
Alice, saat dia mengetahui jika sang adik masuk rumah sakit, dia benar-benar khawatir dengan keadaan adiknya. Dengan terburu-buru dia datang ke rumah sakit bersama dengan putrinya, Hana. Tapi setelah mendengar penjelasan dokter, dia cukup bernafas lega jika adiknya itu baik-baik saja. Dan Alice ikut bahagia saat Brave mengatakan jika saat ini adiknya sedang hamil.
“Brave, selamat untukmu. Tolong jaga adikku dan juga calon anak kalian.” Ucap Alice yang saat ini duduk di samping tempat tidur Krystal.
“Kau tenang saja, aku akan selalu menjaga mereka.” Balas Brave dengan menatap Krystal yang masih menutup mata.
Alice menatap Brave, dia bisa melihat bagaimana Brave begitu mencintai adiknya. Dia sangat bahagia karena adiknya mendapatkan pria yang benar-benar tulus mencintainya.
“Brave, terima kasih.” Ucap Alice.
“Untuk apa?”
“Kebahagiaan yang telah kau berikan kepada adikku. Jika bukan karena kau, mungkin hingga saat ini kami belum juga bertemu. Dia selalu menyalahkan dirinya atas kematian kedua orang tua kami, jika bukan karena kau, Krystal pasti terus menghukum dirinya. Saat dia bersama denganmu, aku bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan ,Krystal.” Ungkap Alice.
“Jangan pernah berterima kasih padaku.” Kata Brave menatap kakak iparnya itu.
“Uncel, tolong aku.” Hana, gadis kecil itu tiba-tiba saja menghampiri Brave dan merentangkan tangannya.
Brave tahu apa yang di maksud oleh keponakan istrinya itu. Dia pun mengangkat Hana dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
“Uncel, kenapa bibi Krystal belum membuka matanya?” Tanya Hana menatap Brave.
“Hmmm, karena bibi Krystal sedang tidur.” Jawab Brave.
Mendengar jawaban Brave, membuat gadis kecil itu tidak puas.
“Ada apa? Kenapa wajahmu murung?” Tanya Brave memperhatikan wajah gadis kecil itu.
“Uncel, apa kau tahu? aku tidak suka melihat bibi Krystal seperti ini. Saat bibi Krystal menutup mata seperti ini, itu membuat aku takut.” Ucap gadis kecil itu dengan meraih tangan Krystal.
“Kenapa kau takut?” Tanya Brave.
“Aku tidak tahu.” Jawab Hana menatap Brave.
“Hana, bibi Krystal hanya sedang tidur sayang. Kau tidak perlu takut.” Ucap Alice kepada putrinya itu.
Hana merangkak naik ke atas tempat tidur Krystal, saat itu juga Alice ingin menghentikan putrinya, takut jika Hana tidak akan sengaja mengenai perut Krystal. Tapi, Brave melarangnya.
“Biarkan saja.” Ucap Brave kepada Alice.
Gadis kecil itu mendekatkan wajahnya ke telinga Krystal.
“Bibi, cepatlah bangun. Aku menyayangimu dan juga Baby.” Bisik Hana.
Salah satu anak buah Brave masuk ke dalam, dan memberitahu Brave jika seseorang ingin bertemu dengan dirinya. Mark memperhatikan itu, lalu menghampiri Brave.
“Ada apa?” Tanya Mark.
“Tetaplah di sini, kabari aku jika Krystal sudah sadar.” Ucap Brave tanpa menjawab pertanyaan Mark. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
“Brave...” Panggil Lucia, tapi Brave sudah tidak mendengarnya.
“Mark, ke mana Brave pergi?” Tanya Lucia.
“Ada urusan penting ibu, dia akan segera kembali.” Jawab Mark terpaksa dia harus berbohong kepada ibunya.
“Baiklah.”
..
..
“Brave...”
“Untuk apa kau kemari?” Tanya Brave tanpa basa-basi.
Brave menemui seseorang yang saat ini berada di taman rumah sakit, dan orang itu tak lain adalah Charles. Pria itu meminta kepada salah satu anak buah Brave, untuk menyampaikan jika dirinya ingin bertemu.
“Aku tahu, kau dan Mark membenciku. Aku kembali untuk memperbaiki semuanya, aku juga menyadari jika tanpa kalian aku bukan siapa-siapa.”
“Maafkan aku Brave, saat itu aku tidak bisa berpikir apa pun selain, Krystal.”
“Saat itu, aku merasa jika aku harus melindungi Krystal dari seseorang sepertimu. Aku hanya takut, jika kau akan menyakiti Krystal.” Ucap Charles.
"Ck!" Brave sebenarnya tidak suka jika ada yang menyebut nama istrinya. Apa lagi dia adalah seseorang yang mencintai istrinya.
“Apa kau masih mencintainya?” Tanya Brave menatap Charles.
“Aku tidak bisa membohongi perasaanku, Brave.” Jawab Charles.
“Aku tahu itu. Aku kembali bukan karena Krystal, tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kita seperti dulu lagi, Brave. Saat sebelum adanya Krystal, aku menginginkan itu semua kembali.” Ucap Charles.
“Mungkin akan sulit, tapi tidak jika kau melupakan perasaanmu terhadap istri sahabatmu!” Balas Brave.
“Kau benar.” Ucap Charles.
Ponsel Brave berdering dan itu adalah panggilan dari Mark.
“Ada apa?”
“Kau di mana? Krystal telah sadar, dia mencarimu.”
“Aku akan segera kembali.” Ucap Brave dengan menutup teleponnya.
“Ikutlah, Mark mungkin akan memberikan ucapan selamat datang padamu.” Kata Brave kepada Charles.
“Apa kau tidak ingin mengucapkan apa pun kepadaku?” Tanya Charles, dengan tersenyum kecil menatap Brave.
“Tidak!” Jawab Brave.
..
..
“Apa kau membutuhkan sesuatu?” Tanya Alice kepada adiknya yang baru saja sadar.
“Tidak kak, aku tidak menginginkan apa pun.” Jawab Krystal.
Krystal menatap ke arah Lucia yang diam menatap dirinya. Dia sangat tahu, jika saat ini dia telah membuat wanita paru baya itu khawatir dengannya.
"Ibu"
“Sayang..." Lucia menatap Krystal dengan tersenyum, bahagia karena putri menantunya telah sadar kembali.
"Jangan lakukan apa pun yang bisa membuat dirimu seperti ini. Ibu benar-benar takut terjadi apa-apa padamu, berjanjilah pada ibu.” Ucap Lucia mengelus lembut pipi menantunya.
“Maaf, karena membuat ibu khawatir.” Krystal merasa bersalah karena telah membuat ibu mertuanya khawatir dengan dirinya.
“Ibu menyayangimu.” Ungkap Lucia mencium kening Krystal.
“Kau harus banyak-banyak beristirahat, Krystal. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi, apa kau mengerti?” Tanya Alexa selaku dokter Krystal.
“Terima kasih kak, aku akan mendengarkan ucapan dokterku.” Jawab Krystal tersenyum menatap Alexa.
Pintu kamar itu terbuka, dan itu tak lain adalah Brave yang datang bersama dengan Charles. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut akan kehadiran Charles yang secara tiba-tiba, setelah lama menghilang.
“Brave...”
“Bagaimana keadaanmu, sayang?” Tanya Brave dengan begitu lembut kepada istrinya.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Krystal.
“Bibi Lucia, bagaimana kabarmu?” Tanya Charles.
“Bibi baik-baik saja, senang karena kau telah kembali.” Ucap Lucia, mengelus lengan Charles.
“Kak Alexa, senang bertemu denganmu lagi.” Sapa Charles kepada Alexa yang berdiri tepat di samping Mark.
“Charles, selamat datang kembali. Aku ikut bahagia karena kalian bertiga akan kembali berkumpul seperti sebelumnya.” Ucap Alexa.
“Semoga saja.” Imbuh Charles dengan menatap ke arah Mark.
“Mark, sepertinya kalian butuh berbicara, pergilah.” Kata Lucia menyuruh Mark pergi bersama dengan Charles.
“Tidak ada yang perlu di bicarakan ibu!” Ucap Mark.
“Mark...” Lucia menatap dirinya, dengan tatapan memohon agar Mark pergi dan berbicara berdua dengan Charles.
Mark mendengus kesal, lalu pergi meninggalkan ruangan itu tanpa mengatakan apa pun, dan di ikuti oleh Charles.
Krystal menatap kepergian Charles dengan Mark, sebenarnya dia ingin sekali menyapa Charles. Tapi, dia kembali teringat penyebab Charles pergi saat itu. Karena Krystal merasa dirinyalah penyebab ketiga pria itu bermusuhan.
“Brave...”
“Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Brave, dia bahkan tahu apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya.