maksud lain. Karena tidak biasanya, Nadhila dapat tamu teman pria di rumahnya.


Tio menghirup nafas dengan perlahan lalu ia hembuskan kembali dengan perlahan.


"Saya ingin melamar anak ibu," ucap Tio to the point.


Ibu Nadhila tersenyum hangat. Ia menyukai sosok Tio yang rapi, sopan, dan wajahnya yang sangat tampan.


"Ibu serahkan saja kepada Nadhila. Karena anak ibu yang akan menjalaninya." Ibu dengan melirik Nadhila..


Nadhila tercengang, karena ibunya menyerahkan semuanya kepada dirinya.


Tio kini menatap Nadhila, "Bagaimana Dhila? apa kamu bersedia menjadi teman hidup saya?" ujar Tio.


Nadhila tidak mau gegabah dalam menentukan pasangan hidup.


"Boleh saya beristikharah terlebih dahulu?" tanya nya.


Tio tersenyum, "Boleh. Jika kamu sudah mendapatkan jawaban. Kamu boleh mengatakan langsung kepada Saya. Saya akan menunggunya,"


Nadhila tersenyum dengan mengangguk. Akhirnya perasaan yang tidak karuan itu pupus setelah Tio memilih pamit. Dan tidak mau berlama-lama bertamu.


"Dhila ... menurut ibu. Tio itu anak yang baik. Ia sopan dan tentunya Tampan," ujar Ibu mengatakan pendapat dirinya tentang Tio.


"Memang begitu bu. Tapi, Dhila tidak mau gegabah dalam memilih pasangan. Dhila ingin beristikharah terlebih dahulu,"


Ibu tersenyum hangat. "Ya itu lebih baik. Semoga saja Tio ada di dalam istikharah mu," ucap Ibu lalu ia beranjak ke dalam kamarnya.


Nadhila masih terduduk di sofa. Ia kini tidak ada mood untuk menonton drama paforitnya. Bahkan rasa kantuk tidak datang menyerangnya.


Nadhila memilih ingin menelpon Tio agar ia tahu kenapa alasannya Tio melamar dirinya.


Dengan dua kali dering tunggu Tio menjawab panggilannya.


"Hallo, Dhila?" sapa Tio di sebrang telepon.


"Assalamualaikum ... Pak Tio."


"Wa'alaikum salam, ada apa Dhila?"


"Pak Tio sudah sampai rumah?" tanya Nadhila basa-basi.


"Baru saja."


"Boleh saya bertanya?"


"Silahkan! apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Em ... apa alasan Pak Tio melamar saya?"


Tio terkekeh, "Tentu karena saya mencintai kamu," ucapnya. Membuat Nadhila terdiam. Hatinya seakan berbunga-bunga mendengar dari sebrang telepon bahwa Tio mencintai dirinya.


"Dhila? hallo?" sapa Tio. Karena Nadhila tidak bersuara.


"Eh i-iya Pak Tio ...,"


"Kamu melamun?" tanya Tio.


"Ti-tidak Pak."


"Terus kenapa kamu diam saat saya tadi sudah menjawab pertanyaan mu?"


"Saya ... hanya syok saja mendengar Pak Tio mengatakan cinta sama saya," ujar Nadhila apa adanya. Dirinya yang polos ia tidak bisa menyembunyikan perasaan kepada Tio.


Tio terkekeh kembali. "Kamu syok? apa ada pertanyaan lagi?" tanya Tio.


"Kenapa Pak Tio mencintai saya?"


"Karena, kamu wanita istimewa."


Nadhila terdiam kembali ia sangat merasa heran. Tio mengatakan dirinya adalah wanita istimewa.


"Pak Tio. Sudah dulu ya. Terima kasih Assalamualaikum ...."


Nadhila dengan cepat menutup teleponnya. Ia meraba dada kiri. Merasakan detak jantungnya yang tak karuan saat ini yang Nadhila rasakan. Ungkapan cinta yang Nadhila tidak di sangka dapat dari sosok Tio. Pria Tampan dan berkarismatik. Namun, Nadhila akan tetap beristikharah terlebih dahulu agar tidak salah langkah.


Bersambung.