
pagi ini Abram memutuskan untuk segera pulang ke rumah, karna mengingat ia tidak pulang mengingat penyakit nya tiba tiba kambuh kembali.
ia sekarang sudah berada di daun pintu tapi samar samar ia mendengar suara yang sangat tidak asing , sepertinya ada mami yah, Abram sekarang harus mengatakan hal apa tentang ketidak pulangan nya semalam , semoga saja mami pagi ini baru sampe' . ia berjalan pelan dan membuka pintu perlahan, nampak bukan hanya mami yang sarapan bersama istrinya tapi ada juga mama mertua. seketika mata ketiga wanita itu melihat ke arahnya. ia berjalan pelan karna mengerti tatapan dari si mami, ia langsung duduk tanpa berdosa bahkan sambil cengengesan.
“dari mana kamu kenapa nggak pulang semalam,kenapa ponsel kamu nggak aktif pas mami telpon”. Abram yang mendengar pertanyaan beruntun dari mami langsung tersedak minuman nya.
“iiiitu mi ,Abram ada lembur ya lembur di kantor Daddy ”
“jangan bohong,kemarin mami tanya ke pihak kantor katanya kamu jarang ngantor”
“heheh, itu mi Abram sibuk ngerjain tugas kampus”
“masih bohong,paman baban kamu bilang kamu juga sering gak kuliah ,dan makul kamu kemaren kosong”.
merasa sekarang terpojok Abram terdiam membisu, ia tau ini akan terjadi tapi lihat wajah istrinya jauh lebih galak dari mami nya , haduh sekarang lihat mama mertua nya juga sama galaknya . ah memang wanita kalau sudah marah pasti sulit sekali di bohongi.
“aaaaa gini mi,eeeemm tugas lama Abram belum rampung jadi ya di selesaikan kemaren karna ternyata selesai nya udah malem jadi deh Abram tidur di luar”
“jangan bohong”
“uh....aku ke apartemen”.
“kamu gak tau apa kemarin Selvia sakit?” . Abram terdiam sejenak ia menatap intens wajah istrinya yang sedikit pucat.
“maaf mi”
“minta maaf sama istri mu bukan ke mami”.
Abram kemudian mendekati Selvia yang tengah duduk yang juga memperhatikan Abram.
“apanya yang sakit ke kamar yuk ,aku obati”
“terlambat ” bukan selvia yang bicara tapi mami , sepertinya mami beneran kesal dengan putra bungsunya ini.
Selvia hanya diam dan melanjutkan sarapan nya .
Abram berpikir sejenak apa istrinya ini marah ya , ia hanya mengedikan bahunya .
“sayang ,mami habis sarapan langsung pulang ya,soalnya Daddy baru pulang dari luar kota”. Selvia mengangguk.
“mama juga akan pulang deh sayang,inget jangan sedih lagi ya, putri kesayangannya mama”.
Selvia kembali mengangguk sebagai jawaban.
sehabis mereka semua sarapan mama dan mami mereka pulang .
Abram sudah berlalu menuju kamar.
“kamu ke mana lagi semalem” Selvia menghampiri Abram yang sibuk dengan gawai nya.
“eem,apart ”
“mau kamu sebenarnya apa sih Bram?”
“aku ngerjain tugas ay” ia melepaskan gawainya dan memperhatikan istrinya yang sedang cemberut di atas ranjang.
“bu,apa kamu yakin kalo kamu cuma sendiri aja di apart?”
“iya lah, sama siapa lagi ” sudah duduk di samping istrinya .
“okey,tapi siap siap aja apart kamu mami tarik ”
“kok gitu” Abram sudah memicingkan matanya .
“tanya aja sama mami”
“kamu kali yang nyuruh mami, kan kamu sendiri yang nyuruh mereka buat dateng kan karna aku sering gak pulang bukan nya sakit telpon aku malah telpon mami sama mama lagi,manja banget”
“maksud kamu ngomong kayak gitu apa,nggak suka! dan asal kamu tau telpon mu kemarin,nggak aktif kamu yang harus nya lebih siaga dari mereka ”
“nggak gitu juga ay”
“stoooop gak usah banyak omong ,mending kamu jauh-jauh gih, aku jadi eneg liat muka kamu mana kayak batu bata lagi ,merah” Selvia langsung menjauh dan berbaring di ranjang.
“keluar Bram,aku gak suka denger suara kamu” sudah merapat kan selimut nya.
Abram yang sebal dengan perkataan istrinya memilih untuk keluar dan menemui seseorang.
“kenapa aku sebel sih liat Abram ,mana lagi mukanya jelek banget lagi ih....udah agh sebel”
semakin mengeratkan selimut nya. ia juga tidak tau kenapa belakangan ini dia lebih suka tidur daripada melakukan aktivitas fisik apapun , mungkin karna lama menganggur. tubuhnya juga sedikit berisi sekarang.
******
Abram berhenti di sebuah rumah yang cukup layak untuk tempat tinggal seseorang kemudian ia mengetuk pintunya, dan munculah seorang wanita yang sedang menggunakan apron menatap sebal ke arahnya.
“ngapain ke sini,belum puas ngelakuin apa yang kamu mau, dasar kamu ini ” menunjuk Abram Dengan pisau .
“bisa nggak sih, kalau marah semua istri itu ramah gitu gak usah pake pisau juga , kamu sama kayak via kalau lagi marah ”
“hello,aku bukan istri mu ya tuan kulkas” . ia hanya terkekeh kemudian nyelonong masuk ke dalam rumah Rara.
“eh,gak di suruh masuk malah masuk gak sopan tau”ia menemui Abram yang sudah berada di dapur .
“rumah ini dari aku,jadi kamu berhutang sama aku. dan semua ini punya aku” membuka lebar tangan nya.
“ok,aku pergi sekarang” .
“eh....baper”
“unyewenye unywenye” Rara memonyong-monyongkan bibirnya mengejek Abram .
“dasar sinting”.abram mengejek Rara .
rara yang merasa tersinggung, ia langsung menggeplak kepala Abram . dan yang di geplak mengusap rambutnya .
“sakit tauk, lagi masak apa sih kamu? paling juga batu sama pasir ”
“eh sembarangan kalo ngomong, aku ini lagi masak rawon tauk, ini makanan kesukaan nenek sama aku”
“kebetulan sekali ini, mmmm aku ngiler dengernya, di bungkus satu juga ya buat via di rumah ”
“enak aja, kalo buat kak via gratis kalo kamu lima juta”
“serah dasar matre”
“bukan matre realistis”
Abram memutar bola matanya jengah dengan ucapan Rara yang memang suka nyeleneh.
akhirnya Rara kembali melanjutkan acara masak memasaknya sebenarnya ia risih dengan tingkah Abram yang suka mengganggu nya. tapi mau gimana lagi si dianya keras kayak batu jadi gimana pun harus tetap menyilahkan tuan sombong itu di sini.
tiba-tiba Abram merasakan tubuhnya kembali melemah dan sontak saja hidungnya kembali mengeluarkan darah, Rara yang tidak sengaja melihat perubahan Abram dengan kaget ia melepaskan sendok nya , ia mulai panik dan menuntun Abram ke sofa .
“bram kamu kenapa?” Rara sudah panik setengah mati melihat darah yang tidak berhenti mengalir sedang Abram wajahnya sudah pucat .
“ambilin obat di dashboard mobil aku ra” suaranya terdengar lirih
dengan langkah seribu Rara menuju mobil Abram dan dengan cepat ia meraih obat yang sangat banyak dan berlari menuju seseorang yang tengah menahan sakit di tubuhnya .
“ini ” memberikan obatnya ,Abram malah tertawa kecil melihat tingkah Rara yang berlebihan .
“malah ketawa lagi ,”
“panik sih boleh,tapi obatnya di bukain juga kali” masih bisa melempar senyum damai mungkin sangat damai di mata rara.
sadar tidak sadar Rara sudah menitikan air mata nya dan dengan segera ia membuka kan obat untuk Abram . saat Abram sudah selesai minum obat nya ia akhirnya memejamkan matanya sejenak karna obat nya tengah bereaksi .
*****
Selvia membuka matanya perlahan , sekarang sudah siang lagi bagaimana dia bisa tidur selama ini, mungkin karena efek terlalu mager. di lihatnya kamar kembali kosong kemudian ia tertunduk sedih. ia kira Abram akan menunggunya sampai tertidur tapi ternyata Abram benar benar keluar dari kamar.
TBC♥️♥️♥️