
Lucia baru saja menuruni anak tangga, tapi sesaat perhatiannya beralih ke arah ruang tamu. Dia melihat seorang wanita yang tidak pernah dia temui sebelumnya, berada dalam rumahnya.
Siapa wanita itu?” Batin Lucia.
Karena penasaran, Lucia pun berjalan menghampiri wanita yang dia lihat.
”Hmmm..” Lucia berdeham sambil menatap wanita yang sama sekali tak dia kenal itu.
Felicya yang sadar siapa yang datang menghampirinya, dia pun segera bangkit dari tempat duduknya, tersenyum menatap kepada Lucia.
”Selamat pagi, Nyonya” Sapa Felicya, yang mengetahui jika wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah ibu dari brave, nyonya besar keluarga Arthur.
”Kau siapa?” Tanya Lucia.
”Saya Felicya nyonya, saya sekertaris tuan Brave.” Jawab Felicya, dengan tersenyum manis kepada Lucia.
”Sekertaris?” Ucap Lucia, sepertinya dia cukup terkejut mengetahui jika putranya memiliki sekertaris wanita seperti Felicya.
Astaga! ada apa dengan brave, kenapa bisa dia memilih wanita ini sebagai sekertarisnya?” Batin Lucia.
Lucia, sepertinya tidak menyukai Felicya. Felicya yang terlihat begitu seksi, dan buah dadanya yang terlihat seperti ingin melompat dari tempatnya dengan jelas memperlihatkan belahannya, dengan rok yang begitu seksi. Lucia benar-benar tak habis pikir dengan brave.
”Haaah.. sekertaris!. Nona Felicya, sejak kapan perusahaan memberikan peraturan untuk memakai baju seperti itu?” Tanya Lucia, menatap sinis kepada Felicya.
”Ehhh..” Felicya terlihat tercengang, dengan pertanyaan menohok yang di berikan oleh Lucia. Felicya diam menundukkan kepalanya, sambil tangannya yang sedikit membenarkan baju bagian dadanya yang terbuka.
”Pelayan Vivi!” Teriak Lucia, memanggil pelayannya.
”Iya, nyonya besar” Jawab pelayan Vivi, segera datang menghampiri Lucia.
”Di mana brave?” Tanya Lucia.
Belum sempat pelayan Vivi menjawabnya..
”Ada apa Bu?” Tanya seseorang yang baru saja menuruni anak tangga.
”Brave, siapa dia?” Tanya Lucia, menatap putranya dengan sinis.
Brave mengalihkan pandangannya ke arah Felicya, yang menundukkan kepalanya. Lalu kembali menatap ibunya, Lucia.
”Sekertarisku.” Jawab brave, menatap Lucia.
”Haaaah...Sejak kapan Ga-ve Company memberikan izin, memakai baju kekurangan bahan seperti ini?” Tanya Lucia dengan tegas, karena dia begitu tidak suka jika ada yang melanggar aturan yang dia buat.
Tak lama kemudian Krystal dan Mark baru saja turun dari lantai 2, karena mendengar keributan.
”Ibu..” Panggil Krystal, memegang pundak ibu mertuanya yang terlihat marah.
”Ibu ada apa?” Tanya Mark juga bingung melihat ibunya marah sepagi ini, dan terlebih dia melihat Felicya juga berada di sana.
”Kau, untuk apa kau kemari?” Tanya brave menatap tajam Felicya, yang dia anggap telah membuat kekacauan di rumahnya di pagi hari.
”Sa-saya ingin memberikan berkas ini kepada mu tuan.” Jawab Felicya, dengan terbata-bata. Memberikan berkas yang dia bawah ke tangan brave.
”Kembalilah, ke perusahaan!” Kata brave dengan tegas, mengambil berkas yang di berikan oleh Felicya, lalu menyuruhnya segera kembali ke perusahaan.
”Ba-baik tuan” Jawab Felicya, segera mengambil tasnya berniat segera pergi dari sana. Tapi sebelum itu Lucia...
”Jika masih ingin bekerja di Ga-ve Company ikuti aturan yang ada!. Jika tidak, kau tidak perlu lagi bekerja di perusahaan keluarga ku!” Kata Lucia dengan tegas.
Felicya segera meninggalkan kediaman Arthur, dengan perasaan marah, karena telah di permalukan oleh Lucia.
”Ibu..” Panggil Krystal, mengelus lembut punggung tangan Lucia.
Lucia hanya menatap Krystal, lalu kembali beralih menatap brave.
Krystal hanya bisa diam, dia tidak tau harus berbuat apa. Melihat Lucia begitu marah, karena peraturan yang dia buat di langgar.
”Ibu, sebenarnya...” Baru saja Mark, ingin mengatakan sesuatu tapi brave memotong pembicaraannya...
”Ibu, hal ini tidak akan terjadi lagi. Peraturan yang kau buat, tidak akan ada lagi yang melanggarnya. Aku janji!” Kata brave, menatap ibunya.
”Baiklah, kalau bisa mulai sekarang jangan gunakan sekertaris wanita. Cari sekertaris pria itu lebih bagus!” Kata Lucia, dia juga tidak setuju jika Felicya atau wanita manapun menjadi sekertaris putranya yang telah berstatus menjadi seorang suami.
”Hmmmm” Brave hanya membalasnya dengan deheman. Brave tau jika ibunya itu tak hanya marah karena peraturan yang dia buat di langgar, tapi juga ibunya itu tidak menyukai jika dirinya di dampingi oleh sekertaris wanita.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Lucia menggandeng tangan Krystal menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi. Meninggalkan brave dan Mark.
”Brave, maaf..” Ucap Mark, merasa bersalah karena dialah orang yang membawa Felicya masuk ke dalam Ga-ve Company.
”Urus wanita itu, secepatnya!” Kata brave, menatap tajam Mark. Dan hanya di balas anggukan oleh Mark, yang menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Brave pun meninggalkan Mark sendiri, menyusul ibu dan istrinya ke meja makan.
”Sial!” Umpat Mark, lalu berjalan menyusul yang lainnya ke meja makan.
Kini semuanya telah berada di meja makan, tanpa ada yang berbicara satupun.
”Krystal, hari ini pertama kau kuliah bukan?” Tanya Lucia, mengingat menantunya itu akan mulai kuliah hari ini.
”Iya ibu” Jawab Krystal, dengan tersenyum menatap Lucia.
”Ibu yang akan mengantarmu ke kampus” Kata Lucia.
”Itu tidak perlu, aku yang akan mengantar istriku.” Ucap brave menatap Lucia.
”Baiklah kalau begitu, tapi ibu akan ke perusahaan hari ini!” Ucap Lucia, setelah kejadian yang baru saja terjadi. Lucia berpikir ingin melihat kondisi perusahaan.
”Kau bisa ke sana kapan pun itu, tidak ada yang akan melarang mu.” Jawab brave merasa ibunya itu terlalu berlebihan menyikapi masalah yang baru saja terjadi.
”Hmmm, apakah kau sudah menemukan sekertaris pria untukmu?” Tanya Lucia lagi.
”Kau baru mengajukannya beberapa menit yang lalu ibu!” Ucap brave, menatap jengah kepada ibunya.
”Hmmm, 1minggu. Waktu kau harus mencari pengantin wanita itu!” Kata Lucia, menatap brave.
Brave tak menjawabnya lagi, dia kembali melanjutkan sarapannya.
Tapi sesaat kemudian, Lucia baru menyadari sesuatu yang menempel di dahi brave.
”Ada apa dengan dahi mu?” Tanya Lucia menatap brave, yang di dahinya terdapat perban.
Mark juga mengalihkan pandangannya menatap ke arah brave.
”Ini tidak apa-apa, hanya luka kecil. Lagi pula Krystal telah mengobatinya.” Jawab brave dengan santai dengan matanya yang tak lepas menatap sang istri, yang juga sedang menatapnya.
”Tapi sepertinya lukamu itu baru brave, apa kau keluar semalam?” Tanya Mark, menatap curiga brave.
”Hmmm, aku keluar karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Jawab brave menatap tajam Mark, seolah mengisyaratkan untuk berhenti bertanya padanya.
Lucia dan Mark tidak begitu saja percaya dengan apa yang di katakan oleh brave.
***
”Aaaaaaahhhh... Brengsek, aku akan membalas mu nenek tua!” Felicya berteriak sekencang mungkin di dalam mobilnya dan meluapkan semua rasa kesalnya kepada Lucia yang telah mempermalukan dirinya.
”Kau akan berlutut di hadapanku setelah brave menjadi milikku!” Kata Felicya, begitu yakin dengan ucapannya.
Felicya benar-benar tidak menyangka akan di permalukan oleh Lucia.