
Selvia tengah menikmati udara pagi di teras rumah nya. ia mencoba menepis rasa khawatirnya dengan Abram, ya ternyata mimpi itu datang lagi dalam tidurnya. lagi lagi ia melihat senyum Abram dan seperti ia menahan sakit dalam tubuhnya . tapi Selvia sudah membulatkan keputusan nya untuk segera berpisah dari Abram.
mata Selvia tidak sengaja melihat dari arah luar pagar rumah nya dan nampak di sana Abram sedang menggunakan hoodie nya tengah memperhatikannya.
“abram”
Abram membuka pagar besi itu dengan pakan dan saat ini berdiri di depan istrinya yang tengah diam mematung di tempatnya.
“vi,maaf aku hanya bisa mengatakan ini”
saat Selvia sudah mulai bisa menguasai situasi ia langsung berlari masuk ke dalam rumah .
“vi, aku minta maaf aku”ia menggedor gedor pintu tapi tak ada jawaban , kemudian setelah lama pintu terbuka dan nampak wajah kemarahan dari ayah mertuanya. dengan marah ia memukul Abram hingga ia terjungkal ke belakang .
“kami tidak menerima berandalan seperti kamu” papa menutup pintu kasar.
flashback on
Abram tengah terduduk lesu di pusara adik tersayang nya , ya Abram sangat menyayangi saudara kembarnya
“hai cantik, kamu baik kan di sana ?, jangan makan es krim kebanyakan ya,nanti kamu sakit gigi lagi kak abam gak akan bisa ngebela kamu lagi cantik”
bagi Abram Yasa adalah sahabat dan adik terbaik dalam hidupnya. di letakan nya bunga lili putih kesukaan sang adik, tak lupa juga sebuah bunga warna warni yang sudah ia beli tadi. di doakan nya di pusara yang sudah lama tidak ia kunjungi, rasa menyesal telah merasuk di hatinya . tak ada tangis kala Yas nya pergi untuk selamanya,tanpa orang lain ketahui bahkan keluarga nya sendiri ternyata diam-diam ia menangis terisak di pusara tersebut ketika tidak ada orang satupun lagi. ia selalu rutin menjenguk sang adik ,tapi sudah menginjak sebulan lebih ia tak datang, rasanya sangat rindu . hanya pusara yang tidak dapat bicara dan mendengar ini tempat ia lebih banyak bercerita , ya ia tau adik kecilnya pasti mendengar suara pedihnya kala ia datang.
“bentar lagi,kak abam akan nyusul yas di sana tungguin kak abam ya , nanti kita kumpul semua di sana , ada kak Reza sama aunty aila , ” kristal bening jatuh sudah tak terhitung berapa banyak , yang ia rasakan sekarang adalah benar benar sudah tidak punya harapan lagi.
“kamu baik-baik ya di sana cantik” mencium pusara itu dengan dalam , tergambar jelas di wajahnya kalau ia sangat merindukan sosok cerewet dan manja seperti adiknya itu. lima belas tahun Abram merindukan adiknya tanpa seorang tau, bahkan keluarga nya tidak tau , sempat ia mengalami depresi berat dan akhirnya orang tua nya membawa ia ke psikiater ternama di kotanya , ya dulu Abram tidak tinggal di Jakarta .
flashback off
“vi.......” berteriak keras tapi pintu cokelat itu masih saja tertutup rapat .
“aku sekarat vi” gumamnya lirih dan hanya dia yang bisa mendengar semuanya.
Selvia tengah terisak mengunci diri di kamarnya, ia benci Abram ia sangat benci tapi kenapa tadi hatinya sempat goyah? apalagi saat ia melihat tubuh Abram yang sekarang terlihat kurus kering, seperti punya masalah dalam hidupnya , bahkan rasanya ia ingin sekali memeluk tubuh laki laki Sombong dan sok ganteng itu.
“maafin mama ya sayang, pasti kalian mau di peluk papah ya ” ia mengusap perutnya yang sedikit membesar .
Abram termangu menatap rumah bersejarah dalam hidupnya,di sinilah ia mengucapkan janji sehidup semati dengan istrinya. rumah ini lah saksi atas semua takdirnya.
sungguh sesak dadanya mengingat cerita indah dan mengharukan seumur hidupnya, tapi tiba-tiba entah keajaiban apa Selvia membuka kan dirinya pintu saat itu wajah selvia terlihat sembab karena terlalu sering menangis.
“via....” Abram berdiri tergopoh-gopoh menemui istrinya.
“berhenti di sana abram” . ia hanya mampu tetap berdiri dengan jarak cukup jauh dari seseorang yang sangat di rindukan nya.
“vi aku ingin mengatakan sesuatu....”
“ cukup semuanya sudah cukup, tidak ada kesempatan lagi untuk kamu, besok aku akan ke pengadilan agama mengajukan gugatan”
Abram diam mematung melihat sendu wajah cantik istrinya yang sedikit pucat ,mungkin karena ia sedang hamil . Abram tersenyum kecut menerima semuanya.
“apa benang yang kusut sudah terlanjur terhurai,apakah ketulusan ku selama ini hilang hanya karna satu kesalahan dan kamu melupakan semuanya yang aku korban kan”
“andai kamu tidak mengancam hadi waktu itu,kami pasti sudah menikah dan asal kamu tau di dalam lubuk hati ku yang terdalam masih tertulis indah nama Hadi ”. Abram geram dengan apa yang Selvia katakan, ia mencoba sabar kali ini bagaimana pun sekarang
“aku akan memperjuangkan hak ku ay”.
“dan aku sudah tidak punya harapan lebih untuk kamu”.
“kau hapus nama Hadi di hati mu!” nada bicara Abram sudah meninggi. tiba-tiba saja seseorang menendang belakang Abram hingga ia tersungkur ke depan , Selvia juga kaget siapa yang tiba-tiba menendang Abram ia membulatkan kan matanya setelah tau siapa pelakunya . ternyata Hadi yang melakukan itu.
“kamu udah denger sendiri kan ,apa yang di bilang via , jadi enyah lah bedebah”
“kau yang bedebah” Abram langsung memukul wajah Hadi Selvia langsung histeris kala mereka berdua berkelahi . papa dan mama yang mendengar keributan di luar juga akhirnya melihat semua kejadian itu .
“berhenti kalian”
Hadi dan abram yang mendengar suara nyaring langsung berhenti dari pertarungan mereka dan sebenarnya Abram si pemenang tersebut , lihatlah wajah hadi sudah membiru karena pukulan nya.
“pergi Abram aku mohon pergi lahuntuk selamanya ,aku tidak sudi melihat wajah mu bahkan jika kematian datang menghampiri mu ”
Selvia tengah memegang tangan Hadi untuk membawanya masuk. semua orang tidak ada yang bertanya tentang keadaan nya , bahkan istrinya sendiri lebih mementingkan Hadi daripada dirinya sendiri .
“andai kamu tau semuanya Vi, andai kamu tau aku akan pergi selamanya dari hidup kamu , aku pastikan semua itu akan terlambat”. matahari begitu terik hari ini , dan darah kembali menetes dari hidung nya Abram hanya mengusap jenaka cairan merah tersebut.
“hey kau,apa kau tidak lelah selalu keluar,apa kau tidak lihat aku sedang terluka kenapa malah kau tambah lagi dengan luka yang lain” sambil berbicara dengan darah yang menempel di tangan nya
*******
Abram tengah berada di danau tempat ia biasa berteriak keras,tapi hari ini dia hanya duduk melamun .
“sendirian saja ?” seorang laki-laki duduk di dekatnya sambil membawa bunga lili putih kesukaan adiknya .
“hem” Abram sama sekali tidak tertarik dengan orang tersebut.
“ini, ambil lah kau akan suka , kita akan bertemu lagi di saat seperti ini ”Abram menatap tidak menarik bunga tersebut.
“abram, Abram ” rara menepuk bahunya yang tengah tertidur di kursi danau . Abram mulai mengerjap matanya ia terperanjat kaget karena hanya melihat Rara , bukan kah tadi ada seseorang asing menemuinya? dan bunga lili itu berada di genggaman tangan nya. di mana pria itu? apakah ia hanya bermimpi tapi kenapa semuanya seperti nyata ?.
“bram ngelamunin apa sih, ini udah sore dari tadi di cariin juga” ketus Rara.
“ha...enggak kok ra, kamu mau ” Abram menyerah kan bunga lili putih itu pada Rara. tentu saja wanita mata duitan itu mengambil bunga tersebut dengan senang hati , tapi tunggu Abram melihat sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang pernah di lakukan Yas nya ketika ia mencium aroma bunga tersebut .
"lili ini harumnya seperti bunga perak di mimpiku" Abram bermonolog dengan hatinya
“lili ini harumnya seperti bunga perak di mimpiku”rara tersenyum manis melihat bunga cantik ini .
deg....... rasanya jantung Abram akan copot setelah mendengar kalimat yang tidak pernah ia dengar lima belas tahun yang lalu.
“yas” entah sadar atau tidak Abram menyebut nama adiknya .
“bram kenapa?”
“enggak kok ra ,yuk pulang”. dan di angguki Rara mereka akhirnya pulang bersama .
TBC♥️♥️♥️♥️