
Malam yang sejuk terlihat dari pemandangan langit yang begitu indah, bintang-bintang bersinar dengan gemerlap lampu-lampu taman. Untuk pertama kalinya Ibu dan anak itu kembali duduk bersama dan saling mengobrol.
“Brave, kapan kau akan memberitahu Krystal jika dia sedang hamil?”
“Dua hari lagi ibu, saat musim dingin tiba.” Jawab Brave.
“Baiklah, kita akan merayakan musim dingin pertamanya bersama keluarga kita dan juga kehamilannya.” Lucia tersenyum menatap putranya, wanita paru baya itu begitu bahagia karena dia akan segera mempunyai cucu.
“Apa kau begitu bahagia, ibu?” Tanyanya dengan memandangi wajah ibunya.
“Kau bertanya apa Brave? Sangat jelas jika ibu bahagia, sangat, sangat bahagia.”
“Saat pertama kali ibu bertemu dengannya, ibu langsung jatuh cinta. Dia gadis yang baik dan sopan, bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi hatinya juga secantik wajahnya. Gadis yang lembut dan juga perhatian, saat itu ibu sangat yakin jika dia adalah gadis yang tepat untuk menjadi pendampingmu.” Ucap Lucia menceritakan kesan awal pertemuannya dengan, Krystal.
“Sebenarnya ibu tahu jika saat itu kalian sedang bersandiwara di hadapan ibu!”
“Hmmm...” Deham Brave.
“Ibu sudah tahu alasannya bukan?” Tanya Brave.
“Karena takdir, takdir menginginkan kalian bersama.” Jawab Lucia.
Brave ataupun Lucia diam memandangi langit yang di penuhi gemerlap bintang-bintang. Brave berpikir apakah benar takdir yang menginginkan mereka bersama? Lalu kapan takdir akan membuatnya berkata jujur kepada istrinya tentang siapa dia sebenarnya?
“Sudah lama sekali ibu dan kau tidak seperti ini, mengobrol dan duduk bersama berdua.” Ucap Lucia dengan menatap Brave, anak yang sangat dia cintai.
“Kau tahu, Brave? Ibu sangat menyayangi dirimu.” Lanjut Lucia.
“Ibu, aku juga sangat menyayangimu.” Ucap Brave dan di balas senyuman oleh wanita paru baya itu.
“Brave, apa kau tahu hari yang paling bahagia dalam hidup ibu?” Tanya Lucia, tapi Brave menggelengkan kepalanya tanda dia tidak tahu.
“Hari ibu tahu kau berada dalam perut, Ibu. Hari-hari yang ibu lewati selama 9bulan mengandung dirimu. Hari di mana kau lahir dan ibu adalah orang pertama yang memegang tanganmu, memelukmu, dan menciummu. Dan, hari di mana kau untuk pertama kalinya berbicara, dan kata pertama yang kau ucapkan adalah ‘Ibu’.” Lucia tersenyum mengingat kembali masa kecil Brave.
“Saat kau menikah, dan hari ini, ibu sangat bahagia saat mengetahui jika kau akan segera menjadi seorang ayah.”
Brave diam mendengarkan ibunya. Sudah lama sekali dia tidak seperti ini bersama dengan wanita yang menjadi cinta pertamanya itu. Brave sadar, jika selama ini dia begitu jauh dari ibunya karena kehidupan yang dia jalani berbeda dari manusia normal lainnya.
“Ibu...sangat merindukan dirimu. Ibu dan kau selalu bertemu, tapi ibu merasa jika kau begitu jauh dari ibu.” Tanpa sadar Lucia meneteskan air matanya di hadapan Brave.
“Jangan menangis, karena aku tidak ingin melihatnya!” Tegas Brave, mengusap air mata ibunya.
“Ibu tidak bisa menahannya lagi, Brave!” Tangis Lucia.
Brave menarik ibunya itu ke dalam pelukannya. Satu hal yang sangat di benci oleh Brave adalah melihat wanita paru baya itu menangis.
“Maaf, maaf karena membuat ibu menjadi seperti ini.” Brave sangat merasa bersalah karena ibunya kembali meneteskan air mata hanya karena dirinya.
Cukup lama Ibu dan anak itu saling berpelukan, Brave membiarkan ibunya melepaskan segala kesedihannya malam itu. Dan berjanji, jika hal itu tidak akan terjadi lagi kepada ibunya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka sejak tadi, dan dia adalah Mark. Mark merasa bahagia melihat Brave dan Lucia bisa kembali dekat.
“Terima kasih, Tuhan.”
..
..
Krystal telah kembali dari rumah sakit.
“Istirahatlah, aku akan meminta pelayan untuk segera membawa sarapan untukmu.” Ucap Brave, yang membantu istrinya berbaring di atas tempat tidur.
“Apa kau akan mengurung aku di kamar?” Tanya Krystal menatap Brave.
“Harus aku lakukan! Jika tidak, kau akan membahayakan dirimu sendiri.” Jawab Brave.
“Kau terlalu berlebihan Brave, aku tidak apa-apa. Saat itu aku hanya sedikit pusing dan mual, sehingga aku tidak sadar berada di dalam kamar mandi.” Krystal merasa jika suaminya itu sangat berlebihan kepadanya.
“Jangan membantah! Diam, dan istirahat, cukup dengarkan aku.” Tegas Brave menatap istrinya yang juga menatapnya.
“Bagus. Aku mencintaimu.” Mengatakan hal itu sembari mencium kening istrinya. Lalu pergi meninggalkan Krystal sendiri, membiarkan istrinya beristirahat.
Krystal menatap Brave yang melangkah keluar dari kamar mereka. Dia cukup kesal dengan Brave, yang hanya membiarkan dirinya berada di dalam kamar, tapi dia juga bahagia karena suaminya itu begitu perhatian padannya.
“Rasanya ada yang aneh dengan tubuhku.” Gumam Krystal.
Saat Brave berjalan turun ke lantai satu, dia bertemu dengan Mark yang kelihatannya baru saja kembali.
“Apa kau baru kembali?” Tanya Brave.
“Hmmm...”
“Kau bersama dengan kak Alexa? Kapan kau akan menikahinya?” Brave tahu jika Mark baru saja kembali dari apartemen Alexa.
“Bagaimana dengan Charles?” Tanya Mark, tanpa menjawab pertanyaan Brave.
“Aku tidak memaksamu untuk baik padanya.” Ucap Brave.
“Brave...Aku tidak bisa percaya padanya lagi, aku harap kau berhati-hati padanya.” Ucap Mark dengan menepuk pundak Brave, lalu berjalan naik ke lantai dua menuju kamarnya.
~Flashback~
“Mark...”
“Ck! Untuk apa kau kembali?” Tanya Mark.
“Aku ingin kembali seperti dulu lagi Mark, aku ingin kita bisa bersama lagi, Aku, kau dan Brave.” Ucap Charles.
“Setelah kau pergi, apa kau pikir semuanya akan kembali seperti dulu lagi? Tidak! Brave terlalu bodoh karena menerima kembali orang yang mencintai istrinya!”
“Berjalan sesuai batasanmu, dan jangan pernah berpikir jika kau masih mencintai adik iparku! Jika sesuatu terjadi di antara hubungan mereka, kau adalah orang pertama yang akan aku cari!” Ucap Mark menegaskan hal itu, lalu pergi meninggalkan Charles.
~Flashback End~
Saat berjalan menuju kamarnya, Mark melewati kamar Brave dan Krystal terlebih dahulu. Mark pun berniat masuk untuk menanyakan kabar Krystal.
Tok..tok..tok...
“Masuk saja.” Mark pun membuka pintu kamar Krystal dan melihat wanita itu sedang membaca buku.
“Mark...”
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Mark.
“Aku baik-baik saja, Mark. Apa kau baru saja kembali?” Tanya Krystal, karena melihat pakaian Mark masih sama dengan yang dia pakai semalam saat berada di rumah sakit.
“Hmmm...”
“Baiklah, jaga dirimu, istirahatlah dengan baik. Dua hari lagi adalah perayaan musim dingin pertamamu dengan keluarga ini, kau harus kembali sehat.” Kata Mark kepada adik iparnya itu.
“Terima kasih, Mark.” Ucap Krystal tersenyum kepada Mark.
“Aku akan kembali ke kamarku.”
“Hmmm.” Krystal menganggukkan kepalanya.
..
..
Charles, kini dia berada di rumah lamanya. Setelah kembali dia memutuskan akan kembali bekerja sebagai asisten pribadi Brave, itu dia lakukan karena permintaan Lucia. Brave pun sudah mengetahui hal itu, dan dia sama sekali tidak keberatan jika Charles kembali menjadi asisten pribadinya.
“Berjalan sesuai batasanmu, dan jangan pernah berpikir jika kau masih mencintai adik iparku! Jika sesuatu terjadi di antara hubungan mereka, kau adalah orang pertama yang akan aku cari!”
Charles kembali teringat dengan apa yang di katakan oleh Mark saat itu padanya.
“Kau menjaganya dengan begitu baik, Mark.”