
pagi ini Abram mengajak Selvia untuk sekedar menikmati ombak dan hembusan angin yang berhembus begitu dingin bahkan baju tebal yang ia kenakan masih seakan-akan tembus oleh derunya dan Abram tau istrinya itu kesal setengah mati karna ia dengan sengaja mengajak Selvia untuk bermain angin di pagi hari .
“siang ini kita pulang”
“apa nanti keluarga nggak nanyain ” Selvia menatap abram yang melihat arah ombak yang menari nari indah .
hanya gelengan yang Abram berikan sebagai jawaban .
“nanti kalo udah pulang aku langsung pindah aja vi” ia menatap mata indah istrinya yang menatap lekat manik matanya .
“sejak kapan kamu punya planing kayak gitu sih Bram ” melepaskan pelukan dan mulai berjalan berjejer dengan pantai . ia tersenyum melihat ketusnya suara wanita istimewa ini.
“sini dulu”
“mau ngapain?” mendekat ke Abram .
“duduk dulu di sini ,kita berbahagia sebentar” memeluk erat tubuh mungil yang amat di cintai nya.
*****
siang ini mereka sudah berada di atas kapal layar pribadi milik keluarga nya . posisi mereka saat ini berada di depan . Selvia merentangkan tangan nya menikmati hembusan angin yang begitu nyaman pas sekali cuaca cukup mendukung tidak panas dan juga tidak hujan . Abram memperhatikan istrinya dan kemudian dengan gesit ia memeluk tubuh itu dari belakang mendekapnya hangat. Selvia yang kaget hanya bisa mendengus sebal ke arah bocil yang satu ini .
“gak enak Bram di liatin sama yang belakang”
“kita kan lagi di Titanic kayak Jack and rose ” ia terkekeh menelusup kan kepalanya di Curuk leher istrinya. Selvia yang sedikit merasa geli hanya bisa terkekeh pelan, ia memegang tangan Abram yang sedang memeluk pinggang nya dengan posesif jangan tanya kan lagi betapa bahagianya Abram .
“kamu sadar nggak sih Vi , di depan kita ada kamera”
ia mengernyit heran dengan pertanyaan Abram .
“canda kamera” Abram tertawa garing.
“kalo dalam tiga bulan kamu gagal, kamu harus relain aku loh ya”
sebenarnya Selvia hanya bercanda tentang itu ,tak di sangka Abram melepaskan pelukan nya dan berlalu masuk ke dalam kapal yang mewah itu. dan hanya ada lima orang stap di tambah mereka berdua menjadi tujuh.
“sensitif sekali bocah itu” Selvia masih menikmati hembusan angin tanpa memperdulikan suami labil nya itu , tapi tiba-tiba Abram kembali datang dan memeluk istrinya dari belakang.
“aku kira marah” mencebik Abram yang tangan nya sudah mulai liar naik ke atas.
“aku kebelet sayang” tangan nya sudah sampai di tempat tujuan dan ******* tertahan dari mulut Selvia .
“abram” Selvia setengah kesal kemudian menghempas tangan nakal bocil yang satu ini.
“aku masih inget loh ya perjanjian nya kita akan pacaran dan kita akan menjalani hubungan platonic” ketusnya dan segera Abram menjauh
“aku batalin aja deh, kita pacaran tapi masih bisa lah walau hanya ciuman, much...” Abram memonyongkan bibirnya.
“pokoknya enggak”
“kalau nanti aku hilang kontrol gimana coba?”
“urusan mu ya” Selvia kemudian berlari masuk ke dalam kapal karna sepertinya perutnya sudah keroncongan dan minta segera di isi .
dasar wanita ini , Abram termenung memandang Lautan luas yang tak memiliki hujung itu tersebar air di mana gemericik demi gemercik kapal menabrak tantangan air bahkan kapal sama tangguh nya dengan itu .
banyak yang ada di benaknya , kalau sampai Selvia tau semua kebusukan yang dia perbuat selama ini apakah perjuangan nya akan sia - sia?. kalau sampai nanti ada benih di antara mereka apakah Selvia akan tetap mau memaafkan nya ? , Abram sekarang mulai khawatir bahkan sangat khawatir. ketakutan demi ketakutan semakin mendekati nya . kalaupun aku jujur nanti apakah masih ada pintu maaf untuk itu?
tuhan tolong Abram hanya ingin hidup happy ending bukan sad ending . ia menggeleng beberapa kali berharap semoga semuanya tidak terbongkar. di lihatnya lagi menggunakan teropongnya sudah nampak daratan yang Beratus ratus radius dari arah nya ,berati daratan sudah mulai dekat .
“awal yang baru segera di mulai, saatnya menjadi Jack di Titanic” Abram terkekeh dan langsung menyusul istrinya yang tengah asik menyantap makan siangnya .