My Teacher is My Wife

My Teacher is My Wife
aku akan maju



pagi ini Selvia tengah menatap intens suaminya yang tengah tidur lelap di brankar nya.


dia sangat merindukan tingkah menyebalkan itu, dan sangat merindukan tapi sekarang keadaan benar benar di luar kendalinya, semalam Abram kembali sesak nafas dan itu membuatnya sangat takut akan terjadi sesuatu pada suaminya, semua tim dokter dan termasuk roman sudah mengatakan semuanya tindakan apa selanjutnya yang akan di ambil ,


Abram mengerjabkan matanya karna ia merasakan sentuhan lembut dari tangan istrinya .


“kenapa?”


“aku takut” air matanya sudah jatuh membasahi pipi nya yang nampak chubi .


abram hanya tersenyum menggangguk.


sungguh seharusnya semua nya tidak harus di saksikan langsung oleh keluarga nya ketika ia menahan sakit yang luar biasa, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karna Rara sudah membongkar nya dengan sangat detail .


abram menggenggam tangan Selvia yang tengah bergetar hebat, sambil tersenyum ia mulai menyanyikan sebuah lagu yang tampak lirih di pendengaran sang istri .


🎵 .....


kau milikku


aku milikmu


kau milikku


aku milikmu


🎵 ......


Selvia hanya bisa diam sambil memeluk tubuh kurus suaminya .


“jangan nyanyi lagi, nanti sakit mu kambuh, kalau kamu udah sembuh terserah” Abram hanya mengusap surai indah rambutnya .


tiba-tiba Rara masuk dan melihat adegan mengharukan kedua pasangan yang telah lama terpisah itu.


“hey ra” . Selvia juga ikut melihat arah mata Abram nampak ia membawa sarapan untuk Abram dan Selvia .


ia segera memberikan sarapan tersebut .


“kak via ,habis sarapan ikut aku ke luar sebentar ya” Selvia hanya mengangguk setuju .


*****


saat ini mereka tengah duduk di taman rumah sakit , Taka ada yang memulai percakapan dari pihak Selvia maupun Rara .


hingga akhirnya ada seseorang yang menghampiri keduanya.


“via, kamu lagi...” ucapan Hadi terputus melihat tatapan dingin Selvia yang tidak berubah dari kemarin .


“aku tidak butuh kamu” Selvia ingin berdiri tapi di tahan Rara , Selvia juga bingung kenapa Rara menahannya.


“kak via , ini yang terbaik ” Rara langsung berlalu .


Hadi sudah duduk di samping nya , Selvia nampak merasa tidak nyaman karena telah mengetahui semuanya tentang kebusukan Hadi selama ini .


“aku tau kamu marah Vi,aku juga tau kamu pasti akan membenci ku” sudah berlutut di hadapan Selvia .


“tapi Vi, sungguh aku sudah berubah aku tidak seperti yang dulu”


Selvia menghempaskan tangan Hadi yang memegangnya ia benar jijik dengan manusia yang tidak tau malau dan masih menampakkan wajah nya .


“vi, pagi ini aku sudah memutuskan akan mendonorkan sum-sum tulang belakang ku untuk Abram, menurut pemeriksaan semalam aku cocok , maaf tidak memberitahu pada mu”


Selvia terdiam dan melihat Hadi, matanya mulai berkaca-kaca mendengar apa yang Hadi katakan .


“aku akan maju, demi kamu Dan Abram ” Hadi langsung berdiri dan menjauh segera masuk ke dalam rumah sakit .


_____


Rara tengah menangis sesenggukan di taman rumah sakit ,suara isakan nya amat sangat pedih , hingga itu menarik Hadi untuk mendekati sumber suara tersebut .


“kamu kenapa?”


Rara dengan cepat menguap air matanya.


“bukan urusan mu”


“aku tau ,kamu pasti orang yang telah membantu abram menyembunyikan semuanya kan?”


sial kenapa laki laki ini datang di waktu yang tidak tepat sih , Rara bermonolog dengan hatinya.


“itu juga bukan urusan anda”


“berhenti mencela dan duduk dengan tenang, aku juga orang yang pernah bersalah pada Abram sangat”


“saat mendengar apa yang di ucapkan dokter tadi membuat aku juga shock, aku juga ikut merasakan kesedihan amat mendalam dari mata Selvia ”


“andai saja tulang belakang ku Cocok untuk Abram , sudah dari dulu aku lakukan”


“aku sudah mengajukan diri”


deg jantung Rara seakan berhenti berdetak mendengar musuh Abram ini .


“hasilnya baik, aku cocok tapi kalau kamu mau membantu ku untuk bicara barang hanya sebentar dengan Selvia aku akan melakukan operasi nya besok pagi” . rara menatap nanar Hadi .


“deal” langsung menjulur kan tangan nya sebagai tanda kesepakatan .


_______


operasi nya kini sudah berjalan dari tiga jam lamanya tapi tidak ada tanda-tanda dokter akan keluar barang hanya sekedar memberitahu kan keadaan Abram yang tengah di operasi ,mereka hanya berlalu lalang keluar hanya sekedar mengambil peralatan yang kurang di ruang operasi . semua keluarga tengah khawatir dengan kondisi Abram sedang Rara lebih memilih duduk di sebuah danau tempat Abram sering memaki di sana , walaupun dia tidak ada di sana setidaknya ia mendoakan agar Abram baik baik saja .


******


semua orang terlihat nampak berkabung di sebuah makam , ya keluarga Abram dan Selvia juga tengah mendoakan agar arwahnya diterima sang kuasa , tak terasa air matanya jatuh tanpa permisi , baginya adalah dia pria terbaik yang pernah mengisi kekosongan hatinya , begitu pula keluarga yang di tinggalkan . ia mengusap perutnya yang sudah nampak membesar , usia kandungan Selvia kini sudah genap tiga bulan lima belas hari .


saat semua sudah meninggalkan pemakaman , Selvia masih duduk tertugu tengah mengusap batu nisan yang masih baru serta tanah kuburan yang masih basah ,dan itu adalah sebuah kuburan baru , pertemuan adalah awal sebuah perpisahan.


“terimakasih , sudah Hadir dan menjadi tameng ku saat kita bersama , kamu adalah orang yang paling baik , maaf kalau aku banyak salah sama kamu” tapi tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dan Selvia tersenyum melihat seseorang itu . akhirnya mereka berjalan beriringan meninggalkan pemakaman.